
Terlihat senyuman Mami saat Delon pulang, memeluk putranya karena Mami memiliki daftar kampus untuk Delon melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
"Delon, kamu bisa kuliah di luar negeri, Mami akan bicara dengan Papa soal ini." Mami meminta Delon tidak mencemaskan apapun soal biaya.
"Mi, Delon sudah bekerja, soal kuliah lanjutnya ditunda dulu. Aku bisa kuliah S2 di sini, sama saja."
"Kamu masih mencemaskan soal biaya?"
Kepala Delon menggeleng, duduk di depan Maminya yang terlihat bahagia mencarikan tempat kuliah terbaik.
Hembusan napas Delon terasa berat, tangannya tergempal memikirkan cara untuk bicara, Mami merasa ada yang aneh.
"Ada apa Delon?"
"Mi, aku akan menikah." Delon menatap wajah Maminya yang sangat terkejut hampir jantungan.
Delon masih sangat muda, bagaimana bisa dia memutuskan menikah padahal jalannya maish panjang.
"Kamu bercanda, Mami tidak pernah melihat kamu pacaran?" senyuman Mami terlihat merasa Delon sangat lucu jika sedang bergurau.
Kepala Delon menggeleng, dia tidak bergurau. Apa yang keluar dari mulutnya fakta. Delon sudah bekerja dan memutuskan menikah.
"Kamu tahu menikah muda merugikan, tidak pernah kamu bayangkan betapa sulit mencari kerja. Apa yang sudah kamu hasilkan Delon sampai berani menanggung hidup anak orang," bentak Mami dengan nada tinggi.
Delon terdiam, dia juga sempat memikirkan jika tidak mungkin mampu, namun ada hal yang tidak salah sedang disalahkan.
"Saat Delon KKN di luar negeri bertemu dengan seorang wanita dewasa, dia atasan Delon. Kami tidak sengaja melakukan hubungan tidak pantas dan saat ini wanita itu hamil, anak yang dia kandung tidak salah, tapi kami yang salah," jelas Delon pasrah mendapatkan tamparan kuat dari Maminya.
Mami tidak percaya, Delon hanya mencari alasan ingin keluar dari rumah dan hidup bebas. Tidak ada yang Mami banggakan jika Delon menghancurkan semuanya.
"Biarkan saja jika itu hanya sebuah kesalahan, bukan urusan kamu."
"Bagaimana bisa bukan Mi, apa salah mereka. Hati Delon sakit saat melihat mereka di hina, sedangkan aku memiliki masa depan yang cerah, namun wanita itu dan bagaimana dengan bayi itu." Tangisan Delon pecah karena dia sudah berkali-kali mencoba untuk lari, tapi hatinya sakit mendengar anaknya dihina.
Mami ambruk pingsan, Papa yang melihat dan mendengar pembicara langsung menangkap istrinya meminta Delon tenang.
Jika Mami terkejut hal yang wajar, Delon langsung pergi dari rumah karean dia melukai banyak orang.
"Kasihan kamu Delon, terkadang tidak pernah tahu kapan sial menimpa." Papa mengakui keberanian Delon padahal dia juga tidak memiliki tujuan.
Teriakkan Mami terdengar, menatap sekitar tidak ada lagi Delon selain suaminya yang memeluk erat.
"Di mana Delon, aku tidak akan mengizinkannya pergi," teriakkan Mami terdengar.
"Sayang, Delon sudah dewasa. Keberaniannya untuk mengakui tanda jika dia butuh dukungan Maminya."
"Apa kamu tahu soal masalah ini?" air mata Mami menetes tidak percaya.
Kepala Papa mengangguk, dia sudah lama tahu sebelum Delon tahu. Wanita yang hamil seorang yatim piatu, dia tidak memiliki siapapun hingga normal bisa nyaman dengan siapa saja.
Awalnya Papa ingin memanfaatkanya untuk memberikan pelajaran kepada Delon, tapi Papa disadarkan oleh anak-anaknya.
"Kenapa Papa jahat sekali?"
"Mi, kita ini orang tua sudah melihat bagaimana hancurnya anak-anak kita setelah perpisahan, Papa tidak membenarkan perbuatan Delon, tapi tidak bisa menyalahkan karena semuanya sudah terjadi." Papa akan mendukung Delon karena dia lelaki yang bertanggung jawab.
Tangisan Mami semakin kencang, meremas dadanya tidak bisa terima jika putra semata wayangnya hancur hanya karena wanita rendah.
"Di mana wanita itu sekarang, aku tidak akan mengampuninya."
"Mami cukup, menyakiti wanita itu sama saja membuang Delon."
"Tidak, aku akan membuat putraku menjadi orang besar, wanita itu tidak boleh menghancurkan masa depan Delon." Mami melangkah pergi banting pintu kamar dengan kuat.
Kedua tangan Papa meremas kepalanya, Papa menghubungi Agra soal Delon meminta tolong untuk mencarinya. Saat ini Delon tidak punya tepat tinggal.
Agra langsung menghubungi Andra, pikirannya langsung kepada Andra yang kemungkinan sudah santai saat malam hari.
"Kenapa menghubungi aku jam segini?"
"Dra cari Delon, dia pergi dari rumah setelah bertengkar dnegan Mamanya soal kehamilan Syifra."
"Bagaimana aku bisa tahu di mana dia, ini sudah jam sepuluh malam." Andra turun dari sofa mengambil jaketnya.
Apartemen Nya nampak sepi, Andra langsung pergi sendiri. Meminta nomor ponsel Delon dari stafnya, tapi tidak bisa dihubungi.
"Di mana aku harus menemukan anak itu, apa kabur dari rumah sedang tren. Cukup Arvin yang dulunya suka kabur." Andra melajukan mobilnya tidak tau harus ke mana.
Seseorang seperti Delon tidak mungkin pergi ke tempat tongkrongan, dia anak rumah dan terbilang aktif bersosial. Mustahil menghamburkan uang ke tempat memabukkan.
"Kantor, apa masuk akal dia pergi ke perusahaan," gumam Andra bicara sendiri langsung menuju kantor.
__ADS_1
Andra heran, kenapa dirinya yang harus mencari Delon, seharusnya Agra sebagai kakaknya.
"Beruntung sekali kamu Delon dicariin oleh pimpinan, kapan lagi bisa menyusahkan." Andra melihat perusahaan yang cukup seram saat malam.
"Pak Andra," panggil Delon melangkah mundur mendengar Andra teriak histeris.
"Anak setan, apa yang kamu lakukan di tempat ini?" Andra mengusap wajahnya dia berpikir ada setan.
"Pak Andra kenapa di sini?"
"Mencari kamu apalagi, kenapa kabur-kaburan. Nanti hilang diculik tante-tante mati kamu." Andra merinding karena kantor menyeramkan jika malam.
Kepala Delon tertunduk, dia hanya mencari tempat yang tenang. Ada beberapa hal yang membuat hatinya terluka.
"Kenapa mencari tempat tenang harus di bangunan begini? Apa tidak ada tempat lain. Tenang tidak kesurupan iya." Andra merinding langsung masuk mobil lagi meneriaki Delon agar segera masuk.
Andra membawa Delon ke tempat pesta, suara musik terdengar keras membuat kepala Delon pusing. Andra sudah joget-joget melihat banyak wanita cantik.
"Jika Kanaya tahu, mati kamu," tegur Delon.
"Kamu tidak suka tempat seperti ini?"
Kepala Delon menggeleng, melangkah keluar lagi karena langsung mual mencium bau minuman dan juga musik.
"Bawa aku ke tempat yang tenang dan bisa istirahat." Delon masuk mobil kembali.
"Kuburan, apa dia mau ke sana?" Andra rasanya ingin berpesta, tapi teringat wajah Naya pilih mundur.
Sekali Kanaya melepaskan tendangan bisa lepas kepala Andra, lebih pilih cari aman pulang ke apartemen.
Delon juga memilih diam memejamkan matanya karena pusing memikirkan masalah yang menimpanya.
"Lelaki memang harus melakukan itu, dua bulan lagi akan lahir. Aku dan Naya bisa mengambilnya sebagai anak," ujar Andra.
"Aku akan bertanggung jawab meksipun tidak tahu harus melakukan apa?"
"Sial, bagaimana bisa kalian berdua melakukannya saat ada aku?" Andra menggelengkan kepala tidak habis pikir karena Syifra bercinta dengan brondong saat Andra masih sebagai pasangannya.
Helaan napas Delon terdengar, meminta maaf karena dirinya tidak mampu mengendalikan. Delon tahu jika Andra kekasih Syifra, dan menganggap hubungan hanya sekali.
Kepala Andra mengangguk, mungkin salahnya yang tidak paham jika Syifra juga punya tekanan dalam hidupnya.
"Sementara tidur dulu di apartemen ku, besok libur kerja, besoknya lagi bangkit," pinta Andra.
"Andra, apa yang kamu lakukan, kenapa balik lagi, sudah ketemu belum?" Agra menatap Delon yang ternyata bersama Andra.
Hembusan napas Agra terdengar merasa lega karena Delon berhasil ditemukan, dia tidak seharusnya kabur-kaburan yang bisa membahayakan diri sendiri.
"Dia ini Arvin kedua, selalu kabur dari rumah." Andra melangkah masuk lift.
Agra mengusap punggung Delon, memintanya istirahat di apartemen Andra. Jauh lebih aman daripada keluyuran di luar.
"Kak Agra tahu dari mana?"
"Papa yang kasih tahu, jika ada masalah hubungi Kak Agra jangan pergi sendiri." Agra meminta Delon masuk.
"Gra lapar, kamu tidak ingin memasak sesuatu?"
Senyuman kecil Agra terlihat, meminta Andra dan Delon menunggu. Apapun yang ada bisa dimasak.
"Kak Agra bisa masak?"
"Dia bisa segalanya," jawab Andra tiduran di atas sofa sambil mendegarkan sesuatu menggunakan earphone.
Bau makanan tercium, Delon melangkah ke dapur melihat Agra yang bisa masak. Dia seorang penyanyi yang memiliki jutaan penggemar, tapi tidak banyak tahu jika dia seseorang yang begitu luar biasa.
Agra bukan hanya bisa bermain musik, dia juga lihai berolahraga, masak dan melakukan banyak hal.
"Delon rasa Mami dan Papa sedang bertengkar," ucapnya merasa bersalah.
"Pasti, biarkan Mami meluapkan amarahnya, meskipun Papa yang jadi pelampiasannya." Senyuman Agra terlihat meminta Delon duduk.
Tidak ada suara Andra lagi, berarti dia sudah tidur. Saat tidur Andra susah dibangunkan. Hanya Delon dan Agra yang makan malam.
Delon menceritakan apa yang terjadi kepada Syifra, dia dihina dan anak yang dikandung benalu yang merusak nama baik.
Perasaan Delon sedih, anak yang belum lahir tidak salah apapun tidak seharusnya dia menjadi korban kekesalan sebagian orang.
"Kakak paham, tidak ada salahnya dia lahir. Sebenarnya yang paling tersakiti Syifra, dia menjadi benalu sebagian orang karena satu kesalahan.
Bertanggung jawab atau tidaknya Delon memang menjadi penentu, Agra juga paham keputusan Syifra untuk menanggung sendiri juga tidak salah.
__ADS_1
"Kamu maish muda, yakinkan hati kamu untuk sungguh-sungguh, jangan hanya karena kasihan. Berumah tangga bukan untuk satu dua tahun," jelas Agra memberikan peringatan kepada adik lelakinya.
"Delon tahu, tidak ada hal mudah yang bisa aku lewati, saat ini kata bertahan hal yang paling sulit untuk dijalani." Delon menghabiskan makannya karena dia memang lapar, belum sempat makan dan minum karena memikirkan masalahnya.
Jalan satu-satunya dengan menikah, Delon tidak peduli masalah apa di depan paling penting dia menjadi lelaki yang bertanggung jawab.
"Kakak bangga sama kamu, tidak semua anak muda bisa mengambil keputusan itu." Dua jempol Agra terangkat.
"Sejujurnya Delon takut kak," ucapnya.
"Jangan takut, kak Agra ada di sisi kamu." Senyuman Agra terlihat.
Senyuman Delon juga terlihat berusaha berpikir positif, hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kebaikan Agra.
Selesai makan semuanya istirahat, Delon tidur lebih dulu dari Agra. Andra tidur di ruang tamu masih asik mendegarkan sesuatu.
Tangan Andra menyentuh telinganya yang terasa sakit karena terlalu lama menggunakan earphone.
"Sakitnya, kenapa Agra tidak membangunkan aku." Andra mendengar suara ketukan di pintu.
Langkah Andra malas-malasan karena tidak tahu siapa yang datang, Andra melihat jam maish pukul enam pagi.
"Kerasukan apa orang datang sepagi ini," gumam Andra mengintip di pintu, tapi tidak melihat siapapun.
Pintu terbuka, Andra melihat dua wanita yang masuk ke dalam lift, tidak lama tertutup. Mata Andra tidak melihat dengan jelas karena maish mengantuk.
Syifra melihat Andra buka pintu, secepat mungkin menutup lift kembali. Seorang wanita yang menatap Syifra penuh kebencian sudah dia ketahui jika Maminya Delon.
"Perempuan murahan, apa maksud kamu ingin dinikahi?"
Tidak ada jawaban dari Syifra, dia tidak meminta pertanggung jawaban, namun dituduhkan meminta.
Lift terbuka, Syifra mengikuti dari belakang menutupi perutnya yang sudah besar.
"Berapa bulan kamu hamil?"
"Tujuh bulan," jawab Syifra.
Mami Delon tersentak kaget, tujuh bulan sudah sangat lama. Delon menutupi semuanya.
"Tante, aku tidak minta pertanggungjawaban Delon, Syifra tahu masa depannya panjang dan aku tidak ingin membuatnya kehilangan mimpi. Syifra akan segera pergi dari negara ini," jelas Syifra karena memang tidak sedikitpun dia berniat menganggu Delon.
Apa yang Delon katakan tidak benar, mereka tidak akan menikah. Syifra pastikan jika Delon akan hidup tenang tanpa gangguan darinya juga baby yang dikandung.
"Katakan itu anak siapa?"
Kepala Syifra menggeleng, dia tidak ingin membahas apapun lagi. Syifra tidak butuh pengakuan dari siapapun.
Tamparan kuat mengenai wajah Syifra, tubuhnya hampir jatuh hanya bisa berlutut menahannya perutnya yang besar.
Air mata menetes, Syifra hanya diam saja saat Mami Delon memohon agar Syifra tidak pernah mengatakan jika bayi yang dikandung anaknya Delon.
"Anakku masih muda, bagaimana bisa kamu tega merusaknya. Dari usia saja sudah terpaut jauh, tidak tahu malu."
"Mami! Teriakkan Delon menggema langsung lari bersama Kanaya.
"Syifra, kamu tidak apa?" Naya memeluk erat melihat Syifra duduk di lantai.
"Kenapa Mami melakukan ini?"
Wajah Delon juga ditampar, Mami tidak sudi melihat Delon menikahi wanita murahan yang bisa di tiduri oleh banyak lelaki.
"Lelaki bajingan itu aku, hanya aku. Mami malu campakkan saja aku, tapi jangan hina dia." Tatapan mata Delon tajam menantang Maminya.
Bibir Syifra gemetaran, langsung ambruk pingsan. Delon langsung panik menggedong Syifra yang tidak sadarkan diri.
"Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan Mami. Tidak akan." Delon membawa Syifra keluar, Kanaya juga berlari meminjam mobil siapapun yang terparkir.
Lift terbuka, Andra dan Agra kebingungan apa yang terjadi, melihat Naya mengambil mobil penyewa lain yang kebetulan baru pulang.
"Ya tuhan Syifra kenapa?" Agra meraba celana mencari remote mobil.
"Apa Naya sedang melakukan pencurian mobil, kenapa rebutan?" Andra geleng-geleng mengusap wajahnya masih mengantuk.
Mata Andra terbelalak besar saat sadar jika yang ada di lift Syifra dan maminya Delon. Agra meminta Andra ke rumah sakit pasti terjadi sesuatu kepada Syifra.
"Kenapa Tante melakukan ini, apa Tante berpikir ini salahnya Syifra saja?"
"Tante sebagai orang tua juga salah, Delon tidak mendapatkan kasih sayang ibu, kenapa sekarang menuntutnya menjadi harapan kalian?" Agra geleng-geleng tidak habis pikir.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira