
Sudah tiga hari sejak penyerangan Naya, Andra berdiri di atas gedung kampus. Arvin dan Agra juga berjalan mendekat.
Kasus penyerangan Naya, ternyata bukan dari keluarga Arvin dan Naya benar jika itu perbuatan Erin mantan tunangan Arvin.
"Sejak kapan kamu mulai ikut campur Dra?"
"Aku tidak bermaksud ikut campur Vin, tapi mereka yang menyelidiki soal aku." Tatapan mata Andra tajam tidak menyukai cara Erin yang ingin mencelakai Naya.
Andra juga menegur Arvin untuk bersikap tegas bukan hanya menyusahkan hidup Naya yang memang sudah melarat, kehidupan Naya dan Arvin bagaikan langit dan bumi.
Hidup Nay penuh perjuangan, dan dia harus berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya, tidak ada ibu ayah atau siapapun yang mendampingi, seharusnya Arvin sadar jika hadirnya dia membuat hidup Nay yang sudah sulit semakin kacau.
"Kenapa kamu menyalakan aku?" kerah baju Andra ditarik oleh Arvin membuat Agra harus memisahkannya.
"Vin, ucapan Andra ada benarnya. Dia bukan ikut campur, tapi ada pihak yang membuat Naya berada dalam kesulitan. Andra hanya menyelamatkan Naya layaknya manusia, kamu harus menghentikan Erin." Kedua tangan Agra memegang kedua sahabatnya.
Merekalah tidak harus bertengkar, seharusnya mencari solusi untuk menyelamatkan Naya. Andra sudah mendapatkan teguran dari papinya karena membuat keributan di jalanan.
Setidaknya ada maminya yang membela Andra jika hanya kebetulan menolong orang yang diserang oleh beberapa preman.
Kepala Arvin menoleh ke arah lain, dia juga tidak ingin menyulitkan Naya. Merasa tidak nyaman karena sudah membuat Naya dalam masalah.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Iya Dra, mungkin kamu memiliki solusi untuk memberi pelajaran kepada Erin?"
"Kalian yakin ingin menggunakan cara aku? kemungkinan juga beresiko." Senyuman sinis Andra terlihat menatap kembali ke arah bawah.
Nay baru saja keluar kelasnya mendengar banyak orang berlarian mengatakan jika Andra dan Arvin bertengkar dia balkon atas karena memperebutkan Naya.
Mulut Naya tergagap merasa tidak percaya jika dirinya membuat kerusuhan yang menghebohkan.
Bukan hanya Naya yang terkejut, Erin juga langsung berlari bersama geng nya untuk melihat pertengkaran di atas.
__ADS_1
"Lis, apa benar yang mereka katakan?" Nay langsung panik apa salah dirinya sehingga membuat tiga sekawan bertengkar.
"Benar Nay, di kelas aku juga sedang membicarakannya." Alis mengikuti Naya untuk segera melihat keadaan di balkon atas gedung.
Teriakan Erin terdengar, ingin menampar Naya, tapi Alis menahannya. Erin marah kepada Naya karena sudah membuat rusuh kampus mereka.
Sebelum ada Naya semuanya tenang dan tidak ada yang melihat ketiganya selisih paham, sejak ada Naya barulah semuanya terjadi.
"Kamu mengincar mereka bertiga? apa istimewanya kamu perempuan sialan." Erin terlihat sangat membenci Nay yang hanya menggeleng.
Nay tidak pernah menggoda siapapun, tujuannya memang ingin kuliah. Erin yang membuat masalah dengannya terlebih dulu.
"Kenapa kamu marah kepada Naya? jangan salahkan Nay, tapi salahkan ketiganya yang mengejar cinta satu wanita." Suara Alisa melengking membentak Erin yang tahu diri jika dia sudah mempermalukan dirinya sendiri.
Nay langung berlari ke atas, mencoba memastikan jika apa yang orang katakan tidak benar jika Andra dan Arvin bertengkar.
Sampainya di lantai atas, Naya berteriak membuat ketiganya yang menatap kebawah binggung karena banyak mahasiswa dan siswi yang berkumpul di bawah menatap mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Nay menghela napasnya bersyukur karena tidak ada yang terluka.
"Kakak Andra! Alis laporkan kepada mami Kak Andra berkelahi dengan Kak Arvin, kalian berdua pasti akan dihukum." Alis memarahi keduanya yang terlihat kaget.
Kepala Andra geleng-geleng sejak awalnya masuk kampus sampai hampir lulus pemberitaan tidak pernah jauh dari kabar burung.
Belum melihat kebenaran, tapi langsung menyimpulkan. Seharusnya dengarkan dulu sampai habis bukan hanya setengah saja.
Senyuman Agra terlihat, mereka bertiga tidak bertengkar hanya saja sudah lama tidak menikmati pemandangan dari atas.
"Vin, kamu terluka?" Erin menggenggam tangan Arvin yang langsung menepisnya kuat.
"Aku tidak suka menyakiti wanita dan merasa risih dengan wanita pengadu seperti kamu. Sudah dewasa namun bersikap kekanakan." Suara Arvin terdengar besar karena Erin yang penakut mengirim banyak preman untuk mencelakai Naya.
Arvin akan membantu Naya ke jalur hukum agar orang seperti Erin tahu diri jika apa yang dia lakukan sudah termasuk kejahatan.
__ADS_1
"Apa salah aku Vin? apa kurangnya aku?"
"Tidak ada, hanya saja aku memang tidak tertarik sedikitpun. Asal kamu tahu jika sejak awal aku tidak tertarik dengan wanita kaya yang mengandalkan keluarganya. Apa kamu akan mengadu lagi? itulah kamu, berlindung dibalik ketiak keluarga kamu." Suara Arvin mempermalukan Erin terdengar.
Mungkin Naya bukan anak orang kaya, tidak ada yang spesial darinya dan sikapnya juga keras. Tetapi hanya Naya yang membawa Arvin saat dipukuli oleh bodyguardnya, hanya dia juga yang memberikan tempat tinggal dan memberikan makan.
Bahkan kedua teman Arvin yang kaya raya tidak bisa melakukannya. Nay hanya orang baru, namun pasang badan tanpa takut melawan bahaya.
"Jika kamu ada masalah hakimi aku, jangan salahkan dia yang tidak tahu apapun." Teriakan Arvin terdengar membuat banyak orang menundukkan kepala.
Kening Andra berkerut, baru saja Arvin menjelekkan mereka demi membela Naya, Agra hanya menahan tawa meminta Andra tidak megambil hati atas ucapan Arvin.
Didalam hati Arvin kedua sahabatnya yang terbaik, Nay juga sama seperti sahabat karena sesudah susah senang membantu Arvin.
"Pergi kalian semua, dan satu lagi kamu ganti kendaraan roda dua Naya yang dihancurkan jika tidak aku kirim benda yang hancur ke rumah keluarga kamu." Mata Arvin sinis, meminta Erin tidak bermain-main lagi dengannya.
Semuanya pergi hanya menyisakan Naya dan Alis juga tiga sekawan yang berdiri di belakang.
"Sialan! apa kurangnya aku yang setia minggu membantu kamu anjir." Andra memukul kepala Arvin yang tersenyum mengusap kepalanya.
Senyuman Alis terlihat langsung memeluk Arvin yang membuatnya kaget, Andra langsung menarik adik perempuannya yang suka asal peluk.
Tawa kecil Naya terdengar, mengucapkan terim dia kasih karena tidak ada keributan sama sekali. Nay memberikan jempolnya untuk memuji ketiganya yang saling pandang.
"Apa kamu berpikir aku tertarik bertengkar karena kamu, jangan harap." Mata sinis Andra terlihat langsung melangkah pergi meninggalkan yang lainnya.
"Kamu banyak sabar ya Nay, Andra memang seperti itu. Dia suka bicara sembarangan dan tidak bisa menjaga ucapan." Agra melangkah turun karena ingin masuk kelas.
Alis langsung memeluk lengan Agra yang berjalan turun, hanya Arvin yang masih berdiri menatap ke bawah.
"Vin, kamu tidak perlu mencemaskan aku, Naya wanita kuat dan tangguh. Masalah kamu juga tidak mudah, bertahanlah Arvin aku yakin suatu hari kamu akan mendapatkan kebebasan seperti yang kamu harapkan." Nay berjalan turun membiarkan Arvin sendirian terlihat sedang berpikir keras.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira