
Usapan tangan Mami lembut, mengecup kening Andra, meksipun tidak lahir dari rahim kasih sayang Mami besar, meskipun sesekali kesal melihat Andra karena mengingatkannya kepada masa lalu.
"Dra, maafkan Mami, memang benar jika ibu kamu yang salah, tapi sampai saat ini rasanya masih sakit." Mami mengenggam tangan Andra erat, mengecupnya berkali-kali.
Tubuh Andra bergerak, membuka matanya perlahan. Andra melihat air mata yang menetes, membuat hatinya juga sakit.
"Mi, kenapa menangis?"
"Maaf, Mami ganggu tidur kamu. Besok Andra pergi sudah pasti Mami sedih."
"Jangan sedih, Andra masih hidup. Mami jaga kesehatan," pinta Andra yang tidak tahu cara menghibur Maminya.
Kepala Mami mengangguk, meminta Andra juga menjaga dirinya. Tidak ingin mendengar kabar jika sakit.
"Dra, saat tiba di sana datanglah ke alamat ini, temui wanita itu. Bagaimanapun dia ibu kandung kamu," ucap Mami menyerahkan secarik kertas.
Tangan Andra meremas kuat tanpa melihat terlebih dahulu, dirinya tidak tertarik untuk datang kepada seseorang yang bahkan tidak diketahui wajahnya, dan tidak menginginkannya.
"Seumur hidup Andra cuman punya satu Mami, wanita yang sejak kecil Andra lihat, dan dia satu-satunya ibuku." Senyuman Andra terlihat, membuang kertas memeluk Maminya erat.
Tangisan Mami terdengar, memeluk erat anak yang dibesarkannya. Tidak rela jika suatu hari Andra lebih memilih ibu kandungnya.
Pelukan Andra juga erat, menepuk pelan Maminya. Tidak peduli apapun alasan, jika memang wanita yang melahirkannya mencintai dirinya lebih dari apapun pasti akan berusaha menemukan, memberikan kabar bahkan datang memohon.
"Berhentilah menangis Mi, Andra malas melihatnya." Ekpresi Andra meringis saat pukulan mendarat di dadanya.
"Jam berapa kamu pergi?"
"Tidak tahu, intinya aku akan pergi tanpa pamitan. Tolong jangan menangis."
"Besok pagi sarapan dulu, mami siapkan," pinta Mami memaksa.
"Mami tidak bisa masak, palingan pakai koki lagi, sudahlah Mi. Good night, bawa kertas itu buang sejauh mungkin, tutup pintu perlahan. Bye." Andra berguling sambil menarik selimutnya.
Suara pintu tertutup terdengar, Andra membuka kembali matanya meremas kuat guling.
Suara ponselnya berdering terdengar, Andra mengambil dan mengabaikan begitu saja karena ingin istirahat.
Berkali-kali Arvin melakukan panggilan, tapi tidak dijawab. Andra mematikan kartunya, melihat foto wallpaper ponselnya ada foto Naya.
__ADS_1
"Bangunlah, kamu pasti senang saat aku pergi. Tidak ada lagi yang membuat emosi, kepergianku memang yang terbaik." Andra tertawa pelan melihat foto-foto Naya yang sangat lucu.
Sampai larut malam Andra mengecek foto di ponselnya, ada banyak kenangan yang tersisa. Andra menyimpan ponselnya di laci kamar setelah dimatikan.
"Waktunya kita pergi." Andra menarik kopernya, keluar lewat pintu samping.
Ketukan Andra pelan, meminta maaf karena harus membangunkan penjaga rumah karena dia harus pergi.
"Tuan muda ingin pergi ke mana?"
"Masa depan, tutup pintunya perlahan." Andra tersenyum mengeluarkan mobilnya.
"Bagaimana jika Tuan besar bertanya, atau Nyonya?"
"Jika supir sudah datang, minta dia mengambil mobil di bandara, okey." Senyuman Andra terlihat melajukan mobilnya.
Secara tiba-tiba Andra ingin sekali menemui Naya, firasatnya mengatakan jika Naya bangun. Setidaknya dirinya harus pamitan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Andra sengaja datang secara diam-diam karena jam besuk sudah habis.
"Kira-kira aman tidak aku lewat sini." Andra berjalan pelan terlihat biasa saja agar tidak ada yang curiga.
Dari kejauhan sudah melihat keberadaan Arvin yang menghubungi seseorang, melangkah pergi ke ruangan rawat kakeknya.
Di dalam ruangan Naya hanya ada Agra yang tersenyum lebar saat Naya sudah bergerak, matanya sudah terbuka.
"Nay, kamu ingat aku?" tanya Agra mengenggam tangan.
Senyuman kecil terlihat di bibir Naya, dirinya ingin bicara, tapi tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Jangan bicara dulu, melihat kamu bangun sudah lebih dari cukup." Senyuman penuh kebahagiaan terlihat.
"Aku di mana?" tanya Naya melihat sekitanya.
"Rumah sakit, kamu sudah dua minggu dirawat. Kecelakaan yang terjadi membuat kamu cendera parah, tapi jangan dipikirkan karena Dokter mengatakan kamu sedang masa pemulihan," jelas Agra tidak melepaskan tangan Naya.
"Terima kasih Agra, di mana yang lain?"
"Besok pagi mereka akan datang. Terima kasih Naya karena kamu sudah bangun, terima kasih masih di sisiku." Suara Agra pelan, tapi bisa terdengar dengan jelas.
__ADS_1
Andra yang mendengarnya menggagalkan niatnya untuk masuk, hanya menatap dari pintu.
"Nay, aku minta maaf karena tidak bisa menjaga kamu, tapi kali ini aku pastikan akan melakukannya. Maaf jika aku lancang mencintai kamu," ucap Agra penuh keyakinan.
Kecupan di tangan Naya sangat lama, Nay mengenggam balik karena dirinya tahu apa yang Agra rasakan.
Senyuman Andra terlihat, melangkah pergi tanpa bertemu dengan Naya. Arvin melihatnya binggung ingin mengejar Andra atau masuk ke dalam untuk menghentikan Agra.
"Sudah bagus aku mundur sejak awal, ujung-ujungnya salah mencintai." Arvin menarik napas panjang melihat Andra berlari pergi.
Sikap Andra yang tertutup dengan masalahnya tidak mungkin Arvin ganggu, dia tidak membutuhkan siapapun untuk menenangkan pikiran dan hati.
"Agra mengatakan cintanya tidak tepat, bagaimana jika Naya jantungan?" Arvin melangkah masuk perlahan.
Genggaman tangan keduanya masih erat, tapi tatapan mata Naya tidak memiliki arti. Arvin berpikir mungkin karena baru bangun.
"Aku tahu kamu baik, aku juga tahu wanita yang dicintai oleh seorang Agra sangat beruntung, tapi hatiku sebatas mengangumi, tidak mencintai karena ada orang lain." Mata Naya terpejam, merasa bodoh dengan perasaannya yang yang tidak bertujuan.
Perlahan Arvin mundur, berlari kencang mengejar Andra yang tidak tahu ke mana arahnya.
"Apa hebatnya Naya sampai menolak cintaku dan Agra, ada ribuan wanita mengantri, tapi kita tertampar oleh wanita biasa. Andra kamu masih punya kesempatan untuk ditolak." Arvin mengejar mobil Andra yang keluar dari parkiran.
Teriakkan Arvin terdengar, meminta berhenti. Tangan Andra keluar melambai tangannya sambil memberikan jempol.
"Andra bodoh. Kamu harus pamitan kepada Naya dan terima keputusannya untuk ditolak." Arvin sangat yakin lelaki yang dicintai Naya pasti Andra.
Senyuman Andra terlihat menatap sahabatnya mengoceh sendiri, Arvin sudah banyak perubahan. Dia lebih cerewet dari sebelumnya.
"Selamat tinggal ketiga sahabatku," ucap Andra tersenyum lebar.
Dirinya memutuskan Naya sebagai sahabatnya, seseorang yang menggantikan dirinya untuk menjaga kedua sahabatnya.
"Aku tidak tahu apa setelah ini masih mampu memiliki sahabat, atau selamanya akan menyendiri." Kedua pundak Andra terangkat, mencoba fokus menyetir.
Sebuah mobil mengejar Andra, tapi bukan hal yang sulit untuk mengecoh. Arvin tidak akan mampu melawannya.
Mobil Andra belok, sedangkan Arvin lurus. Andra menunjukkan jari tengah karena Arvin bukan ahlinya.
"Kenapa dia nekad mengejar ku, padahal aku sudah melihat Naya bangun juga punya pacar, lalu apa lagi yang harus aku lakukan?" Andra mempercepat laju mobilnya menuju bandara karena penerbangannya dini hari.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira