KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
BALASAN


__ADS_3

Makan malam terasa hangat untuk pertama kalinya setelah delapan tahun berlalu, dulunya hanya para remaja bermasalah sekarang menjadi pemuda dewasa.


"Kami memiliki seorang putra yaang masih kuliah, dia hampir lulus," ucap Papa menatap Daddy yang menoleh.


"Bagus, rencana lanjut kuliah atau apa?"


"Delon anka yang pintar, tapi dia cukup temperamen sejak Papinya meninggal." Mami tidak bisa mengendalikannya karean rasa kehilangan.


"Sama saja seperti Putraku dahulu, semakin dikeraskan maka semakin sulit dijaga. Dia membenci orangtuanya, memutuskan pergi bahkan mengajak rombongan untuk melawan." Daddy melihat ke arah Arvin dan Naya yang dulunya menyerangnya.


Senyuman Andra terlihat, AGra juga cengengesan karena Naya dan Arvin dulu paling emosian jika berurusan dengan Daddy dan kakek.


"Semakin dewasa anak dia akan mengerti keadaan, tidak mampu dilarang karena dia bukan anak kecil lagi." Mama tersenyum mengusap kepala putranya.


"Mi, sesekali ajak Delon kumpul bersama kita. Meskipun kita semua sibuk namun selalu menyempatkan waktu untuk kumpul walau hanya sekedar makan." Agra tersenyum menyambut adik tirinya.


Agra bersedia mengajari Delon jika dia menyukai musik mungkin mereka bisa satu berbagi.


"Mami tidak tahu apa hobi Delon, tapi dia sering berolahraga basket."


Tangan Alis, Agra, Arvin terangkat, mereka ahli dalam permainan basket. Agra teringat saat masih kuliah dia bisa menguasai banyak permainan olahraga.


Kepala Andra menggeleng, Agra terlalu sombong. Dia hebat saat maos muda, namun waktu itu berlalu terlalu cepat keadaan sudah berubah .


"Bagaimana jika minggu depan kita berolahraga, atau kita ke kampus saja untuk tanding," usul Alis.


"Jangan gila kamu, ingin di sorak dan dipermalukan karena gerakan sudah tidak bertenaga." Kepala Andra geleng-geleng menolak.


"Itu kamu Dra, kita tidak." Arvin tertawa melihat Andra yang kesal.


Suara Raya tidur mengorok terdengar, Daddy meminta maaf karean Putrinya sudah waktunya tidur.


"Daddy pamit pulang duluan, kasihan Raya sudah tidur pulas," pamit Daddy bersama Mama.


"Kita juga sepertinya pamit sudah larut malam," ucap Papa yang membiarkan anak muda yang lanjut bersantai.


Andra berdehem karena keadaan terasa sunyi, terlihat sekali mata mengantuk karena lelah bekerja juga sudah waktunya istirahat.


"Kalian mau minum tidak," tanya ANdra yang merasa ingin mabuk.


"Mau," jawab Arvin yang sudah lama tidak minum.


"Besok tidak ada jadwal, berati malam ini bisa minum." Agra tersenyum lebar meminta persetujuan dari Prilly.


Setelah mendapatkan izin, Andra memesan minuman. Memastikan jika tidak ada tim keamanan yang akan datang menganggu.


Tidak butuh waktu untuk lama, minuman yang Andra pesan sudah ada di depan mata. Nya kaget melihat kadar yang cukup tinggi.


"Arvin, jangan macam-macam kamu," tegur Nay yang paham jika Arvin mabuk sangat buruk.


Jempol Arvin terangkat memastikan jika dirinya akan baik-baik saj, kali ini minum karean happy.


Ada enam gelas yang sudah terisi, Naya mencium bau menyengat hanya bisa mengerutkan keningnya saat Andra sudah gelas ke tiga.


"Alis tidak bisa minumnya."


Prilly hanya diam saja membiarkan gelasnya terisi menatap tiga pria yang minum tanpa bicara, tiga wanita hanya geleng-geleng.


"Andra, aku rasa sudah cukup, besok kamu ke kantor atau tidak?" Naya menahan gelas agar tidak terisi lagi.


Kepala Agra sudah terbentur di meja, hanya Arvin yang masih nampak biasa kecuali matanya yang merah.


"Satu kali lagi," pinta Andra memelas.


"Dra, aku sayang kamu, bagaimana denganmu?" tanya Arvin.


"No, aku normal," jawab Andra yang meneguk minumannya.


Kepala Arvin menggeleng, mengulangi pertanyaannya. Andra tetap dengan jawabannya yang tidak.


Kanaya tertawa melihat keduanya berselisih hanya karena kata sayang. Alis merekam moments Arvin mengoceh.

__ADS_1


"Emh, aku sayang sekali sama kamu." Andra memukul kepala Arvin membuatnya menangis.


"Kenapa kalian menangis, aku punya permen." Agra mengeluarkan balpoin yang biasanya digunakan untuk tanda tangan.


Tawa Prilly terdengar, sebaiknya mereka pergi. Arvin, Agra dan Andra sudah mabuk dan mulai melantur.


Naya membantu Andra berdiri, meletakkan tangannya di leher. Senyuman Andra terlihat karena sudah cukup lama dia tidak minum.


"Nay, ada kalanya aku capek dan ingin menyerah."


"Capek boleh, menyerah jangan." Naya membuka pintu memasukkan Andra perlahan.


Pinggang Naya ditarik, Andra mengecup bibirnya. Tangan Naya mencoba menghentikan, tapi dekapan Andra lebih kencang.


"Aku akan memecahkan kepala kamu Andra!" Naya mengigit bibir Andra kuat sampai berdarah.


"Naya, aku pulang dulu. Terlalu berbahaya jika kami ke apartemen kamu, lebih aman jika ke tempat Agra."


Kepala Naya mengangguk meminta Prilly segera pergi. Naya membantu Alis yang berjalan sempoyongan bersama Arvin.


"Lis, kamu mau ke mana?"


"Arvin dianter ke rumah Daddy saja, tidak mungkin aku membawanya pulang." Alis mendorong Arvin yang sudah mabuk berat.


"Ya sudah hati-hati, jika dia muntah biarkan saja di mobil, jika berhenti akan lebih sulit karena Arvin suka membuat ribut." Nay tersenyum kecil melambaikan tangannya.


"Kanaya, ayo kita pulang," ajak Andra yang keluar lagi dari mobil.


"Ayo Dra, mau ke mana kamu." Naya berlari mengejar menjambak rambut Andra agar masuk mobil kembali.


Suara tangisan Andra terdengar, masuk ke dalam mobil. Memohon agar Naya tidak memukulinya.


"Ada masalah Dra, kamu terlihat banyak beban pikiran." Naya menjalankan mobil.


Tidak ada jawaban dari Andra, matanya merah mencoba untuk sadar meskipun tetap saja kepalanya sempoyongan.


"Nay, aku mencintai kamu, tidak tahu sejak kapan rasa itu ada. Selama ini aku menderita karena rindu, kenapa aku begitu egois Nay?" Helaan napas Andra panjang ada beberapa hal yang disesalinya.


"Apa yang terjadi biar berlalu, jika kamu tidak pergi mungkin kita tidak jadi yang sekarang. Entah semakin jauh atau sebaliknya." Naya melihat jam sudah pukul satu malam.


Bibir Naya monyong karena Andra ingin tahu perasaan Naya, masih berat Naya mengutarakan rasanya.


"Tu, Naya tidak menjawab." Andra memejamkan matanya memilih tidur.


"Aku juga mencintai kamu Dra, jika tidak mungkin sudah lama membuka hati." Tangan Naya mengusap wajah Andra yang sudah tidur.


Sampai di apartemen, Naya membantu Andra masuk ke dalam lift. Beberapa kali Andra ingin muntah.


"Nay jangan tinggalkan aku, malam ini saja." Andra memejamkan matanya di atas ranjang berjanji tidak akan minum lagi.


Andra tidak sanggup merasakan kepalanya pusing, Naya menyerahkan air minum untuk menghilangkan mabuk.


"Makannya jangan mabuk, sudah bagus badan sehat."


Senyuman Andra terlihat menarik tangan Naya tidur dalam pelukannya, Naya hanya diam saja memejamkan matanya tidur di apartemen Andra.


Naya lupa jika ada Syifra di apartemennya masih menunggu kepulangan Naya. Beberapa kali Syifra melakukan panggilan namun tidak ada jawaban.


Kepala Andra masih pusing mendengar suara ponsel Naya berdering merabanya, menjawab panggilan Syifra.


"Halo, kenapa?"


"Andra, apa kamu bersama Naya?"


"Nay, emh. Dia sedang tidur." Andra menoleh ke arah Naya yang tidur pulas di dalam pelukannya.


Senyuman Andra terlihat, mengecup kening Naya. Lupa dengan panggilan yang masih hidup.


"Naya, Syifra menghubungi kamu?" Andra mengecup bibir Naya berkali-kali sampai bangun.


Mata Naya terbuka mengambil ponselnya melihat nama yang tertera. Nay langsung bangkit menendang Andra agar menjauh darinya karena harus pulang ke apartemen.

__ADS_1


"Sial, kenapa aku tidur disini?" Naya memeriksa bajunya karena takut Andra melakukan sesuatu.


Tatapan Andra tajam menahan Naya tidak boleh pergi karena ingin ditemani tidur, Nay berteriak meminta dilepaskan.


"Malam ini saja, please."


"Kasian Syifra sendirian, lagian kamu sudah biasa tidur sendiri." Naya duduk di pinggir ranjang mengusap wajah Andra.


"Syifra, kamu yang tidur sendiri. Jangan ganggu." Andra memeluk pinggang Naya erat.


Naya meminta Syifra tidur, Andra sedang mabuk dan tidak mau ditinggalkan. Naya tidak tega membiarkannya karena terlihat banyak masalah.


"Kamu temani saja Andra Nay, mungkin pertemuan dengan Delon menganggu pikirannya." Syifra juga terbangun dan baru sadar jika Naya belum pulang.


"Mereka bertemu, ada apa?"


Syifra meminta Naya beristirahat, Andra terlalu banyak pikiran selain pekerjaan juga karena dirinya.


Panggilan Naya matikan, menatap Andra yang masih memeluk pinggangnya tidur di paha Naya.


"Kenapa kamu bertemu Delon?" tanya Naya meminta Andra bangun.


"Emh, aku ingin membantu dia agar bisa punya pekerjaan." Andra membalik badannya tidur memeluk guling.


Naya bangkit dari duduknya, Andra juga bangkit memeluk Naya dari belakang tidak mengizinkan pergi.


"Ayo kita menikah setelah berhasil membantu Syifra, aku tahu kamu tidak enak kepadanya." Andra mengeratkan pelukannya memiliki perasaan yang sama ingin semuanya selesai.


"Aku lapar, kamu ada makanan tidak?"


"Arvin yang sering menyimpan makanan, coba dicari." Andra bongkar lemari pendingin.


Naya membuka lemari, menghidupkan kompor untuk membuat makanan. Andra masih nampak lemas hanya duduk melihat Naya sibuk makan.


"Mau tidak?"


"Mau, tapi dari mulut kamu," pinta Andra yang menutup wajahnya karena Naya ingin melempar menggunakan panci panas.


Naya makan lebih dulu, Andra hanya duduk menonton. Mengigit lengan Naya gemes, ingin melihat Naya marah.


"Apa yang akan kita lakukan saat bayi itu lahir?"


"Aku tidak tahu," jawab Andra.


"Bagaimana jika kamu menjadi Ayahnya?"


Kepala Andra mengangguk, dia tidak masalah menjadi ayah asalkan ibunya Naya, tapi jika diminta kembali kepada Syifra tidak mungkin terjadi.


"Kenapa harus aku?"


"Karena aku mencintai kamu, hal itu tidak akan berubah Naya."


Senyuman Naya terlihat, mengecup bibir Andra membuat langsung berdiri kaget tidak percaya Naya akan melakukannya.


"Apa ini maksudnya, kamu membalas cintaku?" tanya Andra mirip orang gila yang lompat sendiri.


Wajah Naya merah menahan malu, tidak menyangka bisa melakukannya begitu sungguh mengejutkan karena Naya selama ini mampu menutupi perasaannya.


"Apa sekarang kita pacaran?"


"Jangan bicara dengan Agra dan Arvin," pinta Naya yang belum siap diketahui banyak orang.


Kedua tangan Andra terentang, Naya tidak membalas lebih pilih makan. Andra memeluk dari belakang mengecup pipi Naya gemes.


"I love you, balasnya apa?"


"Jangan bicara begitu Andra, Naya malu."


"Sekali saja, aku ingin mendengarnya."


"I love you too, puas." Wajah Naya bertambah merah karena godaan Andra.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2