KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
CARI MASALAH


__ADS_3

Teriakkan Syifra menggema di dalam ruangan, dia berusaha untuk mencelakai Naya dan mengancam Andra, tapi orang suruhannya yang babak belur.


"Siapa perempuan itu, apa Andra membantunya?"


"Tidak, dia bertarung sendiri. Pria itu hanya melihat saja sambil memegang tas dan sepatu," jelas pria yang disuruh mencelakai Naya.


"Sialan, bagaimana caranya aku melenyapkan dia?" Syifra meremas rambutnya.


Ponsel Syifra berbunyi, panggilan dari Andra masuk. Beberapa kali panggilan diabaikan, menunggu sampai siap untuk menjawab.


"Ya sayang, ada apa?"


"Sudah aku katakan, dia tidak bisa kamu jatuhkan. Naya bukan hanya mandiri, tapi mampu menjaga diri. Perbuatan kamu kali ini lolos, tapi tidak lain kali," ancam Andra karena dia tidak ingin menganggu bisnisnya.


"Kamu bicara apa Dra, aku tidak mengerti. Apa yang aku lakukan?"


"Teruslah berlaga bodoh, itu lebih cocok untuk kamu." Andra mematikan panggilan karena Naya muncul.


Tatapan mata curiga terlihat, bisa menebak siapa yang baru saja Andra hubungi. Tidak ingin Naya curiga makanya mematikan.


"Apa dia mengakuinya, pastinya tidak. Dia tidak akan berhenti Andra, kamu harus menggunakan cara lain?"


"Maksudnya?"


"Tanggung jawab atau ...."


"Kejam sekali meminta aku bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak dilakukan. Lebih baik kita cari pria yang menghamili Syifra agar bertanggung jawab, hal yang kita hindari bayi dalam kandungannya." Andra menolak tawaran pertama Naya lebih baik mencari pelaku sampai ke lubang semut.


"Oke, berarti kita harus temukan pria itu."


"Nay, perkejaan kita sudah banyak, apa harus ditambah lagi?"


Naya melihat ke arah Andra, jika Syifra terus dibiarkan dia akan terus melakukan kejahatan, jika dilaporkan kepada pihak berwajib maka bayi yang dikandung bisa lahir di penjara.


Tidak ingin memberikan penderitaan kepada bayi yang tidak bersalah makanya Naya memberikan dua pilihan.


Senyuman Andra terlihat, Naya terlalu baik sampai mencemaskan kondisi janin yang tidak ada sangkut pautnya dengan Naya.


"Baiklah, besok kita pulang." Andra naik ke atas ranjang.


"Tunggu dulu, kenapa kamu tidur di sini?"


"Lalu aku harus di mana?"


Mulut Naya terbuka, hotel memiliki banyak kamar, tapi Andra hanya memesan satu. Tangan Andra ditarik paksa agar keluar kamar.


"Apa kamu juga sering begini dengan Syifra?"


"Sembarangan, aku tidak mungkin melakukannya. Kita berdua sudah biasa tidur sekamar," tolak Andra keluar.


"Kapan?"


"Waktu di penginapan saat mengunjungi makam mommy Arvin," balas Andra.


Naya terdiam mengingat kembali saat mereka tidur satu ranjang, Andra dan Naya yang suka bertengkar, tapi bisa aku jika sudah tidur.


Tangan Naya ditarik sampai jatuh di atas tubuh Andra, langsung cepat turun sambil memukul perut Andra kuat.


"Aw, kamu tahu aku tidak akan melakukannya, meksipun aku jahat, tapi tidak akan merusak wanita." Mata Andra terpejam, meminta Naya segera tidur karena mereka harus pulang.


Menolak debat akhirnya Naya tidur, melupakan sejenak masalah yang mengusik pikirannya.


Mata Andra terbuka, menoleh ke arah Naya yang sudah tidur nyenyak. Mengambil ponselnya menghubungi Arvin yang baru selesai melakukan operasi.


"Vin, hari itu kamu mengatakan ingin membantu aku, apa yang kamu ketahui soal Syifra dan kehamilannya?"


"Aku baru selesai operasi, apa sebaiknya kita bahas nanti saja?"


"Aku butuh sekarang, siapa kemungkinan besar pria yang menghamili Syifra?"


Tarikan napas Arvin panjang, sejujurnya dia tidak tahu siapa pelaku hanya saja tidak sengaja melihat Syifra memeriksa kandungnya.


Kemungkinan besar Syifra sudah lama tahu, Arvin tidak mencari tahu lebih karena privasi pasien.

__ADS_1


"Vin, tolong cari tahu berapa usia kandungannya, paling penting cari siapa bapaknya," pinta Andra.


"Bagaimana aku melakukannya, hubunganku dengan Alis jadi pertaruhan. Kenapa masalah kamu jadi masalahku?" Arvin menatap ponselnya karena Andra mematikan panggilan secara sepihak.


Seorang dokter menyapa Arvin, dokter Obgyn yang menangani Syifra. Terpaksa Arvin tersenyum kecil menyapa balik.


"Dokter Vivi, boleh saya bertanya sesuatu?"


"Oh tentu Dokter Arvin, tanyakan saja." Wajah Dokter Vivi bersinar karena pertama kalinya Arvin membalas sapaan.


Tangan Arvin garuk kepala, dia tidak tahu harus mulai dari mana. Malu dan segan juga karena mempertanyakan seorang pasien.


"Kita bicara ke tempat lain saja, apa dokter ingin tahu soal pasien saya?" tanya Vivi.


"Iya, tidak mungkin pasienku," jawab Arvin dengan nada dingin.


Senyuman dokter Vivi terlihat, duduk bersama dokter tampan yang menjadi incaran para wanita. Sikap dingin Arvin membuat daya tarik yang berbeda.


"Pasien yang mana?"


"Maaf jika pertanyaan ini terbilang berlebihan, kamu punya hak untuk tidak menjawab."


"Katakan saja Arvin, aku akan menjawabnya selama tahu?"


"Pasien yang bernama Syifra, bukannya dia pasien kamu. Wanita berkulit putih, rambut pirang, tubuhnya juga tinggi," jelas Arvin berharap Dokter Vivi mengingat Syifra.


Kepala dokter Obgyn mengangguk, dia memang memiliki pasien baru bernama Syifra. Memiliki paras yang cantik, tutur katanya juga baik, dan dia wanita yang sangat sopan.


"Aku tahu, besok jadwal dia pemeriksaan, tapi diundur karena sedang berada di di luar negeri." Dokter Vivi menatap Arvin yang masih diam.


"Berapa bulan usia kandungannya?"


"Empat bulan," balas dokter.


"Apa dia datang bersama suaminya?"


Kepala Dokter Vivi menggeleng, dia tidak melihat ada orang lain yang tidak mendampingi.


Dokter Vivi sangat yakin jika Syifra ibu yang baik untuk anaknya, bukan hanya parasnya yang cantik, tapi hatinya.


"Apa dia bercerita sesuatu soal kandungnya, atau suaminya?"


"Maaf Dokter Arvin saya tidak punya wewenang untuk bertanya itu lebih lanjut kepada beliau." Dokter Vivi menatap Arvin yang mengangguk pelan pamit pergi.


Sikap Arvin langsung dingin kembali, dokter Obgyn mengikutinya mencoba menghentikan Arvin.


"Ajak aku makan malam, nanti akan aku tanyakan," ucapnya.


"Tanyakan dulu, aku ingin tahu siapa ayah dari anak itu, jika bisa cari tahu sedetail mungkin," ucap Arvin tersenyum kecil langsung pergi.


Tangan Arvin tergempal, Andra melibatkan dirinya dalam masalah. Jika Alis sampai tahu bisa mati Arvin.


"Semoga saja aku selamat dari masalah ini, awas saja. Andra dan Naya harus bertanggung jawab." Avin mengganti baju karena adiknya minta dijemput.


Raya menolak pulang sekolah bersama mama, meminta Arvin yang menjemputnya. Terpaksa Arvin begegas takut Raya menunggu lama.


Selesai ganti baju Arvin langsung ke mobilnya, melajukan mobil ke arah sekolah. Berkali-kali Arvin mengecek jam.


"Operasi semalaman cukup lama, sampai hampir jam sembilan ini. Raya sudah pulang belum?" Arvin mempercepat laju mobilnya.


Mama mengirimkan pesan jika Raya pulang setengah sepuluh, melarang Arvin terburu-buru karena adiknya selalu menjadi urutan terakhir pulang.


"Aman, tuyul satu itu tidak akan kelayapan." Mata Arvin melihat ke arah beberapa poster dipenuhi wajah Agra.


Hampir semua tempat penuh wajahnya, Arvin sampai geleng-geleng karena wajah Agra sudah pasaran.


"Akhirnya sampai, kurang lima menit." Arvin melihat banyak anak-anak yang sudah pulang.


Dari kejauhan Raya berjalan menyeret tas dan bajunya karena sudah lama pulang. Dia bersemangat keluar lebih dulu, tapi tetap terakhir pulang.


"Kenapa bajunya dibuka?"


"Kak Avin lama sekali, Raya sudah kepanasan."

__ADS_1


"Iya maaf, namanya juga dari rumah sakit, jalan ramai, jarak juga lumayan," jelas Arvin menenangkan adiknya yang sedang marah.


Seorang guru yang mengawasi Raya tersenyum melihat Arvin yang sangat tampan, tidak bisa memalingkan wajah karena mengangumi nya.


"Jangan lihat Kakak Avin begitu, dia punya Alis. Kakak Alis salah." Raya mengandeng tangan Arvin yang mengambil tas berjalan ke mobil.


"Alisha namanya, nama sebagus itu kamu ubah sesuka hati."


"Terserah Raya, pokoknya dia Alis salah," ucap Raya nyolot.


Kepala Arvin mengangguk, tidak ingin debat dengan adik kecilnya yang tidak mau kalah sedikipun.


"Ayangku, siapa itu ayangku." Kerutan di kening Raya terlihat.


Arvin mengambil ponselnya melihat pesan dari Alis yang mengabari jika dia sudah sampai di rumah.


Memberikan izin Arvin main karena Mami dan Papi ada di rumah. Sudah lama tidak bertemu membuat penasaran dengan Arvin yang sekarang.


"Raya, kita ke rumah kakak Alis dulu, tapi kamu janji jangan nakal."


"Siapa yang mengatakan Raya nakal, orang Raya anak baik. Beli baju baru dulu ya Kakak," pintanya.


Kepala Arvin mengangguk, akhirnya ada kesempatan bertemu calon mertua. Arvin tidak peduli dengan masalah Syifra dan akan jujur kepada Alis jika nasib sial menimpanya karena menolong Andra dan Naya.


"Kak di mana Kakak Anda?"


"Siapa itu?"


"Kakak yang paling ganteng, kulitnya sawo matang, hidung mancung, bibirnya lucu, senyuman manis apalagi ada bolong di pipinya." Kedua tangan Raya menutupi wajah merasa malu.


Mata Arvin memicing, Adik bungsunya sangat genit. Suka sekali rebutan dengan Naya membuat heboh.


Masalah makanan diributkan, sekarang masalah cowok juga. Raya menyukai apa yang Naya sukai.


"Ini rumahnya kakak Alis, besar juga. Kenapa kita tidak pernah ke sini?"


"Raya jadilah anak yang manis agar kakak kamu ini diterima sebagai menantu." Arvin memelas kepada Raya yang sedang pakai baju.


"Kakak mau jadi hantu?" Raya tertawa terpingkal-pingkal.


Pintu mobil terbuka, Alis berlari keluar memeluk Arvin. Mengecup bibirnya tidak peduli ada Raya yang melongo.


"Kasih tahu Mama ya," ancam Raya karena diajarkan tidak boleh kiss bibir.


"Dasar tukang adu," ejek Alis meminta Arvin dan Raya masuk.


Senyuman Raya terlihat menatap rumah Alis yang y tenyata memang besar, bagus dan nyaman. Berbeda dengan rumah Raya yang modern.


"Raya mau patung kuda, di rumah Raya hanya ada lukisan." Tangan Raya menujuk ke arah patung kuda besar.


Teriakan mami terdengar saat melihat ada anak kecil berdiri di samping Arvin. Dia berpikir Arvin bohong punya adik lagi.


"Papi lihat, ada anak kecil mirip Arvin sama Agra. Ya tuhan lucunya." Mami berlari kecil menuruni tangga melihat Raya masuk tanpa sungkan.


Papi langsung keluar, melihat Raya yang sedang menatap patung kuda. Dia baru pertama kali melihat patung lucu.


"Hei anak cantik, siapa nama kamu?"


"Araya, boleh tidak minta kuda?"


"Raya tidak boleh, bicara yang sopan," tegur Arvin.


Mami memeluk Raya, dia akan mengirimkan kuda ke rumah Raya asalkan dia mau mengecup pipi.


"Emuach, Raya mau kuda."


"Raya kuat bawanya?" tanya Mami.


Kepala Raya menggeleng, dia akan meminta Naya datang untuk membawanya soalnya Raya tahu Kanaya sangat kuat.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2