
Di kampus Arvin mendekati Naya karena sedari siang menghubunginya berkali-kali tanpa henti.
"Ada apa?"
"Jangan berlaga bodoh. Perusahaan AA milik keluarga Andra, kamu yang membantu aku masuk sana." Kedua tangan Naya terlipat di dada.
Menegur Arvin agar tidak mencampuri masalah pekerjaan, Naya tidak ingin bergantung orang dalam.
Wajah Arvin datar, berdiri memegang pembatas balkon, melihat ke arah bawah beberapa mahasiswa pulang dan baru datang karena ada dua kelas.
"Aku memang menyarankan, tapi kamu yang berjuang untuk ada di posisi saat ini, Andra bahkan berniat menggagalkan kamu." Kedua bahu Arvin terangkat mengatakan yang sebenarnya.
Tidak ada bantuan Arvin, dia hanya mencoba menghentikan Andra karena ingin membuat Naya gagal.
"Ternyata niat hati Andra ini jahat sekali, haruskan aku berhenti bekerja?"
"Jangan Nay, Daddy Arvin tidak mungkin mengusik perusahaan Papi Andra karena mereka dua bisnis yang bertentangan, Papi tidak mungkin mengizinkan perusahaanya bekerja dengan bisnis ilegal." Senyuman Agra terlihat, berjalan mendekat bersama Andra.
Arvin dan Nay kaget melihat wajah Agra ada bekas pukulan, tidak ada yang berani bertanya karena sudah bisa menduganya.
Perasaan Arvin tidak enak karena kemarahan Mama Agra ulah dirinya yang datang ke rumah.
"Vin, maaf soal Mama, aku tidak enak sekali dan tidak bisa menghubungi kamu karena ponsel dipecahkan." Agra merangkul pundak Arvin.
"Aku yang tidak enak," balas Arvin.
"Aku yang paling enak, ujung-ujungnya ditampar papi juga karena diminta menjauhi kalian berdua." Tawa Andra terdengar mengejutkan kedua sahabatnya.
Tawa Naya juga terdengar mendengar kabar Arvin ditampar Mama Agra, Andra di tampar Papinya sedangkan Agra dipukuli.
Keempat remaja berdiri di balkon menatap ke arah langit yang berwarna jingga, terasa begitu tenang.
Senyuman Nay terlihat tidak menyangka jika ketiga lelaki yang dikenal pengacau tidak seburuk yang Naya pikirkan.
Ketiganya menyenangkan dan sangat setia kawan, tidak peduli dengan perbedaan tetap saja selalu bersama.
"Vin, kamu kerja di bar?" tanya Andra sambil tertawa.
"Ya, masalah buat kamu?"
"Semangat Vin, sekarang kamu banyak berubah ucapan dan jawabannya lebih panjang." Kedua tangan Agra bertepuk bangga.
__ADS_1
Senyuman kecil Arvin terlihat dirinya juga bangga kepada diri sendiri karena mencoba keluar dari zona nyaman.
Daddynya tidak mungkin berani mengusik bar, Arvin tidak akan tinggal diam jika sampai Papinya datang.
"Apa yang ingin kamu lakukan sekarang Vin?" Andra mengecek ponselnya.
"Soal Daddy dan Kakek?" Arvin menarik napas panjang karena sudah mengetahui masalah yang dibuat oleh keluarganya.
Kakeknya berada di luar negeri bersama istri barunya, sedangkan Daddy Arvin menjalankan bisnis gelap.
Ada beberapa bisnis daddynya yang mulai redup karena Arvin memutuskan keluar dari rumah.
"Banyak pengusaha yang meragukan Daddy Vin, apa kamu akan diam saja?" Andra menunjukkan sesuatu.
Tangan Arvin menyingkirkan ponsel Andra, sudah lama Arvin tahu. Bisnis Papanya bergantung dirinya apalagi batalnya pertunangan dengan Erin.
"Lo sengaja membuat batal pertunangan, Vin?" Naya baru terpikirkan karena keluar dari rumah ini sudah direncanakan oleh Arvin sejak lama.
Kepala Arvin mengangguk, dia ingin mengungkap kematian Mommynya, tidak mungkin hanya penyakit biasa.
"Sudah bertahun-tahun Vin, apa masih ada kemungkinan?" Andra tahu betul perjuangan Arvin yang belum terima atas kepergian Mommynya.
Kanaya yang tidak tahu apapun hanya bisa diam, tidak enak jika bertanya kasus apa yang Arvin tangani selama ini.
Pukulan Naya mendarat di dada Andra, tatapan matanya tajam karena tebakan Andra benar jika Naya penasaran.
"Mommy meninggalkan karena overdosis obat, tapi aku tidak percaya. Daddy seakan-akan menutupi kasusnya, tanpa penyidikan apapun langsung ditutup." Arvin tidak terima daddynya menutupi kematian Mommynya.
"Mungkin jika terungkap akan membuat bisnis daddy kamu turun," tebak Naya sembarangan.
"Mungkin juga mommy membatin karena suaminya suka selingkuh, akhinya minum obat tanpa takaran." Andra hampir keceplosan jika mommy Arvin bunuh diri.
Kepala Naya mengangguk, tanpa Arvin sadari mungkin daddynya mencoba menyelamatkan nama baik istrinya, juga menjaga perasaan Arvin.
Kedekatan Arvin dan Mommynya tidak membuat Arvin tahu masalahnya, dia tanya melihat daddynya jahat, dan mommy korban.
"Vin, jangan hanya melihat dari kacamata kamu, coba lihat dari pandangan Daddy," saran Naya.
"Daddynya selingkuh, tidak mungkin dia berniat menutupi apapun."
"Jika Daddy kamu jahat, kenapa tidak dinyatakan jika mommy bunuh diri, daddy bisa terlihat sebagai korban yang tersakiti."
__ADS_1
"Bodoh kamu ini Naya, jika terungkap sebagai bunuh diri maka perusahaan akan hancur, kepercayaan orang akan redup karena gagal menjaga rumah tangga." Nada bicara Andra tinggi, menarik lengan Naya yang bicara sembarangan.
Jika Arvin sampai tersinggung bisa terjadi pertengkaran lagi, dia sangat sensitif jika membicarakan Mommynya.
"Ucapan Naya ada benarnya, kita harus melihat dari kacamata lagi." Agra setuju.
"Sudahlah Gra, mendingan kamu urus tunangan baru kamu, jangan membahas hal lain." Andra merangkul pundak Arvin untuk segera pergi.
Helaan napas Arvin terdengar, dirinya baik-baik saja. Andra tidak perlu mencemaskan perasaannya karena Andra sudah mulai terbiasa setelah bertahun-tahun.
Sikap daddynya semakin kasar setelah tahu Arvin mengungkap kematian mommy. Bersikap tegas memaksa Arvin untuk meneruskan bisnis.
"Aku akan mencari tahu lagi," ujar Arvin garuk-garuk kepala.
"Kebenaran itu tidak selamanya baik, ada kalanya kebenaran ditutupi demi kebaikan." Nay tersenyum menatap Arvin yang sangat dingin beda dengan Andra yang melotot.
Kepala Naya didorong oleh Andra, pukulan Naya hampir mengenai wajah Andra sampai Arvin yang harus menahannya.
Keduanya bertengkar kembali, Arvin dan Agra kewalahan meminta Naya dan Andra berhenti bertengkar.
"Dra, kamu seperti perempuan yang meladeni, jahil." Arvin memeluk Andra.
"Sudahlah Nay, Andra tidak perlu kamu ladenin." Agra menarik tangan Naya.
"Bagaimana jika kita bermain basket saja berempat, Naya punya jam kuliah tidak?" Agra menatap ketiganya yang setuju.
Andra mendekati Naya, jika dirinya menang maka Naya harus membayar makanan selama satu minggu, tapi jika Nay yang menang maka Andra traktir makan setahun.
Arvin dan Agra bertepuk tangan, setuju dengan persyaratan Andra. Agra dan Arvin langsung masuk tim Andra karena dia ketua basket.
"Kenapa Naya sendiri, curang."
"Gra, kamu sama Naya." Arvin mendorong Agra.
"Kenapa aku, Andra saja." Agra menarik Andra.
"Kenapa aku yang satu tim dengan Naya, kalian berdua salah satunya, apa kalian ingin mentraktir aku dan Nay selama satu tahun?" tawa Andra terlihat menatap Arvin dan Agra suit.
Tatapan Naya tajam melihat tiga lelaki tidak ada yang mau satu tim dengannya, wajahnya cemberut karena diremehkan.
"Sudahlah, Naya tidak mau satu tim dengan Agra dan Arvin, panggil Prilly dan Alis saja." Nay melangkah pergi karena ngambek.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira