
Suara teriakkan Naya terdengar, memukuli Andra yang tidak berhenti tertawa. Merasa lucu karena Naya yang dulunya berpenampilan tomboi berubah menjadi wanita feminim.
"Awas rok terangkat," tegur Andra karena ingin kencang.
"Bagiamana bisa terangkat, Kanaya menggunakan baju ini."
"Apa namanya?"
Tendangan kaki Naya kuat ke arah tulang kering Andra, terikkan meringis kesakitan terdengar, Andra berlutut mengusap kakinya.
"Kamu masih saja kejam." Andra menarik lengan Nay untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kamu juga kenapa jahil?"
Mobil melaju pergi, tangan Andra sesekali masih mengusap betisnya yang sakit, menatap Naya yang menikmati pemandangan kota.
"Indah ya, kamu tidak ingin menetap di sini?" tanya Andra pelan.
Kepala Naya menggeleng, dirinya mencintai negaranya dan akan tetap mengabdi di sana tanpa peduli lelah dan letih.
"Delapan tahun aku tinggal di sini, negara ini memiliki banyak kenangannya." Senyuman Andra terlihat tidak menyangka bisa menjelajahi kota bersama Naya.
Bibir atas Naya tersungging, mengabaikan ucapan Andra karena malas mendengar negara kenanga Andra bersama Syifra.
"Mau pergi ke suatu tempat?"
"Tidak, aku mau pulang ke hotel, tiduran, makan dan tidur lagi," balas Naya cepat karena tidak ingin mendengar cerita Andra sama sekali.
Tidak peduli dengan penolakan Naya, Andra memutuskan untuk pergi ke tempat hiburan yang biasanya dikunjungi oleh beberapa pasangan untuk bersantai dengan berlayar menggunakan kapal menyusuri danau.
"Tempat apa ini?"
"Meeting." Tnagan Naya ditarik paksa untuk masuk ke tempat hiburan.
"Kenapa membawa aku ke tempat seperti ini, lebih baik kamu bersama dengan Syifra menghabiskan waktu bersama, bukannya kalian ingin menikah. Jangan membuang waktu bersama, Dra." Tangan Andra ditepis, Naya menolak untuk naik ke atas kapal, memutuskan kembali ke hotel.
"Aku tidak akan melanjutkannya, sesuatu yang sudah diputuskan untuk berakhir maka tidak bisa dipertahankan lagi. Kenapa aku harus menikahi wanita yang menyakiti adikku?"
Naya menoleh kearah Andra, apa yang terjadi haya salah paham. Syifra berpikir Alis dirinya dan hal yang wajah dia memukul karena takut kehilangan.
"Kenapa dia boleh memukul kamu? Memangnya kita ada hubungan apa?" tanya Andra membuat Naya terdiam.
__ADS_1
Kepala Naya menggeleng dia juga tidak paham alasan Syifra tidak menyukainya padahal tidak saling mengenal.
"Kita lupakan saja masalah itu, cukup bertemu sebagai atasan dan bawahan saja,'' ucap Naya menyakinkan Andra jika keadaan akan baik-baik saja selama keduanya tidak saling berdekatan.
"Aku pernah mengatakan menyukai seorang wanita, tapi aku pergi sebelum mengutarakan perasaan, aku mencintainya, tapi teman-temanku juga menyukainya, tidak ingin merusak persahabatan aku menyembunyikan perasaan itu, Syifra satu-satunya yang tahu soal wanita itu." Andra melangkah pergi berjalan sendiri di antara lampu yang mulai hidup karena siang sudah berganti malam.
Kanaya mengigit bibir bawahnya, hanya berdiri diam tanpa ada pergerakan. Rasanya Nay ingin menangis karena Andra meninggalkannya di tempat yang tidak dikenali.
"Andra, Nay harus pulang ke mana?" kepala Naya celingak-celinguk melihat pasangan berlalu lalang dengan mesra.
Lama Naya menunggu Andra menjemputnya kembali, jika Naya pergi maka akan semakin sulit ditemukan tidak mungkin dirinya pergi ke bagian pengumuman jika hilang.
Kedua kaki sudah lelah, Naya berjongkok memegang kakinya, seseorang juga berjongkok di hadapan menepuk punggungnya.
"Dari mana, Naya sendirian di sini." Tanpa berpikir panjang Nay melingkarkan kedua tangannya membiarkan Andra menggendongnya karena kakinya memnag sudah lemas.
"Cuaca malam akan semakin dingin tiga kali lipat dibandingkan siang, jika tubuh kamu tidak kuat dingin pasti lemas." Andra merasakan tangan Nay yang gemetaran.
"Sudah tahu dingin, tapi pergi ke danau,'' sindirnya.
"Mau kamu aku lempar ke danau." Leher Andra tercekik kuat, Nay memeluknya sangat kuat.
"Aku bisa mati, Kanaya."
"Ranjang, mau? Kepala Andra dipukul kuat, Naya turun dari punggung memukul punggung, tapi Andra lebih cepat menahan tangan.
"Bisa tidak jangan main kekerasan?"
Bibir Nay gemetaran, senyuman Andra terlihat menggenggam tangannya untuk berjalan ke sebuah tenda yang disewakan, bisa juga memesan makanan hangat dan minuman.
"Aku tidak bisa hidup di tempat seperti ini, tidak bisa," gumam Nay yang kedinginan.
"Minum ini," pinta Andra yang meletakkan dua minuman hangat.
Kerutan kening Naya terlihat, aneh melihat Andra yang bisa menggunakan baju kemeja di cuaca yang sangat dingin.
"Kamu tidak dingin, Dra?" tanya Naya menyentuh tangan.
Kepala Andra menggeleng, dia sudah biasa berurusan dengan cuaca dingin. Bahkan Andra mulai kesulitan tinggal di wilayah yang panas.
"Maaf soal ucapan aku tadi," ujar Andra yang tidak nyaman mengatakan hal masa lalu.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, kita lupakan saja." Nay menghirup minumannya sambil memejamkan matanya.
Nay meminta Andra menyelesaikan hubungan secara baik-baik, Syifra bukan wanita jahat dia hanya takut kehilangan.
Tidak perlu dijelaskan, Nay bisa merasakan jika mereka sama. Syifra hanya mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
Kepala Andra mengangguk, dia akan menyelesaikannya, tapi tidak akan melanjutkannya.
"Nay, aku juga lahir dalam keadaan tidak baik, kehadiranku membuat pecah dua keluarga." Andra menundukkan kepalanya karena dirinya tahu sulitnya hidup di dalam keluarga yang bermasalah.
"Apa kamu takut pernikahan kamu juga bermasalah?"
"Ya, Mami menangis meminta aku memutuskan hubungan dengan Syifra, dia tidak bisa menerimanya, Papi juga meminta aku mengajar Syifra agar memiliki etika. Baik dalam bisnis, belum tentu dalam keluarga." Andra sangat mengutamakan Maminya, jika Mami tidak setuju maka Andra tidak akan lanjut siapapun orangnya.
Naya nampak kaget, seburuk apa sikap Syifra sampai Mami yang sangat baik bisa tidak menyukainya.
"Apa dia hanya baik di hadapan Andra, dan apa aku yang paling buruk di mata Andra?" batin Naya membandingkan dirinya.
Makanan yang Andra pesan datang, keduanya makan sambil menikmati keindahan danau yang dipenuhi lampu.
"Dra, bagaimana jika tiba-tiba ada buaya?" tanya Nay.
Suara Andra batuk terdengar, menatap mulutnya sambil menatap Naya yang memiliki pikiran paling jelek.
"Di tempat hiburan bisa-bisanya berpikir begitu," tegurannya kesal.
"Naya hanya bertanya, siapa tahu buaya luar negeri sukanya menonton, bukan memangsa." Tawa Naya terdengar merasa konyol dengan dirinya sendiri.
Tangan Andra mengusap bibir Naya, kepala Naya tertunduk mengulum bibirnya. Jantung Nay berdegup, jarinya mengetuk meja agar suara jantung berdebar tidak terdengar.
"Kamu deg-degan, apa kamu pernah menyukai?" senyuman Andra lebar melihat wajah Naya memerah.
"Mau ditampar?"
"Iya bilang iya, wajah kamu merah menahan malu. Naya, sekuat apapun kamu, masih tetap saja wanita, sampai aku menyudahi semuanya, tunggu aku. Sekali ini saja, jangan buka hati untuk siapapun, meksipun sekarang Agra dan Arvin tidak menjadi saingan karena dua anak itu punya tambatan hati." Andra mengacak-acak rambut Naya yang berantakan.
Mata Naya terbelalak besar, ucapan Andra memang tidak membutuhkan jawaban, tapi Naya tahu maksudnya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
Maaf lama tidak up, soalnya baru keluar dari rumah sakit. Terima kasih yang sudah setia menunggu.
***