
Tanpa ditemani siapapun, Andra pergi ke luar kota untuk menghadiri rapat bersama, dia baru tahu jika Naya yang mewakili perusahaan, tapi tidak memberikan laporan kepadanya.
"Perusahaan AA tidak butuh pemimpin, Kanaya bisa bergerak sendiri." Andra terseyum sinis tidak menyangka wanita bar-bar menjadi karyawan bar-bar.
Perjalanan menepuk tiga jam lebih, Andra memarkirkan mobilnya di perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan AA grup, seseorang sudah menyambut kedatangan Andra.
"Selamat datang Pak, silahkan masuk."
"Bu Naya sudah datang?"
"Biasanya selalu terlambat, tidak ada juga yang akan memarahi dia," ucap direktur yang juga turut hadir atas perintah Naya.
Andra meminta nomor Naya, ada hal penting yang ingin dibicarakan sebelum meeting dimulai.
Direktur perusahaan merasa takut memberikan nomor Naya, tapi CEO yang meminta tidak mungkin ditolak.
"Dia menginap dimana?"
"Hotel depan Pak," jawabnya cari aman.
Kepala Andra mengangguk masuk mobil kembali, melaju pelan ke arah hotel yang tidak terlalu jauh dari perusahaan.
"Apa yang dilakukan wanita itu?" Andra masuk ke restoran hotel, melihat sekeliling. Dugaannya benar, Naya duduk santai sambil sarapan.
Laptop menyala di hadapannya, Naya sambil sarapan lanjut kerja. Andra duduk di sampingnya saja tidak tahu.
"Bagaimana bisa, perasaan sudah aku cek semalam?" Naya menoleh ke arah Andra.
Teriakan kaget terdengar, tangan Naya melayangkan pukulan, tapi Andra menangkap tangannya cepat.
"Sebentar lagi meeting dimulai, kamu masih sarapan dengan santai," sindir Andra melihat makanan Naya masih penuh di atas meja.
Tangan Andra dipukul, tapi berhasil menghindar. Andra tahu cara menghindari gerakan Naya yang sangat cepat.
"Aku tidak peduli terlambat, paling penting perut kenyang."
"Jelaskan soal rapat hari ini," pinta Andra mengambil beberapa berkas di atas meja yang sudah Naya siapkan.
Tidak banyak debat, Naya menjelaskan tujuan mereka melakukan rapat. Ada beberapa laporan yang tidak sesuai, tidak ingin mengalami kerugian terlalu banyak sehingga harus ada kejelasan.
Menurut laporan, jika ada data yang dimanipulasi. Naya sudah mengecek langsung ke beberapa perusahaan yang terlibat kerja sama, laporan berbeda jauh.
"Bukannya seharusnya kita lapor polisi."
"Tidak akan menjadi solusi, ini soal bisnis bukan kasus pembunuhan. Kita akan rugi lebih besar lagi jika perusahaan pajak, serta penyelidikan kasus keuangan ada di tangan Kepolisian." Kepala Naya menggeleng, dia akan menghentikan kerugian, jika bisa mengambil sisa yang ada.
Naya sengaja mengadakan rapat karena ingin menunjukkan kecurangan di depan banyak orang, tidak ada jalan melarikan diri apalagi melarikan uang.
"Berapa kerugian kita?"
"M, sebanyak itu."
Andra nampak terkejut, mengambil laptop Naya membaca data yang sudah Naya kumpulkan untuk meminta ganti rugi.
Suara kursi Naya bergerak terdengar, dia berjalan ke arah kaca, melihat perusahaan besar yang menjulang tinggi, bisa dilihat dari restoran hotel apalagi di kamar hotel.
"Dra, kita ambil alih perusahaan itu."
Kepala Andra menoleh, berjalan ke arah Naya yang sedang menatap gedung paling tinggi di antara yang lainnya.
Kerutan di kening Andra terlihat, ternyata Naya memiliki ambisi yang sama seperti dirinya. Siapa yang berani melanggar kontrak, maka dia akan kehilangan tempat kaki menginjak.
"Berapa persen kemungkinan kita menang?"
"Delapan puluh, aku sudah mengawasi tempat ini lebih dari tiga tahun. Aku harap pimpinan AA group punya rencana bagus." Naya tersenyum sinis tidak sabar lagi untuk membagi dua staf yang membludak.
Senyuman Andra terlihat, dia sudah bisa menebak pikiran Naya. Kembali ke tempat duduk, melihat berkas yang menumpuk untuk memojokkan seseorang.
"Siapa yang mengajari kamu bisnis seperti ini?"
"Daddy, dia mengatakan jika tidak ingin dikuasai orang, maka jadilah yang berkuasa. Aku rasa ucapan itu benar adanya." Sendok masuk ke dalam mulut Naya, menikmati makanan yang menunggu lama di atas meja.
"Ambilkan aku minuman," peringat terdengar.
"Aku, kamu meminta aku yang mengambil?"
"Lalu siapa, jangan lupa aku atasan kamu," tegas Andra agar Naya tidak lupa soal statusnya.
Kedua tangan Andra menahan merah yang hampir terbalik, melihat Naya berjalan mengambil minum.
"Jika ada racun, kamu orang pertama yang aku bunuh." Minuman diletakan di atas meja karena Andra masih menyebalkan.
"Kenapa selalu marah, hati-hati nanti kejang darah tinggi." Senyuman Andra terlihat menghabiskan minumannya.
Baru saja Naya makan kembali, gelas sudah disodorkan kepadanya agar segera mengambil minuman dengan gelas yang lebih besar.
Tarikan napas Naya panjang, tersenyum ke arah Andra. Melihat sekitar ada banyak orang yang duduk disekitar mereka.
"Sabar Nay, anggap saja dia Iblis." Naya mengambil minuman mengaduk dengan jarinya barulah diberikan kepada Andra yang sudah menunggu.
Minuman diteguk habis, Naya menahan tawa. Jika Andra tahu ada potongan wortel yang Naya masukkan pasti sudah bertarung.
Makanan Naya satu-persatu hilang, Andra sambil kerja mengecek laporan juga menghabisi makanan.
"Kenapa makanan aku diambil terus?"
"Jangan pelit, ingat makanan ini dibayar oleh siapa ... perusahaan. Jangan lupa juga Perusahaan itu milik siapa ... aku." Andra tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
Kepala Naya mengangguk sudah malas debat karena terlalu banyak bicara akan terus membuat emosi semakin naik apalagi bicara dengan Andra yang tidak punya pikiran sehat.
Jadwal rapat sudah lewat dari tiga puluh menit Naya masih belum niat beranjak dari duduknya menunggu kabar dari manager yang juga hadir.
"Sampa kapan kita di sini?" tanya Andra yang selesai mengecek laporan.
"Pria sialan itu bahkan belum datang, bukannya dia brengsek sekali," ujar Naya yang mulai kesal.
"Pimpinan yang seharusnya hadir di rapat sampai sekarang belum muncul. Manusia sialan, dia tidak tahu jika karyawan yang turut hadir dalam meeting memiliki banyak pekerjaan.
Pesan masuk, manager memberitahu Naya jika orang yang ditunggu akhirnya datang, dia terlihat marah karena rapat belum dimulai.
"Dia sudah datang, kita tunggu saja sampai emosinya dipuncak, jika perlu serangan jantung." Hembusan napas kasar terdengar, Naya sudah lelah mengurus pimpinan yang tidak bisa konsisten.
Saat butuh bantuan merengek seperti orang yang paling tersakiti, setelah bantu seperti kacang lupa kulitnya.
Tidak ingat susah, menghabiskan banyak uang perusahaan untuk kehidupan pribadi, hingga lupa arah jalan pulang.
"Sudah lebih dari sepuluh menit, aku tidak tahan menunggu." Andra berjalan lebih dulu.
Kanaya mengikuti dari belakang, masuk ke dalam mobil Andra yang sudah siap jalan, menuju kantor yanag akan segera menjadi milik mereka.
Suara high hells Naya terdengar memasuki gedung, telinga Andra sangat suka mendengar suaranya. Wanita yang berjalan bersamanya terlihat anggun dan berwibawa, pintar juga memiliki skill.
"Di mana Kanaya yang murahan itu, dia sibuk meminta rapat, tapi sampai saat ini belum juga muncul," teriakkan terdengar sakin besarnya saat pintu terbuka tidak tahu.
"Sama-sama terlambat tidak harus berteriak." Andra menatap sinis.
"Siapa anda?"
"Dia Pak Andra, CEO perusahaan AA group." Kanaya memperkenalkan perusahaan yang Andra pimpin di luar negeri juga keterlibatan di rapat.
Kepala Andra menoleh ke arah Naya karena bisa tahu detail soal dirinya yang memimpin beberapa perusahaan di luar padahal Andra tidak pernah cerita.
Naya mempersilahkan semuanya duduk, meminta maaf karena dirinya terlambat sangat lama karena orang yang dibutuhkan dalam rapat juga lama.
"Tiap kali meeting kamu selalu terlambat Nay, tidak punya aturan dalam bisnis," sindir pria tua yang sama-sama terlambat.
Awal Naya terlambat, apa yang dilakukan tergantung dengan cara orang menyambutnya, sebagai tamu seharusnya kedatangan pimpinan perusahan lebih cepat.
"Pak Burhan, kita mulai bisnis dan kerja sama secara baik, perusahan kami sudah keluar dana besar, begitupun hasilnya yang seharusnya masuk juga besar, tapi kenapa kita tidak menerimanya?" Naya bicara sangat pelan, tapi tatapan matanya menginterogasi.
"Saya tidak tahu thu soal itu, silahkan kepala bagian menjelaskan, setiap bulan selalu ada perincian data masuk dan keluar."
Kepala Naya mengangguk, tentu dirinya tahu dan menerima laporan tiap bulan, tapi hasilnya tidak sesuai.
"Maaf Bu bukannya meeting kali ini untuk peluncuran produk baru, tapi kenapa yang dibahas masalah lain?" Manager Pak Burhan minta Naya membicarakan sesuatu yang sudah mereka tentukan untuk dibahas.
Tangan Andra terangkat, meminta Naya diam. Seseorang masuk memberikan kepada Andra print yang dikiranya untuk menjadi salinan.
Kertas dilempar hadapan banyak orang, Andra meminta membaca detail tiap tulisan yang dirinya beri warna.
"Saya tidak mengerti ini apa, sepertinya Pak Andra salah paham," ucap Pak Burhan yang tidak mengakui jika sudah memanipulasi data.
"Benarkah hanya sebatas kesalahpahaman, berati staf kami yang salah dan melakukan pembohongan, atau penipuan?" Tangan Andra terlipat di dada meminta penjelasan detail apa yang menjadi kesalahan dirinya berserta staf.
Tidak ada yang mampu menjelaskan, ucapan Andra yang dingin dan tegas membuat mati kutu, segala kesalahan tidak bisa dielak.
Uang yang bernilai fantastis akan dikembalikan secara baik-baik, Pak Burhan tidak ingin dilaporkan ke polisi memohon kepada Andra untuk memaklumi dirinya yang sudah tua.
"Aku masih memiliki uang, lebih banyak dari kerugian, namun masalahnya anda merugikan karyawan saya, mereka yang kerja mati-matian dan kalian penikmatnya."
"Kita bicarakan baik-baik saja Pak Andra," pinta pimpinan perusahaan.
"Jika istri ada tahu kira-kira bagaimana ya Pak Burhan?" tanya Naya mengejutkan pria tua.
Staf lain hanya bisa tertunduk diam, menjadi pelajaran agar tidak main-main dengan AA grup, seorang pimpinan saja bisa dihancurkan apalagi mereka yang berstatus staf biasa.
Bisa bekerja di perusahaan besar saja sudah menjadi sesuatu yang luar biasa, dan bekerja dengan tenang jauh lebih baik.
Konsekuensi yang Naya sebutkan membuat tercengang banyak orang, keinginannya hampir membuat Pak Burhan jantungan.
"Apa Naya, kau menginginkan apa?" Pak Burhan minta Naya mengulangi ucapannya.
Tawa Naya terdengar dia hanya mengiginkan sesuatu yang tidak terlalu sulit, hal yang normal bisa dilakukan semua orang, kehilangan perusahaan bukan sesuatu yang baru.
"Pilihan yang aku berikan sudah cukup baik, menjual perusahaan kepada AA group atau aku akan membocorkan semua keburukan perusahaan ini setidaknya kita sama-sama rugi," jelas Naya sambil tersenyum manis.
"Aku akan mengembalikan uang perusahaan kalian, dan menerima keputusan membatalkan kontrak kerja sama," teriakkan terdengar menunjuk wajah Naya yang bertingkah seperti ular.
"Boleh saja, sesuai kontrak sepuluh kali lipat," ujar Naya membuat beberapa orang batuk.
Pukulan di atas meja kuat, Pak Burhan melangkah ke arah Naya mengangkat tangannya ingin memukul, Tangan di tangkap dengan mudahnya, diagram kuat membuat teriakkan histeris sampai berlutut kesakitan.
Nay tidak pernah mengusik siapapun, tapi siapapun yang membuat kerugian perusahaan hingga membuatnya dan staf lain harus bekerja lebih lama tidak akan mendapatkan ketenangan, Naya tidak rela jika kerja keras mereka dinikmati orang lain.
"Lelaki jika punya sedikit harta lupa bumi, mencari hiburan di luar rumah sampai lupa anak istri, permintaan kamu terlalu menjijikan." Naya mendorong tangan yang diagram hingga terduduk di lantai.
Mata Andra terbelalak besar, Naya terlihat keren saat membela bawahannya setelah dirugikan. Keinginannya untuk menguasai perusahaan berjalan mulus dengan kesalahan yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan.
"Aku beri waktu kalian satu minggu untuk mengambil pilihan, jika belum ada jawaban maka kami akan menyita perusahaan ini menjadi milik AA group, jika tidak ingin kehilangan maka segera lunasi kerugian sesuai dengan kontrak," jelas Andra yang dibenarkan oleh Naya.
Rapat selesai, Naya melangkah pergi mengikuti Andra, staf lain juga keluar meninggalkan Burhan dan karyawannya yang pusing karena perusahan akan gulung tikar.
"Pak Burhan tidak akan menyerah begitu saja Bu Nay?" Direktur sangat yakin jika perusahaan besar tidak mudah dimiliki.
"Bagaimana jika dia menjual perusahaan ke tempat lain demi menghindari kita?" sekretaris Naya juga merasa cemas.
__ADS_1
Langkah Andra terhenti, tujuan mereka memang itu. Burhan akan menjual perusahaan kepada pihak lain dengan harga yang jauh lebih murah di sanalah mereka akan menang dua kali lipat.
"Uang yang hilang akan kembali, dan perusahaan akan menjadi milik kita karena tidak ada yang ingin merugi jika aku menginginkan bisnis tertentu hancur." Andra menatap gedung mewah yang sangat besar.
Senyuman Naya terlihat, Andra cukup pintar dan memahami pikirannya tanpa harus diperjelas.
Dia orang baru di perusahaan, tapi langsung tahu cara kerja perusahaan tenaga yang dikeluarkan tidak sia-sia.
Nay memiliki banyak partner kerja, tapi belum menemukan seperti Andra dan dirinya. Terkadang harus sedikit kejam agar orang yang lakukan kecurangan bisa jera.
"Kalian langsung balik ke perusahaan," ujar Naya yang tidak bisa makan siang bersama.
Tidak ada yang bertanya karena sudah tahu kebiasaan Naya, hanya Andra masih diam tidak angkah pergi setelah staf pamit untuk kemabli ke perusahaan.
"Kenapa kamu tidak kembali?" Naya menatap Andra yang mengerutkan keningnya.
"Kamu ingin pergi ke mana?" tanya Andra balik.
Kepala Nay menggeleng, dia tidak punya rencana apapun. Naya hanya ingin bersantai setelah lelah bekerja.
Tanpa menunggu respon Andra, Naya melangkah pergi mencari angkutan umum untuk menenangkan pikirannya.
"Naya, kita pulang bersama karena ada undangan dari Mama," pinta Andra meminta Naya masuk.
"Acara apa?"
"Mana aku tahu," balas Andra balik.
Naya menolak, meminta Andra pergi lebih dulu. Naya akan menyusul setelah menyelesaikan urusannya.
Tidak ada alasan bagi Andra meminta Naya pergi bersamanya, Nay kembali ke hotel menyewa mobil untuk menikmati masa sendirinya.
Koper dimasukkan ke dalam mobil sewaan, Naya tersenyum menerima kunci mobil bergegas pergi.
Andra sengaja mengikuti dari belakang karena ingin tahu ke mana Naya pergi, tidak mungkin dia mengkhianati perusahaan.
"Ke mana dia menyewa mobil?" Andra mengikuti Naya dari belakang, merasa penasaran apa yang dilakukanya.
Ponsel Andra terus berdering, tapi tidak dijawab karna Andra lebih konsen mengikuti laju mobil Naya.
"Kenapa Andra mengikuti aku, apa dia berpikir buruk." Naya sengaja mempercepat laju mobilnya agar Andra kesulitan mengejar.
Tawa Naya terdengar, dia juga sorang pengemudi yang baik apalagi melalui jalanan yang sepi.
"Masih saja, awas kamu Andra. Mengikat gelang, tapi menjalin hubungan dengan wanita lain, maksudnya apa?" perasaan kecewa sangat besar dia sadar jika cinta memang tidak selamanya berjalan baik-bak saja, apalagi keduanya tidak pernah mengatakan cinta.
Mobil yang Naya kemudi banting stir, Andra tidak bisa menghindar langsung banting setir. Mobilnya tergelincir keluar dari area dan jatuh ke bawah jurang.
"Andra," panggil Naya yang terkejut melihat mobil jatuh.
Mobil berhenti karena ditahan oleh kayu, Naya bergegas turun untuk membantu. Pintu mobil terbuka, Andra tidak bisa keluar karena mobil akan jatuh jika rem tidak ditahan.
Tarikan napas Naya dalam, melirik ke bawah meminta Andra lompat. Mobil akan tetap akan jatuh apapun yang terjadi.
"Candaan kamu tidak lucu," kesal Andra yang melihat ke belakang.
"Pegang tanganku, aku bantu untuk turun." Tangan Naya dan Andra saling genggam, Andra lompat keluar jatuh dia atas tubuh Naya.
Keduanya berguling jatuh, bersamaan dengan mobil yang juga tergelincir jatuh. Tangan Andra dan Naya berpegang di kayu, satu tangan lagi saling memeluk.
"Lepaskan aku Dra," pinta Naya.
"Gila, kepala bisa pecah jatuh ke bawah." Andra menolak melepaskan tidak peduli jika harus jatuh bersama.
Naya melepaskan Andra turun perlahan menggunakan akar pohon, Andra juga mengikuti untuk turun.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di bawah, tapi tidak ada harapan naik karena tebing terlalu tinggi dan sulit di naikin.
"Jangan sampai mobil meledak, kita bisa hangus." Naya melihat ke bawah, tidak ada hewan buas sesuai bayangannya.
Suara Naya terjatuh terdengar, Andra langsung terjun berguling sampai tubuhnya penuh luka.
"Kanaya, kamu baik-baik saja?" Andra mendekati Nay yang memegang kakinya.
"Ambil barang penting di mobil, kita membutuhkan bantuan." Naya melangkah ke mobil meskipun kakinya pincang.
Ponsel Andra pecah, beberapa barang penting diambil, teriakan Naya terdengar meminta Andra menjauhi mobil karena keluar api.
Keduanya begegas menjauh, suara mobil meledak terdengar. Kedua tangan Naya menutup telinganya, Andra menutup kepala Naya menggunakan jaket yang sempat diambil.
Kepala Naya terangkat perlahan melihat Andra yang mencoba melindunginya, kepalanya mengeluarkan darah, pipi terluka, baju juga sobek.
"Lo baik-baik saja?"
"Kenapa kamu bodoh sekali dalam menyetir?" Kemarahan Naya terdengar karena Andra tidak fokus.
Mereka terjebak di bawah jurang, naik tidak bisa, meminta bantuan juga tidak ada harapan, berjalan ke hutan juga berbahaya.
"Kecelakaan ini terjadi gara-gara siapa?"
"Kamu, kenapa mengikuti aku?" Dada Andra dipukul karena bodoh.
Keributan terdengar, tidak ada yang aku mengalah, tapi saling menyalahkan. Sikap egois Andra dan Naya sama-sama besar.
"Cukup Nay, kita hentikan pertengkaran, dan cari jalan keluar."
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira