
Tangisan Mami terdengar, tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi karena tidak kuasa menahan kesedihannya setelah bertahun tidak mendengar suara anaknya.
"Mami, maafkan Andra. Aku sudah janji akan baik-baik saja," ucapnya merasa bersalah karena membuat Mami meneteskan air mata.
Belum ada jawaban hanya suara tangisan, mami tidak tidak bisa berucap. Dia ingin Andra datang menemuinya tanpa alasan.
"Dra, di mana kamu?"
"Saat ini Andra masih kerja, Andra juga memutuskan untuk tidak pulang. Jika Mami Papi ingin bertemu, datang saja, tapi Andra tidak ingin kembali."
"Jahat, apa rumah ini seperti neraka bagimu?"
"Mi, rumah itu surga bagi Andra, tapi tidak baik Andra di sana, kasihan Mami." Tangan Andra kuat mencengkram ponselnya.
Sebagai seorang lelaki dirinya juga ingin membuktikan ucapan pihak Mami dan Papinya salah, Andra bisa berdiri sendiri di atas kakinya, tidak bisa peduli sekalipun kepala jadi kaki begitupun kebalikannya.
"Masih saja mencari anak itu, buat apa anak haram dibesarkan?!" teriakkan seorang wanita tua terdengar.
Mami memeluk ponselnya, Andra mematikan panggilan membuat Mami semakin menangis kencang.
"Dia anakku Mi, aku yang membesarkannya?" tatapan tajam terlihat ke arah wanita tua.
"Anak hasil perselingkuhan, kamu anggap sebagai anak, di mana akal sehat kamu?"
Senyuman terlihat sambil berceceran air mata, bukan kesalahan Andra lahir ke dunia, dia juga tidak ingin ada di posisi saat ini.
"Mi, ini sudah puluhan tahun, tolong jangan perlakuan Andra seperti ini, jika kalian marah, hukum saja aku jangan anakku." Air mata Papi Andra juga menetes karena anaknya terlihat baik, tapi batinnya tersiksa.
Kepala wanita beruban yang duduk di mengangguk pelan, laki-laki yang tidak tahu diri, berani selingkuh saat memiliki istri dan lancangnya membawa anak dari selingkuhan. Sampai mati tidak akan termaafkan, bukan hanya mencoreng nama keluarga, tapi kehadiran Andra aib terbesar.
"Bagaimana bisa itu salah mereka, aku yang jahat. Anak itu tidak salah karena dia lahir dari pasangan yang saling mencintai, tapi karena aku dan Alis anak itu harus berpisah dari ibunya, aku yang salah Mi." Suara Mami Andra terbata-bata karena tidak kuasa menahan kesedihannya.
__ADS_1
Pintu rumah terbuka, Alis menatap neneknya yang membuat keributan lagi, tiap kali membahas Kakaknya selalu saja ribut. Alis kasihan melihat kedua orang tuanya yang berada dalam kesedihan karena keluarga sendiri.
"Andra anakku, dia putraku. Sampai kapanpun itu tidak akan berubah, suatu hari anakku pasti pulang, Mami jangan mencoba memisahkan kami. Aku siap kehilangan suamiku, tapi tidak kehilangan anak-anakku." Mami berdiri karena sekarang dirinya sadar bukan salah suaminya yang nyaman bersama wanita lain, tapi salah keluarganya yang terlalu ikut campur.
Sebagai seorang anak tugasnya menghormati orang tua, tapi orang tua yang pantas dihormati, dia yang mencintai anaknya.
"Mi, mulai hari ini jangan ikut campur dengan rumah tanggaku, jangan pernah datang ke rumah ini lagi, jangan ...." Suara tamparan terdengar kuat, belum selesai bicara ucapan langsung dipotong.
"Ya tuhan, sayang. Mami, kenapa begitu? Jika tidak suka dengan aku jangan sakiti istriku. Keluar dari rumah kami sekarang, penjaga!" Papi nampak marah meminta penjaga menyeret mertuanya keluar rumah.
"Mami akan buat kalian jatuh miskin," ancam wanita tua melangkah pergi dari rumah.
Alis memalingkan wajahnya, sangat kecewa dengan neneknya. Begitu teganya kepada kakaknya yang tidak salah.
"Lis, kita pulang dulu. Kamu tenangkan mami." Kanaya pamit bersama teman lainnya tidak tega mendengar tangisan Mami.
Alis berlari memeluk Mami dan Papinya, tidak mengizinkan Maminya menangis, jika kakaknya tahu pasti lebih sedih lagi. dia akan berpikir menjadi pembawa kesialan.
"Maafkan Papi, ini semua salahku. Andra tidak mungkin terluka, begitupun dengan kalian berdua. Maafkan Papi." Pelukan Papi erat efek dari kejadian masa lalunya merambat ke masa depan anak-anaknya.
Suara tangisan Alis terdengar, mengusap air mata Maminya. Tidak mengizinkan wanita kesayangan hancur hatinya.
"Apa yang mami lakukan sudah benar, tidak akan ada yang memutuskan hubungan anak dan ibu, Mami sangat menyayangi Nenek, tapi Mami juga harus menyelamatkan anakku." Senyuman Mami terlihat memeluk Alis erat untuk segera berkemas karena harus menjenguk Andra.
Air mata Papi menetes, berlutut dihadapan istrinya karena hati Istrinya begitu baik. Mertuanya dulu sangat baik, tapi kehadiran Andra membuatnya murka.
Sejak Andra kecil dia selalu menyakiti, mencubit sampai mengusir. Papi berpikir Andra tidak menyimpan luka, dia masih aktif dan tidak takut bertemu siapapun, sekarang baru sadar jika Andra begitu tersakiti.
"Maafkan Papi, aku terima apapun keputusan kamu."
"Apa yang papi katakan, kita harus pergi menjenguk Andra, lupakan saja kejadian hari ini." Mami berlutut memeluk suaminya untuk Sabar.
__ADS_1
Keuangan sedang diuji, karir juga mulai redup, bisnis kalah bersaing, dibenci keluarga sendiri.
Papi tidak kuasa menahan tangisannya, dirinya membawa istrinya dalam masalah dan kesulitan.
"Kita jenguk Andra, kita pastikan dulu dia baik-baik saja. Harta bisa dicari, paling penting kita sekeluarga sehat." Mami menatap Agra dan Arvin yang meneteskan air matanya.
Keduanya sedih karena tidak pernah tahu beban Andra, keduanya hanya tahu Andra anak yang ceria dan tidak punya beban hidup.
"Titip salam kepada Andra Tante, kita berdua rindu dan titipkan permintaan maaf karena kita selama ini bukan teman yang baik." Tangan Agra menutup matanya karena merasa sangat sedih.
Mami memeluk Agra dan Arvin, mengusap punggung keduanya yang selama ini banyak membantu mencari Andra.
"Ucapkan terima kasih kepada Daddy kamu, dia banyak membantu Andra dan mengawasinya." Mami tersenyum melihat Arvin yang nampak binggung.
"Tante hati-hati, jangan menangis di depan Andra pasti dia marah," tegur Arvin yang paham watak sahabatnya.
"Iya, Tante tahu. Terima kasih Vin, Agra."
Kepala keduanya mengangguk, pamit pulang. Di dalam mobil Naya meneteskan air matanya tidak bisa membayangkan Andra di masa kecilnya.
"Aku pikir hanya ada ibu yang kejam, tapi ternyata Nenek kejam juga ada. Mana matinya lama." Kepala Erin geleng-geleng kasihan kepada Andra.
"Rin, jaga rahasia soal Andra. Kita anggap saja tidak pernah tahu." Nay memohon untuk tidak pernah membicarakan kepada siapapun.
Selama ini Andra sudah berusaha menutupi aib keluarganya, terlihat keluarganya paling sempurna, padahal mereka tidak baik sama sekali.
Apapun yang Andra lakukan sudah tepat, dia membutuhkan waktu sendiri sampai akhirnya siap menerima segalanya.
"Andra hebat, aku kagum padanya. Dia menjadi terdepan untuk masalah orang lain, tapi masalahnya tertutup dengan rapi." Prilly tidak bisa membaca pikiran Andra yang sangat pemarah, tapi dia memiliki luka.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira