
Pintu rumah terbuka, Agra memanggil Mamanya yang tidak menimpali. Rumah yang berukuran sangat besar dikelilingi, suara nyaring Agra terdengar jelas.
"Daddy, Mama! Kalian di mana?"
"Tuan Agra, Nyonya dan Tuan pergi ke pesta ulang tahun temannya Tuan," ujar asisten rumah tangga yang menegur Agra.
"Kapan pulangnya?"
"Kurang tahu, Nona Raya juga ikut, biasanya tidak lama karena Nona tidak betah berlama-lama di luar."
Kepala Agra mengangguk, mengucapkan terima kasih. Agra penasaran pesta yang dikunjungi Daddynya.
"Jika Daddy pulang ketuk pintu kamar." Agra bergegas ke kamarnya.
Ponsel Agra tidak berhenti berdering karena staf bergantian menghubunginya, meminta Agra segera datang ke perusahaan. Ada banyak jadwal yang tertunda karena ulahnya yang kekanakan.
"Berisik," gumam Agra yang terlihat masih kesal.
Ketukan di balkon kamar terdengar, Agra membuka hanya menggunakan remote. Andra melangkah masuk karena Agra menganggu kesibukannya dengan memaksa untuk datang.
Kedatangan Andra tidak membuat suasana hati Agra membaik, dia masih terlihat kesal karena tidak menemukan keberadaan Daddy dan Mamanya.
"Buat apa memaksa datang ke sini? Lo bukan anak kecil lagi Gra," tegur Andra yang merasa jam istirahatnya terganggu.
Agra tahu jika dirinya bukan anak kecil, tapi suasana hati tidak nyaman bisa dirasakan oleh semua kalangan.
Dirinya seorang pemusik, menyalurkan perasaan melalui lagu, tidak bisa dipungkiri untuk berekspresi sesuai perasaan.
"Apa yang membuat suasana hati berantakan, aku tidak tahu jika hanya mendengar rengekan seperti anak kecil."
Tubuh Agra bangkit dari tidurnya, menatap Andra yang duduk santai di sofa dengan penuh wibawa.
Kepala Andra terangkat, kedua alisnya juga terangkat. Prilly dijodohkan oleh Daddy, tapi Agra yang terbakar jenggotnya.
Marah-marah hanya karena Prilly berhenti bekerja, membuat binggung staf karena Agra mengabaikan panggilan. Prilly yang berhenti, Agra yang galau, staf yang pusing.
"Lo mencintai Prilly?"
"Aku mengatakan dia berhenti tanpa memberitahu aku, dan Daddy menjodohkan dengan sembarangan orang, wajar saja aku marah." Agra menyakinkan Andra jika tindakannya benar.
Kepala Andra geleng-geleng, tidak ada hal wajarnya. Prilly memang sudah waktunya menikah, dia sudah dewasa.
Di mata Andra sahabatnya mulai gila, jik satu-persatu staf berhenti bekerja, dia yang galau dan gelisah.
"Tidak mungkin selamanya dia bekerja dengan kamu, wanita juga membutuhkan pasangan untuk meneruskan keberlangsungan keturunan," jelas Andra mendukung keputusan Daddy, pastinya pria yang dipilih bukan orang sembarangan.
"Harus selamanya, bagaimana jika lelaki itu melakukan kdrt, selingkuh, orang yang menikah karena cinta saja cerai apalagi ini." Agra tidak akan setuju Prilly menikah dengan pilihan Daddy.
"Jika begitu Lo yang nikah, pasti nolak karena resikonya akan kehilangan penggemar," sindiran Andra membuat Arvin terdiam.
Keputusan Agra selama ini tidak mengenal karena ingin fokus karir, dia ingin memuaskan dirinya dan menjadi pemusik terbaik, tapi tanpa sadar dia lupa jika usianya terus bertambah.
Mencoba menjaga perasaan pengemar, hingga tidak paham dengan perasaan diri sendiri.
"Dari wajah kamu saja sudah terlihat jelas, kamu menunggu Papa meminta maaf kepada kamu dan menyesali perbuatannya. Berhentilah mengharapkan, lebih baik fokus untuk membahagiakan diri sendiri karena Mama juga sudah bahagia bersama Daddy." Tangan Andra menutup mulutnya, dia keceplosan membaca mimik wajah Agra yang selama ini berjuang sukses demi penyesalan Papanya.
"Apa aku salah Dra?"
Langkah Andra mendekat, menepuk punggung Agra. Dia tidak salah, apa yang dilakukannya sudah membuktikan, tapi segalanya ada batasan.
Keduanya saling pandang sama-sama tidak mulus dalam mencintai, Andra tidak punya keahlian membicarakan cinta, apalagi Agra yang sibuk.
"Bagaimana cara tahu jika mencintai?" tanya Agra.
"Aku juga tidak tahu yang mulia," balas Andra yang nyengir tidak mengerti.
"Pacar Lo yang cantik selalu dibanggakan itu mana?"
Lirikan mata Andra terlihat tajam, menatap ponselnya yang tidak ada panggilan sama sekali dari Syifra.
"Lagi bertengkar rupanya," tebak Agra sambil tersenyum.
"Aku lupa waktu jika sudah bahas masalah pekerjaan, Syifra marah dan tidak ingin dihubungi." Kepala Andra menggeleng pusing memikirkan wanita.
"Apa kamu merasa galau?"
"Aku merasa bersalah karena lupa waktu, tapi mau bagaimana lagi, seharusnya dia juga tahu jika aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan."
Keduanya menghela napas secara bersama, sukses dalam karir tidak menjamin sukses dalam percintaan.
Ketukan pintu terdengar, Agra berdiri dari atas ranjang membukakan pintu. Melihat asisten rumah tangga datang.
"Tuan muda, Nyonya dan Tuan sudah pulang," ucap maid memberitahukan.
Cepat Agra keluar menuruni tangga rumah yang sangat banyak, melihat Daddy sedang menggendong Raya.
"Daddy, Agra ingin bicara," teriakkan terdengar besar sampai Raya terbangun kembali.
"Kecilkan suara kamu Agra, apa begitu caranya bicara dengan orang tua?" sindir Mama mengambil putrinya.
"Tidurkan Raya di kamar," perintah Daddy kepada istrinya.
Tatapan Mama tajam ke arah Agra yang terlihat marah kepada Daddy, Mama tidak tahu cara menasihati putranya yang sudah dewasa.
"Mar, masuk."
"Agra kenapa?" Mama melangkah masuk ke dalam kamar membawa putrinya yang mulai terlelap lagi.
Senyuman Daddy terlihat sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran putranya, pasti masalah Prilly yang ingin dijodohkan.
Mata Agra masih menatap sinis, menolak duduk setelah dipersilahkan oleh Daddy. Kemarahan Agra sedikit reda saat Daddynya tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa Daddy menjodohkan Prilly, memangnya dia anaknya Daddy?"
"Prilly ... Apa dia pacar kamu?" Daddy bertanya balik membuat Agra tercengang.
Hubungan keduanya hanya sebatas rekan kerja, tapi tidak sepantasnya Daddy menjodohkan dengan orang yang tidak diketahui asal usulnya, bibit bobotnya.
"Pernikahan tidak bisa dianggap mudah Dad," ujar Agra menaikan nada bicaranya.
"Andrean pria yang baik, dia orang kepercayaan Daddy ...."
"Dia baik karena sebagai staf, bukan suami. Daddy jangan sok tahu. Prilly memang keras, tapi dia wanita yang polos," bentak Agra memarahi Daddynya.
"Lalu Daddy harus bagaimana, Andrean datang ingin serius kepada Prilly keduanya sudah saling kenal sejak lama, tidak ada salahnya." Daddy juga tidak akan memberikan Prilly kepada sembarang orang, berusaha untuk memberikan yang terbaik.
Emosi Agra mulai naik kembali, tidak suka jika Daddy mengatasnamakan perjodohan. JIka memang pernikahan Prilly tidak ada sangkup pautnya dengan bisnis, tidak mungkin Prilly setuju saja.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis, Gra."
"Bohong, Agra sudah biasa bertemu orang seperti Daddy yang manis di depan, tapi menyembunyikan sesuatu. Agra tidak mengizinkan Dad, tolong hentikan."
"Bicarakan saja dengan Prilly di yang memutuskan untuk menerima, Daddy hanya menilai Andrean pria baik," jelas Daddy yang tidak bisa mengikuti keinginan Agra menghentikan perjodohan.
Prilly punya hak memutuskan pasangannya, di memang tidak diwajibkan selalu bekerja, Agra seharusnya peka jika wanita tugasnya bukan menjaga, tapi dijaga.
"Tidak ada juga yang minta dijaga, setidaknya jangan biarkan dia menikah!"
"Agra, apa begitu cara kamu bicara kepada Daddy?
"Batalkan perjodohan sialan itu Daddy," teriakkan Agra terdengar jelas.
Daddy mengambil ponselnya menghubungi Prilly, sikap Agra menujukkan jika dia sedang patah hati.
"Daddy tidak bisa memutuskan, maka kamu bicara saja dengan Prilly." Panggilan tidak terjawab karena Prilly sedang berada di luar kota.
Bibir Agra manyun, duduk di sofa setelah meluapkan kekesalan hatinya, menunggu Daddynya menghubungi Prilly.
"Tidak dijawab, apa dia keluar bersama Andre?"
"Daddy ... Dia pergi bersama Arvin dan Naya."
Dari lantai atas Mama dan Andra menahan tawa melihat Agra yang nampak cemburu digoda oleh Daddy.
Panggilan tidak terjawab, Daddy menghubungi Andre untuk meminta bantuan mencari keberadaan Prilly.
Tangan Agra tergempal, nampak marah besar saat Andre memberitahukan kepada Daddy jika Prilly bersamanya, ponsel Prilly kehabisan baterai.
"Bersama siapa saja di sana?"
"Ada Pril, temannya Naya, Alisha juga tuan muda Arvin. Ada apa Pak?"
Daddy menawarkan ponselnya kepada Agra, tapi tatapan mata kesedihan terlihat menolak untuk bicara.
"Terima kasih Andre, tolong jaga mereka," pinta Daddy dengan sangat sopan.
Setelah basa-basi barulah panggilan dimatikan, Daddy mendekati Agra memeluknya erat.
"Sudah, masih banyak waktu untuk berjuang, Daddy selalu dukung Agra apapun yang kamu inginkan." Usapan tangan lembut meminta Agr tidak berpikir egois.
Salah paham terjadi karena rasa bersalah dan tidak percaya diri, jika Agra memutuskan untuk pergi maka dia memberikan kesempatan kepada orang lain untuk maju.
Pelukan Agra erat kepada Daddynya tidak segan meneteskan air matanya, seperti anak kecil yang merengek saat ada yang menyakiti hatinya.
"Tante, sekarang Agra lebih dekat dengan Daddy dia bahkan berani memarahi Daddy," ujar Andra yang kagum dengan soosk Daddy sekarang.
"Iya, Mama juga bangga. Daddy bukan hanya mencintai Arvin dan Raya, tapi juga Agra. Kamu tahu sendiri bagaimana manjanya Agra kepada Papanya, tapi dikecewakan." Mama mengusap air matanya merasa kasihan, tapi kasih sayang yang jauh lebih besar diberikan oleh suami barunya.
Suara Agra menangis terdengar, meminta Daddynya membatalkan perjodohan sampai Agra menetapkan hatinya.
"Dad tolong," pintanya.
"Nak, Daddy tidak bisa membantu kamu, satu-satunya yang bisa menolong diri sendiri. Jika memang mencintai Prilly maka perjuangkan, dia wanita baik, cantik, dewasa, dan sangat mengenal kamu, tapi resikonya kemungkinan ada banyak penggemar yang tidak menyukainya. Siapa yang bisa menolong dia, itu hanya kamu." Daddy meminta Agra menetapkan hati, tidak berpikir terlalu lama agar tidak ada penyesalan yang lebih besar lagi.
Agra terdiam, ucapan Daddy benar sudah waktunya dirinya memperjuangkan sesuatu. Tidak peduli banyak yang menghujat dirinya, demi melindungi wanitanya.
"Daddy jangan biarkan Andre itu mendekati Prilly, malam ini Agra akan pergi ke perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan."
"Besok saja, ini sudah malam. Besok selesaikan pekerjaan, bicara dengan perusahaan, dan temui Prilly, tapi jika dia mencintai pria lain jangan dipaksa, bersaing dengan cara sehat," ujar Daddy.
"Daddy, jangan bicara begitu, semangat Agra hiang lagi. Yakinkan jika Prilly mencintai aku." Nada Agra ngambek pada Daddynya yang masih saja membicarakan Prilly dan Andrea.
Kepala Daddy mengaangguk, mengusap kepala anak sambungnya yang sudah dewasa, sukses, tapi terlambat menyadari perasaanya.
"Tidurlah, Daddy masuk dulu soalnya badan Daddy sudah tua, badan mulai sakit semua."
"Iya Dad, maaf Agra sudah menganggu."
Agra melangkah ke lantai atas kembali ke kamarnya, dirinya memutuskan untuk berjuang dan menyudahi sikap gengsinya.
Tanpa Prilly mungkin Agra akan selalu kesepian, tapi bersamanya bisa menikmati pekerjaan yang berat. Bekerja dari pagi, siang hingga bertemu pagi lagi.
"Bagaimana hasilnya?" Andra membawa makanan yang diberikan oleh Mama.
"Prilly bersama lelaki itu, sakit sekali hatiku Dra. Sialan, kenapa rasanya begitu perih, ditolak Naya bisa aku terima, tapi melihat Prilly bersama pria lain rasanya runtuh duniaku." Kedua tangan Agra meremas kepalanya.
"Ditolak Naya, Lo ditolak?" Andra nampak terkejut karena berpikir Naya menyukai Andra, tidak mungkin cintanya ditolak.
Kepala Agra mengangguk, cintanya ditolak. Naya tidak ingin berpacaran, dia fokus kuliah juga menunggu seseorang yang tidak tahu kapan kembali.
"Di mana mereka sekarang?"
"Luar kota, Arvin pergi ke sana tidak mengajak kita." Ekpresi Agra tidak bagus sama sekali, dia ingin pergi namun pekerjaan menumpuk setelah seharian galau.
__ADS_1
Lirikan mata Agra terlihat, menarik tangan Andra untuk membantunya. Terlalu bahaya jika Agra pergi sendiri tanpa penjaga, dia harus ke perusahaan menemui staf yang mengurusnya.
"Perusahaan apa yang masih buka jam segini?"
"Perusahaan yang mengelola artis, kamu tidak tahu saja jika kita bisa tidur di mana saja bahkan saat sedang berjalan." Agra meminta Andra menyetir mobil.
Staf terkejut semua saat Agra memutuskan untuk shooting tengah malam, dia ingin pergi pagi ke luar kota urusan keluarga.
Ancaman terakhir jika tidak bekerja tengah malam, Agra tidak muncul selama satu minggu karena ada urusan pribadi.
"Apa mereka ingin bekerja?"
"Tentu, aku benar-benar akan pergi meninggalkan tugas jika tidak mau." Agra meminta Andra jalan cepat.
Pukulan Andra mendarat, dirinya juga orang sibuk, tidak punya waktu menemani seorang musisi, apalagi dengan banyaknya penggemar.
Di depan gedung perusahaan ada banyak orang berdiri, Andra kebingungan melihat poster aneh dipegang beberapa wanita.
"Apa mereka gila? Kenapa larut malam masih di sini?"
"Namanya juga penggemar, obsesi mereka itu sangat besar dan tidak ingat waktu."
"Penggemar Lo?"
Kepala Agra mengangguk, pengemar Agra sangat menyeramkan karena harus ada di depan gedung perusahaan hingga larut malam, tidak tahu saja jika artisnya keluyuran di luar perusahaan.
"Aku tunggu di sini, jangan lama."
"Iya, hanya pemotretan sekaligus rekaman, tidak akan lama." Senyuman Agra terlihat begegas masuk ke dalam gedung.
Kepala Andra menoleh ke para penggemar, apa tidak takut sakit dengan berada di luar rumah sampai larut malam.
"Ternyata penggemar memang sekumpulan orang gila," batin Andra setia menunggu Arvin.
Sesekali Andra melihat ponselnya, mengecek pesan dari Syifra jika dia ada di apartemen, meminta Andra segera pulang.
"Kenapa dia bisa datang dan pergi tanpa pemberitahuan? mirip jelangkung." Andra melakukan panggilan.
Lama tidak ada jawaban, emosi Andra terpancing. Mengumpat kasar saat panggilan terjawab.
"Kamu menyebut apa Dra?"
"Anjing ... Kenapa kamu marah-marah terus? lagian kenapa datang ke apartemen selarut ini, aku memiliki banyak pekerjaan Syif."
"Bohong, kamu pasti menemui wanita bernama Naya, alasan balik demi dia. Andra, ingat janji kamu ingin menikahi aku, jangan campakkan wanita yang menemani dari nol demi perempuan yang hanya menikmati kesuksesan." Syifra meminta Andra pulang, tidak menerima alasan perkejaan.
Tangan Andra tergempal, dia tidak suka diatur. Mobil Andra melaju pergi meninggalkan gedung, memilih pulang ke apartemen meksipun butuh waktu satu jam.
Dalam keadaan emosi kecepatan mobil di atas rata-rata, Andra tidak pernah marah kepada Syifra semenjak Andra mengutarakan rasanya sikap Syifra berubah lebih posesif dan suka mengatur.
Sikap Andra yang keras dan tidak suka ditentang membuat keadaan panas, Syifra mencari tahu soal Naya yang dia ketahui pernah mengambil hati Andra.
Pintu apartemen terbuka, Syifra sudah duduk menunggu dengan tatapan dingin. Lemparan foto tepat di wajah Andra.
"Kamu menemui wanita itu!"
"Sejak kapan kamu mengikuti aku?"
"Dra, aku minta kamu tinggalkan negara ini, kita hidup kembali di luar," pinta Syifra yang memaksa untuk pulang.
Tangan Syifra ditepis, tidak ada alasan Andra untuk balik, dia memiliki orang tua, dan keluarga, lalu kenapa dirinya harus hidup sendiri.
Bertemu dengan para sahabatnya saja tidak boleh, Andra tidak suka kehidupannya dikekang.
"Jika kamu ingin hidup bersamaku maka beginilah aku, selalu sibuk dengan pekerjaan, tidak bisa tepat janji, bahkan aku lebih mengutamakan pekerjaanku daripada sekedar makan siang," bentak Andra yang tidak pernah meminta Syifra bertahan bersamanya.
Air mata Syifra menetes, Andra tidak konsisten dengan ucapannya yang ingin menikah, sekarang sudah berani membentak.
"Aku membentak tidak ada sangkut-pautnya dengan Naya, memang benar dia berkerja di perusahaan, tapi sebelum aku kembali dia ada di sana. Kenapa kamu meminta aku memecat dia? Kanaya yang bisa memecat aku!" Andra memukul meja kuat tidak ingin melibatkan Naya dalam pertengkaran mereka.
"Kenapa dia bisa memecat kamu? siapa dia?"
"Tidak penting. Mulai sekarang jangan datang ke apartemen ini tengah malam, dan aku tidak mengizinkan ada yang datang tanpa menghubungi aku." Andra mengganti Sandi apartemennya.
Tatapan Syifra tajam, Andra terlihat matah sekali. Kedua tangan memeluk erat dari belakang, meminta maaf jika caranya cemburu membuat Andra tidak nyaman.
"Aku takut kehilangan kamu, Dra. Apa aku salah ingin memperjuangkan pernikahan kita?"
"Tidak ada yang salah, tapi aku tidak suka dikekang. Kesibukan aku banyak, bukan untuk ribut begini." Nada bicara Andra tinggi meminta Syifra beristirahat di kamarnya.
"Aku mau tidur bersama kamu," pintanya.
"Tidak bisa, aku harus pulang ke rumah Mama, besok ada urusan ke luar kota." Andra melepaskan tangan Syifra.
"Ikut ke rumah Mama." Sudah waktunya Andra mempertemukan dengan mamanya, Syifra ingin mengobrol banyak hal.
Helaan napas Andra terdengar, satu kebohongan memang tidak menghasilkan hal baik, Andra mulai muak dengan hubungannya.
Belum menikah saja sudah banyak aturan, Andra tidak punya kebebasan berkumpul dengan para sahabatnya.
"Tetap disini, aku harus pulang. Sandi sudah aku ganti, jangan keluar masuk." Andra memijit pelipisnya yang pusing.
Andra berlari keluar secara terburu-buru, kemungkinan Arvin sedang menunggunya. Syifra memang membuat emosi.
"Seharusnya aku tidak mengubah hubungan dari rekan menjadi pasangan, akhirnya repot sendiri. Sialan, besok apa lagi alasan aku." Andra membenturkan kepalanya di setir mobil karena perasaan Andra ingin bertemu Naya lebih besar.
Dia tidak peduli soal Prilly dan calon suaminya, tapi bertemu Naya paling penting karena delapan tahun Andra tidak merasakan perubahan dari Naya, dia bisa menjadi musuh juga teman yang sepemikiran.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1