
Keputusan pernikahan Agra sudah bulat, dia mengatakan secara terang-terangan akan segera menikah.
Setiap hari media selalu mengejarnya, termasuk Prilly yang harus dijaga beberapa bodyguard karena menjadi kejar-kejaran media.
"Nona Prilly baik-baik saja, terus sempat ditarik?"
Prilly masuk ke ruangan Agra, menatap kekasihnya yang sedang melihat media berkumpul di depan perusahaan.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku rasa wartawan tidak ada kesibukan lain. Bagaimana bisa setiap hari mengejar kita." Prilly melarang Agra pergi ke manapun karena berbahaya untuk keselamatannya.
"Sudah dua bulan, tapi belum ada perubahan. Padahal aku sudah mengumumkan secara resmi." Agra nampak kesal melihat wartawan.
Ketukan pintu terdengar, senyuman Agra dan Prilly terlihat. Papa Agam ingin menujukkan sesuatu, lagu baru khusus untuk pernikahan Agra.
"Jika kamu tidak suka, Papa akan mengubah lagi."
"Tunggu Pa, Agra ingin mendengarnya lagi." Mata Agra terpejam mencoba menikmati musik dan lirik lagu.
Senyuman Prilly terlihat, dia menyukai lagu yang Om Agam buat. Agra memiliki ciri khas pembawaan lagu santai, dan sangat menghayati. Sudah waktunya Agra mengubah genre untuk mencoba lagu ceria.
"Agra sangat menyukainya, aku akan mempelajari lagunya dan menghubungi Papa jika ada lirik yang ingin ditambahkan sejauh ini sungguh enak didengar." Senyuman Agra terlihat puas dengan musik dan lagu yang Papanya buat.
Dalam dua bulan, ada dua puluh lagu yang Papa Agam ciptakan untuk beberapa penyanyi, semuanya cukup trending.
"Pa, terima kasih sudah berjuang bersama kami."
"Seharusnya Papa yang mengatakannya. Papa yang berterima kasih karena kalian mendukung padahal Papa sudah tua."
"Karya Om semuanya luar biasa, Prilly yakin ada rezeki di setiap karya." Senyuman Prilly terlihat karena Papa Agam selama dua bulan begitu bersemangat.
Agra menerima lagu yang dibuat khusus untuknya, Agra akan menyiapkan lagu persembahan atas pernikahannya.
Setelah Papa pergi, Agra berkali-kali mendengar irama musik. Prilly juga merasa senang mendengarnya.
"Kapan Andra dan Naya pulang, mereka berdua awet sekali di luar negeri." Agra tidak bisa membahas apapun dengan Naya karena Andra membuatnya tambah sibuk.
"Lihat berita ini, Andra akan bertambah kaya." Prilly menujukkan berita terbaru pengusaha muda yang berhasil membuka perusahaan besar di luar.
Perusahaan AA grup terdaftar sebagai perusahaan kedua terbesar selain milik Daddy. Andra sengaja tidak melampaui karena menghormati Daddy sehingga dia membuka cabang di luar.
"Bersama Naya menaikan keuntungan, Andra dan Naya memang patut disebut rekan yang berbahaya. Jika Andra mengkhianati Naya dia akan kehilangan setengah, begitupun sebaliknya." Agra meminta Prilly istirahat karena sedari pagi sibuk.
Sebelum pulang Agra ingin berolahraga untuk menyegarkan tubuhnya, ada banyak lemak yang masuk ke dalam tubuh.
"Baju ganti, tidak ada baju salin."
"Siap Bu bos." Agra mengecup pipi Prilly langsung pergi.
Langkah Agra terhenti saat melihat seseorang berdiri mondar-mandir, wajah yang tidak asing.
"Kamu mencari siapa, ini lantai khusus untuk selebriti," tegur Agra melangkah mendekat.
"Selamat sore, saya hanya ingin mengantarkan berkas dari perusahaan AA grup." Delon menatap wajah Agra dari dekat yang sangat tampan.
"Kamu salah lantai, ini bukan bagian management. Mau aku antarkan?" tawar Agra dengan sopan.
Kepala Delon mengangguk, mengikuti Agra dari belakang. Menatap pria tinggi berbadan atletis, kulit putih, terlihat sangat tampan apalagi Agra sangat ahli bermain musik.
"Kamu bisa bermain musik?"
"Sedikit," jawab Delon.
__ADS_1
"Sesekali main ke sini, kita bermain bersama," pinta Agra yang tahu siapa Delon.
"Aku tidak bisa bermain dengan baik, tapi aku suka musik." Senyuman Delon terlihat tidak menyangka jaraknya dan Agra begitu dekat.
Senyuman Agra juga terlihat, menatap wajah Delon yang sebenarnya polos. Dia anak baik, tapi amarah dan kecewa mengendalikannya.
Pintu lift terbuka, Papa Agam terkejut saat Delon bersama Agra. Langsung bergegas menghampirinya, melihat kedua anaknya bertemu.
"Delon, kenapa kamu di sini?"
"Aku hanya mengantarkan berkas ini," jawabnya pelan.
Seseorang memanggil Papa, Agra tersenyum menyapa para staf. Agra meminta Delon juga menyapa.
"Siapa Gra? Ada trainee baru?"
"Bukan, dia Adikku. Kalian lanjutkan saja kerjanya." Agra tersenyum mengambil berkas menyerahkan kepada staf.
Staf binggung karena AA grup tidak biasanya mengirim orang untuk datang, kecuali orang kepercayaan yang ditugaskan khusus.
"Dia orang kepercayaan yang ditugaskan khusus, apa karena masih muda dan tampan sehingga mencurigakan?"
"Bukan begitu Andra, Ibu Naya tidak mudah mengirim orang apalagi ini kerja sama antara AA grup yang sedang naik," jelasnya menatap Delon begitu muda.
"Saya orang yang ditugaskan untuk mengkondisikan," ucap Delon.
Tangan Delon dingin, dia merasa tugasnya cukup berat. Agra mengenggam tangan menyakinkan jika Delon pantas.
Naya tidak akan memilih orang yang salah, saat tahu nilai Delon baik dia langsung menyombongkan kepada Arvin.
Setelah Delon mendapatkan apa yang dibutuhkan mengucapkan terima kasih kepada Agra, melihat ke arah ruangan kerja Papa Agam.
"Mau aku antar keluar?"
Kepala Agra mengangguk, melangkah bersama Delon untuk ke lobi. Delon menyentuh dadanya yang deg-degan.
"Kak Agra tahu siapa aku?"
"Emh, adik tiri. Kamu masih muda wajar memiliki emosi tinggi, saat aku juga tidak terima, tapi seiring berjalannya waktu aku sadar Mama dan Papa akan bahagia jika berpisah." Agra melambaikan tangannya saat Delon keluar lift.
Tangan Delon menahan pintu lift, menatap wajah Agra yang begitu tenang dan hangat. Tidak ada emosi dan tegang diwajahnya.
"Kak Agra membenci Mami?"
"Kenapa aku membencinya? Dia wanita yang dicintai oleh Papa, alasan itu sudah lebih dari cukup." Lift tertutup kembali.
Kepala Delon tertunduk, merasa dirinya paling bodoh. Berlarut dalam kesedihan, menyalahkan keadaan dan tidak terima dengan takdir.
Pintu lift terbuka, Papa Agam mengejar Delon yang sudah naik ke atas motor. Meneriakinya agar berhenti.
"Apa?" tanya Delon membuka helmnya.
"Kamu baik-baik saja, ada masalah apa?"
"Tidak ada, aku hanya mengantarkan berkas." Delon melirik sinis.
"Hati-hati di jalan mengemudi harus fokus," pinta Papa Agam memberikan peringatan.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Mami soal Syifra?"
Papa menoleh ke arah Delon, ternyata dia masih memikirkan soal Syifra. Selama ini Syifra menghilang dan tidak pernah menuntut apapun.
Tidak ada yang tahu bagaimana respon Mami Delon, dia harus mengatakan sendiri agar tidak menyakiti siapapun.
__ADS_1
"Kamu pikirkan lagi Delon, ini keputusan yang tidak mudah. Papa dukung apapun keputusan kamu," ujar Papa mengusap punggung Delon.
"Seandainya Mami marah, mengusir dan membenci aku, bagaimana?"
"Apa yang kamu lakukan sampai Mami melakukan itu?"
Delon berencana memberi tau Maminya soal Syifra, dia pasti akan dipukul, caci maki atau bisa saja dibunuh.
"Papa akan melindungi kamu, Papa dukung kamu. Lelaki sejati dia yang bertanggung jawab, tidak peduli apapun yang terjadi." Senyuman Papa Agam terlihat memeluk Delon singkat.
Delon memakai helmnya melaju pergi, tidak tahu ke mana tujuannya secara tiba-tiba sampai di apartemen tempat terakhir kali bertemu Syifra beberapa bulan yang lalu.
Perasaan Delon bimbang, apa dirinya sudah layak menemui Syifra yang tidak menuntut apapun padanya.
Sebuah mobil berhenti, Delon langsung bersembunyi di balik motornya, melihat Syifra keluar dari mobil dalam keadaan perut besar.
"Terima kasih Rin, aku merasa senang bersama kamu. Sampai bertemu lagi." Tangan sudah Syifra melambai saat mobil Erin melaju pergi.
Senyuman Syifra terlihat, mengusap perutnya berjalan masuk membawa tas yang cukup berat.
Delon hanya bisa menatap saja, tidak berani mendekatinya karena Syifra sudah mengatakan untuk tidak saling menganggu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Syifra yang melihat bayangan Delon melalui kaca.
"Aku hanya ingin memberikan ini untuk kesehatan anak yang kamu kandung," jawab Delon menyerahkan sesuatu.
"Terima kasih, tidak perlu repot. Aku bisa mengurusnya sendiri," tolak Syifra melangkah ingin masuk lift.
Beberapa penyewa lewat, menyindir Syifra yang hamil di luar nikah. Dia tidak punya pekerjaan dan menjadi beban Naya, selama Nay pergi dia menguasai rumah.
"Saya akan segera pindah ke luar negeri, masih menunggu Naya datang." Syifra paham banyak orang yang terganggu dengan keberadaan wanita hamil tanpa suami.
Hati Delon sakit mendengarnya, meskipun Syifra menujukkan senyuman yang pasti dalam hatinya sedang hancur.
"Aku Ayah dari bayi itu, kenapa kalian menghinanya? tidak tahu betapa sulitnya bagi wanita hamil ini bertahan, jika ingin mencaci aku saja." Tatapan Delon tajam tidak terima atas sindiran untuk bayi yang bahkan belum lahir.
Suara high heels terdengar, Kanaya melipat tangannya di dada merasa kesal melihat orang yang rata-rata menumpang hidup di rumahnya tega menghina orang lain.
"Kalian angkat kaki dari apartemen ini, jangan sampai keluar hinaan dari mulutku," ucap Naya mengejutkan.
"Maafkan kita Nay, ini hanya candaan." Senyuman terlihat merasa salah.
"Aku tidak akan mengulangi ucapan ku, silahkan angkat kaki, kalian pikir candaan ini lucu. Menghina orang lain, berlagak paling baik. Tidak tahu malu, tempat tinggal saja numpang." Tangan Naya tergempal menahan amarah.
Syifra membungkukkan badannya meminta maaf, dirinya yang salah. Naya tidak perlu mengusir karena yang sepatutnya pergi Syifra.
Dia akan meninggalkan apartemen secepat mungkin, tidak ingin menganggu ketenangan siapapun.
"Maafkan Syifra ibu-ibu, aku akan segera pergi ke luar negeri."
"Kamu tidak bisa terbang, lihat perut kamu. Dokter baru saja menghubungi Arvin dan dia memberitahuku jika kamu harus istirahat, kondisi janin tidak berkembang baik padahal sudah bulan ke tujuh." Suara Naya meninggi meminta Syifra tidak membantah.
Kepala Syifra tertunduk, para ibu-ibu pergi. Kecemasan Naya benar, selama dirinya pergi Syifra seiring di kucilkan.
"Aku akan bertanggung jawab, meksipun hanya kerja magang. Aku akan bertanggung jawab atas Kak Syifra dan bayinya," ucap Delon yang merasa dadanya sesak.
Kanaya dan Syifra terkejut, Syifra tidak setuju. Dia tidak ingin menghacurkan masa depan Delon. Sebisa mungkin Syifra akan menjadi orang tua tunggal bagi anaknya.
"Berikan aku waktu beberapa hari untuk mengatakan kepada Mami, aku tidak akan menarik ucapan." Delon melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Syifra dan Naya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1