
Dengan penuh semangat akhirnya Naya tiba di perusahan besar tempat dirinya ingin bekerja. Nay mempelajari apa yang sudah Arvin tulis di kertas.
Naya yakin lelaki pintar seperti Arvin memiliki kemampuan masuk perusaahan besar apalagi sedari kecil sudah belajar soal bisnis.
"Semoga saja diterima dan lolos wawancara langsung." Di dalam hati Naya banyak berdoa, berharap rezekinya ada di perusaahan impiannya.
"Seluruh peserta silahkan masuk,"
Kanaya langsung masuk, duduk di tempat yang sudah disediakan. Pertanyaan dibagikan di kertas, Nay langsung membacanya.
Betapa kagetnya Nay, melihat hasil dari kertas yang Arvin berikan hampir 80% sama. Nay merasa membaca salinan.
Dengan cepat Nay langsung mengisinya, senyumannya terlihat sepanjang tes kepegawaian.
Tidak membutuhkan waktu lama, Naya sudah menyelesaikan miliknya. Menyerahkan kepada panitia yang mengawasi.
Keluar dari gedung Naya tersenyum lebar, tanpa sengaja melihat Andra keluar dari dalam sebuah mobil mewah.
"Kenapa dia ada di sini?" Naya menatap Andra yang juga melihat ke arahnya.
Sikap sombong dan angkuh terlihat, langsung berjalan tanpa memperdulikan Naya sama sekali. Jangankan menyapa, melihat Nay saja seperti melihat kotoran.
"Tidak mungin dia ingin melamar pekerjaan? jangan bilang ini milik keluarganya?" Naya mencari nama perusahaan yang tertuliskan AA group.
Andra melangkah masuk ke ruangan Papinya, melihat pekerjaan yang papanya tinggalkan. Andra bahkan menunda ke kampus untuk ganti jam karena kondisi perusahan yang tidak ada pemimpin dikarenakan papanya ada di cabang luar negeri.
"Tuan muda, ini hasil tes yang sudah dilakukan?"
"Pilih menjadi lima besar, kualitas terbaik ambil, hubungi mereka untuk wawancara langsung." Andra masih fokus di depan komputernya, tidak menatap sekretaris papanya sama sekali.
"Ada delapan orang yang memiliki jawaban sesuai kriteria perusahaan." Sekretaris memberikan kepada Andra.
"Kenapa harus aku yang melihatnya, apa bagian perekrutan tidak ada?" Nada bicara Andra meninggi, mendengarkan penjelasan soal kondisi yang harus Andra sendiri turun tangan.
Tatapan mata Andra sinis, melihat ke arah map yang ada di mejanya, nama Kanaya berada di daftar teratas.
Mata Andra terbelalak, mengambil map melihat jelas hasil jawaban Nay. Andra langsung mengumpat Arvin yang sudah larut malam memintanya bangun hanya untuk membantu Naya masuk perusahannya.
Kepala Andra menggeleng, membuang map yang ada nama Naya ketempat sampah. Tidak mengizinkan Naya masuk perusahaannya karena orang dalam.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Andra meminta menghubungi lima orang yang menjadi pilihannya.
"Tuan, kenapa tidak semuanya? kita membutuhkan setidaknya lima karyawan baru." Sekretaris meminta Andra mempertimbangkan ketiganya.
Keputusan terkahir bisa diambil setelah wawancara langsung, dan Andra langsung yang melakukanya.
Tangan Andra terkepal, memukul meja kuat langsung meminta memanggil tujuh orang kecuali Naya, dia tidak masuk ke dalam kriteria perusahaan.
Selesai pekerjaan, Andra pergi ke kampus bertemu dengan kedua temannya yang juga mengubah jam kuliah karena ada pekerjaan.
"Vin, aku mendengar kabar kamu memutuskan pertunangan dengan Erin? dan meninggalkan rumah bersama Prilly." Tatapan Agra terlihat, binggung dengan pikiran temannya yang mencoba melawan.
"Ya,"
"Sialan kamu Vin, alasan kamu menghubungi kita ternyata untuk Naya." Langkah Andra berada di depan sekali.
"Ya, kamu harus menemani dia. Naya membutuhkan dana untuk hidup, aku tidak ingin dia ikutan sengsara." Tanpa menerima penolakan Andra, Arvin hanya ingin Naya diterima.
Tawa Agra terdengar, meminta Andra memberikan kesempatan kepada Naya, mereka tidak harus bertemu meskipun Andra tidak akur dengan Nay.
"Sebenarnya siapa pemilik perusahan? Kenapa tidak masuk perusahan kalian saja? kenapa harus aku?" teriakan Andra terdengar meminta Arvin dan Agra tidak ikut campur.
"Maaf Andra aku buru-buru soalnya sudah ketinggalan kelas." Nay berlari kencang mengabaikan Andra.
Tidak terdiam Andra juga langsung berlari mengejar Naya keduanya lari-larian melewati Arvin dan Agra yang saling tatap.
"Ada apa dengan mereka berdua?" Agra langsung berlari mengejar, diikuti oleh Arvin yang juga binggung.
Banyak orang yang memperhatikan keempat orang yang kejar-kejaran, melewati beberapa lantai sampai Andra menjambak rambut Naya.
Kaki Andra tergelincir langsung terjatuh bersama Naya di tangga membuat mahasiswa dan siswi teriak histeris melihat Andra jatuh.
Tangan Naya menahan kepala Andra agar tidak terbentur, begitupun dengan Andra yang memeluk erat Naya agar tidak terbentur.
Arvin dan Agra terhenti, melihat keduanya terguling-guling di tangga menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Ah sialan." Andra membuka mata melihat Naya ada di bawahnya.
"Aas sialan!" Nay mendorong tubuh Andra dari atas tubuhnya.
__ADS_1
"Bodohnya kalian berdua ini?" Arvin menarik Naya, sedangkan Agra menarik Andra membawa keduanya pergi sebelum semakin banyak yang memotret.
Sorakan banyak orang terdengar, keempatnya langsung masuk ke ruangan kosong.
"Minggir, Naya ingin ke ruang kampus,"
"Hei sialan! kamu ...." Andra menatap Naya yang langsung menghilang dari pandangan karena berlari lebih dulu.
"Kenapa juga kalian kejar-kejaran? ke ruangan perawatan saja Dra, lihat tangan kamu berdarah." Senyuman Agra terlihat, baru datang saja mereka sudah bermain kejar-kejaran.
"Awas kamu Naya, tidak akan aku berikan ampun,"
Di ruangan kelas, Naya jalan jongkok masuk ke kelas, langsung duduk di belakang memperhatikan dosen yang sudah mulai menjelaskan.
Nay meringis melihat tangannya ada yang terluka, langsung menepis darahnya. nay berusaha fokus untuk mendengarkan penjelasan.
"Semoga saja Andra baik-baik saja, kenapa kami seperti anak kecil? bermain kejar-kejaran." Nay tidak enak hati jika Andra sampai terluka.
Setelah beberapa jam kelas usai, Nay melangkah keluar melihat sekitar yang pastinya sedang membicarakan dirinya dan Andra yang berpelukan jatuh dari tangga.
"Andra bermain basket di lapangan? padahal tangannya sedang terluka." Suara beberapa mahasiswa siswi mulai terdengar.
Naya berlari kecil ke lapangan basket, melihat Andra yang tertawa tim basket sambil memainkan bola, terlihat ada luka di siku kanan dan kiri, tapi Andra tidak merasakan sakit sama skali.
Saat bola masuk, suara mahasiswa dan siswi terdengar menyoraki Andra yang membuat banyak wanita jatuh cinta.
Senyuman Nay terlihat, kagum dengan Andra yang bisa bermain begitu kerennya, Nay bingung apa kurangnya Andra yang memiliki segalanya, selain wajah yang tampan, cerdas, kaya juga menjadi idola banyak orang.
Dari kejauhan Andra melihat Naya, langsung bersiap melemparkan bola ke arah Naya yang masih melamun.
Bola terlempar kuat ke arah Naya membuat semua orang teriak-teriak, Nay yang tidak fokus hanya bisa pasrah saat bola menghantam kepala Naya hingga hampir jatuh jika Agra tidak menahannya.
Kesadaran Naya hilang membuat semua orang terdiam, Agra menggelengkan kepala melihat Andra yang melihat ke arah lain.
"Dra, pingsan ini ." Agra berteriak meminta Andra yang langsung melangkah mendekat.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1