KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MELINDUNGI


__ADS_3

Jendela kamar Agra terbuka, tercengang melihat dua sahabatnya ada di balkon kamarnya.


"Bagaimana caranya kalian bisa masuk, gila." Senyuman Agra terlihat, mempersilahkan keduanya masuk.


"Kenapa jam segini belum tidur?" tanya Andra melihat kamar Agra tidak ada lagi gitar.


"Aku terbangun, bagaimana cara kalian melewati gerbang?"


"Siapa terjaga di jam segini?" Arvin tiduran di atas ranjang.


Kepala Agra mengangguk, naik ke atas ranjang. Ketiganya memejamkan mata, memutuskan untuk tidur.


Tangan Agra memeluk Andra, saat ada masalah Agra selalu sulit tidur, dia butuh teman yang akan membantunya tidur.


Kepala Arvin geleng-geleng, Andra memang sahabat paling pengertian karena dia tidak lupa kebiasaan Agra.


"Kita datang ke sini hanya menemaninya tidur?"


"Kamar ini semakin banyak ruang, tapi rasanya sesak. Agra tidak punya ponsel, gitarnya juga sudah hilang. Pikiran Agra pasti dalam keadaan tidak baik."


"Dra, masalah aku saja masih menumpuk, tidakkah kamu kasihan?"


Hanya senyuman yang bisa Andra berikan, dia paham jika Arvin juga memiliki masalah, tidak terkecuali dirinya.


Bedanya Arvin dan Andra sudah terbiasa dengan kehidupan keras, sejak kecil dididik tanpa belas kasihan. Mental tangguh karena terbiasa.


Berbeda dengan Agra, di lahir dari keluarga yang harmonis, penuh cinta dan kasih sayang. Agra begitu dicintai oleh kedua orangtuanya, tapi secara tiba-tiba dunianya terbalik.


Papanya pergi entah kemana, tanpa kabar berita, sedangkan Mamanya melakukan segala cara untuk bertahan.


"Dra, perlahan Agra pasti mengerti."


Kepala Andra mengangguk, sudah pasti belajar mengerti dan mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya, tidak ada yang bisa dibantu. Agra harus menyelesaikan masalah mamanya.


Sebagai teman yang baik tanpa bertanya, tapi mendampingi. Andra menyemangati dengan berada di samping.


"Penasihat terbaik diri sendiri, tidak mungkin aku yang menasehati Agra, hasilnya pasti kacau." Tawa kecil Andra terdengar memutuskan untuk tidur.


Tangan Arvin menyingkirkan tangan Agra agar memeluk Andra, memejamkan matanya karena butuh istirahat.


Tiga pemuda populer memejamkan matanya, memilih tidur. Ponsel Andra terus berdering, tapi tidak terdengar karena dering dimatikan.


Tangan Agra meraba ponsel, teriak kaget melihat wallpaper ponsel Andra yang sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Kenapa Gra?" tanya Arvin yang terbangun.


"Sialan Andra, lihat wallpaper ini." Ponsel diarahkan kepada Arvin.


"Jangan sentuh ponsel ini, jika tidak ingin dibacok! Astaga Andra, memang gila." Arvin tidak melihat keberadaan Andra di ranjang.


Pukulan tangan Agra terasa di punggung Andra, dia sibuk main game di komputer Agra, padahal Agra sendiri hanya menggunakan untuk membuat musik.


"Jam berapa kamu bangun, dari tadi ada yang memanggil." Agra meletakkan ponsel di atas meja.


Ketukan pintu terdengar menbuat ketiganya menoleh, suara Mama Agra terdengar meminta Agra segera bangun karena ada pertemuan dengan keluarga Erin.


"Gra, buka pintunya."


"Ya ma, Agra sudah bangun. Lagian ini masih pagi," balas Agra.


"Ini sudah jam sepuluh Gra, ayo cepat jangan banyak membantah."


Arvin duduk dipinggir ranjang, menatap wajah Agra yang nampak santai saja. Andra juga masih lanjut main game.


"Kamu akan bertunangan Gra?"


"Kenapa Lo cemburu Vin," ejek Andra yang cengengesan.


Suara kursi ditarik terdengar, Agra duduk di samping Andra yang tidak punya beban pikiran, Papinya menghubungi saja tidak di hiraukan.


"Dra, bagaimana jika kamu diposisi aku?"


"Pergi, di depan keluarga besarnya ungkapan apa yang dirasakan, selesai." Andra merasa usia mereka masih muda, sesekali melakukan salah tidak masalah karena masa itu tidak akan terulang kembali.


Kepala Agra mengangguk, ucapan Andra ada benarnya. Semasa muda sebaiknya menikmati hidup, masa muda tidak akan kembali setelah dewasa.


"Aku mandi dulu, kalian berdua cari cara untuk keluar dari sini."


Gedoran pintu terdengar kembali, Andra membuka pintu membuat Mama Arvin kaget. Ternyata Agra tidak sendiri, ada kedua temannya.


"Agra mandi Tante, dia sudah tidak perlu dimandikan," ujar Andra santai.


"Kurang ajar, beraninya kalian datang ke sini secara diam-diam. Kalian hanya membawa pengaruh buruk untuk Agra!"


Pintu kamar mandi terbuka, Agra melihat Mamanya yang marah-marah kepada kedua sahabatnya.


"Bukan kita, tapi Tante. Berhentilah memaksa kehendak, jika sudah kehilangan anak baru menyesal." Arvin menangkis sapu yang diarahkan kepadanya.

__ADS_1


"Mama hentikan, jangan sakiti teman Agra."


Tawa Andra terdengar berlari keluar kamar, menuruni tangga yang cukup banyak. Arvin juga lari mengejar Andra yang sangat jahil.


"Dra, kamu sialan. Sengaja mencari jalan pulang dengan memancing amarah mamanya Agra." Pukulan tangan Arvin kuat arah kepala.


Teriakkan mamanya Agra terdengar, menyuapi dua pemuda yang sudah menghilang dari balik gerbang.


Kepala Agra geleng-geleng menatap dua sahabatnya dari balkon kamar, sungguh tidak ada kerjaan melihat Andra dan Arvin yang tertawa.


"Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti kalian," gumam Agra yang masih menatap jauh, tubuhnya hanya menggunakan handuk tidak sempat memakai baju.


Suara Mama memarahi Agra terdengar, meminta menjauhi Arvin. Dia yang mengajari Andra untuk menyusup masuk.


"Ma, Andra yang punya rencana datang ke sini, Arvin hanya mengikutinya. Jangan menyalahkan Arvin hanya karena dia meninggalkan rumah dan keluarganya." Agra memberanikan diri melawan mamanya demi membela sahabatnya.


Mama meminta Agra bersiap karena mereka akan bertemu keluarga Erin untuk membicarakan pernikahan.


Kepala Agra mengangguk, meminta maaf kepada mamanya di dalam hati. Agra tidak masalah hidup sederhana, asalkan bersama memulai semuanya dari nol.


"Nanti Agra akan menjaga Mama, menghidupi kita. Mama tidak perlu bekerja lagi," batin Agra menatap mamanya yang nampak lelah.


Selesai bersiap-siap, Agra mendekati mamanya yang sudah menunggu, ada banyak berkas untuk kerjasama setelah perjodohan.


"Kita mau pergi ke mana Ma?"


"Hotel keluarga Erin, setelah ini kita akan bangkit kembali Gra," ujar Mama duduk di samping Agra yang menjalankan mobilnya.


"Mama jual Agra ya?" tanya Agra sambil tersenyum karena merasa sedikit sedih diperjualbelikan.


Tatapan mata Mama sayu, bukan maksud hatinya menyakiti Agra, tapi mereka tidak punya pilihan.


"Mama hanya ingin menyelematkan Perusahaan Dra, ingin membuktikan kepada Papa kamu jika kita bisa sukses tanpa dia," ujar Mama dengan nada pelan.


"Ma, kita harus gagal dulu, berjuang lagi agar ada di posisi sukses. Semuanya butuh proses Ma, tidak ada yang instan di dunia ini." Genggaman tanga Agra kuat.


Bagi Andra tidak masalah kehilangan kemewahan, selama bisa bersama Mamanya dan berjuang kembali.


"Nanti, setelah Andra dewasa pasti akan memberikan kehidupan layak untuk Mama, maaf karena sekarang Andra sedang berjuang untuk menggapainya, Mama bertahan sedikit lagi." Senyuman Agra terlihat menyemangati Mamanya yang tidak kuasa menahan air mata karena putranya ingin bertahan bersamanya.


***


Color black card

__ADS_1


__ADS_2