
Kedua tangan Naya terangkat, dia tidak tahan lagi membangunkan Andra yang menolak bangun. Nay meninggalkan Andra di kamarnya yang masih tidur, kembali ke apartemen karena ada urusan ke kantor meksipun hanya sebentar.
Di dalam apartemen Syifra sudah sibuk merapikan dan membersihkan seisi apartemen, sarapan juga sudah disiapkan.
"Syif, apa yang kamu lakukan? Jangan lakukan itu, banyak istirahat saja," tegur Naya.
"Aku hanya hamil Nay, bukan sakit. Kamu kesiangan?" senyuman Syifra terlihat ada noda merah di leher Naya.
Kepala Nay terangkat, berjalan ke kamarnya untuk segera mandi dan ke kantor. Andra yang cari perkara membuat Naya kerja dua kali.
"Apa hari ini ada perekrutan staf baru?" Naya melihat ponselnya yang memiliki banyak email masuk.
Setelah rapi nya bergegas pergi melihat Syifra yang menunggunya di depan meja makan menatap makanan yang sudah siap.
"Sarapan dulu Nay," tawar Syifra.
Kepala Naya mengangguk, tidak enak menolak karena Syifra sudah menyiapkan sejak subuh untuk sarapan.
"Lain kali jangan sibuk masak, kamu bisa turun lantai satu untuk makan, jika tidak ada uang bilang saja atas nama aku." Nay menyantap masakan Syifra yang cukup enak.
"Naya, aku tidak kekurangan materi, saat ini uang yang aku miliki cukup untuk hidup kami beberapa puluh tahun ke depan. Selama bekerja aku rajin menabung uang, jadi jangan khawatir," ujar Syifra yang merasa tidak enak jika tidak melakukan apapun.
Tawa kecil Naya terdengar, dia tahu jika Syifra tidak kekurangan soal uang, dia tidak nampak miskin. Masalahnya uang tidak menjamin apapun.
"Saat ini kamu cukup, tapi bukan uang yang kamu butuhkan melainkan kesehatan mental," ucap Naya meminta Syifra mengutarakan apa yang ada di hatinya.
"Kamu benar, aku bisa mendapatkan uang, tapi tidak bisa menjamin apa aku mampu. Kamu tahu Nay, saat ini tidak ada jalan bagiku." Syifra lanjut makan dan ingin pergi liburan untuk menenangkan hatinya.
Naya menjatuhkan piringnya, dia tidak tahu harus ikut campur seperti apa lagi. Syifra tahu jika dia tidak punya jalan, tapi masih saja memikirkan banyak hal.
"Pergilah liburan jika memang itu solusinya." Naya menghubungi seseorang untuk membantu.
Teriakkan di ponsel Nya terdengar, Erin yang baru pulang dari keliling Jeju merasa puas karena bisa kembali.
"Rin, bisa ke apartemen sekarang."
"Aku baru tiba di bandara , kabarnya Agra dan Prilly tunangan?"
"Itu tidak penting, aku butuh bantuan." Nay menceritakan kondisi Syifra.
Erin memiliki banyak tempat untuk liburan, Syifra membutuhkan ketenangan sehingga butuh bantuan Erin. Kondisi kehamilan Syifra juga diceritakan agar Erin bisa berhati-hati.
"Nanti Erin akan pergi ke sini, kamu bisa mengobrol dengannya. Meskipun di setengah gila, tapi mampu merasakan beban orang lain. Pergilah bersamanya sementara waktu." Naya pamit untuk pergi ke kantor.
"Hati-hati Naya, aku pamit rehat sebentar sampai hati dan pikiran damai." Senyuman Syifra terlihat.
Naya keluar apartemen masuk ke apartemen Andra, pemiliknya masih tidur. Naya menepuk pelan wajah ANdra.
"Dra, aku pergi ke kantor dulu ya, bangun dulu sebentar."
"Ada apa, kepala aku pusing?"
"Aku meminta bantuan ERin untuk membawa Syifra liburan."
Andra membuka matanya, menatap Nay binggung. Liburan apa yang diinginkan saat hamil, terlalu berbahaya.
Tentu Naya tahu jika bahaya, dia tidak punya pilihan untuk itu. Syifra tidak bisa tidur juga pikirannya kacau, dia paham tidak mampu memiliki namun tidak sanggup juga sendiri.
"Jadi apa maunya?"
"Menurut kamu apa mau ibu hamil, kita harus cari cara untuk membujuk Delon." Kepala Nay menggeleng meskipun tidak mungkin melakukannya.
"Cari orang lain saja, ada banyak pria jomblo," ujar ANdra sudah putus asa.
"Jnagan bercanda Dra, tidak mungkin. Kamu pikir Syifra itu apa?"
Kedua pundak Andra terangkat, dia juga binggung harus melakukan apa. Jalannya buntu dan tidak punya arah tujuan.
"Naya, jalan kita saja masih ada lonjakan tinggi, kenapa juga Syifra merepotkan."
"Kita tidak bisa melewati lonjak itu tanpa Syifra. Cari cara agar ia bisa tenang tanpa mengusik Delon." Naya pamit untuk pergi bekerja.
Kedua tangan Andra mengacak rambutnya, pusing melihat Syifra yang menghalangi bahagia mereka.
"Kanaya tunggu dulu," panggil Andra bangun dari tempat tidurnya.
"Aku mau ke kantor ini juga sudah telat, hari ini ada perekrutan karyawan. Aku butuh beberapa orang untuk ada di sisiku." Nay menoleh ke arah Andra yang berjalan mendekat.
Bibir Andra mengecup bibir Naya, pinggang Naya di dekap erat tidak ingin berpisah meskipun sebentar.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah meminta aku pergi, paham." Andra mengecup kening Naya.
"Iya, aku pergi dulu." Naya memeluk Andra erat barulah pergi.
__ADS_1
Andra melangkah ke kamar mandi untuk segera mandi dan mengikuti Naya ke kantor, suara bel terdengar membuat jantungan berdegup kencang.
"Apa Syifra ada pikiran ingin menjebak aku?" Andra menghubungi Naya meminta bantuan.
"Jangan lebai Andra, Syifra ada di apartemen asik nonton, orang yang menekan bel apartemen hanya pengantar makanan, aku yang minta." Naya mematikan panggilan karena dia bisa memantau rekaman cctv apartemennya dan Andra.
Naya sangat mempercayai Syifra, tapi dia lebih suka berhati-hati daripada kecolongan.
"Maafkan aku Syifra, mungkin aku bisa membantu hal lain namun soal Andra aku tidak bisa mengembalikan kepada kamu." Naya tidak ingin ada wanita lain dalam hidup Andra apapun yang terjadi.
Sampai di kantor Naya binggung melihat lobi yang penuh, beberapa staf membungkukan badannya melihat Kanya lewat.
Delon menatap Naya yang sedang bicara dengan seseorang, jantungnya berdegup kencang.
"Siapa wanita itu?" tanya Delon kepada pelamar kerja lain.
"Dia Kanaya, direktur perusahan ini, dia paling ditakuti di sini. Naya bahkan tidak ragu melwan atasannya, dia bahkan pernah mengancam pemilik usaha untuk dikeluarkan. Jangan sampai berurusan dengannya," ucap pria di samping Delon.
Kepala Delon mengangguk, dia baru ingat ucapan Andra jika ada seseorang yang berada di bawahnya namun lebih berkuasa.
Senyuman Delon terlihat, dia menyukai Naya yang mempunyai wibawa, meskipun dia memang nampak kasar.
"Astag gawat, Bu Naya yang ikut menilai kita. Ada tiga calon staf yang akan bekerja dengannya." Pria pelamar ribut lebih tepatnya takut.
"Kenapa dia membutuhkan staf baru, padahal yang berpegalaman banyak?" tanya Delon penasaran.
"Sejak delapan tahun yang lalu, perusahaan ini selalu mempekerjakan yang baru sesuai talenta. Naya tahu yang berpengalaman baik, tapi jiwa muda lebih berambisi." Seorang staf menjelaskan agar fokus dan berusaha memberikan yang terbaik.
Tidak akan rugi belajar dengan Naya, dia tidak makan orang. Sikap kerasnya demi kebaikan pekerja dan perusahaan.
Jika belum kenal Naya mungkin berpikir buruk, tapi jika sudah bertemu pasti berat berpisah karena Naya akan melepaskan saat karyawan baru sudah matang.
"Ternyata dia cukup berpengaruh, tidak heran sikapnya tegas. Tidak salah aku mengangumi nya." Senyuman Delon terlihat berharap bisa bergabung dengan perusahaan lebih cepat.
Saat Naya menoleh, Delon menutup wajahnya karena tidak ingin Naya melihat ke arahnya. Delon memilih bertemu setelah Naya tahu kemampuan.
"Lakukan dengan cepat, satu jam selesai." Naya memberikan peringatan, melangkah masuk lift.
Selama tes, Naya yang duduk di ruangannya melihat data beberapa pelamar yang memiliki kualitas baik.
"Nilai yang luar biasa, tulisnya juga bagus dan memiliki ciri khas." Naya teringat Arvin, mengambil ponselnya ingin memamerkan sesuatu.
"Nilai anak ini sama seperti kamu, mau pamer."
Ketukan pintu terdengar, seorang wanita membawa map yang berisikan daftar peserta yang mengikuti tes.
"Apa pemuda ini masuk tes?"
"Masuk Bu, dia tampan dan masih sangat muda. Saya rasa anak kuliah semester akhir, Bu Naya harus melihat wajahnya sekarang lagi musim pacaran dengan brondong." Tawa kecil terdengar menbuat Naya tersenyum tipis.
Kekasihnya jauh lebih tampan, tidak ada yang lebih tampan di mata Naya selain Andra. Apalagi masih muda.
"Pikiran kamu hanya pria tampan," tegur Naya yang bersiap ke ruangan tes selanjutnya.
Beberapa orang membungkuk saat melihat Naya, mempersilahkan masuk lebih dulu. Satu persatu pelamar masuk, Naya tidak sedikit menoleh hanya mengenali dari suara.
"Stop, jangan banyak bicara sakit telingaku mendengarnya. Jika pengalaman sudah sebanyak itu buka bisnis sendiri." Naya menutup map.
Sebagai staf yang ikut mengetes merasakan jantung berdegup, dari sepuluh peserta belum ada yang masuk kriteria Naya.
"Selanjutnya," pinta Nay yang capek mendengar pelamar yang menyombongkan diri.
"Selamat ibu bapak pimpinan, perkenalan nama saya Delon Aaron. Saya mahasiswa yang akan segera wisuda ...." Delon menghentikan ucapan saat tangan Naya terangkat.
"Kenapa kamu melamar kerja padahal belum lulus?" tanya Naya.
"Saya sudah siap wisuda, dan langsung bekerja."
"Apa kamu punya pengalaman?"
"Pengalaman bekerja belum, makanya saya butuh bimbingan, tapi saya akan berusaha belajar dengan baik agar bisa layak berada di perusahaan ini." Delon penuh keyakinan dengan kemampuannya.
Senyuman Naya terlihat, mengangguk kepalanya. Beberapa pimpinan memberikan pertanyaan.
Jawaban Delon membuat Naya mengangkat kepalanya, mata Naya melotot melihat pria yang bernilai tinggi setara dengan Arvin ternyata seseorang yang dikenalnya.
"Bu Naya, apa ada yang ingin ditanyakan kembali?"
"Lanjut peserta lain," ujar Kanaya.
Senyuman Delon mengucapkan terimakasih, melangkah keluar. Delon bernapas lega saat mendapatkan surat praktek kerja.
"Terima kasih tuhan, aku harap ini jalan awal." Delon memeluk amplop coklat.
__ADS_1
Seorang pria melangkah mendekat, Delon membungkukkan badannya melihat Andra baru saja muncul.
"Bagaimana tesnya?" Andra menepuk pundak Delon.
"Tegang, apa yang pimpinan menyeramkan itu, Kanaya?"
Kepala Andra mengangguk, melihat Delon menujukkan amplop coklat. Dia punya kesempatan untuk belajar selama tiga bulan.
Senyuman Andra terlihat memberikan jempol, dia pamit untuk naik ke lantai atas karena ada hal yang harus dilakukan.
Tidak lama Naya keluar, melewati Delon begitu saja karena sudah tahu Andra baru datang.
"Kak Naya, terimakasih kesempatannya," ucap Delon.
"Aku hanya menilai sesuai kemampuan, selanjutnya tergantung kamu." Nay masuk lift untuk segera pergi.
Tubuh Delon membungkuk, Kanaya tidak menyangka Andra sengaja meminta Delon ikut melamar kerja.
"Andra," panggil Naya.
Suara Andra terjatuh terdengar, dia sedang ganti baju. Naya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Kenapa ganti baju di kantor?"
"Baju tadi ada noda, aku malu banyak calon karyawan baru." Senyuman Andra terlihat merapikan bajunya.
Tangan Naya terlipat di dada, mencoret kemeja putih Andra bertandatangan dirinya. Andra hanya melonggo tidak bisa berkata-kata.
"Mau ganti lagi?"
"Enggak, ini saja sudah bagus." Senyuman Andra terlihat, dia terpaksa tersenyum.
Tatapan mata Naya sinis, hanya karena noda kecil langsung ganti baju. Mentang-mentang banyak karyawan baru langsung mau pamer.
"Bagaimana dengan tes nya?"
"Kamu sengaja membawa Delon ke sini?"
Kepala Andra mengangguk, dia tahu Delon anak yang pintar. Kondisi keuangan Papinya sedang jatuh dan terlilit hutang sampai mengalami serangan jantung hingga meninggal.
Mami Delon sudah berjuang melunasi hutang mantan suaminya tanpa sepengetahuan Delon, tapi tetap saja keekonomian jatuh.
"Ternyata kamu menyelidiki Delon juga?"
"Emh, dia membutuhkan rangkulan orang dewasa. Selama ini terluka melihat perceraian orang tuanya, dan tidak ada tempat bersandar lagi. Aku berharap mata hati Delon terbuka untuk Syifra." Andra berharap kali ini dewa bersamanya untuk menemukan kunci dari masalah.
Bukan maksud hatinya ikut campur, tapi Andra berharap ada keajaiban. Mereka semua menemukan kebahagiaan, Syifra mengakui kesalahannya, dan dia juga sudah berusaha mempertahankan anaknya.
"Kita lihat saja psikologi Syifra, dan niat baik Delon. Bahaya juga jika Maminya bisa tahu." Naya nyengir merasakan cemas.
"Aku juga takut soal itu, lebih baik kita tidak ikut campur." Andra mengambil ponselnya meminta Naya mengatur jadwal pekerjaan ke luar.
Mata Andra fokus ke arah ponselnya, berita Agra trending soal lamaran. Kanaya mendekati Andra melihat berita.
"Aku rasa penggemarnya sudah siap dengan pernikahan mereka?"
"Patah hati terbesar seorang penggemar saat idola memiliki pasangan." Andra memeluk Naya, ingin ikut menikah juga.
Pintu ruangan Andra terbuka, keduanya langsung saling berjauhan. Andra sampai terjungkal ke sofa.
"Kenapa di dalam ruangan tanya berdiam diri?" Mami menatap Naya dan Andra yang saling tatap.
"Mami kenapa masuk secara tiba-tiba, bagaimana jika Andra tidak pakai baju?"
"Kenapa juga kamu tidak pakai baju di kantor, bocah sinting." Mata mami melotot mencurigai keduanya.
Senyuman Naya terlihat meminta maaf kepada Mami, mereka sedang membicarakan soal perjalanan bisnis keluar, ada hal penting yang harus diutamakan.
"Mami ada perlu apa, tidak biasanya ke kantor?" tanya Andra binggung.
"Mami cari Naya bukan kamu. Mami ingin mengenalkan Naya kepada anak teman Mami kelihatan cocok." Senyuman Mami terlihat menatap Naya yang mengerutkan kening.
Teriakkan Andra terdengar, tiap orang tua selalu menjodohkan anaknya, tapi Mami Andra sibuk menjodohkan anak orang.
"Mi, Andra belum menikah, kenapa Mami ingin menjodohkan pacar Andra?"
"Oh pacar. Mami tidak tahu soalnya belum dikenalkan. Kalian berdua satu kantor gini selalu berbuat brutal. Jangan-jangan Mami sudah punya cucu," tebak Mami melihat Naya dan Andra sudah batuk-batuk terkejut.
Mereka tidak liar sampai langsung membuat baby, Andra masih punya otak tidak asal tabur benih.
"Mami harus segera memberitahu Papi, bentar lagi dia punya cucu." Mami melangkah pergi meminta Andra dan Naya lanjut karena tidak jadi menjodohkan Naya.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira