
Semuanya sudah kumpul di rumah duka, Naya dan Andra juga sudha bergabung dengan yang lainnya meletakkan bunga di depan foto kakek.
Lama Naya menatap karena dia tidak menyimpan amarah lagi, jika Kakek tidak memusuhinya mungkin Naya tidak perah tahu rasanya berjuang di kota besar, tidak mungkin ada namanya persahabatan.
"Beristirahatlah dengan tenang Kek," gumam Naya dengan nada pelan.
Naya, menghampiri Daddy membungkuk tubuhnya mengucapkan turut berduka, begitupun kepada Arvin yang sudah berbakti kepada Kakeknya.
Suara tangisan Erin terdengar, dia yang paling tersakiti karena memiliki banyak memori indah bersama Kakek.
"Sabar sayang, masih ada Mama." Pelukan erat, Erin merasa sangat kehilangan.
Ada banyak tamu yang datang, daddy tidak menyangka masih ada orang yang ingin mengucapkan selamat tinggal karena tahu selama ini Kakek berprilaku tidak baik kepada orang lain.
"Ma, sebaiknya bawa Erin pulang, kasihan Raya mencari mama," pinta Arvin agr keadaan kembali kondusif.
Kepala Daddy mengangguk barulah istrinya menurut, waktu pemakaman sudah tiba dan Arvin tidak ingin menundanya.
"Apa tidak ada mantan istri atau istri anak kakek, Dad?
"Biarin ada tidak mungkin datang, Kakek tidak meninggalkan apapun, dia bangkrut Vin. Bahkan kita juga tidak ditinggali warisan," bisik Daddy yang pusing melihat tingkah Ayahnya maish beruntung tidak bayar hutang.
Tubuh Arvin yang awalnya semangat langsung lemas, kakeknya memang lelaki paling bodoh.
Daddy juga tidak habis pikir ada orang sebodoh ayahnya, sudah bagus daddy memisahkan harta dengan harta ayahnya demi keamanan anak istrinya dan keputusan itu tepat.
Setelah kak keke meninggal tidak ada aang akan menuntut harta karena kemewahan yang dimiliki Daddy kerja kerasnya sendiri.
"Nay, Kakek yang dulunya kaya punya ratusan bodyguard tidak punya warisan," bisik Alis pelan.
"Serius, ke mana hartanya?" Naya nampak kaget karena mereka tahu betapa kayanya Kakek pada masanya.
"Kira-kira ke mana uang itu?"
Prilly berdehem meminta Alis tidak membicarakan harta saat jenazah belum dimakamkan.
Hampir ratusan mobil mengiring kepergian Kakek, Naya dan Andra saling pandang karena keduanya belum istirahat sama sekali.
"Gra, aku tidur dulu, sumpah capek." Mata Andra terpejam, kepalanya bersandar di pundak Naya.
"Tidurlah, perjalanan ke pemakaman juga cukup jauh." Agra bisa menyetir karena dia tidak terlalu capek, otaknya saja yang capek.
Mata Naya juga mengantuk memejamkan mata memilih tidur untuk mengembalikan stamina tubuhnya.
Agra mengenggam tangan Prilly yang banyak diam, perlahan air mata Prilly menetes karena dia belum sempat mengatakan apapun.
"Gra, Kakek kehabisan warisan dan masih ada sisanya, harta itu tidak jatuh kepada Daddy ataupun Arvin, tapi kepada Prilly." Tangisan Prilly pelan karena tidak ingin membuat Naya bangun.
"Kenapa begitu, apa Kakek memiliki hutang dan menyerahkan warisan untuk membayar hutangnya!" tanya Agra yang mengkhawatirkan Prilly.
Kepala Pril menggeleng, tidak ada tagihan hutang namun Prilly tidak menyangka jika Kakek menyerahkan warisan senilai milyaran." Prilly tidak enak menerimanya karena bisa membuat iri hati.
Senyuman Agra terlihat apa yang Kakek lakukan sudah benar, Daddy tidak membutuhkan karena sudah sukses dengan usaha sendiri, Arvin dan Raya hidupnya terjamin.
Kepala Prilly menggeleng dia akan mengembalikan kepada Arvin, tidak ingin membuat kericuhan.
"Terserah kamu saja, mana baiknya. Setelah kita menikah, soal tanggung jawab menjadi urusanku." Senyuman Agra terlihat mengusap lembut kepala Pril.
"Tidak boleh romantis, kita menuju pemakaman bukan jalan-jalan."
Sepanjang jalan Agra dan Prilly mengobrol, sampai tiba di pemakaman keluarga, Arvin keluar melihat pemakaman yang sudah cukup lama tidak dikunjungi.
"Andra, Naya bangun, sudah siang, maksudnya sudah sampai." Agra meminta Andra merapikan wajahnya.
Semuanya keluar melihat proses pemakaman, Naya menggunakan kacamata hitam duduk di samping makam Mommy Arvin.
"Naya, jangan melamun di situ nanti kerasukan," tegur Andra.
__ADS_1
Sorotan mata Naya tajam, tidak suka dengan ucapan Andra. Langsung berdiri melihat keluarga kakek menaburkan bunga.
Saat pelayat mulai pergi, keluarga masih duduk diam. Prilly membungkukkan tubuhnya meminta maaf kepada keluarga Arvin.
"Ada apa Prilly?"
"Kakek memberikan warisan kepadaku, Prilly tidak pantas mendapatkannya." Tubuh Prilly membungkuk berkali-kali akan segera mengembalikan harta yang tersisa.
Daddy terduduk lemas, ayahnya pernah berpesan jika dia memiliki seorang putri namun tidak bisa ditemukan. Dia siap mati jika gadis itu ditemukan, dan menyerahkan warisan hanya kepadanya.
"Apa Prilly Putri ayah, kenapa dia begitu dekat, tapi ayah tidak tahu," batin Daddy yang memilih merahasiakan semuanya.
Membiarkan ayah pergi dan Prilly hidup dengan baik, dia tidak perlu tahu siapa ayahnya karena hanya aib.
"Daddy, tidak ada sedikitpun niat Prilly ...."
"Tidak apa, itu memang milik kamu, jangan dikembalikan anggap saja sebagai permintaan maaf dari Kakek." Senyuman Daddy terlihat mengusap kepala Prilly.
Hanya dia yang berhak atas warisan dan harus memanfaatkan dengan baik agar bisa dikembangkan.
"Dad, Prilly merasa ini berlebihan. Aku memiliki uang, dan tidak membutuhkannya."
"Pasti butuh, ini pertama kalinya ayah memberikan uangnya untuk kepentingan orang lain, bukan main perempuan." Mulut Daddy ditutup Arvin, kuburan Kakeknya belum kering tidak harus mengungkit keburukan.
Senyuman Prilly terlihat, dia berjanji akan memanfaatkan dengan baik dan mengembangkan uangnya agar bisa bertambah.
Daddy memberikan jempol, dia selalu mengajarkan kepada Andra jika memiliki dana usahakan tidak habis namun bertambah. Seorang pebisnis harus pintar mengatur keuangan agar tidak kalah saing.
"Jika pemula mampu naik, maka senior ada di puncak, masa iya harus turun," ucap Andra yang pamit pulang.
"Daddy pulang saja, kita masih ada urusan." Arvin menarik rambut Andra untuk menunggu.
"Kalian ingin pergi ya pergilah, Daddy ingin menyapa Mommy dulu." Senyuman Daddy terlihat karena Arvin lebih dulu menemui Mommynya sebelum memakamkan kakeknya
"Mommy, Arvin pulang."
"Sakit Vin," bentak Andra yang berjalan paling belakang.
Arvin, Agra lari kencang, Andra yang paling belakang melewati Naya yang jalan santai. Arvin dan Agra juga dilewati, Andra bahkan melangkah salah satu makam.
Kepala Naya menggeleng, lagi siang bolong sudah lari-larian takut hantu. Tidak ada juga yang ingin muncul menganggu.
"Naya cepat!" Andra sudah ada di dalam mobil meminta Naya masuk.
Naya berjalan masuk ke mobil Arvin, Andra berteriak membuat tawa terdengar besar. Agra pindah ke mobil Andra begitupun dengan Arvin.
"Mau ke mana?"
"Penginapan, kabarnya di daerah sini ada penginapan bagus." Alis menjalankan mobil, mengikuti mobil di depan.
"Jalannya ditutup," ucap Naya meminta Alis putar balik.
Perasaan Prilly tidak enak, bagaimana jika mereka nyasar kembali seperti beberapa tahun lalu.
Klakson Alis tidak dihiraukan, Andra masih yakin jika dia ingat jalannya meksipun sudah lama.
"Dra, Lo yakin?" tanya Agra.
"Vin Lo yakin nggak?" Andra bertanya balik ke Arvin.
"Mana aku tahu, kabarnya jalur sudah ditutup." Avin melihat sekitar yang sepi.
Mobil terhenti, Agra memukul punggung Andra yang suka asal-asalan. Sekarang nyasar lagi.
"Aku rasa kita memang sial jika ke kuburan." Andra nyengir.
"Bukan masalah kuburan, kamu yang sok tahu," bentak Arvin.
__ADS_1
"Kamu yang mengajak ke penginapan, kenapa sekarang mentalhak aku!" Andra membentak Arvin yang duduk di belakang sampai air liur muncrat ke segala arah.
Agra pusing melihatnya, sudah tua masih saja ribut, bukan cari solusi untuk pulang, tapi bertengkar.
Tangan Naya menggedor kuat, Andra keluar meminta maaf karena mereka nyasar kembali.
"Dari tadi diminta berhenti, akhirnya nyasar." Mulut Naya ditutup, Andra pusing mendengarnya.
Ada beberapa komplotan orang lewat, Naya memicingkan matanya meminta diberitahu jalan untuk pulang.
"Mereka mau merampok Nay, bukan menolong," bisik Andra pelan.
"Biar saja, memang kita mau minta bantuan sama siapa? ini semua gara-gara kamu." Naya melangkah mendekat, tapi senjata dikelurkan.
Tangan Andra ditarik, Naya meminta lelaki maju lebih dulu, tapi Andra menolak karena tidak ingin terluka.
"Kamu dulu, siapa di sini paling kuat, itu kamu." Andra melangkah mundur.
"Sial banget Lo Dra, di mana-mana lelaki maju duluan," bentak Naya kasar sampai beberapa orang mundur.
"Tahu tidak siapa mahluk terkuat, itu wanita." Senyuman Andra terlihat mempersilahkan Naya lebih dulu.
Tawa Arvin dan Agra terdengar hanya menonton pertengkaran Naya dan Andra yang sudah lama tidak terdengar.
Keduanya sangat cocok jika soal berantem, lebih banyak cekcok daripada romantis, namun saling mengagumi.
"Permisi, kita tidak ingin mencari masalah, tapi kita nyasar," ucap Naya meminta bantuan.
Suara beberapa orang bicara kepada Naya menggunakan bahasa aneh, Naya sudah memasang telinganya tetap saja tidak mengerti.
"Apa yang mereka katakan Dra?"
"Tidak tahu, lagi jampi-jampi atau kumur-kumur, kenapa tidak jelas?" Andra mendekati mengulangi pertanyaan Naya.
Suara tidak jelas kembali terdengar, melihat dari ekpresi lebih marah daripada bicara dengan Naya.
"Apa mereka marah Nay?"
"Mana aku tahu, ekspresinya ingin menerkam." Nay menggaruk kepala tidak tahu harus berbuat apa.
Rasanya Naya panas mendengar penduduk asli bicara dengan Andra menggunakan bahasa masing-masing, Andra sesuka hatinya menjawab.
"Nama, aku Andra, kalian siapa?" Andra mengangguk seakan mengerti.
Di dalam mobil Arvin dan Agra tertawa terpingkal-pingkal sudah lama tidak melihat moment lucu, mobil belakang juga sama sampai mobil bergoyang, hanya Naya yang tidak tertawa.
"Apa, kalian mau duit?" Andra mengeluarkan uangnya.
Beberapa orang mengangkat senjata saat Andra membuka sesuatu, tawa Andra terdengar memberikan secarik uang.
"Andra cukup, ini bukan lelucon," tegur Naya.
"Mereka sengaja menipu kita, aktingnya unggul." Andra menunjukkan jari tengah.
Tangan Andra ditarik agar masuk mobil, Naya memintanya mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Hutan Naya."
"Trabas saja, asalkan buka. Mereka yang mental." Naya kembali ke dalam mobil meminta Alis pindah.
Senyuman Andra terlihat, mengangkat tangannya mengucapkan selamat tinggal. Mobil Naya melaju lebih dulu, membuat orang-orang berhamburan pergi.
Beberapa senjata menancap di mobil, mengejar mobil naya, sedangkan Andra belum masuk mobil.
"Hancur mobilku, pergi bersih pulang bawa senjata." Arvin meminta Andra cepat pergi.
Agra hanya tertawa, Arvin masih sempat mencemaskan mobilnya yang bolong semua.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira