KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
TAMPARAN


__ADS_3

Kepala Naya pusing melihat satu-persatu temannya mulai mengenal cinta hanya dirinya yang masih sibuk bekerja. Menunggu cinta yang ternyata memilih orang lain.


"Naya, kamu tidur," panggil Arvin pelan karena mata Naya terpejam lama.


Prilly dan Agra sudah keluar ruangan begitupun dengan Andra, hanya ada Alis dan Arvin yang berjaga.


"Kak Naya sudah tidur?" Alisha menatap Arvin yang mengangguk pelan.


"Kita keluar saja, biarkan Naya beristirahat."


Kepala Alis mengangguk, melangkah keluar untuk mencari udara segar. Besok pagi mereka harus pulang.


Merasa ruangan sudah sepi barulah Naya membuka matanya, berusaha duduk sambil bersandar di ranjang.


Tidak ada yang Naya pikirkan, dia hanya melamun sambil menatap kakinya. Bertahun-tahun berlalu, Kanaya tidak memiliki tujuan lagi karena apa yang dia inginkan sudah didapatkan kecuali cintanya.


"Aku tidak ingin menjadi kaya raya, tapi aku ingin hidup bebas tanpa kekurangan." Naya tidak punya tempat pulang karena tidak memiliki keluarga.


Keadaan hening dan dingin, rasanya begitu nyaman. Besok pagi kehidupan berisik akan dimulai kembali.


"Tidak ada alasan aku untuk berjuang, bahkan aku lahir tanpa cinta. Seharusnya tidak lahir, tapi sudah telanjur lahir, pilihan terakhir aku harus hidup." Naya turun dari atas ranjang melepaskan infus perlahan menuju keluar kamar.


Andra tidur di ruang tunggu, ponselnya bergetar panggilan dari Syifra yang terus menghubunginya.


"Dra, ada panggilan." Tangan Andra digoyang agar menjawab panggilan.


Panggilan terjawab, Andra duduk mendengar suara Syifra yang sedari pagi sampai malam menghubungi, tapi tidak direspon.


"Ada apa?" tanya Andra sangat dingin.


"Di mana, aku sudah dua hari di rumah orang tua kamu, Mami terlihat tidak suka hanya Nenek yang menemani, cepatlah pulang." Suara Syifra pelan, tidak enak terlalu berisik di rumah orang.


Tarikan napas Andra panjang, melihat punggung Naya melangkah pergi. Andra meminta maaf karena menginginkan Syifra keluar dari rumahnya.


"Aku tidak pulang, tidak ada juga yang ingin dibahas di rumah."


"Apa, tidak ada. Andra, bagaimana dengan pernikahan kita?"


"Kita bicara nanti, aku sedang tidak tertarik dengan pernikahan. Maaf." Mata Andra terpejam merasa sangat bersalah, tidak menyangka akan mengatakan hal yang menyakiti Syifra.


Tawa kecil terdengar dari balik panggilan, Syifra menutup telepon sudah menduga jika Andra pasti berpaling darinya jika bertemu dengan Naya.


"Kamu berduaan dengan Naya selama dua harian, sengaja mengabaikan aku. Perempuan satu itu tidak tahu diri, aku akan memberikannya pelajaran." Tangan Syifra tergempal, keluar dari kamar tamu berjalan ke arah kamar Andra.


Pintu kamar tidak terkunci, Syifra penasaran dengan foto Kanaya, pasti Andra menyimpannya.


"Ini kamar Andra, tidak ada gambar siapapun," batin Syifra melihat sekitar.


"Apa yang kamu lakukan di kamar Putraku?" Mami melangkah masuk terkejut melihat Syifra ada di dalam kamar Andra.


Kepala Syifra menunduk meminta maaf jika dia lancang masuk ke kamar Andra, tidak ada niat buruknya hanya ingin melihat foto persahabatan Andra.


Selama bersama kurang lebih delapan tahun, Syifra selalu mendengar Andra memiliki dua teman lelaki dan satu teman wanita.


"Aku belum pernah melihat foto Naya, apa dia begitu cantik?"


"Kanaya, dia memang tidak secantik kamu, tapi Naya gadis yang baik, pekerja keras, kuat juga mandiri." Mami sengaja menyanjung Naya dan berpikir jika Andra dan Naya akan menikah.


Mami secara terus terang mengakui jika Syifra cantik, sopan, juga berpendidikan tinggi, tapi untuk menjadi menantu idamannya, tidak masuk kriteria.


"Cantik saja tidak cukup, saya tidak suka dengan cara kamu datang ke rumah ini," sindir Mami.


"Maksudnya mami apa? Syifra juga datang dengan sopan, dan memang benar Andra akan menikahi aku."


"Kenapa kamu datang ke sini padahal tidak ada Andra, langsung masuk ke rumah padahal aku juga tidak ada. Sopan santunnya di mana?" nada bicara mami naik membuat Syifra menangis.


Teriakkan di depan pintu terdengar, Nenek memarahi Mami karena sudah membuat Syifra menangis.


"Aku yang memintanya masuk, kenapa? Ada masalah?" Nenek terbangun dan mendengar keributan ternyata calon cucunya.


Tangisan Syifra sesegukan mencoba menjelaskan jika dia masuk ke kamar Andra karena ingin melihat foto persahabatan Andra. Sebagai calon istri tentu dirinya ingin kenal.


Nenek membela Syifra, membantu mencari foto yang tidak terpanjang. Meksipun persahabatan di mata Nenek tidak penting, tapi Syifra berhak tahu.


"Jangan sentuh kamar Andra Mi, selain aku tidak boleh," teriakan Mami terdengar.


Sebuah foto terlempar, ada tiga pria dan satu wanita sedang berfoto. Terlihat jika keempat memang bersahabat.


"Bukannya dia wanita yang bersama Arvin kemarin, jadi dia Kanaya. Kenapa penampilannya terlihat kaya, tidak nampak kumuh?" lirih Syifra yang terlihat marah karena Andra tinggal berhadapan dengan Naya.


Seharusnya sejak awal Syifra curiga, Andra sengaja tinggal di tempat biasa demi bersama dengan Naya.


"Tidak ada foto Naya." Mami mengambil foto yang jatuh, menyembunyikan di balik buku menyusun kembali.


Ponsel lama Andra tidak sengaja tersentuh oleh mami, layarnya terlihat foto Naya yang terlihat jelek.


"Kapan Andra pulang, dia harus segera membicarakan pernikahan. Masa iya calon istri sudah tinggal di sini, tapi Andra keluyuran," ujar Nenek yang nampak kecewa.


"Aku tidak memberikan restu, Andra harus menikah dengan wanita yang dicintainya, dan aku menyukainya." Mami belum mengizinkan Andra dan Syifra menikah.


Keributan ibu dan anak terdengar, Syifra kesal melihat Maminya Andra yang begitu keras tidak segan melawan wanita tua.

__ADS_1


"Kenapa ribut tengah malam?" Papi keluar kamar karena suara berisik di lantai atas.


Nenek menceritakan apa yang menjadi perdebatan, Mami Andra terlalu ikut campur urusan anak sampai tidak bebas.


"Cukup. Biarkan Andra yang memilih, tidak ada yang berhak menentukan siapa calon istri Andra kecuali dia sendiri." Papi meminta semuanya kembali ke kamar masing-masing.


"Cepatlah pulang, aku tidak suka ada orang asing di rumah ini," bentak Mami marah.


"Mertua kurang ajar, tidak punya sopan santun kepada tamu. Apa begitu cara bersikap." Nenek mengusap punggung Syifra.


"Masuk kamar Bu, kamu juga Syifra." Papi menutup kamar Andra.


Rumahnya tidak bisa tenang sama sekali, ada saja keributan yang terjadi. Tidak ada tempat lelahnya terus ada keributan.


"Entah kapan rumah ini bisa tenang," gumam Papi.


Mami marah-marah di kamar tidak menyukai Syifra yang lancang masuk ke kamar Andra. Tidak seharusnya dia berani.


"Sudahlah sayang, mungkin dia memang ingin melihat foto Andra, lagian wanita ini pilihan Andra tidak boleh begitu," tegur Papi meminta istrinya istirahat daripada marah-marah.


Hentakan kaki Mami terdengar, dia tetap pada pendiriannya tidak akan memberikan restu, Andra tidak boleh menikahi Syifra.


Papi geleng-geleng kepala, soal calon istri Andra saja menjadi ribut. Apapun yang bersangkutan dengan Andra pasti ribut.


Sampai pagi Mami tidak tidur, mengawasi CCTV jika saja wanita yang ada di rumahnya masuk kamar lain.


"Mi, ini sudah pagi, asisten rumah tangga sudah berkeliaran. Buat apa melakukannya?" Papi tersenyum melihat istrinya yang sibuk sendirian.


Terlihat dari CCTV, Syifra sudah menggunakan baju rapi ingin pamitan karena ingin menjemput Andra.


Mami sengaja tidak keluar kamar, dia bahkan tidak sudi bertemu lagi. Papi yang keluar meminta Syifra sarapan terlebih dahulu baru pulang.


"Jangan ambil hati ucapan Mami, dia belum rela Andra menikah. Sarapan dulu," pinta Papi mempersilahkan.


"Terima kasih Pi, nanti sarapan bersama Andra, salam sama Mami." Syifra melangkah pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Andra.


Tatapan mata Syifra tajam, memukul setir mobilnya karena Mami terlalu belagu. Tidak peduli suka atau tidak, Syifra dan Andra akan menikah.


"Aku sudah tahu wajah Kanaya, secepatnya harus menemui dia memberikan peringatan keras jika Andra milikku." Harapan Syifra hanya Andra, dia sudah berjuang bersama dari masa sulit hingga besar seperti sekarang.


Bagi Syifra Andra segalanya, dia satu-satunya keluarga yang dimiliki, tidak rela untuk melepaskan lelaki yang sangat dicintainya.


Jika tanpa Andra mungkin dirinya sudah lama mati, melakukan bunuh diri karena tidak sanggup lagi menghadapi kehidupan.


"Kanaya, kamu hanya masa lalu, aku masa depan. Jangan berharap untuk memiliki Andra kembali, aku rela memberikan apapun, tapi tidak dengan Andra." Kepala Syifra menggeleng mempercepat laju mobil menuju apartemen.


Sampai di apartemen terlihat sepi, Syifra berjalan ke lantai atas tidak sabar lagi bertemu dengan Kanaya.


"Sudah aku katakan tinggal saja di rumah Mama, setidaknya satu minggu jangan bekerja," tegur Arvin karena Naya tidak pernah mendengarnya.


"Iya, sudah berbusa mulutku mengatakan kepada Naya tinggal di rumah Daddy masih tetap mau pulang." Agra juga kesal melihat Naya yang keras kepala.


"Mama sama Daddy juga satu rumah, kenapa kalian berdua yang ribut?" tawa Alis terdengar.


Andra juga keluar dari mobil baru tahu jika Naya juga tinggal di apartemen yang sama, jika dia tahu tidak mungkin menyewanya.


"Andra, Arvin, dan Naya tinggal di lingkungan yang sama, apa ada apartemen yang kosong, aku juga ingin tinggal di sini." Kepala Agra mendongak ke atas, menutup wajahnya menggunakan topi tidak ingin banyak yang mengenalinya.


"Lo juga tinggal di sini Vin?" tanya Andra baru ingat soal kamar di depannya yang selalu mengumpat nama Andra, ternyata dia Naya.


Tangan Naya melambai, meminta semuanya pulang, Naya ingin beristirahat sejenak setelah perjalanan yang melelahkan.


"Rumah kita di sini Nay," balas Arvin yang berjalan lebih dulu.


Dikarenakan muatan terlalu banyak, hanya Naya, Alis, Arvin dan Prilly yang naik, sedangkan Agra dan Andra menunggu giliran.


"Seharusnya Agra yang duluan, bagaimana jika ada yang melihatnya." Andra meminta Arvin juga keluar.


"Bidok amat, aku tidak peduli. Biarkan aku istirahat Andra!" tubuh Arvin didorong kuat oleh Naya agar segera keluar daripada membuat lama.


Lidah tiga wanita terjulur, melangkah naik lebih dulu untuk beristirahat. Wajah Arvin kesal melihatnya.


"Kasian Arvin, dia pasti lelah sekali karena belum sempat tidur setelah melakukan operasi." Alis merasa sedih.


Pintu lift terbuka, tiga wanita terdiam melihat seorang wanita menggedor kuat pintu apartemen Naya.


"Kanaya keluar, aku ingin bicara sama kamu, jangan coba menghindar!" teriakkan terdengar, Naya tidak enak karena di depan kamarnya sudah ada penghuni begitupun di sampingnya, hanya ada satu apartemen kosong.


"Siapa kamu?" tanya Naya berjalan maju.


Mata Alisha tidak berkedip, dia tahu jika Syifra kekasih kakaknya, wanita yang selalu ada di sisi Andra, tapi Alis tidak menyukainya karena sudah mengambil kakaknya.


Waktu Andra lebih banyak bersama Syifra meskipun mengatakan demi pekerjaan. Andra dua tiga tahun tidak menemui Alis, tapi bersama Syifra tiap hari.


"Kamu siapa, ada urusan apa, tidak enak dengan tetangga jika teriak-teriak?" Naya terseyum kecil ke arah Syifra.


"Ternyata kamu ada di sini?" Syifra berjalan ke arah Naya melewatinya begitu saja.


Tamparan kuat menghantam wajah Alisha, kedua tangan Alis menyentuh pipinya yang terasa panas.


Semua yang ada di sana terkejut, Alisha yang tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari orang asing sangat shock, matanya berkaca-kaca melihat Syifra.

__ADS_1


"Perempuan murahan, aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Andra. Aku yang berjuang delapan tahun bersamanya, tapi beraninya kamu mendekati Andra kembali." Tubuh Alis didorong kuat, tapi Prilly menangkapnya, tangan Syifra ditahan agar tidak menyerang Alis.


Lift sudah lama terbuka, Andra melihat adiknya ditampar, begitupun dengan Arvin dan Agra yang sangat terkejut.


"Lepaskan aku, siapapun yang mencoba menghalangi maka akan ikut bermasalah! Sekali lagi mendekati Andra, aku bunuh kamu," ancam Syifra yang tidak bisa kontrol ucapannya.


Andra melangkah menarik lengan Syifra kuat, membenturkan tubuhnya di pintu apartemen. Mata Andra menatap tajam penuh amarah.


"Andra, aku juga memiliki batas kesabaran, selama dua hari kamu bersamanya, tahu tidak kamu jika mami menghinaku." Tangisan Syifra terdengar kencang.


Pukulan di pintu kuat sampai sekitar gemetaran, tangan Andra berdarah karena sangat marah.


"Kenapa kamu menyakiti adikku?" suara Andra serak.


Suara Syifra tidak keluar, menutup kedua wajahnya ingin menampar Syifra, tapi Agra menahannya karena wanita bisa pingsan jika dipukul laki-laki.


Syifra menoleh ke arah Alis yang jatuh pingsan karena sangat terkejut mendapatkan tamparan kuat, lebih mengejutkan lagi ternyata dia salah orang.


"Alisha, buka apartemen aku sekarang." Arvin mengendong Alis menuju apartemennya.


"Delapan tahun kita bersama, perasaan aku kepada kamu langsung lenyap setelah adik satu-satunya disakiti, tidak ada maaf untuk kamu Syifra." Air mata Andra menetes mendorong Syifra sampai terduduk di lantai.


Andra berusaha membuka Apartemennya, tapi sandi salah. Andra bahkan lupa dengan sandi apartemennya setelah mengganti agar Syifra tidak masuk.


"Andra maafkan aku, sungguh tidak tahu jika dia adik kamu, maaf Dra. Aku melihat di foto bersama kamu dan dua sahabat kamu, kupikir dia Kanaya." Kedua tangan Syifra memeluk kaki Andra tidak ingin Andra marah lagi.


"Menyingkirlah sebelum celaka di tanganku, jangan pernah temuin aku lagi, tidak ada hubungan antara kita." Andra melepaskan cincin yang menjadi pengikat membuang cincin dari kaca apartemen.


"Jangan lakukan itu Andra, aku bisa mati tanpa kamu." Tangisan histeris terdengar meminta maaf.


"Kamu mau mati, lakukan saja. Sudah pernah Ku peringatkan jangan pernah menghina apalagi menyakiti adik dan Mamiku."


Kepala Syifra menggeleng, apa yang terjadi hanya kesalahan pahaman saja, dirinya tidak tahu jika wanita yang ditampar ternyata bukan Naya.


Kanaya masih berdiri diam, tidak bergerak sama sekali dari depan apartemennya melihat Andra dan tunangannya bertengkar.


Tangisan Alis terdengar, Andra begegas masuk sambil banting pintu. Syifra memaksa agar pintu dibuka.


"Andra buka, maaf. Dra, aku sangat mencintai kamu, bagaimana bisa hidup tanpa kamu." Tangisan terdengar memohon agar Andra memberikan kesempatan.


"Jangan mendekati Andra saat dia marah, maaf tidak akan mengubah pikirannya." Senyuman Naya terlihat.


"Andra mencintai aku," ucap Syifra mendekati Naya.


"Akulah Naya yang kamu cari, sebelum melabrak seseorang lihat dulu siapa dia, gadis semanis Alis kamu sakiti langsung dicoret dari daftar menantu." Tatapan Naya sinis karena dia melihat keputusasaan dari mata Syifra.


Tangan Syifra terangkat, tapi Naya cepat menangkapnya. Seorang wanita tidak sepatutnya ringan tangan apalagi kepada seseorang yang tidak dikenal.


Tawa Syifra terdengar, dia tidak akan pernah melepaskan Andra. Tidak peduli apapun resikonya pasti akan menyingkirkan Naya.


"Memiliki obsesi itu boleh, tapi jangan beresiko. Wanita yang baru saja kamu sakiti, gadis yang paling dijaga oleh tiga pria, dia orang yang mampu membuat tiga pria kumpul saat tahu Alis terluka." Naya mendorong Syifra agar segera pergi.


Tatapan Syifra ke arah kaki Naya, mencari kesempatan untuk menendangnya, tapi tamparan Naya mendarat lebih dulu membuat Syifra terkejut.


"Balasan untuk Alis," ujar Naya yang sedari awal menahan emosi.


"Aku akan melaporkan kamu kepada Andra."


Kepala Naya mengangguk, mempersilahkan. Tidak mudah membujuk Andra, dia bisa baik kepada siapapun, bisa juga jahat bahkan kepada ibu kandungnya.


Awalnya Naya memutuskan mundur karena Andra sudah menemukan wanita yang tepat, seseorang yang bukan hanya cantik paras, tapi hatinya. Tidak Naya sangka jika salah memilih.


Wanita yang dicintainya ingin menguasai sendirian, dia hanya ingin Andra selalu ada untuknya tanpa memperdulikan sekitar.


"Andra punya orang tua, keluarga, sahabat, dan pekerjaan yang menumpuk. Dia tidak bisa selalu ada untuk kamu, apalagi harus meninggalkan yang lainnya hanya demi seseorang yang bisa menjadi lawan." Kanaya benar-benar kecewa kepada Syifra yang menganggap dirinya saingan.


"Aku yang mendampingi Andra saat dia memulai semuanya, sudah sepantasnya Andra mengutamakan aku," ucap Syifra dengan suara tinggi memberikan peringatan keras kepada Naya yang hanya masa lalu Andra.


"Tanpa Lo, dia bisa sehebat sekarang, semua bukan tergantung siapa yang mendampingi, tapi niat, tekad dan waktu." Telinga Naya panas karena bicara dengan Syifra tidak memberikan solusi.


Dia memiliki pikiran sendiri, tidak menerima saran dari siapapun. Naya bisa merasakan ambisi Syifra yang sangat besar.


Pintu apartemen Arvin terbuka, Syifra terjatuh sambil menatap Naya. Air matanya menetes menuduh Naya menyakitinya.


"Dulu kamu meninggalkan Andra, tapi kenapa sekarang ingin mengambilnya."


"Berhentilah Drama, aku bukan anak kecil yang akan terpengaruh. Bangunlah, ini terlalu kekanakan." Nay tersenyum kecil ke arah Andra yang memperlihatkan mata tajam.


"Andra, dia ...."


"Cukup, pergilah dari sini." Andra berjalan ke apartemennya berusaha membuka pintu, tapi tetap gagal.


Syifra masih belum menyerah, mendekati Andra, tapi ditepis agar menjauh. Naya melangkah mendekat, membantu membuka sandi Apartemen Andra.


Pintu langsung terbuka, Naya tidak menyangka jika kode sandi sama dengan miliknya. Andra menoleh ke arah Naya begitupun dengan Syifra.


"Kalian berdua memiliki hubungan?" Syifra tidak mendapatkan jawaban dari Naya dan Andra yang asik saling pandang.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2