
Sudah hampir subuh, Andra masih asik bermain game tidak memperdulikan dua temannya yang sedang tidur.
"Dra tidur, Lo besok ngak pulang?" tanya Arvin yang terbangun.
Tidak ada respon, Andra masih asik sendiri. Sudah lama dia tidak bermain game karena sibuk bekerja, bahkan sudah banyak perubahan dalam permainan membuat Andra selalu kalah.
"Woy Andra, tidur." Pinggang Andra ditendang pelan membuanya menoleh.
"Kenapa, aku belum menang." Andra engan menoleh sedikitpun.
Helaan napas Arvin terdengar, duduk di pinggir ranjang melihat Andra mengumpat karena hampir kalah.
"Aku mencintai Alisha," ucap Arvin.
Tatapan Andra tajam ke arah layar, tapi tangannya tidak bergerak lagi karena mendengar jelas ucapan Arvin.
"Kenapa harus Alis, kamu boleh memilih wanita manapun, tapi jangan adikku," ujar Andra yang memulai permainan lagi.
Dia tahu jika Alis sudah dewasa, bahkan mandiri. Sudah waktunya Alis memiliki pasangan, apalagi ada kabar adiknya akan dijodohkan.
Masalahnya Andra takut jika hubungan itu berakhir, pasti akan sulit baginya untuk nyaman kepada adik juga sahabatnya.
"Aku tahu kamu tidak suka dengan hubungan seperti ini, dalam persahabatan tidak boleh ada cinta karena akan merusak hubungan persahabatan." Kepala Arvin mengangguk, dia sangat mengenali pola pikir Andra.
"Baguslah jika kamu mengerti."
"Tentu aku mengerti, tapi tidak dengan hatiku. Maaf Dra, aku nekad maju."
Kepala Andra menoleh menghentikan permainannya, tidak habis pikir dengan Arvin yang bisa mencintai wanita model Alis.
"Ditolak Naya, kamu beralih kepada Alis?"
"Tidak, sedari dulu kita nyaman, selama delapan tahun ini Alis teman yang baik dan paling mengerti. Dia alasan aku seperti sekarang, maka tidak ada alasan untuk melepaskannya." Senyuman Arvin terlihat, berharap Andra akan mendukung keputusannya.
"Sekali putus bukan hanya hubungan kamu dan Alis yang berakhir, tapi kita juga," tegur Andra memutuskan untuk tidur.
Arvin terdiam, senyuman sinis terlihat di bibirnya. Tidur di samping Andra yang memaksa matanya terpejam.
Tanpa Andra perjelas tentu Arvin tahu, tapi dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Hubungannya dan Alis akan bertahan sampai naik pelaminan.
"Dra, berikan aku restu, dan aku bantu kamu lepas dari Syifra. Mau tidak?"
"Bagaimana bisa, apa kamu mengenal Syifra?" Andra membuka matanya melihat wajah Arvin yang nampak serius.
Dia tidak akan menjawab sebelum Andra memberikan restu dan membantunya mendapatkan Alis terutama restu kedua orang tua Alis.
Semua orang tahu siapa Arvin dan siapa daddynya, pasti Papi Andra menilai buruk dirinya.
__ADS_1
Bisnis masa lalu kakeknya tidak akan pernah bisa dihapus, sebaik apapun Arvin dan Daddy memperbaiki keadaan akan tetap menakutkan di mata sebagian orang.
"Bantu aku dulu, baru kita bicara soal Alis," pinta Andra yang tidak bisa mengadaikan Adiknya.
"Tidak mau, setuju dulu. Aku pastikan tidak akan merugikan kamu." Senyuman Arvin terlihat, memejamkan matanya memberikan Andra waktu untuk berpikir.
Lirikan mata Andra tajam, memukul dada Arvin agar bicara serius. Agra yang tidur di ranjang sebelah menoleh ke arah keduanya.
"Aku tidak ingin menjual adikku, cepat katakan."
"Setuju dulu, aku membutuhkan restu karena aku tahu Andra tidak akan lepas janji jika sudah mengucapkannya." Senyuman Arvin terlihat karena Andra terlihat sangat kesal.
"Kesepakatan apa yang kalian buat?" tanya Agra yang membalik badannya menghadap dua pemuda.
"Ini Arvin sialan, dia menyukai Alis. Niat buruk apa yang ada di hatinya."
"Vin, sebelum mendapatkan restu Andra taklukan dulu Alis, bukannya dia tidak menunjukkan respon apapun?" Agra menyadarkan Arvin jika dia belum bisa meluluhkan hati Alis.
Kehidupan Alis dikelilingi pria tampan, mapan, dan dia bisa memilih sesuai tipenya. Arvin hanya sebagian kecil dari kenalan Alis.
"Bisnis Alis tersebar di beberapa negara, dia sering bertemu dengan banyak pengusaha. Lalu apa alasannya Alis harus memilih Arvin?"
"Mampus, tidak ada alasan." Tawa Andra terdengar memukul paha Arvin agar sadar.
"Mungkin juga Alis masuk daftar gadis kaya yang dijodohkan keluarganya? Tanya Andra benar tidak?"
"Kalian berdua ini sahabatku atau bukan, seharusnya menyemangati, bukan menjatuhkan mental." Selimut ditarik menutupi kepala, Arvin kesal sekali namun ucapan Agra tidak salah.
Seharusnya Arvin memastikan perasaan Alis, bukan memutuskan sendiri jika keduanya saling mencintai.
"Aku butuh kejelasan." Arvin bangkit dari ranjang.
"Mau ke mana Vin?" Andra dan Agra menatap Arvin yang memakai jaket.
"Bertemu Alis, aku ingin tahu perasaannya." Tanpa bisa dihentikan, Arvin langsung keluar kamar.
"Dokter bodoh, tidak mengerti dengan waktu." Andra mengikuti keluar, mengintip di balik pintu.
Beberapa kali Arvin mengetuk pintu kamar depan, meminta Alis bangun. Suara bel terdengar berkali-kali.
"Lis buka," pintanya.
"Apa Arvin sudah gila?" Agra menepuk pundak Andra yang menahan tawa.
Pintu terbuka, Kanaya memicingkan matanya. Apa yang Arvin lakukan di waktu subuh, menganggu jam istirahat.
"Ada apa Vin?"
__ADS_1
"Mana Alis, bangunkan dia. Aku ingin bicara penting," pinta Arvin memaksa.
"Apa tidak bisa besok, kenapa harus sekarang, kamu tahu ini jam berapa?" tanya Naya mulai kesal.
Kepala Arvin menggeleng, dia tidak bisa tenang jika harus menunggu besok. Arvin harus memastikan agar dia tahu di mana perjuangannya harus dimulai.
Kepala Prilly dan Erin nongol, mata keduanya masih sayu binggung melihat Arvin yang terburu-buru.
"Bangunkan Alis," pintanya.
"Ada apa, kenapa?" Erin berjalan masuk membangunkan Alis yang tidur seperti orang mati.
Cukup lama Arvin menunggu barulah Alis keluar, matanya masih terpejam berdiri di samping Naya yang sudah memasang wajah emosi.
Rambut Alis berantakan, membuka sebelah matanya bisa melihat jelas Arvin ada dihadapannya.
"Lis, bagaimana perasaan kamu?"
"Mengantuk," jawabnya.
"Perasaan kepadaku, apa arti ciuman kita hari itu?"
Andra yang mendengarnya langsung ingin keluar, tapi Agra menahan agar Andra tidak ikut campur.
Membiarkan keduanya menyelesaikan masalah, kemarahan Andra ditunda terlebih dahulu.
Alis menggaruk kepalanya, mengucek mata. Dia binggung dengan sikap Arvin yang memberikan pertanyaan aneh.
"Apa kamu mencintaiku?"
"Cinta ... Aku tidak tertarik jatuh cinta, memangnya kenapa jika kita berciuman, apa artinya itu pasangan?" Alis menggelengkan kepalanya meminta Arvin tidak salah paham.
Tawa Andra terdengar, menarik tangan Arvin masuk ke dalam kamar kembali daripada dia menangis di depan para wanita.
"Ya tuhan Arvin, Lo ditolak." Tawa Andra terdengar kencang, mengejek sahabatnya yang shock berat.
"Apa kurangnya aku? kenapa Alis bicara seperti itu."
"Makanya tunggu besok saja, orang enak mimpi ditanya hal begitu." Agra mengusap punggung Arvin, memintanya segera tidur.
"Kenapa aku selalu sial di dalam percintaan, apa dia tidak merasakan arti ciuman itu?" teriakkan Arvin terdengar menghancurkan ranjang sampai bantal selimut berhamburan.
Agra dan Andra hanya tertawa, turut prihatin dengan kegagalan Arvin. Dia sukses di karir, tapi tidak dengan percintaan.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1