KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
SIAP MENIKAH


__ADS_3

Tidak mendapatkan kabar soal Agra membuat perusahaan sibuk takut jika ada yan menemuinya sedan berada di suatu tempat sehingga berencana buruk kepadanya.


"Bagaimana bisa kalian tidak tahu dia pergi ke mana, sudah sering diingatkan untuk selalu dikawal." Kepala Prilly pusing karena sejak kemarin Agra tidak bisa dihubungi.


Tim IT sudah berusaha mencari, berharap ada rekaman dari pengemar soal keberadaan Agra, tapi belum ada yang mempostingnya.


"Sejak kamu berhenti dia mulai berubah Pril, juga susah mengobrol baik-baik. Agra bukan musisi baru, dia sudah cukup familier dengan dunia maya, tapi kali ini kita ditambah kesibukan," jelas manager yang meminta Prilly tidak meninggalkan mereka, apalagi hanya dia yang paling memahami Agra.


"Sudahlah, kita coba cari dulu keberadaan dia, ini bukan perkara kecil karena Agra itu bintang besar." Prilly menghubungi nomor Agra, tapi tidak aktif masih sama seperti sebelumnya.


Perasaannya tidak enak memikirkan keberadaan Agra, apartemen Agra juga kosong, tidak ada siapapun yang bisa dihubungi karena Agra membawa kendaraan sendiri.


"Di mana kamu Gra, katanya ingin bertemu, tapi sampai saat ini belum muncul." Kepala Prilly pusing, menghubungi Arvin juga tidak bisa kemungkinan sedang ada di rumah sakit.


Panggilan dari Alis masuk, menanyakan keberadaan Arvin karena dia ingin mengantarkan mobil, tapi pihak rumah sakit mengatakan Arvin sudah pulang.


"Arvin tidak ada di rumah sakit?" Prilly begegas pergi dari apartemen Agra yang sempat di kunjungi.


Alis menghubungi ponsel Kakaknya, tapi tidak ada jawaban, ternyata bukan hanya Agra Arvin yang tidak diketahui keberadaannya, tapi Andra juga.


"Mi, Kak Andra ada pulang tidak?"


"Belum, ini ada perempuan sejak kemarin di rumah ini mengatakan sebagai tunangan Andra, tapi anak itu tidak bisa dihubungi." Mami merasa kesal, tapi dia akur dengan Nenek.


Kedua alis terangkat, mematikan panggilan mencoba menghubungi Kanaya, kemungkinan dia bisa tahu keberadaan tiga sekawan.


Hasil yang sama, Naya juga tidak bisa dihubungi nomornya tidak aktif. Ternyata Naya juga menghilang.


"Apa yang sebenarnya terjadi, ke mana mereka berempat?" Alis memberikan susu kepada kucingnya agar cepat tidur.


Ketukan pintu terdengar, Prilly baru tahu jika Arvin pindah ke apartemen yang bersebelahan dengan Naya.


"Kenapa kamu di sini Lis?"


"Itu, cek keadaan mereka. Meskipun nanti Kak Arvin marah." Senyuman Alis terlihat, tidak merasa berdosa sama sekali.


"Kita harus mencari di mana, aku takut Agra diketahui banyak orang keberadaannya," ujar Prilly.


"Lebih baik Kak, setidaknya kita tahu dia baik-baik saja." Alis menatap langit malam.


Panggilan balik masuk, mata Alis terbelalak karena Arvin menghubunginya. Langsung cepat dijawab.


"Kakak di mana?"


"Sekarang baru tiba di rumah sakit, hanphone tidak ada daya. Ada apa?"


"Di mana Kak Naya, Agra dan Andra?"


"Kita semua ada di rumah sakit soalnya Naya dirawat."


Tubuh Alis lemas, Prilly yang lanjut bicara, begegas ingin ke rumah sakit karena tidak biasanya Naya di rawat.


Dua wanita bergegas pergi, tidak peduli harus menempuh jalan dua jam, setidaknya tahu keadaan.


"Kak Naya kecelakaan lagi atau bagaimana?" Alis tidak bisa mendengar jelas ucapan Arvin.


"Semoga saja baik-baik saja Pril, jangan sampai ada yang mengenali Agra jika tidak malam ini pemberitaan heboh mengguncang beberapa negara." Kedua tangan Prilly terlipat memohon agar pikiran buruknya tidak terjadi.


"Kita baik-baik saja Lis, panggilan itu dimatikan dulu," tegur Arvin menatap layar ponselnya yang mati total.


Bengkak di kaki Naya mereda, Arvin merasa lega ternyata tidak terlalu parah. Naya juga bisa beristirahat dengan tenang.


Agra dan Andra sudah tidur di sofa, begitupun dengan Arvin yang merentangkan jaketnya untuk tidur di lantai karena tidak ada ruang untuknya.


"Dokter Arvin gunakan ruangan saja saja, jangan di lantai." Seorang wanita membantu Arvin untuk pindah.


Kepala Arvin menggeleng, dia sudah biasa tidur di lantai. Selama pendidikan menjadi dokter dia tidak ragu bahkan tidur di samping mayat.


Empat orang tidur dengan pulas, menghilangkan rasa lelah yang luar biasa menyakiti badan.


"Sekarang aku di mana?" Naya terbangun melihat tiga pria tidur.


Perasaan Naya sedih, dia tidak pernah mau menyusahkan siapapun. Apalagi orang yang berada di sisinya orang-orang baik.


"Kenapa tidak tidur?" tanya Arvin yang terbangun.


"Naik ke atas saja Vin, dibawah dingin," pinta Naya menggeser posisi tidurnya.


Tanpa menolak Arvin langsung naik, tiduran di samping Naya yang menatap Andra sayu juga rasa bersalah.


"Soal cerita di tebing, apa itu benar?"


"Aku belum sempat bertanya apapun, dia engga melihat sehingga memilih pergi."


"Semangat Naya, tiap orang memiliki kesulitan masing-masing tidak terkecuali kita. Masalah itu jalan untuk mendewasakan diri." Mata Arvin terpejam meminta Naya segera tidur besok pagi baru pulang.


Helaan napas Naya terdengar, dia memiliki banyak pertanyaan soal dirinya, tapi saat ini tidak ada tempatnya bertanya.


"Seandainya aku ingin menikah, pasti dari keluarga lelaki bertanya siapa aku, lalu jawab apa? "


Mata Arvin terbuka kembali, melihat Naya berkeluh kesah takut dengan pertanyaan soal dirinya dan asal usulnya.


"Sudah jangan dipedulikan, fokus saja kepada diri sendiri daripada sibuk memikirkan apa yang orang pikirkan. Jika mau lanjut, jika tidak akhiri. Kamu gadis mandiri Naya, selama ini cukup tangguh dalam bertahan, ingat kita ini bukan hanya sahabat, tapi keluarga." Kepala Arvin menoleh.


Kepala Naya mengangguk, tidak akan pernah datang berkunjung lagi ke bukit, apalagi dia hampir membunuh nyawa Andra. Jika terjadi sesuatu kepada Andra pastinya Naya menggila.


Suara teriak-teriak memanggil terdengar, Arvin turun dari atas ranjang. Arga yang tidur menggorok langsung bangun tanya Andra yang bisa tidur meksipun terjadi perang.


"Alis, apa yang kamu lakukan teriak-teriak?" Arvin membuka pintu meminta Alis diam karena berada di rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa penjaga berlari mengejar, Alis dan Prilly masuk ke dalam ruangan kamar melihat sekitar.


"Kakak baik-baik saja?" kedua tangan Alis memeluk erat.


Kepala Arvin mengangguk pelan, meminta Alis tidak berteriak, kasihan pasien yang sedang beristirahat.


"Kenapa kamu di sini, bagaimana jika ada yang mengenali? Seluruh staf dibuat repot, perkejaan mereka sudah banyak, jangan ditambah lagi." Mata Prilly terbelalak melihat Agra memeluk lembut penuh kasih sayang.


Meminta maaf karena sudah mencemaskan kondisinya, Agra bisa menjaga dirinya karena pergi bersama dua pria yang juga akan melindunginya.


"Kenapa mengemudi malam?" Agra mengusap wajah Prilly.


Kanaya menganga melihat di depannya, dirinya yang sedang sakit, tapi tidak dihiraukan.


"Woy, aku yang cendera bukan mereka berdua," tegur Naya kesal.


Senyuman Prilly terlihat, berjalan menghampiri Naya yang masih dirawat menggunakan infus, sedangkan Andra terlelap tidur.


"Bagaimana kondisi Kak Nay?" Alis kaget melihat kaki Naya yang sudah menggunakan gips.


Selimut Naya disingkap, Prilly merasa kasihan kepada Naya yang mengalami luka di kakinya. Pasti sakit sekali.


"Kenapa bisa begini Nay?"


"Salah aku sendiri, Andra mengikuti mobil yang aku kemudi, niatnya hanya bercanda sampai banting setir Agata Andra berhenti mengikutinya.


Bodohnya Andra juga banting setir, mobilnya tergelincir jatuh ke ke bawah tebing. Nay tidak pikir panjang ikutan turun, mobil tertahan di pohon begitupun dengan rem yang membantu.


"Andra berhasil keluar, mobil jatuh, begitupun dengan kita berdua merosot jatuh jatuh ke bawah, naik tidak mungkin maka turun pilihan." Naya menatap kakinya yang memang sakit sebelum pergi ke luar kota, di tambah lagi kecelakaan maka kakinya langsung mengalami pembengkakan.


"Bagiamana kondisi Kak Andra?" tanya Alis mendekati Kakaknya.


Arvin menjelaskan jika Andra dalam keadaan baik, dia sudah mengeceknya hanya luka lecet biasa.


Hembusan napas Alis lega, dia masih takut dengan kejadian Naya beberapa tahun lalu, hal yang sangat mengerikan karena Naya beberapa bulan dirawat.


"Sudah jangan terlalu cemas, kita istirahat saja besok baru pulang ke rumah."


Kepala Agra jatuh di paha Prilly tubuhnya sakit semua karena melakukan perjalanan berjam-jam tanpa makan minum.


Tatapan mata keduanya bertemu, Prilly mengerutkan keningnya tidak mengerti tatapan artisnya.


"Jangan terima pernikahan itu, meksipun cinta bisa datang tetap saja Agra tidak rela jika Prilly memutuskan menikah.


"Sudah waktunya aku berhenti, ada tidaknya aku bukan masalah besar," ujar Prilly yang tidak bisa kembali.


Ada banyak staf yang bekerja, penjagaan Agra juga selalu ketat, dia akan baik-baik saja seperti biasanya.


Tujuan Agra memainkan musik untuk mengutarakan rasa, pikiran juga mengapresiasi banyak orang melalui karyanya. Apa yang di nyanyikan sebuah ungkapan hati mewakili perasaan jutaan penggemar.


"Perjuangan kamu tidak mudah Gra, jangan pernah merasa lelah. Kamu sendiri yang mengatakan jika ingin menjadi penyanyi mendunia."


Apapun masalah tidak membuat Agra takut, dia percaya selama Prilly mendampingi bisa mengatasi.


"Aku hanya bekerja sesuai batasan," ucap Prilly.


"Bukan soal pekerjaan, aku ingin menbuat kamu bangga dan selalu tersenyum tiap kali kita selesai bekerja. Tidak sedikitpun menganggap sebagai karyawan, apalagi bodyguard dan penjaga. Kamu tidak bahagia selama ini?" tanya Agra dengan nada pelan.


Andra yang sedang tidur terbangun, menoleh ke arah tiga orang yang melongok menyaksikan. Agra tidak menggunakan akal sehat, bisa-bisanya dia bicara hal serius di depan banyak orang.


"Tentu aku bahagia, tapi aku harus berhenti."


"Kenapa, apa kamu mencintai lelaki bernama Andrean itu?" wajah Agra sedih, bangkit dari duduknya menatap wajah wanita di hadapannya.


Tidak ada jawaban, Prilly hanya terdiam saat Agra membicarakan soal perasaan kepada Andrean yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan dengan perasaan kepada Agra.


"Jawab aku, apa kamu mencintai dia?"


"Ya, aku ingin menikahinya."


Mulut Andra melongok, apalagi Naya, Alis dan Arvin yang menutup mulut. Cinta Agra ditolak di rumah sakit, dan dia harus segera dirawat.


"Bagaimana denganku?" tanyanya berusaha tetap tenang.


"Gra, kamu bisa menemukan pasangan hidup yang menemani kamu juga seseorang yang berada di kehidupan yang sama." Prilly mendukung Agra berpasangan dengan selebriti yang selalu di pasangkan dengan Agra.


"Aku tidak mencintai, kita hanya rekan kerja tidak bisa menjadi pasangan."


Senyuman Prilly terlihat, dia mendukung apapun yang Agra lakukan, tapi Prilly tidak bisa kembali. Dia sudah mengambil keputusan untuk menikah.


Apa yang dilakukan selama ini sudah lebih dari cukup, dan pernikahan akan menjadi tujuan selanjutnya. Prilly ingin menjalani kehidupan untuk dirinya sendiri, bukan untuk menjaga seseorang.


Tangan Agra melepaskan, sesuai peringatan dari Daddy untuk tidak memaksa, dirinya harus terima keputusan Prilly untuk bersama orang lain.


"Aku mencintai kamu Pril, selama ini ingin mengatakan, tapi takut kehilangan kamu. Jika dengan memendam rasa mampu membuat kita bersama, maka aku memilih cara itu, ternyata jalan itu juga salah." Genggaman tangan Agra kuat, hatinya sangat terluka saat Prilly tetap memilih Andrean.


Suara ponsel Prilly berdering, nama Andrean tertera. Pril mengambilnya langsung keluar kamar untuk menjawab panggilan.


Air mata Agra menetes, melihat ke arah Naya yang juga memanyunkan bibirnya ingin menangis. Air mata ditepis, Agra berusaha untuk tersenyum memastikan dirinya baik-baik saja.


"Maaf sudah menganggu istirahat kalian," ujar Agra yang tiduran di sofa memejamkan matanya kembali.


"Gra, berjuang dulu jangan menyerah, masih ada kesempatan." Andra mengusap punggung karena Agra menahan tangis.


Gigi Alis nyengir menatap Arvin yang juga menatapnya, bersyukur Arvin tidak merasakan patah yang begitu meyakinkan.


"Jika aku jadi kamu Gra, langsung saja katakan jangan menikah dengan Andrean, tapi tetaplah bersamaku untuk membina rumah tangga, jika Prilly tidak enak dengan penggemar kamu harus menjawab jika memang para penggemar mencintainya, maka harus mencintai pasangannya. Selebriti juga manusia membutuhkan pendamping." Jempol Andra dan Arvin terangkat, ucapan Arvin benar adanya.


"Dia mencintai Andrean, bagaimana bisa dipaksa?"

__ADS_1


"Cinta dia ke kamu lebih besar, delapan tahun Gra, jika punya cicilan mobil pasti lunas." Tawa Andra terdengar memukul punggung sahabatnya.


Kedua tangan Agra mengusap wajahnya, duduk menatap Naya yang masih di atas ranjang. Agra mendekati Naya yang binggung.


"Naya, bantuin."


"Apa, aku bisa apa?"


"Alis bantu," pinta Agra.


Kepala Alis mengangguk, dia akan membantu apapun yang dibutuhkan Agra, selama bisa meringankan pasti dilakukan.


Suara Arvin berdehem terdengar, menggelengkan kepalanya ke arah Alis. Andra yang duduk di samping Arvin ikutan menggeleng tidak mengerti apa maksud gelengan kepala yang nampak serius.


"Ada apa Vin?"


"Apanya?" senyuman Arvin terlihat ke arah Andra yang mengerutkan keningnya.


Tangan Andra menujuk, tidak mengizinkan menggoda adiknya. Arvin terkenal sebagai dokter yang populer selain ahli medis dia juga jual tampang.


Jika sampai menggoda Adiknya maka berurusan dengan Andra, tidak peduli sahabat karena Alis harta di keluarga.


"Jika aku menyukai Alis memangnya tidak boleh?" tanya Arvin.


"Lancang, aku patahkan hidung mancung Lo. Tidak boleh, dan tidak akan ku diizinkan."


"Apa hak kamu Dra, namanya saling mencintai masa tidak boleh?" Pukulan Andra kuat ke arah punggung Arvin sampai tersungkur ke lantai meringis kesakitan..


Teriakkan Alis terdengar, memarahi Andra yang menyakiti Arvin, memukul dada kakaknya yang sangat keras lebih membela Arvin.


"Dia tidak akan mati hanya dipukul begitu, lebai," sindir Andra dengan tatapan sinisnya.


"Meksipun begitu sakit, coba Kak Andra dipukul begitu," teriakkan Alisha kencang di tengah malam.


Tidak berselang lama pintu terbuka, Naya mengenggam tangan Agra meringis kesakitan. Arvin ingin berdiri mengecek, tapi Alis menahan tangannya.


"Kenapa Nay?"


"Sakit, tolong ditiup," pinta Naya bersuara manja.


Andra ingin muntah mendengarnya karena sangat kekanakan sekali, Prilly yang berpikir dewasa tidak mungkin terjebak.


Dugaan Andra salah, Prilly terdiam menjadi patung melihat Agra yang begitu peduli kepada Naya.


"Kenapa kamu yang mengurus Naya, dokternya Arvin." Prilly meminta Arvin melakukan sesuatu agar Naya tidak kesakitan.


"Mau bagaimana lagi itu efek obat, perlahan akan reda."


"Sabar Nay," ucap Arvin lembut sekali mengusap rambut Naya.


Kepala Naya mengangguk masih menggenggam tangan, tidak ingin Agra menjauh.


Senyuman manis terlihat, duduk di samping Naya terus menghibur agar tidak terlalu merasakan sakit.


"Gra, apa benar kamu ada hubungan dengan Claude itu?"


"Claudia, kita hanya sebatas rekan kerja untuk satu brand. Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan sesama entertainment, menikahi orang biasa jauh lebih menyenangkan karena memiliki privasi, tidak selalu menjadi sorotan," jelas Agra yang mengatakan sebenarnya tidak terpikirkan jika dia akan menjalin hubungan dengan sesama selebriti.


"Bagaimana dengan penggemar, apa ada kemungkinan?"


"Naya lebih baik kamu tidur, jangan menanyakan hal pribadi kepada Agra." Genggaman tangan dilepaskan, Agra mundur beberapa langkah karena Prilly mengambil posisinya.


Keluhan Naya terdengar, dia tidak bisa tidur karena kakinya sakit. Meminta Agra menyanyikan lagu untuknya.


Prilly tidak mengizinkan karena akan menganggu pasien lain, suara Agra memiliki ciri khas yang bisa dikenali penggemarnya, jika tahu Agra di rumah sakit akan menjadi berita besar.


"Jika begitu temani Naya jalan," pintanya kepada Agra.


"Tidak bisa Naya nanti ada yang melihat bagaimana?"


"Kenapa semuanya tidak boleh, itu tidak ini tidak semuanya tidak, lalu bolehnya apa?"


Kepala Prilly menggeleng, Agra tidak boleh di depan umum bersama orang lain, pasti akan banyak hater atau penggemar yang terobsesi menyakiti.


"Hanya Kak Prilly yang bisa muncul di depan umum bersama Kak Agra?" tanya Alis yang melihat pemberitaan jika penggemar Agra sudah terbiasa dengan keberadaan Prilly.


Alis menujukkan pemberitaan jika banyak yang mencari keberadaannya karena beberapa kali Agra menghadiri acara tanpa ditemani oleh Nona cantik.


"Bagaimana jika fans tahu Kak Prilly menikah, mereka senang atau sedih?"


"Coba saja Lis buat kehebohan Prilly akan menikah, kamu punya fotonya Prilly bersama Andrean." Naya ingin tahu respon penggemar jika Prilly dan Agra berpisah.


Ponsel Prilly diambil oleh Prilly, tidak mengizinkan meng-upload apapun demi privasi Andrean.


"Aku akan pergi ke luar negeri bulan depan bersama Claudia, beritanya mungkin akan panas kembali, staf tidak bisa pergi semua, pengawal juga hanya dua yang ikut ...."


"Cancel saja, buat apa membantu Claudia mempromosikan lagunya, jadwal sudah padat tidak seharusnya mengambil pekerjaan yang melelahkan." Prilly akan bicara dengan perusahaan agar Agra tidak pergi.


Kepala Andra geleng-geleng, meminta Prilly menetapkan pilihannya menikahi Andrean atau berpacaran dengan Arvin sambil bekerja.


Tidak perlu rumit banyak aturan karena Agra dan Prilly bukan anak kecil lagi sehingga tahu apa yang terbaik.


"Jika kamu menikah dengan Andrean maka kehidupan baru di mulai, tapi jika memilih Agra yang tidak jelas menikahi kamu atau tidak, berpacaran yang belum tentu sampai pelaminan siap saja dengan resikonya. Mustahil juga balik lagi kepada Andrean, pilih yang pasti saja." Andra memberikan solusi untuk Prilly.


"Kita akan menikah, aku pastikan itu." Agra melempar Andra menggunakan botol minum.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2