
Di ruangan kesehatan, Andra dan Agra melihat perawat mengobati Naya. Nay sebenarnya tidak pingsan hanya saja menahan malu.
"Ada apa lagi?" Arvin baru tiba bersama dengan Alis.
Naya melangkah keluar, memegang keningnya yang membengkak berwarna merah ulah Andra yang tidak mempunyai otak.
"Ya Tuhan, itu kening atau rebusan kepiting?" Alis langsung tertawa melihat kening Naya yang merah membiru.
"Kalian berdua hebat sekali, dalam beberapa jam bisa jatuh berpelukan, lari-larian, dan sekarang tendangan maut." Kepala Agra geleng-geleng meminta semuanya pulang.
"Dra, minta maaf sekarang," ucap Nay.
Andra menunjukkan luka di kedua sikunya yang jauh lebih parah dari Naya, seharusnya yang meminta maaf Nay karena dia yang menabrak terlebih dahulu.
"Aku sudah meminta maaf dari awal,"
"Siapa peduli, tidak ada kata maaf dalam kamus aku." Tanpa mendengarkan ucapan Naya, Andra langsung meninggalkan ruangan mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
Sepanjang jalan keluar kampus Naya menundukkan kepalanya, Alis yang merangkulnya untuk keluar.
Siapapun yang mengejek Naya akan berurusan dengan Alis, dia tidak takut dengan siapapun karena tiga pria di depannya akan melindunginya.
Dari kejauhan Erin menatap tajam, mengepalkan tangannya karena sudah mengetahui jika Arvin membatalkan pertunangan dan memiliki angkat kaki dari rumahnya.
Selama ini Arvin dan Erin tidak pernah terlibat masalah, semenjak ada Naya hubungan keduanya renggang dan berpisah.
Rasa benci Erin sangat besar kepada Naya, dan memastikan suatu hari Naya akan hancur ditangannya.
"Masuk mobil Kak Nay,"
"Mobil siapa ini Lis?"
"Mobilnya Kak Andra," jawab Alis.
Wajah Naya kesal, kepalanya semakin terduduk berharap cepat sampai rumah. Rasa malu Naya sudah sampai ke ubun-ubun kepalanya.
Tanpa peduli apapun, Andra masih mentertawakan Naya yang terkena batunya karena melawan dirinya. Sejak awal bertemu, Andra selalu kalah dari Nay, tapi kini dia unggul.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Memangnya tidak boleh?" Mata Andra tajam, meminta Nay diam.
Pukulan Alis mendarat, meminta Kakaknya berhenti tertawa. Naya sedang kesakitan ulah Andra yang keterlaluan.
__ADS_1
Pertengkaran dua bersaudara terdengar, Andra tidak terima disalahkan karena Naya yang mulai duluan.
Seharusnya Nay bisa menghadiri bola, salah dia sendiri yang melamun memikirkan banyak hutang.
Sebuah pesan masuk di ponsel Naya, teriakannya sangat kuat. Tangan Naya menutupi mulut Andra yang masih mengoceh.
"Diam Andra! aku sedang bahagia. Kamu jangan merusak kebahagiaan aku, jika tidak jangan harap kamu bisa bernapas." Nay kesenangan karena akhirnya bisa ikut wawancara langsung.
Dari sekian banyak peserta, dirinya salah satu yang berhasil untuk bekerja di perusahaan besar.
"Ada kabar baik apa Kak Naya?"
"Aku ikut wawancara langsung." Nay memeluk Alis yang juga langsung memeluk erat karena akhirnya Naya bisa bekerja sesuai harapannya.
"Memangnya kapan wawancara?" Alis melihat ke arah kening Naya.
"Besok,"
Sambil menyetir Andra tersenyum, jika bukan karena dirinya maka tidak ada kesempatan bagi Naya untuk bekerja di perusahaan besar.
"Ini semua gara-gara kamu Andra sampai kening aku memar, bagaimana jika besok bengkak?" Nay menjambak-jambak rambut Andra yang menghentikan mobilnya untuk membalas.
"Kak, sekali-kali mengalah. Kak Andra juga keterlaluan membuat Kak Naya seperti ini." Alis berteriak marah.
Sampai di apartemen, Naya langsung berlari diikuti oleh Alis. Betapa kagetnya Alis karena ada Prilly juga di apartemen.
"Kenapa kamu ada di sini?" tangan Alis menunjuk wajah Prilly.
Tidak ada jawaban dari Prilly, hanya diam melihat satu-persatu orang masuk. Ekspresi Alis langsung kesal, mengikuti Prilly yang sudah masuk lebih dulu.
Suara Naya mengomel terdengar, memar di kepalanya semakin terlihat jelas. Sedangkan besok menjadi hari yang penting bagi Nay, menjadi penentuan lolos tidaknya dirinya.
"Kak Naya, kenapa wanita itu ada di sini?"
"Tanyakan kepada Arvin, dia yang membawanya." Nay menempelkan air hangat.
Suara Alis mengomel terdengar, memarahi Arvin yang membawa wanita lain yang tidak ada gunanya ke rumah sepasang kekasih.
Kepala Prilly geleng-geleng sudah kebal dengan cacian Alis, dia anak yang terlalu manja sehingga selalu menghina orang lain.
Langkah Prilly mendekati Naya, melihat kondisi keningnya yang memar merah. Selama apapun Naya mencoba menghilangkan memar tidak mungkin hilang setidaknya tiga hari.
"Bagaimana ini? besok ada wawancara." Nay menghela napasnya kesal.
__ADS_1
"Kamu bisa menggunakan poni,"
Nay menunjukan rambutnya yang kemungkinan bisa menutupi, Naya harus ke salon agar bisa memotong rambutnya hingga membuat poni.
Senyuman Prilly terlihat, meminta Naya tidak khawatir. Prilly bisa merapikan poninya, jika di salon masih bisa melakukan kesalahan.
"Kamu yakin Prilly? jangan sampai nanti poninya di atas kening." Nay mempraktekan tempat yang pas.
"Tenang saja, aku pastikan ini bagus." Pril mengambil gunting meminta Naya duduk.
Perasaan Naya masih ragu, dia tidak terlalu yakin kepada Prilly. Tetapi melihat keyakinan akhirnya Naya setuju.
Agra berjalan mendekati Naya dan Prilly yang sedang merapikan rambut. Arvin juga mendekati meminta Prilly berhati-hati jika saja rambut Naya bisa berubah menjadi rambut laki-laki.
Tubuh Naya terduduk kaget, meminta Prilly berhati-hati karena rambut merupakan mahkotanya wanita.
"Prilly kamu yakin tidak?"
"Iya Naya, tenang saja jangan dengarkan ucapan Arvin yang sedari kecil selalu aku yang merapikan rambutnya." Senyuman Prilly semakin lebar memegang sisir dan gunting.
Sedikit demi sedikit rambut Naya mulai digunting, siapa saja yang melihatnya menatap tegang. khawatir jika sampai potongan poni terlalu pendek.
Kedua mata Naya terpejam, setelah Prilly mengatakan selesai barulah dia berani membuka matanya.
Senyuman Naya terlihat, menyentuh keningnya yang sudah tertutup oleh poni. Prilly memang serbaguna, dia bisa melakukan banyak hal.
"Bagaimana bagus tidak?" Kaca Prilly serahkan agar Naya melihat langsung.
"Bagus Pril, kamu memang ahlinya." Kedua jempol Agra terangkat, menatap Prilly yang tersenyum tertunduk.
Dari jauh Arvin juga tersenyum kecil, menatap wajah Naya yang terlihat cantik dengan rambut barunya. Apalagi Prilly merapikan rambut panjangnya sehingga terlihat rapi.
Meksipun tidak ada pujian yang keluar dari mulutnya, Arvin mengagumi kecantikan Naya yang terlihat alami.
"Astaga naga kenapa rambut kamu seperti batok kelapa. Jelek sekali Naya, lebih mirip Dora." Kepala Andra menggeleng secara langsung menjatuhkan semangat Naya.
"Kira-kira Dra, Dora rambutnya pendek, bukan panjang?" suara Agra membela masih terdengar heran dengan sikap jahil temannya.
Andra langsung tertawa, menepuk keningnya karena merasa kaget dengan rambut baru Naya yang mirip anak kecil, tawanya sangat lepas dan puas melihat Naya yang sangat konyol.
"Andra! aku benci sama kamu." Naya teriak kuat mencaci-maki Andra yang memutuskan pulang lebih dahulu.
***
__ADS_1