KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PANIK


__ADS_3

Pulang dari kampus Naya langsung ke rumah karena ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Kondisi Apartemen sepi karena Prilly dan Arvin belum pulang.


"Di mana bukunya?" Naya mencari buku untuk membuat coretan, tapi tidak menemukannya.


Di kamar Arvin terlihat ada banyak tumpukan kertas, Naya mencari kertas bekas, tapi apa yang ditemukannya cukup mengejutkan.


"Apa ini, daftar bisnis apa?" Naya mengecek semua tumpukan kertas membaca isinya.


Perasaan Naya langsung khawatir, menghubungi Prilly, tapi tidak menjawab karena Naya tidak ingin Arvin dalam bahaya.


Nay mencoba menghubungi Alis, berharap dia ada di restoran yang bukanya sampai malam.


"Kenapa Kak Nay?"


"Lis kamu ada di restoran tidak?"


"Baru sampai, ada apa?"


Mendengar ucapan Naya, Alis langsung lari ke dapur mencari keberadaan Prilly, menarik tangannya agar segera pergi.


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu, Naya bilang Kak Arvin melaporkan bisnis Daddynya atau Kakeknya, begitulah intinya."


"Di mana Arvin?"


"Mana aku tahu, memangnya aku istrinya." Alis masuk mobil diikuti oleh Prilly yang menggunakan ponsel Alis mencoba menghubungi, tapi tidak aktif.


Di apartemen Naya membongkar meja tempat biasanya Arvin bermain game, ada banyak daftar pelaku kejahatan.


Arvin berencana merusak citra baik kakeknya, tapi menyudutkan daddynya. Nay, takut jika rencana gagal lalu menjadi bumerang bagi Arvin


"Di mana Arvin?"


Gedoran pintu kuat, Naya berlari membuka pintu melihat Andra basah-basahan. Menatap Naya yang nampak panik.


"Di mana Arvin?"


"Tidak tahu Dra, lihat ini." Naya menunjukkan banyaknya coretan tentang rencana Arvin.


"Anak bodoh satu itu, apa nyawanya ada sepuluh!" Andra berlari kembali ke mobilnya.


Kanaya berlari kencang, masuk ke dalam mobil Andra. Meminta ikut karena Nay tahu betapa mengerikannya keluarga Arvin.


Seseorang berdiri di depan mobil Andra, Prilly meminta buka pintu mobil, tapi Andra menolak karena dia tidak ingin banyak membawa orang.


"Hanya aku yang tahu wilayah rumah Arvin, biarkan aku ikut." Prilly berlari masuk mobil, ternyata Alis sudah masuk lebih dulu.


"Kamu mau apa Lis, tahu tidak ini bahaya!" bentak Andra marah.

__ADS_1


Ekpresi wajah Andra menyeramkan meminta adiknya turun, Andra tidak ingin Alis ikut campur apalagi jika sampai diketahui Papinya.


Tangan Alis berpegang erat, tidak ingin keluar karena harus ikut mencari Arvin yang mencoba kerja sendiri.


"Dra, kita tidak punya banyak waktu," tegur Prilly.


"Sial!" Andra memukul setir mobilnya.


"Kak Andra kenapa basah, bukannya malam ini tidak hujan?" tanya Alis penasaran melihat baju Kakaknya basah.


Naya dan Prilly melihat ke arah Andra yang melirik tajam, tidak memberitahu penyebab bajunya basah.


"Stop, aku ikut." Agra turun dari ojek membuka pintu mobil ada Naya. Membuka pintu satunya ada Prilly dan Alis.


"Kenapa jadinya ramai?" Andra menjalankan mobilnya.


Agra kebingungan karena ada tiga wanita padahal mereka tidak tahu Arvin pergi ke mana, dan bersama siapa.


"Tuan di mana?" Prilly sangat mencemaskan Arvin, takut jika terjadi hal buruk.


Tangan Agra mengusap pelan punggung Prilly agar tenang, tidak perlu terlalu mencemaskan Arvin, dia pasti baik-baik saja.


"Sebenarnya siapa Arvin?" tanya Naya yang sudah lelah menahan rasa penasaran.


"Alis lebih penasaran, siapa keluarga Arvin?"


Helaan napas Prilly terdengar, menurut cerita yang dia dengar dulunya keluarga Arvin hidup sederhana, lalu kakeknya menikah dengan anak pengusaha.


Pilihan paling cepat dengan melakukan kejahatan, mengelapkan uang perusahaan hingga membangun pabrik barang haram.


"Kecerdasan yang dimiliki Kakek Arvin digunakan untuk berkuasa, sehingga bisa membuat mantan istrinya menyesal," jelas Prilly.


"Jika begitu aku akan melakukan hal yang sama, jika perlu aku mutilasi mereka berdua," balas Andra tidak terima.


"Berarti Arvin akan membuat bisnis kakeknya diselidiki polisi?" Nay menatap Alis.


"Tidak semudah itu, Arvin sudah lama menyimpan dendam kepada daddynya karena kematian mommy. Dia menjalankan usaha peninggalan mommy, sehingga itu Arvin berani melawan," jelas Andra yang mengetahui sedikit dari rencana Arvin.


"Prilly baru tahu soal itu, apa tuan Arvin akan mengungkap kematian mommy?"


Kepala Andra dan Agra mengangguk, keduanya sudah berusaha menghentikan, tapi tidak ada perubahan.


Luka hati seorang anak tidak mampu diobati sekalipun dengan kematian, Arvin tidak mudah melupakan kenangan bersama mommynya.


Alis menghubungi Arvin, secara tiba-tiba dimatikan mengejutkan Alis, lebih baik tidak dijawab daripada dimatikan.


"Jahatnya, langsung ditolak." Alis cemberut hampir menangis.


"Lagian kamu kenapa menghubungi Arvin, bela diri tidak bisa, membuat repot iya," tegur Agra pelan.

__ADS_1


Alis yang marah mengirimkan pesan umpatan segala hewan, sampai Arvin disebut mirip anjing.


"Halo, Kak Arvin kenapa dimatikan?"


"Aku capek, lagian kamu mengapa menghubungi aku, ganggu." Suara tangisan Alis terdengar merasa malu karena panggilannya ditolak.


Mobil Andra berhenti, meminta Alis menyerahkan ponselnya. Andra mengumpat Arvin mengejutkan semua yang ada di mobil.


"Di mana kamu?"


"Apartemen," balas Arvin.


"Demi apa, kita baru saja dari apartemen." Andra menjawab panggilan yang dialihkan ke panggilan video.


Arvin baru selesai mandi, bahkan belum sempat memakai baju. Andra melempar ponsel Alis ke arah dasbor.


"Mobil sudah mirip angkutan umum, ternyata orang yang dicari asik di rumah." Andra putar arah.


Empat orang yang ada di mobil duduk sambil menghela napas, mengumpat Arvin yang membuat panik karena suka bertindak tanpa pemikiran panjang.


Mobil kebut-kebutan karena Andra tersulut emosi, dia mencemaskan sesuatu yang tidak benar adanya.


Pintu apartemen terbuka, Arvin tertawa melihat mobil Andra tiba, ada banyak orang di dalamnya padahal Andra tidak suka di dalam mobilnya lebih dari tiga orang.


"Dari mana kalian?"


"Dari mana, kita mencari-cari jarum di dalam tumpukan jari maksudnya jemari ...."


"Jerami Alis, bukan jemari apalagi jari." Avin menahan tangan Alis yang menjambak rambutnya.


Pukulan tangan Naya mengenai perut Arvin, langsung berlutut meringis kesakitan karena pukulan cukup kuat.


"Tuan, kenapa tidak menjawab panggilan? kita semua khawatir, kenapa tuan masih berusaha dengan Daddy?" Prilly ingin memukul Arvin, tapi tidak tega.


Pintu dibanting kuat sampai Arvin tertinggal di luar Apartemen, menatap Agra dan Andra yang menggeleng kesal.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku tidak akan melakukannya Dra, kamu benar aku harus hidup." Arvin mengurungkan niatnya untuk menyerang.


Pukulan tangan Andra menghantam mobilnya, meminta Arvin turun. Andra ingin meluapkan emosinya.


"Jika begitu setidaknya bicara, saat ini kamu tidak aman Vin. Tidak ada yang tahu kapan mereka berulah, setidaknya anggap aku juga sebagai teman agar bisa menjaga kamu, jadi orang jangan berlaga hebat." Andra terlihat marah.


"Ya sudah maaf, kenapa kamu basah Dra? jangan bilang kamu jatuh belajar bermotor?"


"Jangan bilang orang yang viral di sosial media itu kamu, jatuh bersama motor." Agra menatap Andra yang memeluk tubuhnya.


"Hujan, tadi hujan," ucap Andra mengelak.

__ADS_1


***


__ADS_2