KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MEMUTUSKAN PERGI


__ADS_3

Pukulan kuat menghantam wajah Andra, kali ini kemarahan Papinya tidak terbendung lagi. Kenakalan Andra melewati batas.


Papi menatap tangannya yang merah karena memukul putranya, terlihat darah mengalir dari hidung.


"Kamu berkelahi di depan umum, menantang banyak orang. Siapa wanita itu Andra? Papi akan membuat dia lenyap dari kota ini!"


Mengetahui putranya menggila karena wanita bahkan tidak takut mati, Papi tidak rela anaknya menjadi budak wanita.


Seseorang dipanggil menghadap, Papi meminta cari perempuan yang bernama Kanaya, memastikan dia tidak akan menginjak kaki dihadapan Andra.


"Buat wanita itu tidak muncul lagi, jika melawan gunakan cara kasat."


"Jangan Pi, Andra ikut apapun yang Papi inginkan. Jika perlu Andra akan meninggalkan negara ini," ucap Andra sambil meremas tangannya.


"Takut kamu wanita itu tersentuh, padahal segala cara Papi lakukan agar kamu lanjut kuliah di luar, sekarang baru berniat." Kepala Papi geleng-geleng karena Andra begitu bodoh mencintai seseorang.


Seandainya dia tahu jika cinta tidak akan selamanya indah, perasaan manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu.


"Jika kamu menjadi orang sukses, wanita manapun akan dekat Andra, tidak terkecuali wanita itu," tegur Papi tidak suka dengan cinta pertama.


Suara pintu kamar tertutup kuat, Papi meminta Andra segera pindah. Tidak ada toleransi lagi, jika Andra menolak maka wanitanya yang harus angkat kaki.


"Memang benar perasaan itu bisa berubah, tapi Andra takut jika berubah semakin besar. Jika aku menjadi lelaki sukses memang banyak wanita yang mendekat, tapi dia yang akan semakin jauh." Tubuh Andra terlempar ke atas tempat tidur, memejamkan matanya karena bukan pukulan Papinya yang sakit, tapi membayangkan perpisahan.


Andra masih ingin tertawa, bercanda, bertengkar bersama temannya, tapi waktu itu sudah terlewati.


Jalan Naya sudah terlalu sulit, dia terluka karena keluarga Arvin, dan Andra tidak ingin menyebabkan masalah baru.


"Jika aku pergi, harapanku jalan yang dilewati lebih terang. Masih ada Arvin dan Agra yang akan mendampingi." Senyuman Andra terlihat karena sudah waktunya dirinya pergi.


Tubuh Andra bangkit kembali, mengambil jaketnya untuk menemui teman-temannya. Di depan pintu Andra berpapasan dengan maminya yang berniat masuk.


"Mau ke mana?"


"Andra harus pamitan dengan teman-teman, Andra akan pergi Mi," ucapnya nampak kuat.


Kedua tangan Mami memeluk lembut, kaki Mami harus menjinjit karena tubuh Andra semakin tinggi.

__ADS_1


"Maafkan Mami yang tidak bisa membela kamu, jangan ambil hati apapun yang Papi ucapakan. Dia sangat menyayangi Andra, dan ingin yang terbaik untuk Andra," ujar Mami menguatkan.


"Mami kenapa bicara lemah-lembut begitu, Andra geli mendengarnya. Bicara saja seperti biasanya," teriakan Andra terdengar karena Maminya bukan wanita manis yang tutur katanya sopan.


"Anak kurang ajar, Mami hampir menangis, lancangnya kamu." Pukulan Mami kuat membuat Andra tertawa.


"Jangan mencemaskan Andra, lagian aku sudah besar. Mami yang harus jaga diri karena kita pasti lama tidak bertemu." Andra merangkul Maminya yang mengusap air mata.


Andra menolak Maminya terus menghubungi karena sangat menganggu, Andra di sana bukan main-main, tapi bekerja dan kuliah.


"Kenapa orang tua tidak boleh menghubungi anaknya?"


"Bukan tidak boleh Mi, tapi Mami itu terlalu rempong. Andra bangun, Andra makan sarapan, Dra jaman lupa banyak minum, tidurnya jangan larut, apartemen harus bersih nanti sakit, mengendari mobil pelan, hati-hati, jangan sering jajan di luar, Mami pasti akan melakukannya sejak matahari terbit sampai bulan menghilang." Kepala Andra geleng-geleng meminta Maminya stop membuatnya seperti anak-anak.


Dari lantai satu Papi mendengar suara Andra yang mencoba ceria agar Maminya tidak cemas dan kepikiran.


Sesungguhnya Papi tahu jika Andra sangat dewasa, dia berpikir sebelum bertindak dan memiliki karakter yang baik, meksipun nampak nakal.


"Maafkan Papi Dra, saat kamu dewasa nanti pasti akan mengerti. Terkadang kita harus kejam."


"Ada apa Mi?" tanya Alis yang baru saja kembali.


"Dari mana kamu Lis, sini turun." Suara Papi terdengar meminta Alis ke ruangannya.


Tepaksa Alis mengikuti Papinya, sudah pasrah jika harus dimarah, dipukul bahkan di usir sekalipun.


"Dari mana kamu? satu ini lebih parah. Apa yang kamu lakukan di luar rumah?"


"Alis dari rumah sakit Pi, sahabat Alis mengalami kecelakaan," jawabnya jujur.


"Siapa kamu, keluarganya?"


Kepala Alis menggeleng, meksipun bukan keluarga, tapi kedekatan layaknya keluarga. Setiap Alis kesulitan sahabatnya selalu ada, dan Alis melakukan hal yang sama.


"Dia tidak memiliki keluarga, dan ditabrak secara sengaja ...."


"Apa dia seorang penjahat?" potong Papi saat Alis bicara.

__ADS_1


"Papi! Apa saat kita membantu orang lain, lalu dia disakiti karena sudah menolong, apa itu penjahat?"


"Lis, jangan terlalu baik, kepala kamu bisa diinjak. Papi tidak ingin melihat kamu keluyuran lagi," bentak Papi.


Kepala Alis menggeleng, dia tidak peduli dengan larangan karena apa yang dilakukan sebuah kebaikan. Dirinya tidak akan merugikan siapapun.


Pintu ruangan kerja terbuka, Mami terlihat marah kepada suaminya yang mengekang anak-anak.


"Andra sudah bersedia pergi, kenapa sekarang Alis juga? Aku tidak akan membiarkan kamu mengekang putriku!"


"Putriku! Apa hanya Alis anak kamu, dia juga anakku," teriak Papi kuat, tatapan matanya tajam.


Tawa kecil Mami terdengar, suaminya masih belum berubah tidak heran dia selalu diasingkan oleh keluarganya, bahkan mengkhianati pernikahan.


"Mi, kita keluar dari sini." Alis menarik tangan mami.


"Sepertinya kamu senang sekali Andra akan keluar dari rumah ini," sindir Papi sinis.


"Meskipun Andra tidak lahir dari rahimku, tapi aku yang membesarkannya sejak bayi merah, rasa cintaku jauh lebih besar dari kamu." Mami melangkah pergi keluar bersama Alis.


Di depan pintu kerja Andra mendengar semuanya, langsung berlari bersembunyi dari Maminya yang sudah menangis sesenggukan.


"Papi boleh menyakiti aku, tapi jangan Mami dan Alis karena keduanya harta yang paling berharga dalam hidup Andra." Air mata Andra menetes menatap Maminya yang menangis.


Panggilan Papi terdengar, mengejar istrinya meminta maaf atas ucapannya yang menyinggung, tidak ada niat hatinya melukai.


"Tidak puas kamu menyakiti aku belasan tahun yang lalu, bahkan pulang membawa anak dari selingkuhan ...."


"Mami cukup, Alis mohon hentikan. Jangan sampai Kak Andra mendengar, setiap kalian bertengkar selalu mengungkit belasan tahun yang lalu." Tangisan Alis terdengar kuat, dia merasa keluarganya paling harmonis dibandingkan dengan keluarga lain, tapi ternyata salah.


Keluarga yang Alis banggakan sama saja seperti yang lain, selalu ribut dan saling menyakiti. Tidak peduli ributnya di depan anak, mengungkit masa kelam seakan ada yang disindir.


"Jika Mami belum bisa melupakan cerai saja, jika Papi mencintai wanita lain cerai saja. Apa yang diributkan, aku dan Kak Andra sudah besar, kita bisa menjaga diri sendiri tanpa kalian!" teriakan Alis terdengar berlari ke arah kamarnya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2