KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MATAHARI TERBIT


__ADS_3

Kata maaf terdengar dari mulut Agra, dia sangat menyayangi Alis, menganggapnya seperti adik sendiri, tapi untuk menjalin hubungan dengan pasangan tidak bisa dirinya lakukan.


"Lis, kita fokus ke masa depan, tidak ada yang tahu siapa jodoh nantinya," ucap Agra meminta maaf jika kejujurannya menyakiti.


"Tetapi Kak Agra menyukai Naya? apa dia wanita impian Kak Agra?" Alis berterima kasih karena Agra terlihat serius dengan ucapannya sehingga Alis akan menerimanya keputusannya.


"Suka dan mengangumi lawan jenis itu normal Lis, jangan bertanya hal yang menyakiti kamu," tegur Arvin yang fokus menyetir.


"Namanya juga bertanya, aku tahu kalian tiga sahabat mencintai wanita yang sama. Alis tidak cemburu kepada Kak Nay, sadar diri jika dia baik, cantik, mandiri." Bibir Alis cemberut memutuskan untuk tidur karena baru saja cintanya ditolak.


Kepala Prilly tertunduk, jika Alis yang nampak sempurna saja tidak mampu membuat Agra jatuh cinta apalagi dirinya, Prilly seharusnya menghapus perasaan.


"Ayolah Prilly, jangan berharap terlayu banyak, dia terlalu baik untuk wanita seperti kamu," batin Prilly di dalam hati.


Perjalanan sudah cukup jauh dan belum juga sampai, Alis membuka matanya langsung teriak histeris membuat Arvin yang fokus menyetir mengerem kejut.


"Ada apa Lis?" Prilly yang sedari awal sudah menggenggam tangan berdoa di dalam hatinya karena melewati kuburan terbesar di luar kota.


Tangisan Alis terdengar, ketakutan karena berada di tengah kuburan, apalagi hanya disinari cahaya mobil.


"Apa tidak ada jalur lain Vin?" Agra juga tidak nyaman lewat jalur pemakaman yang sangat luas.


"Ada, tapi kita harus putar lagi dan jalannya semakin jauh, bisa tiga jam lagi. Lebih baik lewat sini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Arvin sudah biasa melalui jalur pemakaman karena sering datang berkunjung.


Pelukan Prilly lembut, menenangkan Alis yang sangat ketakutan. Mobil melaju pelan karena jalur hanya bisa dilewati satu mobil.


Secara tiba-tiba mobil Arvin mati, keempat orang saling pandang karena depan mobil berasap.


"Ini pasti gara-gara mobil ditabrak ke pagar tadi," ucap Arvin yang memutuskan untuk keluar mengecek mobil.


"Bukan karena Alis, tapi hantu. Ini sudah subuh mereka sudah bangun." Alis tidak mau keluar dari mobil karena takut.


Dua pemuda mengecek mobil meminta dua wanita keluar karena mobil tidak bisa dijalanin lagi.


"Lis, Pril, ayo kita pergi dari sini," pinta Agra.


"Tidak mau, Alus takut." Tangisan terdengar semakin kencang.


Tangan Alis ditarik secara paksa agar segera keluar dari mob, empat orang berlari meninggalkan mobil secara paksa karena tidak memungkinkan berada di mobil.


Genggaman tangan Alis erat, sudah bagus niatnya ingin pulang ke rumah, tapi tergoda dengan tawaran.

__ADS_1


"Alis tidak kuat lagi, takut, capek."


"Sabar Lis, sedikit lagi kita keluar dari area pemakaman." Arvin ngos-ngosan karena larinya Prilly dan Agra lebih kencang.


Tangan Alis menunjuk ke arah sebah cahaya, Arvin tersenyum melihat cahaya yang mulai muncul.


"Bagus sekali, sudah aku katakan saat matahari terbit pasti tempat ini bercahaya."


"Bagus dari mana, serem tahu." Alis mengusap air matanya.


"Aku bahkan menginap di sini tiga hari tiga malam saat kepergian Mommy, kenyataannya aku memang sesulit itu merelakan," ujar Arvin yang merasa senang karena teman-temannya bisa merasakan.


Teriakan Agra terdengar meminta berlari lebih kencang, tapi Arvin memilih jalan santai menikmati matahari yang akan muncul.


"Permisi numpang duduk, demi tuhan, Alis tidak berniat menganggu, hanya kecapean." Alis duduk bersama Arvin di kursi yang biasanya digunakan oleh para pengunjung.


"Aku hubungi Andra dulu agar menjemput kita." Panggilan masuk, tapi tidak ada jawaban.


Senyuman Alis terlihat jelas saat matahari yang indah semakin nampak, menjadi putri orang kaya membuatnya tidak menemukan keberadaan matahari.


"Cantik, Alis suka matahari terbit, apa kita bisa melihat matahari terbenam?" tanya Alis menatap Arvin.


"Bisa, tapi bukan dari sini, nanti sore aku bawa naik bukit." Avin tertawa melihat Agra dan Prilly balik lagi karena dua orang masih tinggal.


Suara tawa terdengar, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan karena lari-larian di kuburan, melakukan perjalanan dari dini hari hingga subuh.


"Ponsel Alis mana? Ayo kita berfoto." Alis meminjam ponsel Arvin mengambil foto di dekat kuburan.


"Bukannya ini terlihat aneh, hapus," pinta Prilly yang merasa fotonya jelek, tapi Alis tidak ingin menghapusnya.


"Saat ini memnag aneh, tapi lima sampai sepulu tahun ke depan akan menjadi kenangan terindah." Ada banyak foto yang diabadikan sambil menunggu matahari terbit.


Kepala Agra menggeleng karena Andra masih belum menjawab, sedangkan ponsel Naya tidak aktif lagi.


Tidak ada pilihan bagi keempatnya harus menunggu ada yang lewat untuk meminta bantuan, atau menunggu Andra bangun sampai menyadari keberadaan mereka.


"Alis, jangan begitu." Tawa Prilly dan Alis terdengar karena rebutan ponsel.


"Aduh sakit, Kak Agra lihat Prilly jahat mencengkram tangan Alis," adunya menunjukkan tangan yang merah.


Senyuman Agra terlihat, menggenggam tangan Alis meniupnya agar tidak sakit lagi dan berhenti bertengkar.

__ADS_1


Panggilan Agra terdengar berkali-kali, membuat Naya terbangun dan kaget karena tidur satu ranjang bersama Andra.


"Kenapa dia bisa ada di atas tempat tidur?" Nay menjawab panggilan.


Terdengar suara berisik, Nay menatap layar ponsel yang tertulis nama Agra, ternyata ponsel yang Nay jawab milik Andra.


"Nay, kamu sudah bangun?" tanya Agra.


"Ya, aku nyasar bersama Andra, jangan salah paham kita tidak melakukan apapun," jelas Naya yang cukup kaget.


Tawa Agra terdengar, meminta Naya membangunkan Andra karena harus menjemput mereka di kuburan, tanpa ada yang menjelaskan Agra juga paham.


Andra tidak akan menyentuh wanita, dia pasti merasa jadi orang yang paling dirugikan jika bersentuhan tanpa cinta.


"Kalian di kuburan besar itu, ngapain?"


"Kita berniat menyusul, tapi mobil mogok di jalan terpaksa kita santai di kuburan." Agra meminta tidak menghubunginya karena baterai ponselnya habis.


Pukulan Naya kuat membangunkan Andra yang masih tidur mengorok, tidak peduli dengan suara Naya yang terus memanggil.


"Dra bangun, kita harus ke kuburan sekarang."


"Ngapain, kamu mau aku kubur, perempuan aneh." Andra menepis tangan Naya lanjut tidur lagi.


"Agra, Arvin, Alisha dan Prilly ada di sana, mobil mogok!" teriakkan Naya kuat di telinga Andra membuatnya kesal dan nampak marah.


Mata Andra terbuka, memejam kembali karena nyawanya belum terkumpul. Keempat orang dewasa bisa berpikir cara bertahan.


Nay menghela napas, menatap ke arah jendela karena cahaya matahari begitu indah. Senyuman Nay manis mengangumi keindahannya.


"Silau Naya, tutup," pinta Andra, tapi bukan ditutup melainkan semakin terbuka lebar.


"Dra, suatu hari ayo balik lagi ke sini, kita liburan bersama teman-teman dan makan bersama di bawah pohon itu."


"Berarti aku harus membeli tempat ini bodoh, tidak mungkin mereka mengizinkan kamu membakar disitu." Andra turun dari ranjang berdiri di belakang Naya melihat Cahaya matahari.


Senyuman Naya terlihat mengabaikan moment matahari terbit karena di kota tidak mungkin menemukanya.


"Nanti kirimkan foto ini," pinta Nay.


"Ogah, malas. Dasar perempuan lebai begitu saja harus berfoto." Andra teriak kesakitan saat pukulan Nay menghantam perutnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2