
Kendaraan Delon berhenti di depan apartemen, di lantai satu nampak cafe kecil yang cukup sepi.
Kepala Delon menoleh ke arah Syifra yang sedang duduk sendirian menatap sebuah gelas yang berisikan air putih bening.
Di depannya hanya sepiring ramen yang belum di makan, perlahan gelas diletakkan. Syifra makan dengan lahap berusaha menikmati harinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Delon.
Kepala Syifra menoleh, wajahnya kaget melihat Delon bisa sampai apartemen padahal cukup jauh dari kampus.
"Kamu tidak kuliah?" Syifra melihat pemuda yang mendukung tas kuliahnya.
"Katakan yang sebenarnya jika malam itu tidak menghasilkan apapun?"
Senyuman Syifra terlihat, dia tidak akan membohongi Delon karena semuanya benar. Syifra hamil, usia kandungannya memasuki bulan kelima, empat bulan lagi baby akan lahir.
"Katakan jika itu tidak benar?"
"Itu benar Delon, tapi kamu tidak perlu khawatir karena kami tidak akan meminta pertanggungjawaban." Senyuman kecil masih terlihat jelas di bibir kecil Syifra.
Dia sadar jika bersama hanya akan menghancurkan masa depan Delon, demi kebahagiaan Syifra dan anaknya tidak akan mengusik.
"Lanjutkan pendidikan kamu, anggap saja kita tidak pernah bertemu."
"AApa kamu yakin tidak akan menggangguku?"
"Iya, aku pastikan kami tidak akan pernah muncul." Syifra meletakkan uang di atas meja melangkah pergi dari hadapan Delon.
Kepala Delon tertunduk, hidupnya saja sulit karena kehilangan Papinya, melihat hidup maminya yang kacau menyadarkan Delon jika pernikahan tidak selamanya menjadi kebahagiaan.
"Pernikahan bukan soal siapa yang bahagia, tapi bersatunya dua orang yang saling merangkul tiap suka duka," ucap Andra yang menyempatkan mampir membawa makanan untuk Syifra.
Andra tidak tahu bagaimana ceritanya keduanya bisa bertemu, tapi di mata Andra wanita yang Delon campakkan memiliki keistimewaan. Dia mampu mendampingi dari nol, rela berusaha payah, demi keberhasilan bersama.
"Aku tahu kamu masih muda, aku juga tahu masa depan panjang, tidak perlu kamu ingatkan jika kurangnya ekonomi. Kejar saja mimpi kamu karena Syifra bisa hidup." Andra meminta Syifra kembali ke dalam untuk istirahat karena dokter sudah berpesan perbanyak istirahat.
Syifra menutut, melangkah masuk lift menundukkan kepalanya tidak melihat Delon sama sekali.
Senyuman Andra terlihat, merasa melihat dirinya delapan tahun yang lalu terlalu takut untuk mengakui sesuatu.
"Aku pernah meninggalkan seseorang karena ingin berjuang, aku terlambat tidak menyatakan perasaan. Penyesalan terbesarku memutuskan komunikasi dengannya,'' ucap Andra yang tidak bisa move on dari masa lalunya.
Delon tidak merespon memilih pergi meninggalkan Andra, tapi pundak Delon ditahan dengan cengkraman kuat.
"Kapan wisuda?"
"Bukan urusan kamu," balasnya.
"Aku sedang menawarkan kebaikan, jangan belagu." Andra mengeluarkan kartu namnya menanti Delon di perusahaannya.
Delon nampak kaget dia sudah mendengar AA grup yang sedang naik pesat dalam beberapa bulan.
"Di perusahaan itu aku yang memimpin, tapi ada satu wanita menyeramkan yang lebih berkuasa dari aku," ucap Andra menakuti Delon.
"Apa ibunya juga di sana?"
Tawa Andra terdengar menggeleng cepat bergegas pergi karena harus menghadiri meeting sebelum menjemput wanita setengah gila yang emosian.
Tangan Delon mendekap kartu nama, berjalan cepat keluar mengemudi kendaraan roda dua untuk seger mengurus surat lamaran.
"Benarkah aku bisa bergabung di perusahaan itu, apa ini mimpi?" Delon beberapa kali menggeleng.
Teriakan Delon terdengar, dia memang berencana mencari pekerjaan setelah selesai skripsi.
Air mata Delon menetes karena hatinya senang juga sedih melihat Syifra yang begitu saja melepaskan dirinya.
Mobil Andra masih ada di pinggir jalan melihat Delon mengemudi pelan sambil mengusap matanya.
"Apa dia menangis, dasar remaja keras kepala buat anak bisa, tapi masih cengeng." Andra mengerutkan keningnya.
Pukulan kuat di kepala Andra terasa Arvin menggeleng pelan masih fokus kepada tabletnya yang mencari sesuatu.
"Dia sama saja seperti kamu dulu, keras kepala." Lirikan mata Arvin tajam.
"Kenapa kamu tidak ke rumah sakit?"
"Tau Agra, dia memaksa membantunya. Lihat pesannya." Arvin menujukkan pesan.
Kepala Andra menggeleng, ternyata diantara mereka bertiga Agra akan memulai lebih dulu. Dia sudah siap melepaskan segalanya.
"Agra akan melamar Prilly?" tanya Andra yang cukup kaget.
Mobil Andra melaju pergi ke taman yang Agra inginkan, demi keamanan Andra menemui pengurus taman untuk menyewa khusus malam.
"Sayang, kenapa kamu meminta aku ke sini?" Alis terkejut melihat tatapan Kakaknya yang ingin membunuh.
"Sayang sayang lebai," tegur Andra malas mendengarnya.
"Syirik tanda tak mampu," goda Arvin mengejek calon iparnya.
Senyuman Alis terlihat, mengenggam tangan kekasihnya cukup kaget mendengar kabar Agra ingin melamar Prilly.
Taksi berhenti, seorang wanita keluar. Andra sudah bersembunyi dibalik pohon karena dia tahu Naya akan mengamuk.
"Mana Andra?" Arvin menujuk ke arah pohon.
Langkah Nay cepat, melihat Andra yang sengaja menghindar. Tas Naya nempel di kepala Andra, langsung cepat ditangkap.
"Sialan Lo Dra, Kenapa meninggalkan meeting saat Lo dibutuhkan?" Naya memukul Andra yang tertawa terbahak-bahak.
Tubuh Naya dipeluk erat meminta maaf bukan maksud meninggalkan, tapi Arvin yang menganggu dan memaksa pergi.
Andra didorong kuat, Naya ingin menjambak Arvin namun Alis melindunginya. Memeluk Arvin erat tidak mengizinkan disakiti.
Tawa Andra terdengar, Arvin juga tertawa karena Naya mirip singa betina yang suka mengamuk hanya karena hal sepele.
"Sudah Kak Nay, pukul saja Kak Andra sampai babak belur." Alis mengeratkan pelukannya.
"Mau apa kita di taman?" Naya berlindung di bawah pohon karena panas sore.
"Nanti malam, Agra berencana melamar Prilly, kita diminta menyiapkan semuanya." Arvin juga binggung ingin mulai dari mana.
__ADS_1
Andra melihat sekitar taman cukup lengkap untuk membuat acara lamaran nampak romantis, mereka bisa bagi tugas.
"Kak Naya ke toko sana, Alis sama Arvin ke toko sana." Tangan Alis menunjuk ke arah beberapa ruko yang bersejajar di jalan.
Naya melangkah ke toko kue bersama Andra, keduanya melihat sekeliling memilih beberapa cake untuk dimakan langsung.
"Nay mau es krim?"
"Mau, strawberry." Naya duduk menunggu, Andra datang membawakan dua es krim.
Naya melihat milik Andra yang nampak enak, berniat mencicipi, tapi malu untuk minta. Andra sudah paham dari sorotan mata.
"Mau, dikit aja."
"Ini rasa apa? Mint," ucap Naya mencicipi milik Andra.
Kepalanya mengangguk, suka dengan rasanya. Andra mencicip milik Naya. Tatapan Nay tajam karena es krimnya hilang setengah.
"Apa-apaan kamu ini, punya Naya hilang." Wajah Naya cemberut tidak mau lagi es krim mengambil milik Andra.
"Kenapa ditukar."
Es krim strawberry dipaksa masuk ke dalam mulut Andra, Naya menjilati miliknya melihat pemandangan taman yang pastinya indah saat malam.
"Jika kita lamaran di mana Naya?"
"Jangan kebanyakan gaya Dra, malas aku dengarnya." Naya tidak punya harapan besar menikah saja masih sulit dibayangkan.
Kue yang Naya inginkan sudah dibayar, Andra mengintip sedikit langsung tertawa. Menarik baju Naya meminta melihat isi kue.
"Memangnya Prilly itu wanita normal, lihat kuenya." Tawa Andra dan Naya terdengar membuka kue yang ada gambar Barbie.
Nay pergi lagi ke tempat kasir meminta diperbaiki karena yang dia inginkan untuk lamaran, warna pink juga diganti.
"Maaf Kak tidak bisa kecuali beli baru."
"Kenapa kuenya jadi begini, perasaan tadi bukan ini. Kalian ingin meraup keuntungan dua kali lipat," sindir Naya tanpa ragu.
"Kita pesan yang lain saja, jangan dengarkan dia." Andra membayar kembali membawa Naya menjauh.
Kue dibuka kembali, Naya sangat yakin dia tidak salah pilih. Bisa-bisanya menjadi kue anak-anak.
"Hal begitu saja diributkan, mungkin ada kesalahan jangan menyulitkan karyawan biasa," tegur Andra agar Naya berhenti menggerutu.
"Bagaimana jika bohong, berarti kita mendukung." Kepala Naya menggeleng, meminta segera pergi.
Di taman Arvin dan Alis sudah sibuk mengurus persiapan, menunggu Andra dan Naya tidak muncul.
Alis sudah memesan makanan dari restoran miliknya, beberapa karyawan juga sudah berdatangan untuk membantu memasang lampu.
"Di mana Naya dan Andra?"
"Tidak tahu, menghilang." Alis hanya tertawa saja tidak heran dengan keduanya.
"Nona Alis mejanya sudah siap, alangkah lebih baiknya jika kita meletakkan beberapa lilin," saran seorang wanita.
"Tidak perlu, siapa yang ingin menghidupkan lilinnya?" Arvin menolak karena mereka harus cepat sebelum Agra datang.
"Kalian berdua dari mana, kita sibuk dia enak pacaran," sindir Arvin kesal.
"Apa yang bisa gue bantu?"
"Tiup balon," jawab Arvin.
Kening Andra berkerut, apa hubungannya balon dengan acara lamaran terlalu buang-buang napas.
"Agra aneh, kenapa buat acara ribet begini? Dia enak shooting, dan kita sengsara. Lebih mudah pergi ke restoran pesan makan kasih cincin selesai," ucap Andra yang duduk kelelahan.
"Lagi nostalgia kamu. Bukannya bersama Syifra begitu," sindir Naya tepat di depan banyak orang.
Arvin yang mendengarnya menahan tawa, Andra terkena sindiran Naya membuatnya terdiam.
Tawa Alis terdengar membenarkan ucapan Naya, tiap orang punya cara yang berbeda untuk merayakan kebahagiaannya.
Tidak terasa waktu persiapan selesai, Arvin menghubungi Agra yang ternyata baru selesai meeting.
"Cepatlah, keburu kue meleleh." Arvin menujukkan foto kue Barbie yang dibeli Andra.
Tawa Agra terdengar, mengenggam tangan Prilly untuk segera pergi, Pril yang tidak tahu apapun hanya ikut saja.
"Jadwal hari ini sudah selesai, kita mau ke mana?"
"Jalan-jalan, jangan menolak aku tidak peduli jika ada yang memotret kita." Agra membukakan pintu mobil meminta Prilly masuk.
Seharian bekerja membuat Prilly lelah, memejamkan matanya sesaat sampai mereka tiba di tujuan.
"Kenapa harus macet sekarang?" Agra terkulai lemas karena jalan penuh mobil.
"Sabar, memangnya kita mau ke mana?"
Kepala Agra pusing melihat jam sudah pukul delapan malam, Prilly juga mulai gerah membuka kaca mobil yang perlahan mulai jalan.
Sampai di taman sudah pukul sembilan malam, Agra melihat lampu taman redup, ada banyak pasangan yang sedang asik bersantai.
"Kenapa pergi ke tempat umum, bagaimana jika ada yang memotret kita?"
"Biarkan saja, aku lebih khawatir jika kita salah tempat," gumam Agra yang gelisah karena taman nampak normal.
Prilly memegang lengan Agra, berjalan ke arah taman mencari tempat duduk, banyak yang melihat ke arah keduanya mulai merekam.
"Gra, kita pergi dari sini, lihat mereka merekam?" Prilly ingin menghentikan, tapi Agra menahannya.
"Biarkan saja, lagian ini tempat umum. Jangan mengusik ketenangan pengunjung lain." Senyuman Agra terlihat meminta Prilly tenang.
Teriakan Prilly terdengar saat para pasangan yang duduk mengarahkan kembang api ke atas membuat langit berubah indah.
Senyuman Agra dan Prilly terlihat menatap langit yang indah, tangan Agra memeluk pinggang menatap wajah Prilly yang tersenyum manis.
Suara tepuk tangan terdengar, Prilly melihat lampu yang awalnya redup berubah terang. Hal yang mengejutkan Prilly saat ada satu meja ada Andra dan Naya yang menatap kelelahan.
"Happy birthday to you, happy birthday Kak Prilly," ucap Raya membuat teriakkan Alis kencang.
__ADS_1
"Bukan birthday, ini acara lain." Alis menutup mulut Raya yang salah.
Tawa Agra terdengar, Prilly juga tertawa merasa konyol dengan tingkah Raya yang mengejutkan langsung lari memeluk daddynya menahan malu.
Daddy juga tertawa melihat Putrinya asal nyanyi, dia hanya tahu jika ada kue hari ulang tahun.
"Ada apa ini, Prilly sedang tidak berulang tahun."
"Aku serius soal ucapan di depan Papa, ayo kita menikah. Aku bukan pria yang romantis, mungkin kamu jauh lebih paham aku," ucap Agra yang ingin mengumumkan pernikahan secara terbuka.
Mata Prilly tidak berkedip, dia melihat keseriusan, membuatnya binggung ingin menjawab apa.
"Kenapa terburu-buru?"
"Aku ingin secepatnya hidup bersama kamu, menikahlah denganku." Agra berlutut di hadapan Prilly.
Mama tersenyum melihat Prilly yang menatapnya, kepala Mama mengangguk menyetujui, begitupun dengan Daddy yang berjalan mendekat menyerahkan cincin kepada putranya.
"Putraku pria baik, tapi kamu jauh lebih baik. Jangan tolak Agra karena dia tidak bisa mendapatkan wanita lebih dari kamu," ucap Daddy.
"Melangkah mundur Pril jika belum siap, jika mau berikan jari," teriakan Andra terdengar menggoda Agra yang pastinya deg-degan.
Kaki Prilly mundur, Agra menahan tangannya. Prilly maju kembali menyerahkan jarinya, teriakan Agra terdengar merasa jantungnya lemas.
"Sayang, kenapa tiba-tiba jahil?" Agra duduk bukan berlutut lagi karena melihat Prilly mundur
Tawa semua orang terdengar ikutan panik kecuali Andra yang tertawa terbahak-bahak, puas sekali melihat sahabatnya menderita.
"Seorang Agra yang memiliki jutaan penggemar bisa takut cintanya ditolak, apalagi aku," ujar Arvin melirik Alis yang memicingkan mata.
"Prilly mau, ayo kita menikah." Senyuman malu-malu terlihat tanpa sadar air matanya menetes.
Agra memasangkan cincin yang sangat pas di jari Prilly, Daddy bisa tahu ukuran jarinya saat Agra meminta bantuan.
Pelukan Agra erat, Prilly juga memeluknya penuh rasa haru. Lelaki pertama yang membuat Prilly merasakan kasih sayang.
Dia tahu rasanya cinta ayah, tapi Agra begitu baik sejak pertama bertemu memilikinya sesuatu impian yang tidak yakin mampu Prilly gapai.
"Aku sangat mencintai kamu Agra, rasa itu tidak pernah berubah hingga saat ini."
"Maaf jika cinta aku yang terlambat, aku janji memastikan jika perasaanku jauh lebih besar dan dalam. Kebahagiaan kamu kebahagiaan ku." Kecupan lembut mendarat di kening Prilly membuat suasana heboh.
Senyuman Naya nampak tulus, ikut bahagia dengan moments kebersamaan Prilly dan Agra.
Membutuhkan waktu lama bagi Prilly, dia hanya diam saat Alis membencinya dan terus mengejar Agra. Penantian, diam dan sabar akhirnya terjawab.
"Aku paling suka dengan pasangan ini."
"Hanya kita berdua yang masih mengapung, tidak tahu harus ke mana?" Andra menghela napas panjang.
Seseorang yang datang cukup mengejutkan Agra dan keluarga, tapi Arvin langsung membungkukkan tubuhnya menyambut.
"Om Agam, ayo sini. Kenapa Om terlambat?" Arvin menyalami.
Senyuman Agra terlihat menyalami papanya, menatap ke arah Mama dan Daddy yang terlihat biasa.
"Apa kabar, maaf aku datang di tengah keluarga kalian." Papa menyalami Daddy yang langsung meyambutnya.
"Jangan bicara seperti itu, Agra anak kita bersama maka kehadiran kamu juga dibutuhkan." Daddy tersenyum lebar meminta Raya menyapa.
Mama tersenyum kecil, menyalami istri mantan suaminya, Mama terlihat santai karena sudah sepenuhnya ikhlas karena keluarganya juga bahagia.
"Daddy, Kenapa Kakak Agra punya dua daddy dan Mama?" Raya menatap penuh rasa penasaran.
"Ma, jelaskan." Daddy menatap istrinya.
"Raya, dulu Mama dan Papa kak Agra pernah menikah dan Kak Agra hadir, tapi kita berpisah dan Mama bersama Daddy hadirlah kamu, sekarang Papa Kak Agra sudah menikah lagi makanya dia punya dua mama," jelas Mama.
"Kenapa Raya dan Kak Avin tidak punya?"
"Arvin juga punya dua Mama, tapi satunya sudah di surga," ucap Arvin meminta Raya diam dan berhenti bertanya.
Raya berlari ke arah Andra, meminta Naya menjauh meminta penjelasan lebih detail karena dia tidak mengerti.
"Kenapa pusing, Mama papa kamu juga banyak. Orang tua Kak Avin maupun Aga juga orang tua kamu, berarti Raya punya lebih banyak." Andra memberikan jempolnya.
Raya lompat-lompat kesenangan dia punya dua Papa dan tiga Mama, tapi satunya sudah disurga. Raya memeluk Papa Agam begitu santai.
"Maaf, Raya selalu begitu." Mama menatap istri Om Agam yang berjongkok memeluk Raya.
Senyuman Agra terlihat, dia bahagia melihat Papa dan mamanya bisa saling menyapa kembali, tidak ada amarah lagi. Berharap selamanya keluarga akan jadi satu.
"Terima kasih, kamu memang adikku yang terbaik." Agra merangkul Arvin yang mengangguk.
Dia juga ingin melihat kedamaian, ribut tidak akan membuat mereka bahagia, tapi akur sudah pasti bahagia.
"Setelah ini bantu aku juga, sebelum Andra menikah aku tidak bisa maju." Wajah Arvin memelas, dia juga ingin segera tinggal satu rumah.
"Sabar, tunggu aku menikah dulu. Lagian masalah Andra masih cukup rumit."
"Apa yang kalian berdua bisikkan?" Andra merangkul kedua sahabatnya.
Kepala Agra dan Arvin menggeleng, tidak ingin memberitahu Andra yang susah diajak kerja sama.
"Sayang mau kue?" Alis menatap Arvin yang terdiam karena lehernya dirangkul Andra kuat.
"Kalian berdua harus tahu, terutama kamu Agra. Pria yang menghamili Syifra, Adik tiri kamu," bisik Andra pelan.
Kepala Agra menoleh kaget, matanya tidak berkedip hanya bisa melongok. Arvin mengangguk membenarkan jika Agra memiliki Adik tiri.
"Apa sangkut pautnya denganku?"
"Aku tidak bisa menikah jika Andra belum menikah," ucap Arvin.
"Aku juga tidak bisa menikah jika Syifra belum menikah," ucap Andra.
"Apa maksud kalian berdua, jangan menyulitkan aku." Agra langsung pergi ke arah Naya mengadu jika Arvin dan Andra memerasnya.
Kening Naya berkerut, Agra memang harus menemui Delon. Dia membutuhkan teman, Agra orang baik pasti bisa akur dengannya.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira