
Suara Naya mengumpat terdengar, mencaci maki Andra sepanjang jalan karena sudah hampir jam pulang kerja, diminta datang lagi untuk meeting.
"Andra sialan, kenapa pengusaha sukses seperti dia harus memimpin di sini?" Naya berlari ke arah kantor.
"Bu Naya, meeting dibatalkan." Staf sudah mulai persiapan untuk pulang.
Senyuman Naya terlihat, kedua tangannya tergempal. Andra seakan sengaja mengerjainya untuk berlama-lama di jalanan.
"Andra! Awas kamu." Naya keluar sambil menghentakkan kakinya kuat mengumpat kasar menyumpahi Andra.
Teriakkan Naya kuat, meremas rambutnya. Hatinya kesal sekali berurusan dengan Andra, setiap bertemu tidak ada sisi baiknya.
Tepaksa Kanaya balik ke apartemen, melihat satu kawasan Apartemen dikosongkan. Nay tahu jika akan ada tetangga baru.
"Sore Naya, akhirnya ada penghuni," ucap seorang wanita yang membantu Naya mengurus segala kebutuhan di apartemen.
"Nay masuk dulu Bu," pamitnya meninggalkan wanita paruh baya.
Tidak berselang lama seorang pemuda gagah mendekat, meminta barangnya dimasukkan. Mendengar penjelasan soal tetangganya.
"Andra sialan! Benci sekali aku melihatnya!" teriakkan dari apartemen depan terdengar.
Langkah Andra terhenti, kaget mendengar suara teriakkan menggema. Terdengar mengumpat dirinya.
"Sudah gila, bisa kebetulan namanya sama." Andra masuk duduk di sofa melihat orang merapikan semua barang.
Laptop Andra hidup, mengecek kembali pekerjaannya. Suara ponsel berdering juga diabaikan.
Mata Andra menatap layar ponselnya, langsung menjawab panggilan dari Maminya yang sudah tiga kali memanggil.
"Ya Mi," jawab Andra saat dipanggil dengan suara nyaring.
"Pulang sekarang," pinta Mami dengan nada menahan marah.
Helaan napas Andra terdengar, tidak tahu siapa yang memberitahukan kepulangannya sampai Maminya tahu. Andra mengiyakan untuk bertemu orangtunya.
"Tidak pernah aku sangka bisa balik lagi ke negara ini," batin Andra keluar dari apartemen sederhana yang baru disewa.
"Andra sialan, kurang ajar, kenapa kita harus bertemu, kamu pikir aku patung. Andra," teriakkan dari apartemen depan Andra terdengar, suara wanita mencaci maki terdengar jelas.
"Apa di dalam rumah ini ada wanita stres?" Andra bergegas pergi untuk menemui Maminya yang pasti marah.
__ADS_1
Di jalanan macet, Andra seakan terkena karma setelah membuat panik satu kantor karena kedatangannya.
"C i a l, kenapa jalanan macet?" Andra memejamkan matanya sesaat.
Perjalanan yang seharusnya tidak sampai tiga puluh menit harus Andra tempuh selama satu jam, wajahnya yang pemarah berubah lesu.
Sampai di rumah Andra tidak memasukkan mobilnya, tidak enak jika ada Neneknya. Pasti dirinya akan diusir kembali, Andra sangat sedih jika Maminya yang terkena imbas atas kehadirannya.
"Tuan muda Andra, selamat datang Tuan." Penjaga yang terakhir bertemu Andra sebelum pergi langsung berlutut dan menangis.
"Kenapa menangis?" Andra mengusap punggung meminta berdiri.
Selama delapan tahun menunggu Andra kembali, pemuda yang dulunya suka menjahilinya dan mengobrol bersama secara tiba-tiba pergi dari rumah.
Bukan hanya keluarga Andra yang sedih, tapi seluruh karyawan yang ada di rumah. Merasa sangat kehilangan pemuda ceria yang sangat jahil.
"Tuan Andra kenapa pergi, kita sedih sekali?"
"Ya sudah maaf, lagian aku sekarang pulang. Ayo bangun, sini Andra peluk." Kedua tangan Andra memeluk tanpa memandang status, hatinya juga sedih jika memikirkan kondisinya.
Dari kaca jendela rumah Mami sudah melihat kepulangan Andra, air matanya tidak terbendung lagi. Kenapa anaknya yang begitu baik bisa dibenci oleh keluarganya, Putra yang dibesarkannya memilih pergi karena tidak ingin menyakiti.
"Tuan harus masuk, Nyonya pasti bahagia sekali."
Penjaga terdengar menangis kembali karena tidak kuasa menahan bahagianya bisa melihat Andra pulang, menjadi saksi tumbuh kembang Andra membuatnya merasa sangat kehilangan.
Senyuman Andra terlihat, mengusap punggung pria tua yang masih bekerja di rumahnya.
"Andra masuk dulu."
Di dalam rumah Mami mengusap air matanya, mengipas wajah agar Andra tidak melihatnya menangis.
Pintu rumah terbuka lebar, suara sepatu terdengar menaiki anak tangga. Andra memasukkan kepalanya langsung teriak melihat mata Maminya tajam.
"Tidak pulang jika tidak dihubungi, anak nakal. Mami tahu kamu sudah balik berapa kali, tapi belum juga datang berkunjung, tidak ada sopan santunnya sama orang tua." Pukulan Mami bertubi-tubi di punggung Andra membuatnya meringis kesakitan.
Lutut Andra menyentuh lantai, memeluk kaki Maminya meminta maaf. Sudah ada niat pulang, tapi ada perkejaan penting.
"Mami apa kabar?" Andra memeluk lembut wanita yang sangat dicintainya.
"Hampir mati karena merindukan anak-anaknya yang sudah lupa dengan orang tua." Tangisan Mami terdengar memeluk erat karena Andra bisa dibujuk oleh Papinya untuk pulang.
__ADS_1
Senyuman lebar terlihat, mengusap air mata agar tidak menangis, Andra tidak suka melihat Maminya menangis.
Teriakkan seseorang terdengar karena baru saja kembali, Alis langsung lompat ke dalam gendongan Kakaknya, mata Andra melotot pipinya dikecup habis, bahkan keningnya juga basa air liur.
Tubuh Alis dijatuhkan, Andra berteriak marah. Jika dia tidak menyayangi adiknya sudah lama ditendang.
"Gila Lo Lis, Ais ... kotor wajahku." Andra berlari ke dapur mencuci wajahnya.
"Kakak, Alis kangen. Mau dipeluk." Alis lari mengejar kakaknya, memeluk dari belakang.
"Lepaskan Alis, aku pecahkan kepala kamu. Satu dua ... Alis." Andra teriak-teriak ingin membanting Alis.
Suara gayung air terdengar di kepala Andra, Alis langsung melepaskan kakaknya melihat Nenek yang dulunya menjaga Alis dan Andra saat kecil. Asisten pertama Mami yang selalu menjadi penengah jika bertengkar.
"Baru bertemu sudah bertengkar, bukan sayang-sayangan."
"Kenapa gayung sialan itu tidak rusak?" tangan Andra mengusap kepalanya yang sakit di pukul kuat.
"Kamu juga sama, jadi perempuan tidak bisa kalem, tingkahnya seperti anak sepuluh tahun." Nenek mencubit pelan Alis.
"Cubitannya pelan, coba saja Andra pasti sobek kulit." Tangan Andra memegang telinganya yang ditarik kuat oleh wanita tua yang sedang menangis.
Mami dan Papi tersenyum bahagia karena kedua anaknya pulang, masih sama seperti saat kecil selalu bertengkar.
Suara tangisan terdengar, Nenek memeluk Andra yang sangat jahat tidak pernah pulang, tidak ada kabar, bahkan pergi tanpa pamitan.
"Jika Nenek mati, kamu tidak pulang, Nenek hantui."
"Ya Tuhan, niatnya busuk. Sudah jangan menangis, mendingan pakai skincare, wajah sudah keriput semua." Tawa Andra terdengar berlari meninggalkan dapur.
Langkah Andra terhenti di hadapan seorang wanita tua yang sudah duduk di kursi roda, tatapan matanya masih tajam belum bisa menerima Andra.
"Sore," sapa Andra yang tidak berani memanggil Nenek.
Perasaan Andra sedih, lukanya sangat besar mendengar semua penghinaan. Seiring berjalannya waktu, mencoba mendewasakan diri, Andra mencoba menerima apapun hinaan kepada dirinya. Manusia tidak ada yang sempurna, akan selalu ada orang yang tidak menyukai.
"Kenapa kamu kembali, palingan juga membawa wanita murahan itu," sindir Nenek.
"Mami ...."
"Andra pulang karena merindukan Mami, Andra pulang tanpa wanita itu karena ibu Andra hanya satu, dia yang tidak mengandung tidak juga melahirkan, tapi dia yang membesarkan dan mencintai lebih dari apapun. Nenek tidak bisa memutuskan itu," jelas Andra sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira