KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
SERANGAN JANTUNG


__ADS_3

Kepala Agra tertunduk karena baru saja pulang setelah mengisi acara di cafe, sekaligus bertemu seseorang yang akan memproduseri musik.


Pintu rumah terbuka, Agra teriak kaget saat ada banyak orang yang menyambut kepulangannya.


"Happy birthday ...."


"Naya bukan ulang tahun." Alis menutup mulut Nay agar berhenti.


Tawa semua orang terdengar, Agra langsung jongkok karena merasa tidak percaya mendapatkan kejutan.


"Mama, ini sudah malam." Agra memeluk erat Mamanya.


"Selamat ya sayang, kamu hebat. Agra bisa mengejar mimpi meksipun tanpa papa." Air mata Mama menetes, memeluk erat putranya yang sangat dicintainya.


"Tidak apa Ma, cukup ada Mama. Agra senang jika melihat Mama bahagia, jangan terlalu mengkhawatir Agra, dan sudah cukup mengingat Papa." Pelukan Agra lembut, suatu hari dirinya akan tampil di layar kaca, menyebut nama mamanya dengan penuh kebanggaan.


Mendengar niat hati Agra menbuat yang lain meneteskan air mata selain Avin, dia hanya menatap tanpa ekpresi karena tidak memiliki Mama yang bisa bangga kepadanya.


"Sorry sorry, aku tidak bermaksud menbuat kalian sedih," ucap Agra menatap sahabatnya yang memegang kue.


Pundak Avin dirangkul, Agra mengacak-acak rambutnya untuk tidak sedih lagi karena mereka akan selalu bersama.


"Ambil kue ini, dan makanlah. Tante membuatnya setengah mati," ucap Avin menyerahkan kue.


"Thank you Ma." Agra mengecup pipi Mamanya.


"Alis juga mau, kiss," pinta Alis membuat Mama mencubit pipinya.


"Kita semua makan dulu, mendengarkan cerita Agra soal kontrak barunya." Mama menarik tangan Arvin yang masih diam, memintanya untuk makan juga.


"Aku tidak makan malam karena bisa merusak kotak di perut."


Mama tetap menyiapkan makanan untuk lima anak muda yang didoakan akan sukses masa depannya.


"Kita kurang satu orang ini, di mana Andra?" Tatapan Agra melihat ke arah semua orang.


Tidak ada yang tahu keberadaan Andra, dia sibuk dengan pekerjaan kantor sampai panggilan juga tidak dijawab.


Makan larut malam cukup menyenangkan, meksipun satu-persatu menguap. Mama meminta semuanya istirahat, Alis menginap kembali setelah Mama menghubungi Maminya Alis untuk meminta izin.


Ruang makan berubah sepi menyisakan Agra dan Arvin yang hanya diam saja, memainkan ponsel masing-masing.


"Aku pulang ya, Vin."

__ADS_1


"Menginap saja sudah malam," tawar Agra yang melihat Arvin nampak lelah.


"Kapan-kapan, tidak malam ini." Arvin bangkit dari duduknya untuk segera pergi.


"Kalian bertengkar, boleh saja mencintai orang yang sama, tapi tidak dengan merusak pertemanan."


Suara Arvin berdecak terdengar, dia tidak bertengkar dengan Andra apalagi masalah wanita. Tidak sedikitpun terlintas di kepala Arvin untuk bermasalah hanya karena cinta.


Secara terang-terangan Arvin mengumumkan jika dirinya dan Naya sudah berakhir, bukan karena tidak ingin berjuang, tapi perjuangan juga memiliki batasan.


"Nay mencintai orang lain, aku tidak ingin berjuang untuk hal-hal yang buang-buang waktu, tenaga dan juga uang." Tangan Arvin melambai pamitan untuk pergi.


Senyuman Agra terlihat, mengantar sampai depan pintu. Agra meminta berhati-hati karena sudah terlalu malam.


Panggilan dari Daddy masuk, Arvin langsung menjawabnya. Kakek Arvin mengalami serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.


"Bagaimana kondisi Kakek, Dad?"


"Masih ditangani Vin, kamu di mana?"


"Arvin ke rumah sakit sekarang." Avin berlari ke mobilnya.


Mendengar ada yang masuk rumah sakit, Agra menutup pintu rumah langsung berlari meminta Arvin membuka pintu.


"Kakek serangan jantung, aku harus ke rumah sakit." Mobil Arvin melaju pergi.


Pikirannya semakin melayang tidak karuan, ada banyak hal yang membuat suasana hati Arvin tidak baik. Dia sudah berubah pikir positif jika semuanya akan baik, tapi ternyata tidak masalah semakin menumpuk.


"Kenapa tiba-tiba serangan jantung?"


"Kakek berencana mencelakai Andra agar aku dan Kanaya terkena masalah dengan keluarga Andra, kita berhasil menghentikan bahkan melibatkan kepolisian," jelas Arvin berharap Kakeknya sadar, tapi ternyata salah melihat banyaknya aset yang disita, bawahan banyak yang melarikan diri, belum lagi banyak bisnis tutup.


Mata Agra tidak berkedip, tidak menyangka malam saat Andra memintanya menjaga Kanaya ternyata ada kejadian besar.


Andra mempertaruhkan nyawanya, bahkan rela mabuk demi kelancaran rencana. Rencana Andra simpel, tapi efeknya sangat besar.


Kerugian yang dibuat Arvin membuat Kakeknya panik, stres sampai jantungan karena takut jatuh miskin.


"Kamu menghacurkan kesuksesan keluarga?" Agra angguk-angguk.


"Emh, lebih tepatnya aku pengacau yang membuat bangkrut."


Senyuman Agra terdengar, kekayaan keluarga Arvin tidak bisa terhitung, banyak pengusaha yang menjodohkan anak gadisnya untuk Arvin, tapi tidak semudah itu gabung dengan keluarga terpandang.

__ADS_1


"Sekarang kamu merasa bersalah?"


"Tidak, aku lebih nyaman melihat keluarga kamu, soalnya Tante dan Lo mencoba bangkit dari keterpurukan. Berharap kakek juga memutuskan untuk bangkit, bukannya mencoba mencelakai." Tangan Arvin mengacak-acak rambutnya, pusing memikirkan keluarganya.


Agra menepuk pelan agar lebih santai, jangan terlalu stres. Setiap masalah ada jalan keluarnya, dan ada hikmahnya.


Sampai di rumah sakit Arvin berjalan mencari daddynya, Agra juga mengikuti dari belakang bisa melihat Daddy yang duduk di ruang tunggu dengan perasaan gelisah.


"Dad, bagaimana kondisi Kakek?"


"Belum sadar Vin, detak jantungnya sudah stabil."


"Tangan Daddy kenapa?" Arvin melihat Daddy penuh darah.


Daddy memeluk Arvin erat, dirinya baik-baik saja. Demi bisa menghentikan kejahatan Ayahnya, apapun akan dilakukan.


"Kakek jahat sekali?" tangisan Arvin terdengar, menutup mata menggunakan tangan karena hatinya sangat sakit.


"Jangan menangis Vin, Daddy oke." Air mata Arvin diusap melarang anak lelaki menangis apalagi saat ada masalah.


Air mata hanya boleh keluar untuk perasaan haru, bukan terpukul. Daddy yakin semuanya akan baik-baik saja.


"Om, tangannya dibungkus dulu." Agra membalut luka membersihkan darah.


Terlihat luka di lengan sangat besar, Arvin yakin jika daddynya dipukul menggunakan stick golf.


Tatapan Agra juga kasihan, pasti sakit sekali saat tangan terluka besar, tapi daddy terlihat baik-baik saja.


Dokter keluar, menjelaskan kondisi Kakek, besok pagi harus menemui Dokter ahli jantung.


"Semoga Kakek lekas sembuh Vin, kamu harus sabar." Agra merangkul sahabatnya yang sesekali mengusap mata.


Kepala Arvin hanya bisa tertunduk, marah dan kecewa kepada kakeknya yang sangat jahat. Menyakiti daddynya sampai berdarah.


"Avin tidak ingin bertemu Kakek lagi, Arvin benci sama Kakek."


"Jangan bicara seperti itu Vin, Daddy tahu kamu marah, tapi kakek tidak punya siapapun selain kita." Daddy memeluk erat karena melepaskan apa yang diperjuangkan tidaklah mudah.


Melihat Kakek sedang terpuruk, banyak orang yang awalnya baik berbondong-bondong meninggalkan karena tidak ingin ikutan jatuh.


Jika orang lain wajar pergi, tapi anak cucu tidak akan pernah meninggalkan. Daddy berharap Arvin memahaminya.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2