
Tangisan teman-teman Naya terdengar saat melihat Nay sudah bangun, merasa bahagia bisa melihatnya mulai duduk.
"Erin sialan itu membuat Kak Nay seperti ini," ucap Alis yang merasa terharu bisa menatap Kanaya kembali.
"Bagaimana kondisinya, apa ada korban lain?"
"Buat apa kamu mencemaskan orang lain Nay, pikirkan diri sendiri." Prilly duduk di pinggir ranjang, meminta Naya fokus dengan kesehatannya.
Kepala Naya mengangguk, dia merasa jauh lebih baik, meksipun ada yang hilang. Naya tidak melihat keberadaan Andra.
Alis menundukkan kepalanya, menyadari apa yang sedang Naya cari. Dia pasti mencari Andra yang seharusnya hadir.
"Kak Nay, ada Dokter." Alis menyadarkan Naya dari lamunannya.
Dokter tersenyum kecil, mengecek kondisi Naya yang sudah membaik. Dia bisa pulang dalam beberapa hari jika tidak ada keluhan.
Melakukan perawatan jalan, mengecek setiap minggu ke rumah sakit, dan tidak melakukan aktivitas berat.
"Bagaimana kondisi korban lainnya Dok?" Naya masih penasaran karena Nay masih ingat banyak kendaraan lain yang terpental.
Dokter tidak bisa menjelaskan detailnya, Arvin mengucapkan terima kasih karena dia yang bicara.
Senyuman kecil Arvin terlihat, menarik kursi untuk duduk di samping Nay, memintanya untuk tenang dan berpikir jernih.
"Vin, bagaimana kondisi orang-orang itu?"
"Memang banyak korban, tapi hanya cendera kecil juga kendaraan yang hancur. Korban yang paling parah kamu karena terpental, juga pengemudi mobil," jelas Arvin menyebut nama Erin.
Kepolisian sudah menyelidiki jika kecelakaan disengaja, Erin berniat untuk mencelakai Naya tanpa berpikir panjang.
Masalahnya polisi tidak bisa menahan Erin, bahkan dia tidak ingin memberikan keterangan, kondisinya juga memperihatinkan sehingga Arvin menutup kasus kecelakan Naya.
"Bagaimana kondisi Erin?"
"Saat ini dia lumpuh Nay, menolak bicara dan masih dalam penanganan psikologi. Orang tua Erin juga tidak stabil terutama ibunya."
"Kasian Erin," ucap Naya yang prihatin.
__ADS_1
"Nay, maafkan aku. Seandainya kita tidak saling mengenal mungkin hal ini tidak mungkin terjadi, aku penyebab kecelakaan ini," ujar Arvin yang merasa sangat bersalah.
Kepala Naya menggeleng pelan tidak ada yang salah, apa yang terjadi sudah jalannya. Naya tidak ingin Arvin merasa segan hanya karena kecelakaan.
Erin hanya gelap mata karena cinta, dia juga mungkin menyesali keadaannya. Jika waktu bisa diputar kembali tidak ada yang ingin mengalami kecelakaan.
"Vin, jangan salahkan diri kamu, aku baik-baik saja. Mungkin saat ini butuh pemulihan, tapi semuanya akan membaik."
"Aku tidak enak, rasanya ingin marah kepada Erin, tapi kondisinya juga tidak baik, aku harus bagaimana?"
"Maafkan Erin, jangan diungkit lagi. Aku wanita kuat Dra jangan ... Maaf Vin." Naya menundukkan kepalanya karena menyebut Andra.
Senyuman Arvin terlihat, dia sangat memaklumi apa yang ada di pikiran Naya. Sayangnya Andra sudah pergi, bahkan tidak memberikan salam perpisahan.
Bukan hanya Naya yang kepikiran Andra, Arvin juga memikirkannya. Lelaki pemarah dan keras kepala memulai hidup mandiri.
"Kanaya," sapa Mama yang datang setelah pulang dari restoran.
"Tante, Naya baik-baik saja."
"Ya tuhan, syukurlah. Akhirnya kamu bangun, beberapa minggu ini kita semua sedih melihat kondisi kamu." Mama mengusap air matanya yang merasa lega melihat perkembangan Naya.
Pertama kalinya melihat Naya menangis, selama ini sangat tangguh bahkan sempat ragu jika Naya seorang wanita.
"Jangan menangis, jika ada Andra pasti akan tertawa. Impian Andra membuat kamu menangis." Senyuman Agra terlihat, mengusap air mata Nya, menyalahkan Mamanya yang duluan menangis.
"Andra pasti akan mengatakan, ternyata Naya memang manusia mempunyai kelenjar air mata," canda Arvin membuat Naya tersenyum, tapi tidak bisa menghentikan air matanya.
Orang yang biasanya selalu membuat darahnya naik memilih pergi, Naya juga tidak bisa menghentikannya.
"Suatu hari Andra pasti kembali, jangan sedih." Tangan Agra mengusap lembut kepala Naya.
Anggukan kepala Naya pelan, dirinya juga berharap bisa bertemu kembali. Apa yang Andra katakan saat mabuk ternyata benar adanya.
Teriakan dari depan pintu terdengar, pintu terbuka kencang. Seorang wanita mencaci maki Naya karena membuat Putrinya terluka.
"Kembalikan anakku, perempuan sialan!"
__ADS_1
"Siapa pelaku dan siapa korban, kenapa kalian menyalahkan Naya padahal Erin yang sengaja menabraknya?" bentak Tante dengan nada tinggi.
"Jika dia tidak ada hubungan dengan Arvin tidak mungkin Erin melakukannya!"
"Jika begitu salahkan Arvin, bukan Naya."
Tawa terpingkal-pingkal terdengar, merasa lucu melihat seorang janda yang ditinggal suaminya untuk hidup bersama selingkuhannya.
"Sadar diri Maria, kamu ditinggalkan oleh suami karena apa? Ada wanita yang jauh lebih dari kamu. Jika wanita ini tidak menggoda Arvin, tidak mungkin dia berpaling." Dada Mama Mar didorong kuat.
"Kamu salah, bukan karena digoda, tapi suamiku yang mengejar cinta selingkuhan. Wanita itu tidak pernah mengatakan aku mencintainya, tapi suamiku yang mengatakan jika dia mencintai wanita lain, rasa cintanya kepadaku sudah hilang, bahkan kehadiran Putraku tidak membuatnya bertahan. Apalagi Arvin dan Erin yang dijodohkan tanpa cinta." Tawa Mama Mar terdengar karena apa yang terjadi kepada Erin bukan salah Naya juga Arvin, tapi salah kedua orangtuanya yang menjodohkan untuk bisnis.
Tangan wanita dihadapan Mama terangkat ingin menampar, tapi tangannya ditahan oleh seorang pria yang menatap tajam.
"Aku sudah berbaik hati menarik kasus ini karena kasihan kepada Erin, tapi jika kamu terus berulah maka jangan salahkan aku jika bukan Erin yang mendekam di penjara, tapi kamu."
"Sekarang kalian berdua kompak sekali, satunya lelaki duda yang membunuh istrinya sendiri, dan satunya lagi janda yang ditinggal suami, kalian sangat cocok," sindir maminya Erin tidak terima dengan kondisi putrinya.
Arvin berdiri mendekat, tapi Agra menahannya. Tidak akan ada akhirnya jika diladeni.
Mami Erin juga stres seharusnya mereka memaklumi meksipun semuanya karena kebodohan Erin.
Pintu tertutup kuat, Mami pergi setelah memberikan ancaman kepada Naya yang membuat Putrinya celaka.
"Tante maafkan Arvin, ini salahku sampai Tante yang dihina." Tubuh Arvin membungkuk.
"Apa yang kamu lakukan, ini bukan hinaan, tapi memang faktanya. Tante sudah jauh lebih baik dan sudah mulai bahagia dengan pilihan yang sekarang, cukup ada Agra, tidak butuh cinta lain." Senyuman Mama terlihat, mengusap punggung Arvin yang harus kuat dengan hinaan siapapun.
Ucapan baik akan kembali baik, tapi ucapan buruk juga akan kembali kepada dirinya sendiri sebuah keburukan.
"Tante maafkan Naya."
"Kenapa kamu minta maaf, cepatlah sembuh biar bisa kuliah lagi, kita kerja di restoran lagi sama-sama. Tante kewalahan kerja tanpa kalian, apalagi Prilly sering diam tanpa Alis dan Naya." Mama memeluk lembut Naya karena kasihan kepada gadis sebatang kara yang sedang berjuang untuk bahagia.
"Nay bukan karyawan restoran, apa Naya dipecat dari kantor?" helaan napas Naya terdengar karena tepaksa dirinya jadi pelayan restoran.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira