
Selesai pesta larut malam, pinggang Arvin rasanya ingin patah karena banyak berdiri tiduran di atas ranjang kamarnya.
"Kak Vin tolong bantu buka kancing belakang," pinta Alis.
"Mau melakukan sekarang?" tanya Arvin.
Kaki Arvin langsung ditendang, diiringi tawa karena Alis merasa malu digoda Arvin yang biasanya cuek dan dingin, tidak pernah menujukkan keromantisannya.
Perlahan baju dibuka, punggung Alis dikecup lembut. Cepat Alis ke kamar mandi untuk ganti baju tidur. Tubuhnya lelah ingin segera tidur.
Panggilan dari luar terdengar, Arvin meminta Alis tidak berlama-lama di kamar mandi karena sudah malam, dia bisa masuk angin.
"Sayang, ngapain?"
"Ini sudah selesai, bajunya susah di buka."
"Bilang, aku bisa bantuin." Senyuman Arvin terlihat mengandeng tangan Alis untuk naik ke atas ranjang.
Mata Alis terpejam tidur memunggungi Arvin karena dia lelah tidak ingin melakukan apapun.
Pelukan dari belakang terasa, mengecup punggung untuk kesekian kalinya. Mata Arvin juga terpejam ingin tidur.
"Nanti ya, Alis capek soalnya."
"Iya tidak apa, lagian bisa memeluk seperti ini saja aku senang." Senyuman Arvin terlihat meminta Alis membalik badan.
Tidak berlama-lama, Alis langsung balik badan memeluk suaminya. Kedua tangan Arvin mendekap erat.
Gedoran terdengar dari luar, Arvin Alis angkat kepala mendengar suara pintu terketuk kuat begitupun dengan bel kamar.
"Tuan Arvin buka, Prilly mau masuk," teriakan terdengar.
"Mau apa dia ke sini?" Arvin langsung membuka pintu melihat Prilly bawa bantal guling.
Kedua pundak Agra terangkat, dia tidak tahu apa yang diinginkan istrinya sampai menganggu pengantin.
"Sayang, kamu tidur sama Arvin saja. Aku sama Alis tidur di kamar Naya." Senyuman Prilly terlihat meminta Alis keluar.
Gedoran di kamar Andra terdengar, dua orang yang sedang bertengkar saling pandang. Naya begegas mencari bajunya karena hanya menggunakan baju tidur seksi.
"Siapa yang ganggu jam segini?" Andra melihat jam pukul satu malam.
"Kanaya, buka pintunya."
"Dra, apa misteri hotel di malam pertama itu benar adanya?" Naya melangkah mundur duduk di pinggir ranjang.
"Suara Kak Prilly," ucap Andra sangat yakin.
"Dia bisa menirukan suara siapapun." Naya merinding, Andra langsung ketakutan.
Teriakkan terdengar sangat kencang, Kanaya langsung lari buka pintu melihat Prilly teriak histeris.
"Apa yang kamu lakukan, bagaimana jika orang lain terganggu," bentak Agra menarik tangan Prilly.
"Naya tidak mau buka pintu, Prilly mau tidur." Kepala Prilly tertunduk, air matanya menetes hatinya terasa sakit karena dibentak.
"Ada apa, kenapa kumpul di luar kamar?" Naya menatap Prilly yang menangis.
Alis menjelaskan apa yang terjadi, dia tidak masalah harus tidur bertiga selama bisa menyenangkan hati Prilly.
"Ayo kak kita masuk tidur," ajak Alis, tapi Prilly sudah tersinggung.
__ADS_1
"Aku mau pulang," ucapnya dengan nada putus-putus.
Bantal guling dibuang, Prilly lari membuka lift. Naya langsung mengejarnya begitupun dengan Alis meminta maaf karena membuka pintu lama.
Agra langsung meminta maaf, tapi tidak ada respon. Prilly mematung. Pelukan Agra erat merasa bersalah sudah membentak.
"Mau tidur atau tidak?" tanya Andra dengan nada tinggi.
"Mau," jawab ketiganya.
Tiga wanita langsung masuk kamar Naya, Andra garuk-garuk kepala karena malam pertama dikacaukan oleh bumil belum terdeteksi.
Kedua tangan Agra terangkat meminta maaf karena dia juga tidak tahu harus berbuat apa, baru dibentak dikit langsung marah.
"Sekarang kita tidur di mana?" tanya Avin.
"Tidak tidur," balas Agra menghubungi pihak hotel untuk mendapatkan tes pack, dia penasaran dengan istrinya yang aneh.
Kepala Naya terangkat, duduk di tengah sekali. Alis juga bangun tidak bisa tidur melihat tiga pria asik main game di ponsel masingmasing.
"Gra, mana tes pack nya?"
"Sabar Nay, aku telepon lagi."
"Buat apa Naya?" tanya Prilly.
"Kamu periksa mungkin saja hamil, kenapa anak kalian jahil sekali?" Naya menatap sinis karena rasa mengantuk dan lelahnya.
Rasa penasaran Naya lebih besar, baru tahu jika wanita hamil bisa menganggu dan bersikap aneh.
Pelayan tiba merasa binggung melihat satu kamar ramai, tidak ada keberanian untuk bertanya langsung pergi begitu saja.
"Kak Prilly gunakan ini," pinta Alis membaca terlebih dahulu cara menggunakan.
"Cepatlah, kita ini yang tidak aman, belum sempat bercocok tanam sudah diganggu." Andra memonyongkan bibirnya.
Tawa Arvin terdengar memukul punggung Andra tidak ada sopan-sopannya kepada Prilly yang lebih tua. Agra ikut menemani karena merasa gelisah berharap ucapan temannya benar.
"Baru kali ini cek kehamilan didampingi pengantin baru," gumam Arvin melihat Prilly dan Agra keluar kamar mandi.
Semuanya kumpul melihat ke arah meja, menunggu hasil dari beberapa tes pack yang digunakan.
"Apa tes pack ini berguna?" tanya Alis.
"Lihat garis dua, tapi kenapa yang lain belum muncul?" Naya menatap delapan test pack dengan merek berbeda.
"Sebenarnya hamil tidak?" tanya Prilly hampir menangis.
Terguran dari luar kamar terdengar, Mama dan Mami masuk melihat pengantin gila berkumpul jadi satu seperti sedang jaga lilin.
"Kembali ke kamar masing-masing, pantas saja para pelayan berkumpul bergosip." Mami menatap tajam.
"Ma, ini hamil tidak?" tanya Agra menunjukkan test pack.
Mama berjalan masuk, jantungnya berdegup kencang melihat banyak test pack di meja. Antara senang dan takut.
"Milik siapa? Alisha, Kanaya." Mami melotot besar.
"Punya Prilly, tidak mungkin punya Alis, baru saja mengucap janji langsung jadi."
"Ya kali saja membuahi dulu," sindir Mami melihat test pack yang menunjukkan garis dua semua.
__ADS_1
Senyuman Agra terlihat begitupun dengan Prilly, matanya berkaca-kaca merasa sangat bahagia melihat garis dua.
"Selamat Kak Prilly," ucap Arvin ikut senang.
"Selamat Agra, akhirnya kita jadi ayam." Mulut Andra ditutup, Agra tidak mau anaknya dibagi-bagi.
Tawa Arvin terdengar karena Andra masih bisa melawak, bisa-bisanya Agra tidak menyimak ucapan Andra.
Kanaya memeluk Prilly dan Alis, ketiganya lompat-lompat kesenangan, tangan Agra menahan perut istrinya takut terjadi sesuatu.
Mama dan Mami berpelukan bahagia, Papa dan Papi juga datang bersama Raya melihat semuanya berpelukan terharu.
"Prilly hamil, kita jadi Nenek." Mami memeluk erat suaminya.
"Seriusan, sudah dicek?" Daddy tersenyum lebar menganggukkan kepalanya.
Senyuman Andra terlihat, Kanaya juga tersenyum karena kabar bahagia datang secara berturut-turut tanpa henti.
Sebuah hadiah yang tidak ternilai harganya, sesuatu yang begitu berarti untuk meneruskan tahta.
"Ayo kita balik ke kamar." Prilly berjalan keluar bersama Agra.
"Akhirnya kita bisa tidur." Arvin bernapas lega menarik tangan Alis untuk lanjut tidur.
Mama, Mami, Papi dan Daddy begegas kembali ke kamar, besok pagi mereka akan merayakan kehamilan Prilly.
"Akhirnya mereka semua keluar!" Andra banting pintu kamar.
"Hari ini Naya bahagia sekali, selain kita kumpul, ada hadiah indah juga." Senyuman Naya terlihat lebar.
"Haruskan kita membuatnya juga?" Andra menarik tangan Naya.
Tawa Naya terdengar, tidak menyangka mereka bisa sampai di masa dewasa dan masih bersama.
"Andra, aku sangat mencintai kamu."
"Apalagi aku, kita harus menua bersama membuat banyak anak."
Kepala Naya mengangguk, berjanji untuk selalu bersama, hingga bertemu dengan season selanjutnya Andra dan Kanaya junior.
"Sampai bertemu dua puluh tahun ke depan Naya, aku ingin melihat anak kita di masa itu."
"Kita pasti bertemu di dua puluh tahun ke depan." Naya memeluk Andra erat.
Kedua memejamkan mata sambil berpelukan, mengakhiri cerita dan dilanjutkan di masa depan.
***
TAMAT.
***
Follow Ig Vhiaazaira
***
Mau liat season 2 untuk anaknya aku lanjut di buku lain.
Mungkin kalian merasa bab dikit, sebenarnya banyak tapi aku gabung biar dikit.
Kalian juga pasti aneh kenapa tidak ada malam pertama, sejak awal cerita ini kisah remaja bukan dewasa, jadi maklum aja.
__ADS_1
SAMPAI BERTEMU DI SEASON DUA.
Bulan depan BIGBOSS TAYANG