
Tiga wanita berkumpul berhadapan dengan tiga lelaki yang terkenal di kampus, ada beberapa mahasiswa gagal pulang karena penasaran.
"Aku malas sekali ada Alis di sini, nanti kalah nangis," sindir Andra yang paham betul kepada Adiknya.
"Alis juga malas, kenapa juga orang luar kampus bisa masuk ke sini." Tatapan Alis melihat Prilly yang hanya bisa geleng-geleng.
Kedua tangan Naya merangkul Alis dan Prilly, dirinya tahu jika Alis hanya anak manja, sedangkan Prilly tahunya bela diri. Bahkan Naya hanya bisa main ala kadarnya.
Lawan mereka bukan orang sembarangan, Andra kapten basket, Agra sang alih olahraga, bisa bermusik juga tanding basket, hanya Arvin yang bisa dianggap santai.
"Kita bertiga harus kompak untuk menang, lumayan gratis makan setahun," pinta Naya.
"Aku bisa main basket Nay, Arvin juga tidak selemah yang dibayangkan." Prilly tahu jika Arvin sangat cepat dalam bermain.
"Alis juga bisa, jangan-jangan di sini Kak Nay bebannya?" Lirikan mata Alis tajam
Senyuman Kanaya terlihat, dirinya tidak hebat bermain basket, tapi cukup lumayan bisa meksipun banyak tidak bisanya.
"Oke, kali ini kita kompak. Kalahkan tiga pria populer demi makan satu tahu." Alis memeluk Nay dan Prilly yang batuk-batuk karena tercekik.
"Sudah belum rembukan, lama sekali." Andra mengambil bola meminta Naya maju untuk rebutan.
Sorakan dari penonton terdengar, Andra tersenyum manis di hadapan Naya yang menatapnya tajam.
Tidak ada yang mendukung tim Naya, tujuan orang menonton hanya karena melihat tiga pria tampan berada di satu lapangan.
"Sudah siap kalah belum?" tanya Andra sombong.
"Tidak semudah itu Andra, jangan meremehkan tim wanita hanya karena kalian populer." Nay melempar bola ke tas, mengukur tingginya bersama Andra yang beda tipis.
Tangan Naya bertopang di pundak Andra sampai dia membungkuk, Nay merebut bola karena dua temannya sudah mau.
"Nay curang, baru juga main." Andra memegang pundaknya.
"Dra, kamu jauh lebih tinggi dari Naya bisa kalah," bentak Arvin kesal.
"Bagaimana bisa jauh, tinggi Naya di mataku, jarak berapa centimeter."
"Kenapa bertengkar? maju." Agra memukul punggung Arvin dan Andra yang debat.
Alis melompat sampai bola masuk ke dalam ring, ketiganya bersorak saling berpelukan karena berhasil memasukkan bola.
Penonton kecewa, menyemangati Andra dan kedua temannya untuk menyerang balik, tidak mungkin kalah dari dua wanita.
__ADS_1
Prilly menggiring bola, Naya dan Alis sudah maju. Agra mencoba merebut bola, tapi gerakan Prilly tidak kalah cepat.
"Nay, ambil." Tatapan mata Prilly melihat ke arah Arvin yang jauh lebih tinggi dari Nay sudah menghadang.
Bola lemparkan ke arah Alis, tapi Andra merebutnya sampai Alis terjatuh tanpa dipedulikan.
Naya berlari ke arah Andra, bergerak cepat tanpa bisa Andra duga. Secara tiba-tiba bola hilang dari tangannya.
"Lis, tangkap." Naya melemparkan kepada Alis.
Bola masuk ring kedua kalinya, tawa Alis dan dua temannya terdengar mengejek Andra dan tim.
"Gila memalukan," gumam Andra menatap Agra dan Arvin yang kalah cepat.
"Dra, kenapa bola bisa lepas?" Avin memukul bahu Andra untuk fokus.
"Ayo teman-teman, jika satu kali lagi masuk kita kehilangan harga diri." Senyuman Andra terlihat, mengusap keringatnya yang bercucuran.
Tawa pelan Agra terdengar, ketiganya berdiri melihat tiga wanita sombong yang bergerak kembali.
Demi harga diri tidak boleh kalah lagi, Andra maju lebih dulu, Agra juga maju menyerang Naya merampas bola melempar ke arah Arvin yang sudah ada di depan, memasukkan bola dengan mudahnya.
Teriakan histeris terdengar sampai lompat-lompat saat melihat bola berhasil masuk.
"Melewati kalian bertiga terlalu kecil." Arvin tersenyum merangkul kedua sahabatnya.
Permainan dimulai kembali, tim Naya kalah lima skor. Masih santai dan tenang, berbeda dengan tim Andra yang sudah ngos-ngosan.
"Mereka bertiga mulai lelah, waktunya beraksi." Nay mengedipkan matanya menyemangati.
Senyuman Prilly dan Alis terlihat, ketiganya maju secara bersamaan, tiga pria binggung sampai bola di tangan Arvin berpindah ke tangan Alis.
Bola dioper ke arah Naya, dari kejauhan di lempar langsung kebablasan. Teriakkan Naya, Alis dan Prilly menggema.
Ketiganya berpelukan, melupakan sejenak jika ada masalah pribadi. Naya menjulurkan lidahnya kepada Andra.
Sampai permainan berakhir tim cewek menang, Andra terguling kelelahan begitupun dengan Arvin dan Agra yang ngos-ngosan.
"Kita sudah lama tidak berolahraga, jadinya sakit semua." Agra menatap lampu yang sudah dihidupkan.
"Pertama kalinya dikalahkan, tidak ada untungnya permainan ini. Kalah dibilang cupu, menang juga dibilang kejam karena mengalahkan wanita." Andra memejamkan matanya karena lelah.
"Selamat mentraktir makan setahun Dra, aku harap kamu tepat janji." Senyuman Arvin terlihat karena Andra harus menghidupi Naya selama satu tahun.
__ADS_1
Tubuh Naya membungkuk ke arah kepala Andra, memintanya menepati janji untuk traktir makan.
"Dra," panggil Nay.
Arvin dan Agra melihat ke arah wajah Naya, jantung keduanya berdegup tidak biasanya. Melihat senyuman Naya begitu indah dan cantik.
Mata Andra terbuka, melihat wajah Naya yang ada di hadapannya. Lirikan mata Andra tajam tidak suka melihat Naya menang.
"Singkirkan wajah kamu yang mirip kuntilanak, aku tidak tertarik menatapnya." Andra memejamkan matanya kembali.
"Kamu harus tepat janji, Arvin Agra kalian berdua saksinya." Nay meminta Andra mentraktir makan.
Andra bangkit dari tidurnya, meminta Naya membantunya berdiri karena sangat kelelahan setelah lama tidak bermain.
Tangan Nay terulur, Andra meyambut menarik Naya. Posisi Naya yang belum siap langsung jatuh di dalam pelukan Andra.
"Dra, mati kita." Agra langsung berdiri.
"Mampus kamu Naya." Avin juga berdiri.
Teriakan histeris banyak orang terdengar melihat Naya jatuh di atas tubuh Andra, lebih buruknya lagi, bibir keduanya bersentuhan.
Kepala Naya terangkat, langsung berdiri menutup mulutnya yang menyentuh bibir Andra.
"Bodoh, cari mati kamu?" Andra mengusap bibirnya yang mendapatkan kecupan.
"Bukan salahku, tapi kamu sendiri yang menariknya." Naya membela dirinya jika belum siap menarik, tapi sudah ditarik balik sampai jatuh.
"Lakukan lagi, nanti bibir aku koreng. Jika satu kali bersentuhan maka harus dihapus," bentak Andra agar Naya mengulangi kembali.
"Gila kamu Dra." Kaki Naya menginjak perut Andra langsung melangkah pergi karena menahan malu bersentuhan bibir di depan umum.
Tangan Alis bertepuk, Prilly juga melakukan hal yang sama. Andra kali main, menang banyak bisa mendapatkan kecupan.
Alis tersenyum meminta Agra juga memberikan kepada karena sudah menang. Agra langsung menahan kepala Alis yang nyosor.
"Kenapa hati aku sakit melihatnya?" batin Arvin.
Andra berdiri dari duduknya melangkah pergi tanpa menatap siapapun. Agra menatap punggung Andra dengan perasaan tidak enak.
Melihat langsung kecupan, sungguh menyakitkan.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira