KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
SUDAH DEWASA


__ADS_3

Lirikan mata Andra tajam, dia sudah balik apartemen, tapi Agra belum juga selesai dengan pekerjaan.


"Sial Gra, aku menunggu hampir satu jam, balik apartemen bolak balik hampir dua jam, menunggu lagi sampai matahari terbit. Jika tahu begini lebih baik aku tidur," ucap Andra yang kesal kepada sahabatnya.


"Sorry ternyata kerjanya banyak dan tidak semudah yang aku pikirkan, wartawan saja mampu menunggu, masa Lo enggak?"


Tangan Andra menggaruk kepala dan badannya yang gatal semua karena belum mandi, Agra juga sama merasakan tubuhnya gatal.


"Apartemen aku dekat sini, lebih baik kita Mandi sebelum pergi," tawar Agra yang tidak betah lagi penuh keringat.


Tidak ada pilihan, Andra setuju karena tubuhnya juga gatal semua. Tidak mungkin pergi ke luar kota dalamkeadan gatal-gatal mirip monyet.


"Setir mobilnya, aku tidak sanggup lagi." Andra memejamkan matanya memilih tidur.


"Kenapa kamu sempat pulang, apa ada masalah?"


Kedua pundak Andra terangkat, engan bercerita karena buka hal yang penting, dia juga kesal melihat hubungannya.


"Dra, sesekali cerita ada masalah apa, jangan diam terus. Kamu tidak mungkin pergi jika kita bisa membantu, maaf," ucap Agra yang ingin Andra sesekali berbagi masalahnya.


Tawa kecil Andra terdengar, tidak membuka matanya, dia tidak berpikir jika pergi karena ada masalah. Andra sudah memikirkan apa yang harus dirinya lakukan untuk ke depan.


Menunggu dan berdiam diri tidak akan memberikan solusi apapun, Andra memang harus merintis dari nol untuk menemukan arah yang drinya cari.


"Tiap orang punya masalah, tapi tidak semua masalah bisa dibicarakan."


"Tahu, tapi tetap saja sebagai sahabat masih ada harapan untuk saling berbagi. Kita tidak bisa meringankan setidaknya bisa menemani." Pukulan Agra pelan di pundak Andra.


"Syifra ke apartemen, dan mencari tahu soal Naya," ujar Andra pelan.


"Apa tunangan kamu bosan hidup, dia cari masalah dengan Naya yang sejak dulu tidak bisa berdiam diri." Gelengan kepala dua pemuda terlihat jika teringat Naya yang alih bela diri.


Hal yang sama Andra cemaskan jika dia diam saja, maka hidup Syifa semakin singkat, Naya tidak main-main jika memukul orang.


"Gra, apa Naya pernah memukul seorang wanita?"


"Sejauh ini belum, oh iya Naya tidak pernah memukul wanita, semua lawannya laki-laki." Mobil Agra berhenti di apartemen mewah, salah satu deretan para artis.


Keduanya keluar, berjalan ke arah kamar. Andra menceritakan jika memiliki pacar sangat ribet dan menganggu pekerjaannya.


Apalagi dengan setumpuk aturan, Andra tidak sanggup berurusan dengan para wanita cerewet, jika Syifa terus bersikap keras kepala Andra tidak tahu di mana akhir hubungan mereka.


"Jangan mudah-mudah mengakhiri hubungan Dra."


"Mau bagaimana, memiliki pasangan tujuannya apa? Jika hanya menambah pusing mendingan tidak ada, pekerjaan aku sudah numpuk jangan sampai wanita menambah lagi semakin tinggi tumpukan." Sejujurnya Andra tidak ingin berpisah, niatnya sudah tulus untuk menikah, tapi Syifra bersikap aneh.


Agra bisa memaklumi perubahan Syifra,dia hanya mencemaskan Andra akan kembali ke masa lalu.


"Gra, masa lalu hanya milik cerita, setidaknya aku milik dia."


"Kata-kata yang bagus, aku harus membuat lagu untuk kisah cinta kalian." Tawa Agra terdengar menemukan lirik yang tepat.


"Jangan sibuk membuat lagu untukku, sandar dengan kisah percintaan kamu yang berakhir di perjodohan." Gigi nyengir saat Agra melemparkan bantal sofa.


Mendengar Andra membahas soal Prilly, Agra mencoba menghubungi kembali. Panggilan dijawab meskipun diiringi suara Naya dan Alis yang sedang debat.


"Ada apa Gra?"


"Aku baru pulang kerja, hari ini melelahkan sekali Pril."


Kepala Prilly tertunduk ia tahu jika Agra baru pulang kerja karena mendapatkan laporan dari beberapa staf.


Mereka semua memohon agar Prilly kembali, Agra kacau balau tanpanya, mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk satu foto.


"Prilly, ayo cepat siap-siap kita pulang," teriakkan Alis terdengar.


Agra yang mendengar suara Alis terkejut, belum sempat menyusul sudah ingin pulang. Agra memukul rajang karena Prilly pasti plang bersama Andrean.


"Aku pulang dulu Gra, nanti kita bicarakan lagi. Lebih baik sekarang kamu tidur, nanti malam ada acara penting." Pril mematikan panggilan tidak menunggu jawaban Agra.


"Ada apa?" Naya duduk mendekat, melihat ekpresi wajah Prilly.


Air mata Prilly menetes merasa sedih karena kerjaan Agra berantakan. Tidak tega jika ada hate komen yang menjatuhkan.


"Aku rasa sarannya Arvin patut dicoba, jangan menangis sendirian, siapa tahu Kak Agra juga memiliki rasa yang sama," saran Alis sambil melangkah keluar kamar.


Di depan pintu kamar sebelah sedikit terbuka, Alis berjalan perlahan masuk ke kamar Arvin karean berniat menjahilinya.


Langkah Alis terhenti saat mendengar Arvin sedang menjelaskan sesuatu soal medis, punggung lebar tanpa busana hanya menggunakan handuk di pinggang.


"Hubungi aku terus untuk mengetahui kondisinya, besok pagi aku akan mengecek langsung." Arvin mematikan panggilan.


"Sempurna," ucap Alis yang mengambil potret punggung dari belakang.


Kepala Arvin menoleh, menatap Alis yang sangat jahil sengaja memotret dirinya tanpa baju. Wajah Arvin juga tidak luput dari kameranya.


"Apa yang kamu lakukan, bagaimana caranya bisa masuk sini?"


"Pintu tidak terkunci," jawab Alis tersenyum manis.


Tangan Arvin menadah meminta Alis memberikan ponselnya, Arin tidak suka ada yang menyimpan fotonya secara sembunyi.


Kepala Hollis menggeleng, tidak ingin memberikan karena ingin mengoleksi foto pria seksi.


Tangan Arvin yang berukuran besar ingin merampas, tapi Alis berusaha menghindari. Tubuh Alis terpojok di meja rias, menyembunyikan ponsel dibelakang tubuhnya.


"Kak Arvin, tidak mau." Suara Alis teriak sangat besar, tapi tidak ada yang akan mendengarnya.


"Hapus sekarang." Arvin meremas tangan Alis kuat.


"Kakak sakit, tangan Alis patah." Bibir manyun terlihat memukul dada Arvin.


Mulut Alis terbuka ingin mengigit, tapi kepalanya hanya sampai dada, tubuh Arvin terlalu tinggi untuk dirinya yang pendek.

__ADS_1


Kedua tangan Arvin menyentuh pinggang kecil, mengangkat sampai duduk di atas meja. Kedua tangan menopang di meja, kepala Arvin mendekati wajah Alis.


"Lis, kamu bukan anak kecil lagi, tidak sepantasnya berada di kamar pria. Apalagi mengambil foto secara ilegal," jelas Arvin yang menatap mata indah wanita dihadapannya.


"Alis menyimpannya untuk koleksi sendiri, badan Kak Arvin bagus, Alis suka." Senyuman manis terlihat memohon agar dirinya dilepaskan.


"Aku tidak mengizinkan," balas Arvin tetap menolak.


Kepala Alis menoleh ke arah lain, tidak ingin menghapus karena sudah terlanjur tersimpan. Apa yang sudah menjadi miliknya, tidaka akan dikembalikan.


"Yakin tidak ingin menghapus?"


"Iya, Alis suka. Kak Arvin semakin dewasa tambah seksi, dadanya, punggung, bahkan otot lengan juga terlihat, Alis lebih suka melihat perutnya." Kedua tangan Alis menutup mulutnya karena sudah lancang bicara apa yang dilihatnya.


Kepala Arvin geleng-geleng, Alis terlalu jujur dan menikah dengan puas pemandangan pria setengah tanpa busana.


"Apa kamu sering melakukan ini?"


"Tidak, hanya kepada Kak Arvin, soalnya kalau lihat Kak Agra terlalu banyak saingan, Kak Andra bisa hilang kepala Alis, jika cowok lain bisa bahaya." Tawa Alis terdengar tidak mungkin berani melakukan kepada orag selian ketiga kakaknya.


"Aku bukan kakak kamu, setidaknya pikiran aku sama seperti lelaki lain," ucap Arvin membuat Alis terdiam.


Tatapan mata keduanya sama-sama tajam, Arvin mengecup bibir Alis, satu tangannya menyentuh wajah, mata Alis terpejam meremas kuat ponselnya.


Tidak ada ad ruang untuk melarikan diri, kedua tangan Arvin sudah menangkup wajahnya. Bibir Alis merah, pertama kalinya bagi Alis sungguh otaknya tidak bisa mencerna.


"Kak Arvin," panggil Alis merasakan bibirnya perih.


"Jangan pernah masuk ke kamar lelaki, pikirannya sama saja. Aku pria dewasa bukan anak kuliahan lagi, bisa saja aku meniduri kamu tanpa pikir panjang." Perkataan Arvin tidak ada basa-basi dia langsung ke inti sehingga Alis hanya bisa terdiam.


"Ini kissing pertama Alis, kenapa Kak Arvin mengambilnya?"


"Salah sendiri mengambil foto sembarangan, aku bisa berbuat lebih jika tidak menghormati Andra." Tubuh Arvin melangkah mundur mengambil bajunya di lemari.


"Apa semua wanita diperlakukan seperti ini, ternyata Kak Arvin sangat murahan," bentak Alis yang meminta diturunkan.


Kepala Arvin menoleh, melingkarkan tangannya pinggang, membantu Alis untuk turun.


"Pertanyaan Alis belum dijawab?"


"Ya, aku sudah biasa melakukanya. Hanya satu yang belum aku lakukan, bercinta soalnya tidak siap menanggung anak orang."


"Dasar pria jahat, berani berbuat maka harus tanggung jawab." Alis mendorong dada Arvin agar menjauh.


Tawa Arvin terdengar, istilah itu hanya kata-kata yang sudah basi dikalangan anak muda. Seharusnya wanita yang paham jika sekali terjerumus langsung rusak, berbeda dengan lelaki yang tidak ada kata rusaknya.


Suara Alis meringis terdengar, kakinya terkena pinggiran meja sampai berdarah. Arvin menarik pelan tangan untuk duduk di pinggir ranjang.


"Masih ceroboh seperti dulu, kaki sampai berdarah."


"Biarkan saja, nanti sembuh sendiri."


"Benarkah, apa yang barusan aku lakukan bisa sembuh sendiri." Tangan kekar mengusap bibir Alis yang sedikit terluka.


"Alis mau pulang, besok ada urusan ke luar negeri."


"Bersama siapa?" tanya Arvin penasaran.


Wajah Alis mendekat, menjulurkan lidahnya karena tidak ingin memberitahu Arvin siapa yang menarik partner kerjanya.


Tubuh Alis terguling di atas ranjang, tubuh besar ada di atasnya. Mulut terbuka merasakan permainan lidah.


"Sebelum pergi, aku tinggalkan tanda jika ini milikku." Bibir bawah Alis digigit. Baju disingkap, kecupan terasa sampai perih.


Di atas dada Alis membekas warna mewah sebagai tanda milik, tidak diizinkan bertemu lelaki manapun.


Mata Alis masih terpejam, tidak mengerti arti dari sentuhan hangat ditubuhnya. Arvin tidak pernah menganggap sebagai adik, melainkan wanita.


"Kak Arvin nanti Mami tanya, Alis jawab apa?"


"Katakan saja jika sudah siap punya mantu, Daddy akan datang melamar," jawab Arvin yang tiduran di samping Alis menenangkan pikirannya yang mulai liar.


Jantung Alis berdegup kencang, tidak mengerti maksud dari ucapan Arvin, beberapa kali mencoba memukul wajahnya karena masih tidak percaya.


"Maksudnya apa, tolong jelaskan?"


"Jika kamu punya pacar putuskan saja secepatnya, jika tidak aku pastikan kamu mengandung anakku."


"Ucapan Kak Arvin tidak pernah ada sensornya," tegur Alis kesal.


Tawa kecil Arvin terdengar, dirinya seorang dokter sudah pasti tahu segalanya, Arvin tidak ingin munafik jaga ucapan.


Senyuman Alis terlihat, Arvin yang dulu sepertinya hilang, sekarang bersikap lebih natura dan apa adanya.


Lebih sering mengutarakan perasaan, tidak ingin ambil pusing dengan masalah yang akan menimpanya.


"Kenapa Kak Arvin sekarang lebih terbuka?"


"Aku kebanyakan diam di rumah sakit bisa kesurupan Alisha," jawab Arvin menahan tawa.


"Kakak Arvin, tidak boleh bicara begitu." Pukulan Alis kuat bersamaan dengan tawa Arvin yang terdengar lepas.


Teriakkan Alis terdengar menjambak rambut Arvin yang bicara soal hantu, pintu kamar terbuka lebar. Alis ingin balik ke kamar Naya, tapi dua wanita sudah berjalan keluar dari kamar.


Tatapan mata Naya tajam, melangkah masuk ke kamar Arvin melihat Dokter muda yang sedang asik tiduran di atas ranjang.


"Vin, kamu tidak pulang?"


"Naya, apa aku sekarang banyak berubah?"


Kedua pundak Naya terangkat, dia tidak terlalu menggubris dan ikut campur dengan perubahan selama ke hal baik.


Arvin yang dulu lebih dingin, sesuatu yang normal karena dia menyimpan banyak luka, belum lagi tuntutan dari Daddynya terus membuatnya tertekan.

__ADS_1


Sekarang semuanya membaik, Arvin bebas dengan mimpinya, ada sosok ibu yang selalu mencemaskan, dia memiliki keluarga yang bahagia dan saling menjaga.


"Tidak ada yang berubah dari kamu, hanya keadaan yang berubah. Arvin yang sekarang lebih bisa berdamai dengan keadaan. Arvin yang sesungguhnya seorang pria cerdas yang suka mengutarakan pikiran karena itu kamu bisa menjadi dokter yang hebat." Jempol Naya terangkat lalu pukulan tangannya melayang meminta Arvin cepat berkemas.


"Kenapa kamu tidak berubah selalu ringan tangan?" Paha Arvin perih karena pukulan kuat Naya yang bertenaga laki-laki.


Tidak ada yang perlu dikemas, barang yang dibawa hanya ponsel dan kunci mobil serta dompetnya.


"Kak Andrean, good morning," sapa Alis sambil tersenyum.


"Hai Lis, bibir kamu kenapa?"


Gigit kucing, kenapa Kak Andre tampan sekali. Alis suka sama cowok ganteng, berwibawa dan pekerja keras. Kenapa sukanya sama Kak Prilly seharusnya Alis." Helaan napas terdengar karena Papinya tidak kreatif sekali untuk mencarinya calon suami yang gagah perkasa.


Tangan Arvin tergempal, rasanya dia ingin memukul kepala Alis yang tidak punya pikiran, memuji seorang pria sungguh diluar nalar.


"Kita makan dulu, baru pulang." Andrean mengulurkan tangannya kepada Prilly.


"Hayulah." Alis menyambut tangan Andre.


"Alis, dasar calon pelakor satu ini, tidak peka dengan perasaan orang." Tangan Alis ditarik paksa memintanya segera menjauhi Andrean.


Senyuman Prilly terlihat, menyambut tangan Andrean untuk turun ke bawah. Dia sudah menyiapkan sarapan sebelum pulang.


Pertemuan dengan Andrean tidak disengaja karena dia pemilik dari hotel tempat Naya dan teman-temannya menginap.


"Sudah berapa lama kamu mengelola Perhotelan?" tanya Arvin karena dia dulu tahunya Andrean pengawal Daddy.


"Sudah delapan tahun, Pak Ar yang meminta mengurusnya, dan dalam dua tahun ini sudah bisnis sendiri atas izin Pak Ar untuk berusaha sendiri.


"Bagaimana sosok Daddy di mata Kak Andrean?" tanya Naya yang berpikir pasti pia yang baik.


Jawaban Andre kebalikan dari pikiran Naya, dia tahu jika Daddy pria yang sangat jahat, kejam dan tidak punya perasaan. Belum ada yang berubah, dia hanya baik di depan anak istrinya, namun kepada karyawannya sangat menakutkan jika Tika kuat mental pasti akan stres menghadapinya.


"Daddy tidak takut kehilangan sesuatu kecuali anak istrinya, dia tidak segan bertindak kejam jika apa yang diinginkan tidak mampu digapai." Arvin sudah menduga jika pria yang dianggap baik masih sekeras dulu.


"Meskipun begitu tujuan Tuan Ar baik, dia ingin menjaga perusahaan, bawahannya, keluarga juga ribuan staf." Andrean bangga kepada Daddy, meskipun tidak mampu sekuat dia.


"Kenapa kamu memilih untuk menikah?"


Pertanyaan Arvin juga menjadi pertanyaan Naya yang sangat penasaran, seseorang seperti Andrean seharusnya tidak terlalu memikirkan soal percintaan, dia lebih terobsesi dengan pekerjaan apalagi baru merasakan kesuksesan dari kerja keras.


"Seorang lelaki membutuhkan pendamping," ujar Andrean.


"Bagiamana jika hubungan kalian gagal?" Alis mendekat karena dia siap maju.


Andrean tidak menimpali, dia tidak ingin mengetahui yang namanya kegagalan. Jika bisa merasakan yang namanya kelancaran dalam hal apapun termasuk cinta.


"Kak Naya, apa Alis tidak cantik sampai tidak ada yang suka?" tanyanya pelan.


"Bukan tidak cantik, tapi bukan tipe. Kamu cerewet, rusuh, tidak bisa diam, dan sangat berisik, carilah pria yang satu frekuensi agar bisa saling mengimbangi." Tangan Naya merangkul Alis agar tidak fokus soal cinta, jalan mereka masih panjang dan Naya juga tidak memiliki pasangan.


"Kita sama jomblo ya, Kak."


"Tidak apa, kita jomblo mapan dan cantik." Tawa kecil Naya terdengar mengacak rambut Alis.


Tatapan mata Naya tajam, menyingkap baju Alis. Ada bekas merah yang terlihat jelas dan Naya sangat yakin masih baru.


Saat bangun tidur belum ada bekasnya, tapi keluar dari kamar Arvin langsung berbekas. Naya langsung tahu apa yang terjadi antara keduanya.


"Arvin yang melakukannya?" tebak Naya meksipun dia tahu jawabannya.


Gigi Alis nyengir, menutup dadanya. Dirinya sudah dewasa hal normal melakukannya karena sama-sama sudah dewasa.


Sarapan pagi terasa hening, Naya sibuk dengan pekerjaannya, Prilly juga mengobrol bersama Andrean, sedangkan Arvin sibuk dengan panggilannya.


Alisha sendirian tidak memiliki teman mengobrol, matanya juga mengantuk melihat tiap orang sibuk sendiri.


"Naya, aku ke toilet dulu," pamit Alis yang merasa matanya ngantuk.


Di depan pintu Alis melihat seekor kucing, mengikutinya karena merasa kasihan. Mengikuti sambil membawakan roti .


"Hati-hati itu kucing liar," tegur penjaga hotel.


Langkah Alis berlari kecil mengikuti kucing sambil memanggilnya untuk mendekat, beberapa kucing bersama anak-anaknya berdatangan.


Suara ponsel Alis terdengar, panggilan dari Naya meminta Alis segera ke parkiran karena menunggunya di parkir.


"Aw, aduh sakit." Alis memegang tangannya.


Kucing berlari bersama anak-anaknya, Alisha juga terburu-buru ke parkiran. Melihat semuanya sudah kumpul menunggu dirinya yang lambat.


"Kamu yakin Pril pulangnya bersama Andrean?" Naya merasa tidak enak meninggalkan.


"Iya, kalian pulang duluan saja, kita ingin pergi ke gedung."


"Aku juga belum bisa kembali karena harus ke kota lain, tidak perlu diantar karena ada supir." Naya menatap Arvin yang harus kembali.


Tangan Naya menarik lengan Arvin, menatapnya tajam meminta Arvin jaga perilakunya.


"Kamu apakan Alis? ingat dia itu Adiknya Andra." Kanaya memukul kening Arvin yang melewati batas.


"Aku tahu, lagian hanya sebatas kiss. Kita sudah dewasa Nay, aku bertanggung jawab atas perbuatanku." Arvin menatap kaget langsung berlari ke arah Alis yang mengenggam tangannya penuh darah.


Kanaya juga panik, Arvin gerak cepat menghentikan darah bekas gigitan kucing. Alis terlihat biasa saja, tapi Arvin yang cemas.


"Kita ke rumah sakit saja, tahan Lis."


"Ini tidak sakit, tapi darahnya yang tidak mau berhenti." Alis masih bisa tersenyum.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2