KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PAMITAN


__ADS_3

Senyuman Andra terlihat mentap Naya yang sudah dua minggu belum juga bangun sudah dicobanya untuk menunggu,, tapi sepertinya tidak ada waktu lagi.


"Nay aku pergi. Bertahanlah aku percaya kamu bisa sembuh." Kepala Andra tertunduk merasakan perih dan sesak dadanya.


Andaikan Andra bisa mengatakan kepada orang lain jika dirinya tidak baik sama sekali ada beban yang dipikulnya, tapi selalu menutupi segala lukanya.


"Nay, aku ingin cerita, di mata kamu aku memiliki keluarga yang sempurna, tapi itu tidak benar," ucap Andra terbata-bata.


Tidak banyak yang tahu selain kedua orangtuanya, Adiknya Alisha, dan keluarga inti. Kehadiran Andra tidak pernah diterima oleh siapapun, baik dari keluarga Papi dan Maminya.


Jika bukan karena Mami mungkin Andra sudah dibuang karena dirinya hanya anak dari selingkuhan Papinya.


"Papi mencintai seorang wanita, tapi keluarga Papi tidak merestui, menjodohkan dengan Mami yang bibit, bobot dan bebetnya jelas, lalu aku hadir menjadi bencana." Satu tangan Andra menutup matanya karena merasa sangat bersalah.


Memang bukan kehendak dirinya lahir, tapi seandainya tidak lahir mungkin Mami dan Alisha jauh lebih bahagia.


"Aku pergi, tidak tahu apa kita bisa bertemu kembali." Andra memasangkan gelang di tangan Naya sebagai hadiah ulang tahun.


Andra melangkah keluar tidak melihat jika tangan Naya bergerak, kepala Andra menoleh ke arahnya yang masih terbaring.


Di depan pintu Arvin dan Agra sudah menunggu, melihat mata Andra merah, terlihat sekali kesedihan di matanya.


"Gays, ada yang mau gue bicarakan, mungkin kalian sudah mengetahuinya," ujar Andra melangkah ke kursi tunggu diikuti oleh kedua sahabatnya.


"Ada apa Dra?" tanya Arvin


"Aku akan segera terbang ke luar, dan tidak akan kembali." Kepala Andra tertunduk tidak kuasa menatap wajah kedua sahabatnya.


"Mendadak sekali, tidak bisa ditunda sampai kita lulus?" Agra mentap Andra yang mengepalkan tangannya.


"Sebenarnya ini sudah lama, tapi aku mencoba menahannya. Dua minggu yang lalu sudah diputuskan untuk pergi, aku bertahan karena ingin melihat Naya bangun, tapi kini tdak bisa menunggu lagi." Tanpa Bisa ditahan air mata menetes di lantai, Andra menepis air matanya.


Kepala Arvin menoleh ke arah lain, tidak ada yang bicara karena merasa kesedihan, sejak kecil ketiganya selalu berteman akrab.


"Ya, kita bisa datang ke sana, atau kamu bisa pulang?" Avin menarik pundak Andra untuk menuliskan alamat.

__ADS_1


"Iya Dra, kita masih bisa berkomunikasi, hubungi kita jika kamu kesepian, seandainya ada waktu kita pasti datang." Agra tidak kuasa menahan air matanya.


Andra tidak menjawab hanya bisa diam merasakan pelukan erat dari kedua sahabatnya yang ingin selalu digenggam tangannya.


''Kapan berangkatnya Dra, nanti kita antar." Arvin mengusap punggung.


"Jangan antar av aku, jangan jumpai aku, dan jangan hubungi aku, jika kalian melakukan itu maka aku tidak mungkin bisa pergi." Andra tersenyum meminta keduanya tidak bersedih.


Langkah Andra mendekati kamar rawat Naya, meminta Agra dan Arvin tidak pernah membahas soal dirinya, tidak perlu menceritakan apapun kepada Naya.


"Aku berharap Naya akan segera bangun, dan satu lagi ... Aku titip Alisha."


"Alis aman bersama kita, kamu tidak perlu khawatir," ujar Agra berusaha untuk tersenyum.


"Vin, jangan bertengkar soalnya aku tidak ada, Gra jangan terlalu rajin kamu tidak akan sepintar Arvin. Kalian berdua jaga diri, terima kasih karena sudah menjadi sahabat terbaik." Air mata Andra menetes kembali membuat Arvin dan Agra juga meneteskan air mata.


Kedua tangan Andra terentang, memeluk kedua sahabatnya yang memeluk erat tidak ingin berpisah.


Tangisan Prilly dan Alisha terdengar saling memeluk karena tidak kuasa melihat Andra akan pergi meninggalkan mereka semua.


"Dra jaga diri, sampai di sana berikan kabar agar kita tahu kamu tidak nyasar lagi." Arvin melambaikan tangannya.


"Prilly, tetap semangat. Jangan pantang menyerah."Senyuman Andra terlihat menatap wanita yang selalu mendampingi Arvin.


Tangan Andra terulur, menggenggam tangan adiknya untuk segera pulang. Alis menangis kencang tidak ingin kakaknya pergi.


"Jangan cengeng, ayo pulang." Andra menujukkan senyaman meskipun menahan tangis.


Sepanjang jalan Alis menangis, kakaknya begitu jahat karean menutupi kesedihannya padahal dia tidak kuat.


"Cepat atau lambat hari ini pasti datang, kamu harus mandiri dan tidak berulah lagi, tidak akan ada yang akan membela kamu," ucap Andra pelan.


"Selama ini Kakak tidak pernah membela Alis, tapi Kak Agra yang melakukannya. Kak Andra setiap hari hanya memarahi Alis, membentak dan berprilaku kasar, Kakak ingin Alis membenci, tapi Alis sayang sama Kakak." Tangisan kencang terdengar memeluk lengan Andra tidak mengizinkan pergi.


Tangan Andra mengusap kepala Adiknya, meminta berhenti menangis sebelum Mami banyak tanya.

__ADS_1


Andra tidak ingin saat dia pergi banyak air mata, dirinya hanya pindah negera untuk menemukan perusahan juga pendidikan bukan pergi ke medan perang.


"Kak Andra belum pamitan kepada Kak Naya."


"Kenapa aku harus melakukannya, tidak perlu kita bahas lagi. Aku tidak ingin ada air mata." Andra sudah yakin dengan keputusannya.


"Kak Andra pergi sebelum mengutarakan perasaan, Kak Andra bodoh sekali." Alis mengusap air matanya.


Tawa Andra terdengar, tidak ada perasaan yang harus dirinya utarakan, percuma saling mencinta jika suatu hari cinta akan terhalang.


"Aku lahir ke dunia karena cinta, tapi aku tidak ingin ada anak yang lahir dan memiliki nasib yang sama sepertiku." Kepala Andra menggeleng karena keluarganya tidak akan menyetujui pasangan yang dipilih atas nama cinta.


Sampai Andra dewasa, keluarga Papinya tidak pernah menatapnya selayaknya cucu, dan kedua orang tua Mami selalu mengatakan dirinya anak wanita malam.


"Mami selalu bilang kakak tidak boleh mengambil hati, ucapan nenek dan Kakek hanyalah angin berlalu," bujuk Alis agar Kakaknya teguh.


"Sekali dua kali sampai tiga kali bisa aku maklumi, tapi sampai detik ini sikap mereka masih sama. Kak Andra tidak berharap lebih, memang faktanya aku perusak kebahagian." Andra memberikan senyuman yang jauh lebih kuat dari dugaan Alis.


Dihina orang lain bisa dimaafkan, bisa dipukul dan bisa dibalas serta dilupakan, tapi dihina keluarga sakitnya tidak ada obat.


Cukup Andra yang merasakannya, tidak ingin melalui sakit yang sama seperti Papinya, Andra lebih pilih tidak mencintai.


"Kak Andra masuk duluan, kamu jangan menunjukkan kesedihan kepada Mami," pinta Andra.


Langkah Kaki Andra memasuki kamarnya melewati pintu belakang, naik ke balkon dan masuk kamarnya.


Mata Andra menatap kamarnya, memasukkan beberapa baju ke dalam koper, menatap foto persahabatan yang di simpan di dalam laci.


'Selamat tinggal, terima kasih sudah menemani aku selama ini dalam suka dan duka." Andra menutup kopernya karena dirinya akan tidur terakhir kali di kamarnya.


Ketukan pintu terdengar, Andra berpura-pura tidur, Mami melangkah masuk melihat putranya memejamkan mata.


Koper sudah disiapkan karena Andra akan segera berangkat, meninggalkannya dalam kurun waktu yang lama.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2