
Tangan Delon semakin dingin, meskipun hatinya lega mendengar suara bayi tetap saja hatinya tidak tenang dan gelisah memikirkan nasib Syifra.
"Syifra, anak kita butuh kamu, kamu harus sehat Syifra." Kedua tangan Delon tidak berhenti terlipat hanya bisa berdoa.
Pintu ruangan terbuka, dokter menatap keluarga pasien menjelaskan jika bayi lahir dengan selamat, tapi masih harus dimasukkan ke dalam tabung inkubator.
"Bagaimana kondisi ibunya Dok?" tanya Mami.
"Ibu Syifra masih belum sadarkan diri, dia mengalami pendarahan dan sedang dalam proses perawatan." Dokter akan mengontrol kondisi Syifra.
"Dok, dia pasti bangun?" Delon memohon untuk memberikan yang terbaik.
"Kita usahakan, semoga ibu Syifra segera sadar." Dokter pamit meninggalkan.
Suara tangisan bayi terdengar, dibawa keluar dari kamar. Delon menatap anaknya yang sangat lucu dan mengemaskan.
"Tadi dokter mengatakan dia cowok?" Naya sangat yakin tidak mungkin salah dengar.
"Jenis kelaminnya apa?" tanya Andra memastikan kepada perawat.
"Cowok, wajahnya mirip pemuda ini, apa dia keponakan kamu?"
"Bukan, aku Ayahnya." Delon tersenyum lebar meminta anaknya tidur.
Mama dan Daddy datang, tersenyum lebar melihat si kecil yang masih di dalam tabung. Mama gemes melihatnya ingin gendong, tapi masih harus ditabung karena belum cukup bulan.
Syifra juga dikelurkan untuk pindah kamar rawat, Andra memilih kamar terbaik untuk baby yang tidak bernama karena salah jenis kelamin.
"Syifra," panggil Delon mengenggam tangan.
"Jangan terlalu cemas, dia pasti bangun." Mami mengusap punggung Delon.
"Kak Andra tolong awasi bayinya," pinta Delon karena dia ingin menjaga Syifra.
"Siap, aman bersamaku." Andra begegas ke ruangan bayi.
Naya juga melihat ke arah bayi, Mama dan Daddy juga melihat ke arah ruangan khusus bayi.
"Dra, mana bayinya?" tanya Naya melihat beberapa bayi yang masih berada dalam tabung.
"Tidak tahu, lupa." Andra juga binggung dia harus mengawasi yang mana.
Telinga Andra ditarik oleh Daddy, menunjuk ke arah satu tabung, senyuman Andra terlihat menatap ke arah tunjukan jari Daddy.
Tidak disangka bayi yang awalnya berjenis kelamin wanita, ternyata salah. Lahirnya jagoan tampan mirip Ayahnya.
"Sekarang siapa namanya?" Andra melihat bayi bergerak.
"Lucu, ternyata begini bentuk bayi." Naya ingin menggedong.
"Memangnya Araya dulu tidak seperti itu Nay?" tanya Mama.
Senyuman Naya terlihat, mirip namun dulu Naya sangat sibuk bahkan lupa waktu tidur. Tubuh kembang Raya sangat cepat, tanpa sadar akhirnya dia sudah jadi musuh.
"Rasanya pengen aku culik." Andra menatap baby D yang lucu.
Orang tua Delon mendekat, menatap bayi dalam tabung. Mami meneteskan air matanya merasa terharu melihat bayi lucu.
"Selamat ya, sekarang sudah punya cucu." Mama merangkul Mami Delon yang tidak kuasa menahan tangis.
"Dia lucu, semoga segera keluar dari tabung." Mami mengusap air matanya merasa senang melihat si kecil yang lucu.
"Yang mana baby Delon?" Arvin melihat ke arah tunjuk Mama.
Senyuman Arvin terlihat, meminta izin masuk kepada perawat. Arvin mengambil bayi membuat Mami dan Mama langsung mendekat ke arah pintu.
"Siapa yang mau gendong? Anaknya kuat." Arvin memberikan kepada Mami yang menggendong cucu pertamanya, mengecup kening lembut.
Tangan Naya mengusap matanya, perasaan sangat terharu melihat keluarga Delon yang akhirnya luluh.
"Senang lihat Mami Delon menerima baby D." Naya tersenyum ke arah Andra.
Kepala Andra mengangguk, wajahnya mendekati wajah Naya. Langkah Nay mundur memicingkan matanya.
"Tidak ada lagi penghalang kita, jadi kapan membuat yang seperti itu?" bisik Andra pelan.
Teriakkan Andra terdengar karena Naya menampar wajahnya. Mami memeluk cucunya karena terkejut langsung menangis kencang.
"Cucuku sayang, Om Andra nakal." Baby ditenangkan.
Andra memegang pipinya, Arvin memicingkan matanya melihat Andra yang kekanakan. Dia bisa membangunkan banyak bayi.
Takut dimarah Daddy, Andra dan Naya melangkah pergi ke kamar rawat Syifra. Naya menatap Andra yang cemberut karena wajahnya kena tampar.
"Maaf, aku tidak sengaja." Naya berjalan di depan Andra membalik badannya berjalan mundur.
"Apa ucapanku salah, kenapa kasar sekali?" Andra memalingkan wajahnya.
"Tidak ada yang salah hanya waktu dan tempat yang salah, Andra membuat Nay terkejut.
"Sebenarnya kamu ingin serius tidak?" Andra terlihat sangat tegas, melewati Naya yang menghentikan langkahnya.
Kepala Naya menoleh mengejar Andra yang jalan cepat, mengurungkan niatnya menemui Syifra. Berkali-kali Naya memanggil tidak dihiraukan Andra memilih pergi.
"Dia marah beneran, apa aku kelewatan batas." Naya begegas ke kamar Syifra.
Ketukan pintu terdengar, Delon mempersilahkan masuk. Kanaya memasukkan kepalanya menatap Syifra yang belum bangun.
"Bagaimana kondisi anakku Kak Naya?"
"Dia baik, tadi digendong sama Mami." Naya duduk di samping Delon yang masih menunggu Syifra.
"Mirip siapa?" tanya Delon sambil tersenyum.
"Wajahnya tampan mirip kamu, tidak bisa dibayangkan jika mirip Andra." Kepala Naya menggeleng melipat tangannya di dada, wajah manyun.
"Kalian bertengkar?"
Kepala Naya mengangguk, Andra menjahilinya membahas soal pernikahan dan memiliki anak, tapi Naya menampar spontan tanpa berpikir. Tidak ada niatnya untuk menyinggung perasaan Andra.
Seharusnya dia paham jika Naya memang bersikap keras, biasanya juga Naya dan Andra saling pukul tidak pernah tersinggung.
"Kak Naya, tidak semuanya bisa dijadikan candaan. Jika Kak Andra marah berarti dia serius." Delon meminta Naya segera menemui Andra agar masalah cepat selesai.
"Bagaimana jika dia masih marah?"
"Lelaki pasti luluh kepada wanita yang dicintainya, tidak mungkin tega marah berlama-lama." Delon menyemangati Naya untuk segera baikkan.
Tangan Syifra bergerak, Delon menyentuh menunggu sampai mata terbuka. Syifra melihat ke arah Delon, menatap Naya yang memasang wajah manyun.
"Anakku, di mana dia?" Syifra menyentuh perutnya tidak merasakan lagi keberadaan bayi.
__ADS_1
Tangisan Syifra terdengar, Delon mengusap kepala memastikan anak mereka baik. Dia masih di dalam tabung karena belum cukup umur.
Agar tubuhnya hangat makanya dimasukkan tabung, secepat mungkin akan segera menemui ibunya.
"Putriku sehat?"
"Dia Putra, kita salah." Senyuman Delon terlihat mengecup tangan Syifra lama mengucapkan terima kasih karena sudah berjuang.
Tangisan Syifra terdengar, dia berhasil melahirkan Putranya, tidak sia-sia perjuangan bertahan.
"Syifra, Andra lagi marah karena aku menamparnya." Naya memayungi bibirnya.
"Urus sendiri Naya, Andra tidak pernah marah hanya bersama kamu dia suka kerasukan." Syifra menggelengkan kepalanya melihat Naya bangkit dari duduknya meninju sofa.
Naya malu jika menemui lelaki lebih dulu, tapi tidak tahan juga jika Andra mengabaikannya. Tidak pernah Naya bayangkan berpacaran sangat repot, harus ada bertengkar nya.
"Naya kamu mirip anak remaja yang baru pubertas," sindir Syifra karena kembali lagi ke masa kecil.
"Sekarang aku harus bagaimana?"
"Minta maaf Kak Naya, hubungi Kak Andra sekarang apa susahnya." Delon memberikan ponselnya jika Naya keberatan memakai ponsel sendiri.
Pintu diketuk, Mami dan yang lainnya datang. Syifra dan Delon tersenyum lebar karena baby diizinkan pindah keruangan orangtuanya.
Tangisan Syifra pecah, menutup wajahnya tidak kuasa menahan. Tidak terbayangkan dia bisa melihat anaknya.
"Jangan menangis," pinta Delon mengusap air mata.
"Sama Bunda bentar." Mami mengeluarkan bayi meletakkan di samping Syifra.
Usapan tangan Syifra lembut, terasa sedang bermimpi bisa menyentuh bayinya. Delon juga duduk mengagumi bayi laki-laki yang masih tidur.
Setetes air matanya jatuh, sungguh luar biasa indah dan bahagianya bisa melihat bayi lahir sehat.
"Siapa namanya?" Syifra menatap Delon yang melihat ke arahnya.
"Dion Shaka Bangura, panggilanya Shaka." Delon mengecup kening Putranya yang bergerak.
"Baby Shaka, tampannya anak Bunda." Syifra mengecup pipi anaknya.
Senyuman Delon dan Syifra terlihat sangat bahagia bisa bersama baby Shaka. Tidak tahu jalan apa yang dilalui di depan, tapi Delon pastikan dia akan membahagiakan Shaka dan Syifra.
Kepala Arvin menggeleng, meminta Naya keluar. Cepat Naya mengikuti dari belakang, jalannya di hentakan.
Langkah Arvin terhenti, menatap ke arah Naya yang terlihat santai saja tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
"Kenapa tidak mengejar Andra?"
"Memangnya aku anjing?"
"Kenapa tidak menyusul?"
Hembusan napas Naya panjang, dia ingin menyusul, tapi tidak akan membuat perasaan Andra membaik. Dia tetap saja marah karena sulit dibujuk.
"Kanaya, Andra bukan tipe yang mudah ngambek, jika dia marah berarti kamu sangat menyinggungnya," tegur Arvin keras.
"Aku mengaku salah, sudah sempat meminta maaf, tapi Andra tetap pergi."
"Apa perjuangan kamu hanya sebatas ini, apa kamu hanya menginginkan Andra yang berjuang?"
"Kenapa kamu membentak dan menaikan suara?"
Perdebatan keduanya terhenti saat Mama dan Daddy muncul. Merasa binggung melihat keduanya sama-sama emosi.
Arvin menyempatkan untuk pamitan kepada Delon dan Syifra, melangkah pergi ke parkiran bersama Naya yang memilih diam seribu bahasa.
Dia mencoba menghubungi Andra, tapi ponselnya tidak aktif. Naya baru tahu jika Andra marah memutuskan komunikasi.
"Tidak aktif, makanya."
"Kenapa kamu yang marah-marah Vin?"
"Karena kamu tidak peka, lelaki mana yang tidak jatuh harga dirinya jika ditampar saat mengajak menikah?" Arvin menghubungi Alis untuk menanyakan keberadaan Andra.
"Halo sayang, ada apa?"
"Ay, kamu tahu di mana Andra?"
Alis melongo melihat Andra pulang ke rumah banting pintu. Nenek meneriakinya marah karena terkejut.
"Anak kurang ajar. Tingkah laku kamu mirip binatang Andra!" nenek mengumpat kasar membuat Alis tersinggung.
Panggilan dimatikan karena Arvin sudah mendengar suara yang mencaci maki, Andra pulang ke rumahnya saat marah.
"Aku manusia Nek, bukan binatang." Andra melangkah mendekati Neneknya.
"Jika memang manusia seharusnya tahu adab, pulang malam banting pintu." Nenek mengangkat tangannya ingin menampar.
Alis berteriak meminta Andra masuk kamar, meminta Neneknya berhenti memarahi Andra yang Tidak punya salah.
Andra bergegas masuk kamarnya, lompat ke atas tempat tidur, memejamkan matanya karena pikiran dan tubuhnya lelah.
Tangan Andra mengetuk meja, pikirannya kosong karena hatinya masih sepi. Andra ingin pergi minum, pasti dirinya akan mabuk. Tidak bisa Andra bayangkan kesalahan apa yang dibuatnya tanpa sadar.
Pintu kamar terbuka, Naya melangkah masuk melihat Andra yang masih tidur tengkurap. Tangannya mengetuk meja mengikuti detik jam.
"Maafkan aku," ucap Naya.
Tidak ada jawaban dari Andra, dia memilih tidak menjawab agar Naya segera pergi. Tepukan tangan Naya terasa di kaki Andra, tapi tidak membuatnya respon.
"Ya sudah aku pulang, kamu menolak untuk bicara." Suara pintu tertutup terdengar, kepala Andra terangkat menoleh ke arah pintu.
Teriakkan Andra terdengar kembali karena Naya masih ada di dalam kamar, hanya tutup pintu tanpa keluar kamar.
"Saat marah ternyata buruk sekali." Naya duduk kembali ke pinggir ranjang.
Andra memalingkan wajahnya memejamkan mata, pelukan Naya terasa namun tidak direspon.
"Apa yang harus aku lakukan agar bisa meredakan amarah kamu?"
"Aku capek Naya, lebih baik kamu pulang. Ini sudah malam." Andra menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
Pelukan Naya terlepas, dia langsung pamit pulang. Menutup pintu perlahan, melangkah turun ke lantai satu.
"Apa kamu wanita yang menyebabkan Syifra dan Andra putus?" Nenek menghadang Naya yang ingin pulang.
"Aku tidak tahu menahu Nek," jawab Naya yang sudah malas debat.
"Perempuan murahan, miskin, dan tidak tahu malu. Sadar diri, kamu tidak layak ada di keluarga ini," bentak Nenek meminta Naya tidak menemui Andra lagi.
Kepala Naya mengangguk, membungkukan badannya pamit pulang, tanpa sengaja Naya menepis tangan Nenek yang mendorong perlahan agar cepat keluar
__ADS_1
Tubuh Nenek terjatuh, meneriaki Naya meminta penjaga memukuli Naya karena kurang ajar kepadanya.
"Dasar wanita murahan, tidak tahu malu." Tubuh Naya dipukuli menggunakan cambuk.
Andra yang mendengar suara langsung lari, kaget melihat Naya dicambuk berkali-kali, tapi tidak melawan.
"Nenek hentikan!" Andra berlari kencang menangkap cambuk.
"Kamu juga seleranya rendah sekali Andra." Nenek mencambuk Andra yang memeluk erat tubuh Naya.
Andra tidak merasakan sakit dari pukulan Neneknya, tapi hatinya hancur melihat wajah Naya tergores merah sampai mengeluarkan darah.
Tubuh Naya juga terkena cambuk, senyuman Naya terlihat memastikan dirinya baik karena dia wanita kuat.
"Maafkan aku Naya," ucap Andra memeluk erat.
"Apa salah kamu, Nek tolong hentikan." Naya melindungi punggung Andra.
Arvin dan Alis yang melihat langsung lari, Alis memeluk neneknya dari belakang. Arvin menahan cambuk, tapi terlepas.
Cambuk mengenai kepala Arvin, Terikkan Alis terdengar, menangis histeris karena Neneknya menyakiti lelakinya.
"Nenek keterlaluan." Alis memeluk Arvin yang sudah merampas cambuk.
"Kalian semua memang tidak berguna." Nenek melempar Alis dan Arvin mengunakan vas bunga.
Tangan Arvin menangkis sampai vas pecah berhamburan. Andra membentak Neneknya untuk berhenti.
"Hentikan!" teriakan Mami terdengar melihat anak-anaknya disakiti.
Papi terdiam melihat anak-anak terluka, sudah cukup rasa sabar selama ini kali ini Papi tidak bisa toleransi lagi.
"Wanita murahan itu menggoda Andra, aku mencoba menghentikannya."
"Sudah cukup Bu, aku tidak bisa membiarkan lagi. Bukan niat hati mencampakkan orang tua, tapi ibu harus diobati." Mami menangis menyetujui keputusan suaminya untuk mengirim nenek ke rumah sakit jiwa.
Wajah Alis dan Andra terkejut, selama ini kedua orangtuanya menutupi kondisi Nenek demi menjaga rasa hormat.
Nenek mengalami gangguan jiwa setelah memergoki suaminya selingkuh, Mami dan Papi mencoba mengobati selama lima tahun ini, tapi keadaan semakin memburuk.
"Jangan buang ibu Nak," pinta Nenek menangis memohon.
"Tidak ada yang membuang, tapi lihat perbuatan Ibu." Mami menatap Alis yang terluka, baju Andra juga sampai sobek.
Papi mengusap kepala Arvin yang mengeluarkan darah, wajah Naya juga terluka karena cambukan.
Tidak butuh waktu lama mobil rumah sakit tiba, Nenek memeluk kaki Andra meminta bantuan.
"Dra tolong Nenek, Mami dan Papi kamu yang gila, bahkan mereka tidak bisa menunggu sampai besok pagi. Nenek masih mau tidur di kamar." Tangisan Nenek terdengar meminta bantuan Andra.
"Jangan percaya Kak, Nenek bohong. Dia hanya mencoba menghindar agar tidak dibawa." Alis mengusap air matanya tidak tertipu lagi.
Mami memalingkan wajah, perawat mendekat meminta Nenek ikut baik-baik. Dia akan mendapatkan kamar yang bagus.
Tangan Andra terangkat, meminta menunda sampai besok pagi. Membiarkan Neneknya tidur di kamar.
"Nenek istirahat sekarang," ucap Andra.
Mata Nenek memicing tajam ke arah perawat, mengambil cambuknya berjalan ke arah kamar. Banting pintu langsung mengunci dari dalam.
"Andra, Nenek kamu ...."
"Kasihan Pi, besok saja." Andra meminta penjaga mengawasi gerbang, mengelilingi kamar Nenek baik dalam maupun luar agar tidak melarikan diri.
Andra meminta pihak rumah sakit menunggu sampai Nenek tidur, menyuntik bius agar tidak ada perlawanan.
"Tolong siapkan kamar terbaik, Nenek terbiasa mewah." Andra membungkukkan badannya mengucapkan terimakasih.
Pihak rumah sakit setuju, memahami perasaan Andra yang pastinya sedih mengetahui kondisi Neneknya.
"Apa luka kamu Vin, mau ke rumah sakit."
"Aku Dokter, jangan cemaskan aku. Kondisi kamu lebih buruk." Arvin melihat ada bekas darah dipunggung Andra.
Tatapan Andra ke arah Naya, menyentuh wajah Naya yang mengalami luka. Andra menghela napas karena datang terlambat.
"Naya baik-baik saja, jangan lebai mata merah begitu."
"Kenapa harus wajah yang terluka, cantiknya jadi berkurang."
"Jadi sekarang aku tidak cantik?" Naya tersenyum memeluk Andra yang tidak bisa menahan air matanya.
Selama ini Nenek tidak memperlakukan dengan baik, tapi tahu dia mengalami gangguan jiwa membuat Andra sedih.
"Dra, ayo aku obati." Arvin menarik tangan Andra.
"Kalian berempat ke rumah sakit dulu, Pak tolong dibawa."
Teriakkan Alis dan Naya terdengar, kenapa mereka yang harus dibawa mobil rumah sakit jiwa, padahal otak normal.
Mami tertawa berusaha menghibur, memeluk Naya dan Alis meminta maaf karena sampai disakiti Nenek.
"Jika aku tahu Nenek selama ini gila, tidak mungkin Alis ladeni."
"Berarti selama ini kamu Lis," tebak Naya menahan senyum.
Obat-obatan dikeluarkan, Arvin mengobati punggung Andra yang terluka cukup parah. Mami mengobati wajah Naya yang tergores.
"Kira-kira Agra sekarang lagi apa? Delon enak menyambut Baby Shaka, Agra dapat istri, kita berempat dapat cambuk," ucap Arvin merasa nasib mereka sial.
"Naya kapan melahirkan?" tanya Papi.
Wajah Naya tercengang, menyentuh perutnya yang rata. Kepala Naya menggeleng dia tidak hamil.
"Papi bicara apa?"
"Mami mengatakan memergoki kalian bermesraan, katanya bentar lagi ada cucu." Papi menatap istrinya yang tersenyum lebar.
"Mami dipercaya, jangankan buat anak, mengajak nikah saja ditampar." Andra menundukkan kepalanya.
Naya menoleh ke arah Andra, ternyata masih ada rasa kesalnya karena tamparan Naya yang sangat kuat.
Tawa Mami terdengar, tidak salah Naya menampar karena Andra menanyakan di moment yang tidak tepat. Seharusnya pas di hotel atau kamar, bukan hanya lamaran diterima, tapi langsung jadi anak.
"Otak kamu kotor, mengajari anak hal buruk." Papi melangkah pergi.
"Otak aku kotor saja cuman dapat dua anak, apalagi tidak nakal." Mami menatap sinis.
Senyuman Naya terlihat, dia tidak bisa segenit Mami.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira