
Tatapan mata Erin sangat tajam, dia tidak menyukai pertemuan keluarganya dan keluarga Agra. Di hati Erin hanya ada Arvin, meksipun Agra tidak kalah dari Arvin.
Senyuman Mama Agra terlihat, bersalaman begitupun dengan Agra yang sangat sopan. Tersenyum kepada keluarga Erin yang sinis.
"Dia anak tunggal kamu Mar?" tanya wanita seksi di samping Erin.
"Iya, namanya Agra." Mama meminta Agra memperkenalkan diri.
Kepala Agra tertunduk sesaat, memperkenalkan dirinya dengan senyuman manis.
"Kamu masih kuliah?"
"Benar Om, Agra masih kuliah. Aku dan Erin saling mengenal karena kita satu kampus. Dia mantan tunangan Arvin sahabatku," jelas Agra tersenyum tenang.
"Bagus jika saling mengenal, perjodohan ini di permudahkan." Kedua orang tua Erin nampak senang begitupun dengan Mama Agra.
Tawa kecil Agra terdengar, perjodohan Erin dan Arvin hanyalah bisnis, begitupun dengan Agra. Hanya karena kebangkrutan keluarganya dan ditinggal papanya dianggap butuh dana.
Tidak ada keutungan dalam bisnis yang dipaksakan, Agra tidak akan bertunangan dengan Erin seperti Arvin karena tidak memiliki perasaan.
"Aku bukan barang yang bisa kalian jadikan modal bisnis, aku minta maaf Erin. Apa yang terjadi kepada kamu dan Arvin, tidak akan terulang. Aku tidak ingin menjalin hubungan bisnis," jelas Agra tanpa rasa takut mamanya marah.
"Kamu tahu apa, anak remaja yang hanya tahu bersenang-senang tidak akan menghasilkan apapun."
"Om, masa muda bukan untuk bekerja, tapi mencari pengalaman. Biarkan kami melalui masa itu dengan penuh kebahagiaan. Kita sedang bermimpi, berangan, dan meniti jalan untuk maju. Bersenang bukan berarti semuanya berakhir, kita tidak pernah apa yang terjadi sepuluh tahun ke depan. Jangan putuskan masa itu dengan perceraian di usia dini." Tubuh Agra mundur mendengar pukulan di atas meja karena ucapan Agra sudah menyinggung.
Bukan keluarga Erin yang butuh bantuan, tapi Agra. Dia yang akan hancur, tapi beraninya membandingkan dengan pola pikirnya.
Jika mampu bertahan tidak mungkin seorang ibu memohonkan untuk dibantu karena perusahaan akan hancur.
"Kamu tunggu saja kehancuran kamu Mar, aku ingin melihat kalian berdua tidur di jalanan. Jangan harap ada perundingan lagi." Papa Erin melangkah pergi bersama anak dan istrinya meninggalkan Agra dan mamanya yang membatalkan rencana pertunangan.
Kepala Agra menoleh ke arah mamanya yang sedari awal diam, tidak menahan Agra yang memang sejak awal memiliki pikiran untuk membatalkan.
"Maafkan Agra ya Ma," ucapannya.
"Tidak apa, kita jual saja perusahaan untuk menutupi hutang, siapa tahu ada yang memperkerjakan Mama." Senyuman penuh kesedihan terlihat.
Pelukan Agra lembut, dia akan berusaha membangun perusahaan yang sejak awal mamanya rintis.
__ADS_1
Jika memang harus hidup sederhana tidak masalah bagi Agra selama bisa bersama Mamanya.
"Maafkan Mama yang kasar, pikiran mama ...."
"Iya ma, Agra mengerti. Akhiri hubungan Mama dan bule itu, kita hidup berdua saja Ma. Jangan jatuh cinta terlalu cepat." Air mata Agra menetes karena sangat menyayangi mamanya.
Kepala Mama mengangguk, kasihan melihat putranya yang ternyata kepikiran setelah papanya pergi.
Jika Andra tidak datang ke rumah mungkin tidak pernah tahu betapa terbebani Agra dengan perubahan sikap Mamanya.
"Mendapatkan kamu begitu sulit Gra, bagaimana mama bisa tega melihat kamu hidup susah, tapi Mama lebih tidak bisa jika kamu banyak beban," batin Mama merasa sangat bersalah.
"Ayo kita pulang Ma," ajak Agra.
"Kamu duluan saja, Mama ingin ke kantor." Senyuman Mama terlihat melangkah keluar restoran.
Agra berlari kencang memeluk Mamanya dari belakang, mengeratkan pelukan tidak peduli banyak orang yang melihat.
"Ma, jangan pikirkan Papa lagi. Sepuluh tahun sudah cukup lama, Mama sudah hebat bisa kuat demi Agra. Terima kasih Ma, sekarang Mama merasa sendiri, ada Agra tempat Mama bersandar. Agra akan jadi lelaki yang melindungi Mama." Senyuman dan pelukan lembut.
Air mata Mama menetes, mengusap wajah Agra. Tidak menyangka ternyata Agra tahu konflik dalam keluarga yang sebenarnya tidak harmonis.
"Jangan menangis lagi, semangat wanita terhebat ku." Kecupan Agra mendarat di kening.
Tangan Agra melambai, melihat mobil mamanya pergi. Hati Agra hancur sekali ternyata pesan dari Andra benar jika Papanya yang selingkuh.
"Bro, jangan menangis di situ bikin malu," sindir Andra yang duduk santai di mobilnya bersama Arvin.
"Kalian berdua belum pulang?" Agra masuk ke dalam mobil mengusap air matanya.
"Kita mencemaskan Lo. Seharusnya aku tidak ikut-ikutan karena Agra bukanlah Andra yang suka memancing keributan." Arvin melipat tangannya di dada.
Pukulan Andra kuat di dada, menjalankan mobilnya untuk menuju rumah karena capek muter-muter seperti gasingan.
"Dra, dari mana kamu tahu?"
Kedua pundak Andra terangkat, gosip sangat mudah tersebar apalagi di dunia pekerjaan. Awalnya Andra mengabaikan karena Agra terlihat baik
Tidak menyangka bisa mendengar perceraian, cukup mengejutkan dan Agra harus menerimanya, bukan menyalahkan salah satunya.
__ADS_1
"Mama Lo hebat Gra, dia kuat demi Lo." Arvin memberikan jempol.
"Lebih hebatnya mampu menutupi luka bertahun-tahun demi kebahagiaan anak, setannya orang luar yang menyiram minyak ke atas bara hingga gosip menyebar." Andra menatap Agra yang menangis di kursi belakang.
Mendengar suara Agra sesegukan membuat Arvin menutup matanya tidak ingin terlihat meneteskan air mata.
Berat sekali jadi Agra, dia harus dewasa dan sudah waktunya membangun Mamanya bukan menyalahkan keadaan.
"Aduh, jangan menangis Gra, malu. Sudah tua, " sindir Andra yang menyesal sudah bicara.
Tangan Arvin ditarik, mata Arvin juga merah karena merasa merindukan Mommynya. Andra garuk-garuk kepala melihat keduanya menangis.
"Kanaya!" Andra menujuk ke depan.
Arvin mengusap wajahnya, Agra juga langsung diam menghapus air matanya karena tidak ingin Naya melihatnya bersedih.
"Menyebut nama Naya langsung diam, apa kalian berdua akan bersaing mendapatkan cinta Naya?" tanya Andra sambil tertawa merasa lucu dengan kedua sahabatnya.
Tendangan kuat mengenai Andra yang super jahil, bisa-bisanya membuat lelucon yang tidak lucu.
Tidak mungkin Naya berada di jalanan, Arvin dan Agra saja yang sudah jatuh cinta sehingga membuatnya malu di depan Naya.
"Bersaing dengan cara sehat, semangat teman-teman."
"Dra, Lo sibuk mengejek, jangan-jangan Lo yang suka?" Arvin memicingkan matanya.
Tawa Andra terdengar, menggelengkan kepalanya. Mustahil menyukai Naya, tidak pernah Andra bayangkan bisa menyimpan rasa kepada wanita bar-bar.
"Jangan bicara sembarangan Dra, benci, tapi cinta." Agra mengusap wajahnya menggunakan tisu.
"Apa tidak ada wanita lain lagi, kenapa harus wanita bertenaga lelaki?" Andra menepis tuduhan kedua sahabatnya karena memang tidak memiliki rasa.
Ketiganya hening, Agra dan Andra terdiam melihat Arvin melangkah keluar menemui segerombolan orang berbadan besar.
"Katanya mau pulang Dra?"
"Mana aku tahu jika Arvin ingin pergi ke tempat begini." Andra memutuskan turun karena tidak ingin Arvin terluka.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira