
Raut wajah Alis masam, duduk di pinggir ranjang kamarnya yang sangat mewah. Ketukan pintu tidak dihiraukan.
"Silahkan masuk Nay, lihat anak satu itu masih merengek-rengek karena Agra akan bertunangan." Mami tersenyum membiarkan Naya melihat.
"Bedanya umur Alis dan Andra berapa tahun Mi?"
"Andra usia enam bulan Mami hamil dia," jawab Mami tersenyum lebar.
Kepala Naya mengangguk, melangkah mendekati Alis yang menolak kuliah karena patah hati.
"Agra belum menikah, pepatah mengatakan sebelum janur kuning melengkung, bisa ditikung." Naya tertawa mengacak-acak rambut Alis yang kekanakan.
"Sedih Kak Nay. Mengapa wanita sialan itu yang mendapatkan kesempatan untuk bersama Agra, kenapa bukan Alis?"
"Tunggu sebentar, aku harus menghubungi tuhan untuk mempertanyakan." Nay mengambil ponselnya, melakukan panggilan di depan Alisha.
Tawa Alis terdengar saat Naya meminta tuhan menukar jodoh Agra, wanita baik, penuh kasih sayang dan ceria.
Wajah Alis berubah malu-malu, meminta Naya duduk. Hatinya galau sekali memikirkan nasib Agra.
"Lis, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan mata, dosa di mata kita belum tentu di mata tuhan. Mencintai boleh, tapi tidak boleh berlebihan," tegur Naya meminta Alis bersemangat.
"Hm, Alis tahu Kak, tapi namanya kecewa, tidak bisa dikontrol."
"Ya sudah, mau jalan-jalan?" tanya Naya mengulurkan tangannya.
"Kak Nay mau traktir makan?"
Tumbuh Naya tumbang di atas tempat tidur Alis, bukan tidak ingin mentraktir masalahnya Naya juga belum gajian.
Baru saja bekerja, butuh waktu untuk menerima gaji. Jika gajinya turun, Naya pasti akan mentraktir.
"Baiklah, hari ini Alis yang traktir. Di restoran Alis."
"Kamu punya restoran?"
Tawa Alis terdengar, mengganti bajunya. Meksipun Alis dan Andra anak orang kaya, keduanya tidak semata-mata menjadi penikmat.
Mami selalu mengajarkan untuk bisnis dan melakukan sesuatu yang disukai, tidak bergantung dengan orang tua.
Tidak ada yang tahu kapan orang tua jatuh, jika anaknya tidak tahu cara usaha maka bisa ikut jatuh.
__ADS_1
"Alis suka makan, makanya buka restoran biar bisa mencicipi segala jenis makanan, meskipun tidak bisa masak." Tawa Alis dan Naya terdengar karena tingkah laku Alis sungguh unik.
Di dalam bisnis yang diajarkan Maminya bukan soal untung, tapi cara bertahan dan berkembang.
"Ayo kita pergi Kak, biasanya Alis datang ke sana satu minggu sekali untuk mengecek data keuangan. Rencana mau buka cabang, tapi belum tahu lokasinya." Senyuman Alis terlihat bangga kepada dirinya sendiri.
Kedua tangan Naya bertepuk, gadis manja ternyata ada kelebihan juga dan pintar bisnis tidak heran keluarga Andra kaya.
"Mami, Alis ke restoran dulu. By Mi, sarang beo." Tangan Alis melambai ke arah Maminya yang masih di lantai atas.
"Kapan buka cabangnya Lis, kamu sudah lima tahun tidak ada kemajuan!" teriakkan Mami terdengar.
Alis menarik tangan Naya untuk berlari, masuk ke dalam mobilnya. Jangan sampai Mami mengeluarkan semburan api.
Lirikan mata Naya tajam, Alis hanya pintar bergaya. Naya sudah bangga, ternyata hanya banyak bicara.
"Berbisnis tidak semudah itu Kak Nay, Alis tidak punya banyak waktu." Senyuman Alis terlihat, meksipun dirinya tidak maju, setidaknya tetap beroperasi.
"Lis, namanya bisnis butuh support, kamu tidak bisa mengandalkan orang. Percaya boleh, tapi tidak boleh lepas tangan."
Kepala Alis mengangguk, dia akan berusaha lebih rajin mengontrol restoran cafe, mencoba mendengarkan keluh kesah pegawai juga pengunjung.
Kedua jempol Naya terangkat, tidak sabar lagi untuk makan di restoran Alis. Ingin tahu sekeren apa anak manja berbisnis.
Kerutan di kening Naya terlihat, mengeluarkan kepalanya karena melihat restoran yang sangat mewah, ada banyak mobil mengantri.
"Gila, kamu hebat Lis." Naya langsung keluar mobil melangkah ke restoran mewah.
"Kak Naya, bukan itu, tapi ini." Alis menujuk ke arah restoran kecil Sam sepi, meksipun dua lantai hampir tidak terlihat kepala manusia.
Nay melangkah membandingkan dua restoran yang berhadapan, satunya sangat ramai, tapi satunya lagi sangat sepi.
"Lebih baik kamu tutup Lis, malu dilihat orang depan." Naya geleng-geleng sambil masuk karena tidak melihat adanya manusia.
"Kalian semua sudah makan siang, jika belum silahkan makan." Alis mempersilahkan stafnya untuk makan.
Kanaya tepuk jidat, tidak heran Alis tidak maju. Makanan untuk dijual dimakan oleh stafnya sendiri.
Mata Naya terbelalak, melihat Prilly membungkukkan badannya melangkah pergi setelah mengucapkan terima kasih.
"Hei, siapa dia?" Alis menatap Prilly tidak suka.
__ADS_1
"Siang Non Alis, dia orang yang datang ingin melamar pekerjaan di sini, tapi kita tidak membutuhkan staf tambahan. Terima kasih, silahkan pergi."
Senyuman Prilly terlihat menatap Naya, melangkah ingin pergi, tapi Alis menghentikannya untuk makan terlebih dahulu.
"Jangan terlalu keras kepada Prilly, dia sedang bekerja keras siang malam untuk mengais rezeki." Nay menepuk pelan punggung Alis.
"Ada apa Lis?" tanya Prilly.
"Makan dulu, kamu cicipi seluruh masakan di restoran ini," pinta Alis memerintah staf-nya untuk menyiapkan semua menu.
"Buat apa Lis?"
"Aku ingin kalian berdua mencicipinya, dan kabar yang aku dengar, kamu pintar masak." Lirikan mata Alis tajam ke arah Prilly.
Senyuman Prilly terlihat, dirinya akan memberikan nilai kebetulan belum makan selesai bekerja lanjut cari kerja malam.
"Kenapa cari kerja baru Pril?"
"Aku dengar kabar ada pemberitahuan secara besar-besaran, sebelum terusir harus punya tempat baru, Nay."
"Kenapa memilih restoran jelek ini?" tanya Alis.
Di mata Prilly restoran sangat bagus, strategis, ada dua lantai hanya butuh sedikit dekorasi agar bisa memancing pelanggan.
Helaan napas Alis terdengar, jika dibandingkan dengan restoran depannya sungguh tidak mungkin akan ramai, ada satu dua pengunjung sudah luar biasa.
"Restoran depan memang mewah, tapi rasanya biasa saja. Kenapa banyak pengunjung karena owner memiliki banyak cabang," jelas Prilly yang pernah masuk ke sana bersama Arvin.
Memiliki persaingan selain rasa yang harus memiliki ciri khas, tapi cara mempromosikan juga harus beda.
Mewah hanya nilai plus, jika rasa tidak menjamin maka satu kali datang, beda jika rasa sebagai ciri khas, orang akan berkali-kali kembali, apalagi dengan harga yang standar, bisa dinikmati kelas bawah, menengah hingga atas.
"Orang kaya tidak mungkin datang ke sini."
"Ada Nay, sebenarnya bukan soal kaya tidaknya, tapi privasi. Mengapa tempat makan VIP, VVIP dan biasa beda karena membutuhkan suasana makan yang private hingga rela megeluarkan dana lebih," jelas Prilly.
"Kamu diterima kerja di sini, buktikan jika aku bisa menikmati keuntungan," pinta Alis.
"Kamu bilang tidak butuh keuntungan Lis." Tawa Naya terdengar karena Alis pikirannya suka berubah-ubah.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira