
Pintu kamar Agra terbuka, teriakan mamanya terdengar karena tidak berhasil menemukan keberadaan putranya.
"Di mana Agra, apa dia melarikan diri?" panggilan masuk, tapi deringan ponsel Agra ada di kamarnya.
"Anak kurang ajar, tidak tahu terima kasih." Mama menghubungi mantan suaminya.
Tidak ada jawaban sama sekali membuat teriakkan histeris terdengar, gitar Agra dilempar sampai hancur.
Maid sampai ketakutan melihat Nyonya rumah mengamuk sampai pergi dari rumah untuk mencari keberadaan Agra padahal sudah larut malam.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah, tatapan mata Mama Agra tajam melihat Arvin keluar dari mobil menyapa.
Tamparan kuat mendarat di wajah Arvin membuat Agra dan Andra kaget melihatnya, tidak tahu apa salah Arvin.
"Ma, apa yang Mama lakukan? dia Arvin sahabat Agra."
"Sudah Mama peringatkan agar tidak bergaul lagi dengan anak ini, dia sudah dianggap sebagai pembangkang, apa kamu ingin mengikuti jejaknya?" nada tinggi terdengar.
"Vin, masuk mobil. Gra kita pulang dulu, hubungi lagi nanti." Andra membuka pintu mobil meminta Arvin masuk ke mobil.
Kepala Agra mengangguk, menarik tangan mamanya agar segera masuk ke dalam rumah.
Di dalam mobil Arvin hanya diam saja, Andra tidak enak ingin bicara karena tamparan sungguh tidak terduga.
"Lain kali, keluar mobil jangan yang pertama, sehingga kejadian ini tidak mungkin terjadi." Alis menempel gambar Helloween untuk menutupi wajah Arvin, biasanya digunakan untuk menutupi luka.
Kepala Arvin tertunduk menahan tawa, Andra sudah menutup mulutnya tertawa di dalam diam sampai tubuhnya gemetaran.
"Salah kamu minta aku pindah duduk di belakang," ujar Arvin menatap Alis yang mencari obat.
"Iya, coba saja aku yang keluar pertama, kepala aku menempel di kepala mobil. Aku cinta Kak Agra, tapi takut sama mamanya yang mirip setan." Tubuh Alis merinding menyentuh wajah Arvin karena tangannya menggunakan lotion dingin agar meredakan bengkak.
Arvin menepis tangan Alis, tidak terkejut sama sekali dengan pukulan karena dia sudah terbiasa dengan pukulan dari daddynya.
Wajar saja jika Mama Agra tidak menyukainya, Arvin sudah menentang keluarganya.
Bagaimana ini Vin, kamu mau aku antar pulang lagi?"
"Tinggalkan aku di bar saja, nanti bisa pulang sendiri." Arvin menatap ke samping, tidak ingin lanjut bicara.
Helaan napas Agra terdengar, dia tidak bisa menemani karena harus mengantar adiknya pulang.
__ADS_1
Mobil Andra berhenti, Arvin langsung keluar tanpa mengatakan apapun. Terlihat sekali kekecewaan.
"Kasian Kak Arvin, di rumah dipukul, ke rumah Kak Agra dipukul, ke mana dia harus pergi?"
"Kamu juga kenapa keluyuran? Sudah malam masih saja di rumah orang padahal yang punya rumah tidak ada, bagaimana jika Papi mencari?" Andra memarahi Alis karena merepotkan.
Bibir Alis monyong, tidak suka disalahkan. Dia sudah izin kepada Maminya, dan tidak dimarah.
"Kak, lakukan sesuatu untuk menolong Kak Agra?"
Diamlah Lis, aku sudah pusing masalah kantor, melihat Agra dan Arvin membuat kepalaku hampir pecah!" bentak Andra dengan nada tinggi.
"Setidaknya belum pecah, kenapa marahnya sama Alis."
Tangan Andra terangkat, meminta adiknya diam. Alis terlalu berisik menyebabkan telinga Andra sakit.
"Kamu masuk rumah, ambilkan jaket soalnya aku mau menyusul Arvin kembali." Andra menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah.
Kepala Alis mengangguk, langsung lari ke dalam rumah, tapi langkahnya terhenti melihat Papinya menunggu di depan pintu.
"Masuk kamar sekarang," pinta Papi.
Kepala Alis tertunduk, melangkah masuk ke dalam kamarnya tanpa bisa menyelamatkan Kakaknya.
"Masih mau ke mana kamu, tahu ini jam berapa?"
"Andra masih ada urusan Pi," jawab Andra meminta maaf belum bisa masuk.
"Urusan apa di jam satu malam?"
Tidak ada jawaban dari Andra dia tidak ingin memberitahu masalah apa yang sedang menimpa kedua sahabatnya, sebagai sahabat setia ingin menemani di masa tersulit sekalipun.
Suara Mami terdengar meminta Andra masuk ke dalam rumah, tidak membantah Papinya. Tidak ingin mengundang keributan, akhirnya Andra ikut masuk.
Di ruang tamu Andra duduk diam, Mami melangkah pergi ke kamar membiarkan Andra berurusan dengan Papinya.
"Jauhi Agra dan Arvin, keduanya bermasalah," pinta Papi dengan suara pelannya.
"Kenapa Andra harus melakukannya, kami bersahabat tidak ada sangkut-pautnya dengan bisnis tiga keluarga. Kenapa Papi mengatur pertemanan Andra?"
Tatapan mata Papi tajam, pukulan kuat menghantam wajah Andra yang selalu melawan. Diminta mengurus perusahaan tidak becus, kuliah hanya membuat keributan, kelurahan sampai larut malam, berkali-kali mendapatkan laporan ada di club.
__ADS_1
"Kamu ingin jadi apa Dra, kamu harapan terbesar Papi. Kamu harus bisa memimpin, bukan mengacau," bentak Papi marah.
Andra memilih diam tidak ada gunanya melawan, jika Papinya sudah turun tangan pasti akan memukul.
"Kamu pindah kuliah ke luar negeri, urus bisnis di sana, jangan membantah lagi." Papi akan mengurus semuanya, Andra hanya perlu pergi.
"Maafkan Andra Pi, aku akan pindah ke luar setelah lulus S1, tapi untuk sekarang aku akan tetap tinggal." Andra membungkuk tubuhnya memutuskan masuk ke kamarnya.
"Arvin dikeluarkan dari keluarganya, kakeknya membuang cucu kandungnya."
"Baguslah, setidaknya Arvin bisa hidup bebas tidak berada dalam kekangan." Andra berjalan meninggalkan Papinya yang masih marah.
Pintu kamar Andra tertutup pelan, tubuhnya bersandar di pintu karena merasa kecewa tidak bisa keluar menemui Arvin.
Ketenangan sedang tidak baik-baik saja, Andra terkurung tanpa bisa melarikan diri, tidak tahu nasibnya Arvin yang sendiri di jalanan, begitupun dengan Agra mendapatkan hukuman dari Mamanya.
Panggilan masuk dari Kanaya, Andra memicingkan matanya langsung mematikan begitu saja.
"Kenapa perempuan satu ini, membuat emosiku semakin memuncak." Andra lompat ke atas tempat tidurnya.
Panggilan kembali masuk, sampai tiga kali barulah Andra menjawabnya. Mendengar suara lembut Naya.
"Dra, kamu baik-baik saja? Alis menghubungi aku jika kalian bertiga berada dalam masalah?"
"Kenapa dengan suara kamu, kesurupan hantu?"
"Berhentilah bercanda Andra," ujar Nay kesal.
"Ya, kita dalam masalah mungkin karena bertemu kamu yang bawa sial. Berhenti menghubungi aku, membuat tambah emosi." Andra mematikan panggilan karena matanya mengantuk.
Nay bernapas lega, jika Andra bisa marah-marah berarti dalam keadaan baik-baik saja.
Tatapan Nay melihat ke arah Arvin yang sedang bermain game di ponselnya tanpa memikirkan tamparan mamanya Agra.
"Apa benar aku pembawa sialnya?" gumam Naya.
"Kehidupan orang kaya memang seperti itu Nay, tidak ada sangkut-pautnya dengan kehadiran kamu. Tidurlah, bukannya besok harus kerja?" tanya Prilly.
Kepala Nay mengangguk, membiarkan Arvin bermain game. Setidaknya dia pulang ke rumah bukan mabuk-mabukan di jalan seperti sebelumnya.
"Sial, tamparannya tidak sakit, tapi penghinaannya yang menyakiti." Arvin menarik napas panjang.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira