
Nay menatap Arvin yang sudah tergeletak di atas ranjangnya sedangkan Andra masih di lantai memeluk erat kaki, Naya sampai berteriak kuat meminta Andra dan Arvin bangun.
Teriakan Naya tidak ada gunanya terpaksa akhirnya hanya diam memperhatikan Andra yang tersenyum sambil tidur.
Nay memperhatikan wajah Andra yaang terbilang tampan, dia hanya memiliki sikap yang keras dari luarnya.
Mata Andra terbuka, Nay langsung memalingkan wajahnya melihat Andra berdiri, menyentuh wajah Naya yang kaget diusap lembut.
"Kenapa kamu hadir dalam mimpi aku?"
"Ini bukan mimpi bodoh, kenapa mabuk?"
Kepala Andra menggeleng menakup wajah Naya jika dirinya tidak mabuk hanya saja banyak beban pikiran.
Melihat kehidupan Arvin yang menantang keluarganya sehingga membuatnya dicoret dari keluarga, dan melihat Agra yang menjadi anak broken home karena meragukan kesetiaan dan sikap gila harta sehingga anak menjadi korbannya.
"Lalu aku. Bukan berarti aku baik-baik saja. Sebagai putra utama, aku dituntun untuk selalu ada di atas kedua temanku yang hebat, dan menjadi seorang pemimpin sebelum waktunya." Kepala Andra pusing dia ingin menjadi dirinya bukan dipaksa menjadi robot yang menghasilkan uang hingga lupa keluarga.
"Kamu sudah waktunya Andra untuk membentuk jati diri, apalagi seorang lelaki harus bisa menggantikan pekerjaan Papi kamu, kita tidak pernah tahu umur orang tua." Nay duduk di samping Andra yang duduk sambil tertunduk memijit pelipisnya.
Jika Naya bisa protes terhadap hidupnya mungkin dia akan memilih untuk hidup menetap di desa yang jauh dari keributan, namun Naya dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya.
Nay kehilangan keluarganya saat masih sangat muda, dia harus kuat hidup dengan nenek Kakeknya hingga akhirnya keduanya berpulang.
Hidup Nay harus menumpang kepada orang-orang yang kasihan kepadanya hingga memutuskan untuk keluar dan melihat dunia luas, dan menjalankan amanah ibunya untuk menjadi mahasiswi lulus dengan gelar.
"Kamu masih beruntung dari pada aku yang kehilangan kedua orang tua, lebih baik dari pada Arvin yang kehilangan sosok ibu, dan jauh lebih dari Agra yang melihat kedua orang tuanya berpisah." Senyuman Naya terlihat, meminta Andra menyudahi bersenang-senang.
Senyuman Andra terlihat, mendekatkan wajahnya kepada Naya. Nay ingin mundur, tapi tangan Andra memegang pinggangnya menahan.
"Aku ...."
"Tidurlah!" Nay memukul wajah Andra langsung berjalan ke kamarnya.
Tangan Naya mengusap dadanya yang deg-degan saat napas Andra terasa di depan wajahnya.
Selama berjam-jam, Andra duduk sendirian tidak bisa tidur karena kepalanya pusing. Mendengar suara Arvin tidur mendengkur.
__ADS_1
Mata Andra terpejam sambil duduk, perlahan-lahan mulai tertidur dan merasakan seseorang meletakkan sesuatu.
Naya meninggalkan apartemennya bersama dengan Prilly yang juga harus bekerja agar memiliki uang.
"Apa ini?" Andra terbangun melihat obat penghilang pusing dan mabuk juga ada kertas meminta Andra dan Arvin sarapan terlebih dahulu.
Kanaya sudah pergi bekerja di pagi hari, kuliah di sore hari. Nay memasuki perusahaan besar melihat mobil mewah juga datang bersama beberapa orang.
Nay berbaris seperti karyawan yang lain, menundukkan kepala memberi salam kepada atasan AA grup.
"Apa dia Bapak Arkasa?" Naya menatap karyawan lama yang menganggukkan kepalanya.
"Kita tidak akan bertemu dengannya karena Bapak Arkasa hanya bertemu orang-orang penting." Teman kerja Naya tersenyum, hanya sesekali berpapasan saja.
Senyuman Naya terlihat karena bersyukur jika tidak terlalu sering bertemu atasannya. Naya sempat khawatir karena pernah melihat Andra di perusahaan yang sama.
Suara beberapa orang membicarakan soal Putra pimpinan mereka juga Naya dengarkan, tidak ingin membicarakan soal pria Nay memilih pergi ke ruangannya.
Hidup Naya sudah pusing melihat tiga lelaki populer yang selalu mengacau, sudah cukup tidak bisa ingin berurusan dengan anak pimpinan.
"Naya, bagaimana pekerjaan kamu apa itu sulit?" ketua di bagian Naya menanyakan tugas yang diberikan.
Kepala Naya mengangguk dia cukup kesulitan, namun berhasil menyelesaikan berharap bisa sedikit diterima.
"Ini bagus sekali Nay, kamu cukup baik dalam pekerjaan. Tingkatan lagi, ayo semangat,"
Kepala Naya tertunduk mengucapkan banyak terimakasih, Nay akan berusaha memberikan yang terbaik agar tidak menyusahkan anggota yang lain.
Dengan senyum lebar, Naya mulai bekerja kembali. Suara panggilan dari ponselnya terdengar, kening Nay berkerut mencoba mengabaikan panggilan dari Arvin yang tidak bisa membiarkan Nay tenang sedikit saja.
Pesan masuk, Naya langsung membaca dan tertawa lepas karena Kanaya tidak sengaja memberikan Andra obat agar BAB lancar.
"Ya Tuhan Andra malang sekali nasib kamu," ucap Nay sambil menahan tawanya.
"Kanaya, Kamu kenal dengan anak pemilik perusahaan ini?" teman samping Naya berbisik pelan.
"Tidak, lagian kita juga tidak mungkin bertemu dia." Nay juga tidak berharap bertemu karena tidak penting baginya.
__ADS_1
Kepala teman kerja Naya mengangguk, namun mereka pernah melihatnya. Dia pria yang sangat tampan, dan jauh lebih kasar daripada pimpinan perusahaan.
Sudah Naya duga anak orang kaya tidak akan jauh dari sikapnya Agra, Andra ataupun Arvin. Lebih banyaknya mirip Andra yang emosi.
"Bukan hal yang mengejutkan, namanya juga anak orang kaya." Nay tersenyum melihat ke arah temannya.
"Kamu seperti sudah kebal menghadapi orang seperti mereka?"
Senyuman Naya terlihat, masih pagi bukan waktunya mereka membahas lelaki. Naya tidak bisa fokus jika terus berbicara.
"Aku pastikan kamu pasti akan jatuh cinta jika melihatnya," ujar beberapa staf.
Nay menggelengkan kepalanya, tidak tahu bagaimana tampan tiga pria populer di kampusnya. Nay tidak ingin membandingkan, apalagi diadu dengan ketampanan Andra.
Tidak terasa Naya sudah menyelesaikan pekerjaan, dan duduk selama empat jam. Bodynya terasa semakin rata karena terlalu lama duduk.
"Sakit pinggang, efek mulai menua," batin Nay.
"Kamu sudah tua Nay, lalu bagaimana saya yang sudah empat puluh empat tahun? dan bekerja selama dua puluh tahun." Ketua divisi Naya cemberut meminta semua anggotanya untuk makan siang bersama.
Suara tawa Naya terdengar, meminta maaf karena dirinya belum terbiasa sehingga mudah mengeluh.
Di lobi karyawan banyak yang berhamburan karena ingin menghabiskan waktu untuk makan siang bersama.
"Bukannya itu mobilnya Anak pimpinan?"
Naya tidak menoleh sama sekali, fokus melihat ponselnya yang mendapatkan pesan dari Alis jika Agra dijodohkan dengan Erin demi menyelamatkan perusahaan Mamanya.
Andra melewati Naya yang fokus di ponselnya, Nay tidak peduli dengan suara banyak orang yang menyapa anak pimpinan yang terbilang dingin.
Naya hanya menatap punggung, dan berlalu pergi begitu saja karena kasihan melihat Alis yang sudah mengamuk, juga memahami perasaan Prilly yang pastinya terluka mendengar kabar orang yang dicintainya dijodohkan
"Kenapa perasaan aku juga terluka?" Nay bisa memahami apa yang dirasakan dua wanita yang mencintai Agra.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1