
Pagi-pagi Kanaya sudah bersiap untuk kerja, melihat Arvin yang sudah rapi tidak tahu ingin pergi ke mana.
"Kamu mau ke mana Vin?"
"Kuliah," balasnya singkat.
Kerutan di kening Naya terlihat, Prilly juga melihat ke arah Arvin yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Aku rasa semester ini Arvin tidak kuliah?" Nay menatap Prilly yang mengangguk.
"Jangan dipikirkan Nay, pasti Arvin sedang mencari cara untuk bertahan hidup. Dia sangat pintar, percaya sama aku." Senyuman Prilly terlihat berjalan keluar bersama Naya untuk pergi bekerja.
Tawa Prilly terdengar melihat kendaraan Naya yang berubah menjadi sangat feminim, tidak sesuai dengan gaya Naya yang tomboi.
"Sudah jangan tertawa, kamu mau aku antar tidak?"
Kepala Prilly mengangguk, duduk di belakang. Sepanjang jalan keduanya tertawa menikmati pagi di kota besar.
"Pril, kenapa kamu bisa menjadi bodyguard Arvin?"
"Ceritanya panjang Nay, intinya Arvin dan Mommynya orang yang sangat berjasa untukku. Tidak pernah membedakan aku dan Arvin, perlakukan Arvin juga begitu baik kepadaku," jelas Prilly penuh senyuman karena dirinya diberkati dengan bertemu Mommy juga Arvin.
Tidak peduli ke manapun Arvin pergi dirinya akan ikut, bekerja apapun untuk bertahan. Apapun yang terjadi Prilly akan selalu melindungi Arvin.
"Kenapa kamu tidak menikahi Arvin saja?"
"Gila, itu mustahil. Aku akan pergi setelah Arvin menemukan kebahagiaannya, menemukan keluarga baru." Tidak bisa Prilly bayangkan betapa sedihnya jika waktu itu datang dan dirinya harus meninggalkan Arvin.
"Hal itu akan terjadi sepuluh tahun lagi, Arvin manusia es itu terlalu keras. Semangat kerja Pril, teruslah berhati-hati." Naya menyemangati Prilly yang bekerja sebagai OB di perusahaan besar.
Prilly menolak melamar kerja karena tidak ingin banyak orang yang mengenalinya hingga membuat masalah dengan keluarga Arvin, jika bekerja sebagai OB tugasnya hanya di belakang.
"Kamu juga hati-hati di jalan Nay, semangat Kanaya." Langkah Prilly berlari kencang masuk ke dalam perusahaan.
Senyuman Naya terlihat, melaju pergi ke perusahaan AA grup. Parkiran masih sepi, Nay bergegas masuk ke bagiannya.
Tumpukan perkejaan sudah tinggi, Naya harus menyelesaikannya sampai siang agar bisa segera pergi ke kampus. Pihak kantor tidak memberatkan Nay yang masih kuliah, tapi dirinya harus berkerja lebih keras berkali-kali lipat.
"Ayo Naya semangat, aku hanya perlu mengecek ulang laporan di mana kesalahannya." Nay membaca detail tiap laporan.
Langkah seseorang terdengar, berhenti tepat di depan pintu. Andra melipat tangannya di dada karena mengelilingi perusahaan dan hanya melihat Naya seorang yang sudah datang.
"Terlalu rajin atau butuh, suka-suka kamu Naya." Andra melangkah pergi ke lantai atas, berlari menaiki tangga darurat.
__ADS_1
Sengaja lari-larian sambil berolahraga juga memantau staf yang datang paling awal, Andra masuk ke ruangan kerjanya mengecek rekaman CCTV yang terhubung.
Senyuman Andra terlihat memantau Naya yang terlihat sangat serius, cara kerjanya begitu cepat dan begitu ramahnya menyapa para staf.
"Di depan aku dia mirip singa, tapi di belakang sangat baik dan ramah."
Kepala Sarah membungkuk mengucapkan selamat datang, menyapa banyak orang yang berniat masuk ke dalam ruangan.
"Pagi sekali kamu Sarah?"
"Iya Bu, biar cepat selesai." Sarah tersenyum sangat manis.
"Bagaimana kuliah kamu, pasti sulit sekali kerja sambil kuliah. Tidak banyak orang yang mampu melakukannya." Senyuman ketua divisi terlihat menyemangati Sarah.
Kepala Sarah mengangguk, dia bisa saja mengatasi masalah lelah bekerja lanjut kuliah, tapi yang membuat Sarah pusing harus mengurus kekacauan yang melibatkan dirinya jika bersangkutan dengan tiga sekawan.
Panggilan dari atasan masuk, mengejutkan semua orang karena masih pagi sudah ada panggilan.
"Anaknya Pak Bos meminta laporan sepagi ini," ucap pria gendut yang mengangkat panggilan.
"Tidak biasanya, lalu bagaimana saat kita belum siap semua?"
Sarah hanya bisa diam melihat satu-persatu orang mengambil laporan dari Naya untuk diteliti lagi dan diserahkan.
"Naya, kamu diminta mengantarkan laporan ke ruangan bos," ucap ketua.
Tidak bisa membantah Naya melangkah ke lantai atas untuk mengantarkan berkas, langkah Nay terhenti saat pemilik perusahaan datang.
"Andra sudah sampai?"
"Belum tahu Pak, pagi ini belum terlihat lewat," jawab sekretaris pribadi.
Beberapa staf membungkuk begitupun dengan Naya melihat Tuan Andreas masuk ke ruangan yang seharusnya Naya kunjungi.
Terdengar dari dalam suara keributan, jantung Naya berdegup kencang saat mendengar suara Andra. Melangkah mendekati, dugaan Naya benar jika memang Andra.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Apa salah Andra Pi?"
"Kenapa memecat sembarangan orang?"
Helaan napas Andra terdengar, dirinya berhak memencet siapapun jika bekerja tidak sesuai dengan peraturan.
__ADS_1
Jangan karena karyawan lama bisa semena dengan staf lain, perusahaan menjunjung tinggi keamanan dan keselamatan semua staf.
"Papi mengerti Dra, tapi ...."
"Ada banyak orang yang menginginkan posisinya, sudah menjadi resiko. Siapapun yang melakukan kesalahan maka siap dengan konsekuensinya." Andra tersenyum tidak peduli dengan kemarahan Papinya.
Tatapan mata Andra melihat ke arah Naya, mata Nay tidak berkedip mengerutkan keningnya melihat Andra.
Pantas saja dirinya bisa lolos dengan mudah, ternyata ada Andra di belakangnya. Nay melangkah pergi balik lagi ke ruangannya.
"Kenapa dibalikkan lagi?"
"Di sana ada Pak Andreas sedang bertengkar bertengkar dengan tuan muda. Apa aku punya keberanian untuk masuk?"
Kepala semua orang geleng-geleng, keputusan Naya sudah tepat untuk tidak masuk karena terlalu berbahaya.
Helaan napas Naya terdengar, semangat kerjanya langsung redup. Andra pasti sengaja melakukannya karena ingin menjahilinya.
"Aku tidak mau kerja di sini, secepatnya harus mencari pekerjaan baru," gumam Naya pelan.
Sampai jam makan siang Naya tidak bisa konsentrasi, memikirkan Andra yang ternyata atasannya.
"Aku harus menemui Andra, apa maksudnya?" Nay naik ke lantai atas mengetuk pintu ruangan Andra.
Setelah dipersilahkan masuk barulah Nay masuk, Andra sedang sibuk memainkan game di ponselnya.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Kamu yang membantu aku?"
"Bantu apa?"
Naya duduk di depan Andra, dirinya ingin bekerja dengan tenang tidak ingin berurusan dengan Andra, Nay lebih pilih mengundurkan diri.
"Bukan aku yang minta, tapi Arvin. Dia merasa tidak enak karena menumpang hidup, maka hargai usaha Arvin."
"Jika dia merasa bersalah, silahkan angkat kaki dari apartemen kumuhku." Naya memutuskan berhenti bekerja.
"Bicara dengannya, jika kamu takut lalu kenapa sejak awal terlibat?"
"Dra, jika Papi kamu tahu dan Daddy Arvin tahu apa kamu pikir kita berdua akan baik-baik saja?" Kepala Naya menggeleng, tidak akan ada yang aman karena daddynya Arvin berusaha untuk menjatuhkan siapapun yang mencoba menolong Arvin.
Senyuman sinis Andra terlihat, dirinya paham dan tidak takut. Jika Naya ingin melawan, maka dia harus bertahan hidup. Bekerja di luar juga akan menyulitkannya, perusahaan Andra tempat paling aman.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira