
Pagi-pagi Agra sudah pergi ke kampus, meninggalkan Arvin yang masih tidur. Mama mar melangkah ke kamar berniat merapikan kamar Agra sebelum pergi bekerja.
"Siapa ini?" Mama melihat Arvin yang masih tidur, memeluk tubuhnya kedinginan.
Selimut ditarik menutupi tubuh Arvin, Mama menyiapkan sarapan saat bangun karena tidak ingin mengganggu tidur, tidak mungkin juga menunggui.
"Gra, lima menit lagi bangunkan soalnya mau ke kampus," pinta Arvin.
"Agra sudah pergi ke kampus, lebih baik bangun dan mandi sekarang."
Mata Arvin terbuka, langsung duduk menatap Mama Agra yang menatapnya tajam. Kepala Agra tertunduk meminta maaf karena lancang datang.
"Cepatlah mandi, pakai baju Agra. Mau sarapan di kamar atau ruang makan?"
"Arvin pulang saja Tante, terima kasih tawarannya," ucap Arvin tidak enak.
"Sudah capek dibuatkan makan, tapi tidak disentuh. Cepat mandi, Tante tunggu di ruang makan," ujar Mama yang kasihan kepada Arvin karena tidak memiliki orang tua.
Helaan napas Arvin terdengar, menghubungi Agra yang sangat kejam meninggalnya sendirian di kamar.
Cepat Arvin mandi, mencari baju Agra dan menemui Mama Mar, rasanya Arvin ingin kabur, tapi tidak punya sopan santun.
"Makan dulu, kamu Tante tinggal sarapan sendiri, soalnya Tante harus kejar bus untuk pergi ke restoran."
"Mau Arvin antar tidak Tante?" mata Arvin berkedip, dirinya salah bicara, bagaimana jika ditampar lagi.
"Oke, lumayan hemat uang," ucap Mama.
Senyuman Agra terlihat, mempercepat makannya agar tidak terkena macet. Minuman juga diletakkan di atas meja.
"Terima kasih Tante," ucap Agra mengikuti Mama keluar rumah.
Tidak terlihat kendaraan, Agra berlari keluar pagar karena mobilnya tidak masuk ke dalam rumah.
"Lewat mana kamu masuk?"
"Jalan tikus," jawab Arvin tidak bisa memberitahu lokasinya.
Mobil Arvin melaju pergi menuju restoran yang Mama bicarakan, Arvin kasihan melihat Agra dan Mamanya yang kehilangan perusahaan, mobil berserta aset lainnya, hanya tersisa rumah.
"Vin, maafkan soal tamparan waktu itu, Tante mengaku salah."
"Tamparan ... Arvin tidak ingat Tante, soalnya beberapa waktu ini Arvin sering mabuk." Avin tersenyum karena ada orang tua yang meminta maaf kepada yang lebih muda, rasa kekecewaan Arvin langsung lenyap.
"Kenapa banyak minum, sayangi diri kamu."
"Iya Tante, Arvin hanya lelah. Tante baik-baik saja?" tanya Arvin mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
Tawa kecil terdengar, menganggukkan kepala jika dalam keadaan sangat baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena jauh lebih tenang setelah melepaskan semuanya karena mencengkram dan mempertahankan semakin melukai.
Avin setuju dengan melepaskan jauh lebih baik, memulai memang tidak mudah masih harus melewati proses yang panjang.
"Itu restorannya Vin, berhenti di sana," pinta Mama.
Kepala Arvin mengangguk, tidak sengaja melihat Alis lari-larian dari lantai dua restoran. Mata Arvin melotot karena ada Prilly juga, membawa beberapa menu.
"Kenapa ini anak berdua di sini?" Arvin keluar dari mobil memanggil Alis.
Kepala Alis menoleh, terseyum lebar saat melihat Arvin datang ke restorannya, kebetulan memang membutuhkan bantuan karena baru buka.
"Kak Arvin sini cepat, gendong Alis untuk memasang ini," pinta Alis.
"Dasar pendek, nyusahin." Arvin mengangkat tubuh Alis yang sangat ringan.
"Bisa pendek, tapi imut."
"Naya, kenapa kamu ada di sini?" Arvin menatap tajam Alis dan Naya yang tidak masuk kuliah.
Tangan Naya melambai melihat Arvin dan Alis sibuk memasang dekorasi, Prilly dan Mama Mar sibuk membuat makanan, Naya yang mencatat barang apa saja yang habis
"Kenapa kalian bertiga di sini?"
"Alis bos di sini, restoran ini punya Alis. Kak Naya kerja paruh waktu biar cepat kaya, sedangkan si nenek sihir jaga kasir kadang masak, apapun pekerjaan dia, jika perlu mengelap dinding langit." Tawa Alis terdengar menarik tanga. Arvin untuk membantunya lagi.
"Dia bos terbesar disini, tapi pilih jadi koki. Masakan calon mertua Alis enak, sekarang restoran kita ramai," jelas Alis bicara sembarangan.
Semuanya sibuk, Arvin gagal kuliah karena memperhatikan staf yang berdatangan mulai bekerja karena satu-persatu pelanggan datang.
Kepala Arvin mengangguk, ternyata memang cukup ramai karena lokasi strategis, sejuk juga pelayan yang cepat.
"Vin, makan dulu." Mama membawakan cemilan.
"Terima kasih Ma," ucap Arvin.
Panggilan masuk dari Andra karena Arvin bolos kuliah padahal masuk pagi, Agra tidak tahu jika Arvin pagi sehingga ditinggal.
"Lo di mana, apa sudah dimutilasi oleh Tante Mar?"
"Mama tidak sekejam itu Dra." Suara Agra terdengar juga.
"Aku sedang melihat para mahkluk berkumpul, satunya bolos kuliah, satunya bolos kerja, satunya entahlah. Kalian datang saja ke sini." Arvin mengirimkan alamat restoran.
Andra merasa tidak asing dengan lokasi, perasaannya pernah datang ke sana. Agra juga merasakan hal yang sama.
"Dra, bukannya itu deretan restoran mewah?" Agra menjalankan mobil.
__ADS_1
Lokasi restoran tidak terlalu jauh, dari depan jalan masuk saja sudah padat karena parkiran penuh, Agra yang memiliki kesabaran tebal bisa menunggu, coba saja jika Andra sudah ditabrak semua.
Mobil terparkir, keduanya keluar. Melangkah masuk tidak melihat adanya meja kosong, beberapa pelayan mendekat mempersilahkan untuk naik ke lantai atas.
Tangan Arvin terangkat, meminta Agra dan Andra segera duduk, memesan minuman juga cemilan untuk keduanya.
"Kakak, jika Alis tahu Kak Agra ke sini pasti pakai baju bagus, tidak mau menggunakan celemek." Alis duduk setelah meletakkan pesanan.
"Kenapa kamu di sini, tidak kuliah?" tanya Agra.
"Alis kuliah malam bersama Kak Nay," jawab Alis meminta Agra mencicipi.
"Kamu bekerja di sini Lis, hebat sekali," puji Agra.
"Bos, Alis pemiliknya."
"Oh, jadi ini restoran bertahun-tahun tidak berkembang, bahkan rugi," sindir Andra.
Pukulan Alis melayang, tidak terima dengan ucapan kakaknya. Tidak ada yang tahu namanya rezeki karena tidak akan tertukar.
"Selamat siang tuan-tuan," sapa Prilly membawakan kue.
Agra dan Andra tercengang karena Alis dan Prilly bisa bekerja bersama, padahal setiap bertemu selalu ribut.
"Apa Naya juga di sini?" tanya Agra yang menatap Naya membawa pesanan.
"Hei kalian berdua kerja, jika tidak jatah makan siang lenyap." Nay meminta Prilly dan Alis turun.
Keduanya turun, giliran Naya yang duduk santai menatap tiga pengacau. Nay memberikan makanan diskon.
"Kenapa tidak bekerja, aku tidak akan membayar gaji kamu," ancam Andra.
Tatapan mata Naya tajam, dirinya dapat waktu libur karena kemarin nya lembut, Nay akan demo jika Andra memotong sedikipun gajinya.
"Ayo makan," ucap Naya yang ikut makan.
Pukulan di atas tangan Naya cukup kuat, Andra tidak mengizinkan karena makanan dibayar bukan dikasih.
"Mana ada pelayan memakan milik pelanggan, sana pergi."
Pukulan Naya juga kuat ke arah Andra, tidak terima dibalas Andra berdiri ingin menariknya karena sudah berani.
"Mulai lagi ini anak berdua," tegur Agra.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1