
Kehadiran dokter ahli gizi cukup menghebohkan, Arvin yang baru selesai operasi melihat ke arah kerumunan menatap dokter cantik yang sedang merawat bayi obesitas.
"Cantiknya, tubuh juga indah."
"Dia sudah punya pacar," ucap Arvin menyadarkan jika dokter baru yang sedang dikagumi banyak orang wanitanya.
"Tidak apa Dokter Arvin, pacarnya tidak tahu. Lagian baru pacar belum jadi suami." Tawa dokter lain terdengar membenarkan.
Tangan Arvin tergempal, tidak suka melihat moment Alis bersama pria lain. Bukan dia yang dijaga dari wanita, tapi kebalikan.
"Kenapa harus senyum begitu?" Avin melangkah pergi malas melihat kekasihnya dikagumi orang lain.
Selesai mengecek kondisi bayi obesitas Alis kembali ke ruangannya, melewati ruangan Arvin yang kebetulan baru keluar.
"Enak ya tebar pesona," sindir Arvin menatap Alisha.
"Apa sedang bicara denganku?" tanya Alis yang tidak mengerti.
"Apa ada orang lain di sini?" tanyanya masih menahan emosi.
Kepala Alis menggeleng, melangkah mendekati kekasihnya yang tidak biasanya marah-marah.
Alis tidak tahu dia mana salahnya sampai membuat Arvin menatap sinis, tangan Alis ditarik ke dalam ruangan Arvin.
"Ada apa?" Alis duduk di kursi.
"Kenapa tebar pesona, tujuan datang ke sini apa?"
"Tidak ada, Alis tanya coba-coba," jawabnya santai.
Arvin mengerutkan keningnya, Alis menjadi perbincangan hangat. Ada banyak yang mengangumi nya, tidak seharusnya Alis diam saja.
"Aku harus bagaimana?"
"Jika ada yang bersikap manis katakan sudah ada pacar, jangan senyum-senyum." Kedua tangan Arvin meremas kepalanya.
Pertama kalinya dia merasakan cemburu, otaknya tidak berfungsi hanya karena Alis dikagumi oleh banyak lelaki.
"Alis bersikap seperti biasanya." Kepala Alis tertunduk menahan tawa.
"Tidak bisa, aku tidak suka melihatnya."
Kepala Alis mengangguk memeluk pinggang kekasihnya yang sedang marah hanya karena banyak yang mengangumi.
"Jangan marah, Alis tidak akan senyum lagi."
"Sudah waktunya jam pulang, mau aku antar?"
Kepala Alis menggeleng, dia ada pertemuan dengan temannya sesama Dokter saat di luar negeri.
"Siapa, cowok?"
"Cewek cowok, nanti pulangnya aku kabarin. Sayang, hati-hati di jalan." Alis mengecup pipi berlari kecil keluar dari ruangan Andra.
Kepala Arvin mengangguk, melangkah keluar. Wajahnya terlihat sekali sedang marah, saat ada yang menyapa Arvin melewati begitu saja.
Suara memanggil juga tidak direspon, Arvin langsung masuk mobil. Mengemudi cepat, jalanan yang ramai karena sedang jam pulang kerja tidak menyulitkannya untuk kebut-kebutan.
"Begini rasanya cemburu, kenapa aku harus marah hanya karena hal seperti ini?" Arvin berhenti di bar yang masih tutup.
Tempat yang dulunya menjadi tempat melarikan diri, Arvin selalu mabuk dan meracau sepanjang jalan.
"Tidak disangka aku merindukan tempat ini." Arvin melangkah masuk, meminta ruangan pribadi karena dia ingin tidur.
Suara musik berdentum di dalam ruangan tertutup, ada banyak minuman yang tersusun. Arvin memegang botol minum sambil tiduran di sofa.
Berjam-jam dia sendirian, mengabaikan ponselnya. Mata Arvin mulai sayu melihat ke arah layar.
Pintu ruangan terbuka, tangan Andra menutup telinganya karena sakit mendengar volume yang sangat besar.
"Apa yang kamu lakukan sampai suaranya besar?" Andra mendapatkan telepon dari penjaga bar jika Arvin datang.
"Aku sedang cemburu," jawab Arvin membuat Andra tertawa terbahak-bahak.
Tawa Arvin juga terdengar, merasa lucu karena dia juga tidak percaya rasanya sakit. Dia tidak diselingkuhi, tidak juga ditinggalkan, tapi cemburunya memiliki rasa sakit yang sama.
"Kenapa kalian mabuk di sini?" Agra tertawa melihat Arvin yang masih tiduran dengan mata merah.
"Dia sedang cemburu," jawab Andra lanjut minum.
"Sikap Alis yang periang menjadi daya tarik, wajar saja jika banyak yang menyukainya." Agra mengambil minuman di tangan Adiknya.
"Bagaimana dengan pernikahan kamu? Tumben bisa pergi sendiri?" Andra menatap Agra yang duduk disampingnya.
Senyuman Agra terlihat menikah sesuatu yang sangat menyenangkan, tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.
Bangun tidur melihat wanita cantik di sampingnya, mandi berdua, sarapan berdua pergi kerja berdua, sungguh nikmat.
"Kalian menikah atau apa? Kenapa mandi harus berdua?"
"Menikahlah Dra, maka kamu akan mengerti betapa nikmatnya pernikahan." Agra tersenyum lebar melihat wajah Arvin yang sangat berdekatan.
"Apa kamu cemburu jika ada pria yang mengangumi Prilly?" tanya Arvin.
"Tidak, aku percaya cintanya untukku. Seharusnya kamu tanyakan kepada Prilly? Bagaimana dia bisa bertahan saat jutaan orang mengagumi suaminya." Agra merangkul Arvin mereka bertahan hanya karena kepercayaan.
Prilly percaya jika pengagum hanya melihat kelebihan, tapi Prilly tahu luar dalam yang tidak dimiliki pengagum lain.
"Jangan terlalu menekan Alis, sejak kecil dia anak yang sangat heboh. Memiliki banyak teman dari berbagai kalangan, dan yang pasti Alis memiliki pekerjaan yang mengharuskan bersikap ramah."
"Jika aku tidak bisa, siapa yang berani menatapnya aku congkel matanya." Andra meletakkan satu botol yang sudah kosong.
Senyuman Andra terlihat, tiduran di lantai karena dia tidak bisa berbagi dengan siapapun, lebih baik melenyapkan orang tersebut, darinya melihat para pengagum menikmati wanitanya.
Pintu terbuka, Naya melangkah masuk bersama Prilly kaget melihat Andra sudah merayap di lantai, Arvin melamun setengah sadar.
"Ad apa ini?" Alis melangkah mendekati Arvin yang bau minuman.
__ADS_1
"Satunya cemburu, satunya iseng saja." Tawa Agra terlihat melihat Andra yang sedang memeluk kaki Naya.
"Di mana Prilly?" tanya Naya karena Agra sendirian.
"Pergi sama Mama, aku ditinggalkan di sini." Agra tidak minum lagi demi ketenangan rumah tangganya.
Prilly bisa memukulinya jika minum, daripada publik heboh lebih baik dia menonton kegilaan dua sahabatnya.
"Kenapa Avin, Lis?"
Tawa Alis terdengar, Arvin marah karena banyak Dokter dan perawat cowok mengangumi nya, padahal itu sesuatu yang normal karena Alis orang baru.
Arvin yang baru pertama kali pacaran tidak terima, dia merasakan cemburu tidak rela berbagi kekaguman dengan pria lain.
"Lis, Arvin itu posesif," ujar Naya memberikan peringatan.
"Betul, aku setuju dengan Naya. Jika Andra langsung marah tanpa pikir lagi, beda dengan Arvin yang banyak pikir akhirnya kacau." Agra menatap Arvin yang masih melamun.
"Alis tahu, kenal Arvin bukan sebulan dua bulan, tapi sejak Alis kecil." Tawa Alis terdengar masih ingat saat rok sekolah Alis disobek teman sekelasnya.
Andra datang dengan emosi ingin memukul, bahkan menggunting celana anak yang menyakiti Alis, beda dengan Arvin yang datang memberikan baju ganti lalu membuang milik Alis yang sobek.
Sejak kejadian itu Arvin selalu sinis tiap kali Alis memakai baju ketat, selalu memaksa untuk ganti baju.
"Kak Naya, selamat ya bulan depan ada pesta?" tanya Alis.
"Pesta apa?"
"Kak Naya tidak tahu? Mustahil." Alis tertawa karena Naya sungguh tidak tahu.
"Ada apa?"
"Mami sudah mendaftarkan pernikahan, gedung sudah disiapkan, bahkan sudah mencari bahan untuk gaun," jelas Alis.
Mulut Kanaya menganga, dia berpikir Mami bercanda ternyata tidak main-main. Dia ingin Andra menikah secepat mungkin, tidak ingin ada wanita lain yang akan muncul hingga terlibat perjodohan.
Agra sama kagetnya, Andra dan Naya yang akan menikah, tapi Mami yang paling bersemangat.
"Mami belum menghubungi aku soal ini," ucap Naya yang benar-benar tidak tahu.
Senyuman Naya terlihat, baru ingat jika dia lupa membaca pesan dari mami. Mengecek pesan yang sudah penuh karena Mami mengirimkan banyak gedung, gaun, hingga perhiasan.
"Kenapa Andra tidak mengingatkan aku?" Naya menghubungi Mami, melihat jam yang hampir tengah malam.
Panggilan masih dijawab, mami berteriak karena dia sangat mencemaskan Naya sempat berpikir ingin mengunjungi apartemen.
"Mami maafkan Naya, sungguh Naya lupa. Waktu itu Naya lagi meeting, jika langsung dibaca takutnya lupa akhirnya kelupaan." Kanaya merasa sangat bersalah.
"Tidak apa sayang, Mami tahu kamu sibuk. Mulai sekarang jangan abaikan mami, besok kita fitting baju."
Kepala Naya mengangguk langsung mengiyakan dia terlanjur tidak enak karena mengabaikan orang tua.
Tawa Mami terdengar, dia tidak kesal sama sekali. Mami malah prihatin karena Naya terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk bersantai.
"Mami tidur ya, Naya minta maaf sudah menganggu."
"Iya, oh iya Kanaya. Bisa Mami meminta sesuatu?"
Naya terdiam mendengar ucapan Mami, melihat ke arah Andra yang masih berada di lantai. Mengiyakan apa yang diinginkan Maminya Andra.
"Ada apa Kak Naya?" Alis ikut ke penasaran.
Kepala Naya menggeleng, tidak menjawab karena urusan pribadi. Agra hanya diam saja menatap Naya yang terlihat serius.
"Kamu sudah siap menikah Nay?" Agra melihat keraguan dari wajah Naya.
"Seusia aku mungkin sudah sangat siap, tapi apa aku bisa?" Naya tahu saat dia mencoba mengambil langkah lain ada hal yang harus ditinggalkan.
Menikah dan bekerja sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya, ada waktu yang harus dikorbankan.
"Apa saat menikah ribet kak?"
"Aku ingin menjadi seorang ibu Lis, tidak mungkin selamanya bekerja. Saat ada anak, aku ingin dua tanganku yang mengurusnya bukan pengasuh." Naya menatap tangannya sudah membayangkan hidupnya berubah.
"Oh, ternyata wajah binggung itu soal perkejaan. Kamu masih ragu untuk meninggalkan." Agra menggenggam tangan Naya karena dia sudah melakukan yang terbaik selama ini.
Sesekali meninggalkan zona nyaman ada baiknya untuk menemukan kenyamanan lain, Andra tidak mungkin menghalangi wanitanya untuk menjadi ibu juga wanita karir.
"Aku juga menegaskan kepada Prilly untuk memiliki asisten lain, dia istriku bukan staf. Aku ingin membedakan mana yang baik untuknya, Andra pasti akan melakukan hal yang sama." Agra ikut senang jika Naya memutuskan untuk mengakhiri masa sendirinya.
"Apa cinta pertama bisa berhasil Vin?"
"Pastinya, aku tahu kamu mencintai Andra, tidak menemukan kepribadian anehnya pada orang lain."
Kepala Naya mengangguk. dia mengakui jika Andra mampu membuatnya menghindari banyak utang demi menjaga perasaan yang belum tentu bisa dipertahankan.
Naya tidak menyangka ternyata dia mampu mempertahankan, dan Andra masih di tempat yang sama.
"Aku tidak boleh membuang kesempatan, Iyakan Vin?" tanya Naya menatap Arvin yang melonggo menatapnya.
"Kenapa, ada apa?" tanya Arvin.
"Naya, jangan dekat-dekat." Andra menarik pinggang Naya menjauhi Agra.
"Aku memang mencintainya Gra, tapi terkadang aku juga ingin melenyapkannya." Naya melepaskan tangan Andra.
Melihat tingkah Andra bukan tipe Naya sama sekali, tapi rasa cintanya bisa hadir hanya karena perhatian Andra yang tidak diberikan kepada sembarangan orang.
"Andra bangun, Mami sudah mendaftarkan pernikahan kita," ucap Naya membuat Andra bangun.
"Nikah, besok kita nikah?" Senyuman Andra terlihat seperti anak kecil yang menunjukkan wajah imut.
Tawa Naya terdengar mengambil ponselnya mengabadikan video Andra yang tersenyum manis.
Tangan Naya mengusap kepala lembut, rambut Andra dijambak kuat karena Naya geram.
Tawa Arvin dan Alis juga terdengar, Andra lucu baik secara sadar maupun mabuk. Dia selalu menghidupkan suasana yang awalanya hening.
__ADS_1
"Kanaya, I love you?" Andra menundukkan kepalanya duduk malu-malu.
"Love you too," balas Naya membuat Andra tertawa bahagia.
"Sudah waktunya kita pulang, Naya aku titip Andra." Agra membantu Arvin berdiri karena sudah tidak sadarkan diri.
Mata Andra sayu, berjalan bersama Nay untuk pulang. Tangan Andra melambai melihat orang-orang yang sedang asik mengobrol.
"Ayo pulang, jangan membuat perkara." Naya menatap Andra yang mengangguk-angguk.
"Selamat malam Pak Andra." Seorang wanita merangkul Andra agar berjalan bersamanya.
Tatapan Kanaya tajam, dia saja tidak memeluk membiarkan Andra jalan sendiri karena salahnya mabuk.
"Siapa kamu, berani sekali." Andra mendorong kuat agar menjauh darinya.
Andra memeluk Nay merangkulnya untuk pulang. Nay tidak ingin memperpanjang masalah, lebih baik mereka pulang karena keadaan sudah tidak kondusif ada banyak yang mabuk.
"Siapa wanita itu Dra, dia sepertinya kenal kamu?"
"Dia, tidak penting. Aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh," jawab Andra masuk ke dalam mobil.
Naya melirik tajam, dia tidak meminta Andra kenal lebih jauh, hanya ingin tahu statusnya. Pasti bukan wanita sembarangn tidak setara dengan Naya.
"Apa dia anak orang kaya?"
"Iya, makanya tidak penting. Bagi aku Kanaya yang paling penting." Andra membentuk love di atas kepalanya.
"Dia menyukai kamu?"
Kepala Andra menggeleng, dia tidak tahu dan tidak ingin tahu. Paling penting bagi Andra dia mencintai Kanaya.
"Aku hanya karyawan biasa, apa kamu tidak malu?"
"Naya, aku sedang mabuk namun aku menyadari dan tahu cara kontrol diri. Aku akan berhenti jika sudah melewati batas, maka tidak akan mudah dimiliki. Aku mencintai kamu tidak peduli sekalipun kamu hanya orang biasa, aku juga bukan manusia sempurna," ucap Andra bersungguh-sungguh karena dia tidak ingin ada salah paham.
Sekeras apapun orang memaksanya untuk mencintai orang lain, Andra tetap memilih Kanaya.
Senyuman Nay terlihat, Andra terlihat serius saat mabuk. Dia tidak ragu mengutarakan rasanya kepada Naya, tidak gengsian.
"Dra, kamu cinta pertamaku."
"Kamu juga, wanita pertama yang paling menyebalkan, tapi pertama juga membuat aku jatuh cinta tanpa bisa melarikan diri." Andra mengusap wajahnya karena ucapannya semakin jauh.
Hati Naya sangat bahagia, dai suka dengan Andra yang lebih terbuka. Naya bisa tahu semua rahasia Andra jika dia mabuk.
"Dra, apa kode rekening kamu?" tanya Naya bercanda.
"Jangan bercanda, aku tidak mau jatuh miskin karena dikuras. Sudah aku katakan meksipun aku mabuk, tapi bisa berpikir." Andra menyebutkan kode membuat Nay tertawa karean Andra tidak bisa menolak permintaan wanita yang dicintainya.
Tawa Andra terdengar memberikan kartunya agra Naya bisa belanja keperluan rumah tangga, Naya ikut tertawa tidak habis pikir dengan pola pikir Andra.
"Andra kamu manis sekali jika sedang mabuk?" Nay mengusap wajah lembut.
Sampai di apartemen, Naya membiarkan Andra jalan sendiri meksipun sempoyongan. Masuk ke dalam lift naik ke lantai atas.
Melihat Andra yang mengemaskan membuat Naya tidak berhenti tersenyum. Rasa cintanya bertambah besar.
Suara tangisan bayi terdengar, Andra mengetuk pintu apartemen Syifra karena mendengar suara Shaka.
"Shaka, apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Andra.
"Dra, jangan ganggu sudah malam." Naya membuka pintu apartemennya.
Pintu apartemen Syifra terbuka, senyuman Delon terlihat membau aroma Andra mabuk, tapi masih tenang.
"Kenapa Shaka menangis?"
"Ditinggal Bundanya ke toilet," jawab Delon menatap Andra masuk.
"Kenapa kamu mabuk Andra?" Syifra keluar kamar menggedong anaknya.
Kanaya ikutan masuk, meminta maaf karena sudah menganggu waktu istirahat. Naya akan membawa Andra kembali ke kamarnya.
"Kak Andra kenapa mabuk?" tanya Delon.
"Ikut Arvin, dia mabuk karena cemburu akhirnya ikut-ikutan," jawab Naya menarik tangan Andra keluar.
"Shaka, Papi pulang dulu." tangan Andra melambai pamitan keluar karena dia ingin istirahat.
Senyuman Delon terlihat, Andra yang terkenal keras dalam bekerja ternyata bisa berprilaku mengemaskan.
"Cuci kaki Dra, kamu tidur di ruang tamu." Naya menyiapkan tempat tidur sedari menunggu Andra membersihkan dirinya.
"Naya, tidak bisakah kita tidur bersama?"
"No, kita harus tidur terpisah." Naya menatap ponsel Andra, mengambilnya melihat ada foto Naya yang sudah cukup lama.
Naya kaget karena dia bisa membuka ponsel Andra, mengecek galeri yang dipenuhi foto Naya.
"Itu foto hampir sembilan tahun yang lalu, sudah mulai kusam dan jelek." Andra tersenyum manis melihat fotonya bersama Naya.
"Bagaimana bisa kamu masih menyimpannya?"
"Karena aku selalu merindukan kamu," balas Andra menarik selimut tidur.
Kanaya lega karena Andra tidak banyak protes, terima saja tidur di ruang tamu. Naya pikir bisa ribut.
"Naya, boleh aku tidur di kamar?" wajah Andra memelas merasakan dingin.
Kepala Naya menggeleng, meninggal Andra yang masih memohon. Ponsel Andra berdering, Naya mengambilnya melihat nomor kantor.
Nay menjawab, suara wanita sedang bercinta terdengar, Naya tersenyum sinis karena ucapan Mami benar Naya harus menemukan pengirim bunga yang cukup misterius.
"Jangan coba-coba mengambil apa yang menjadi milikku," ucap Naya, panggilan langsung mati.
***
__ADS_1
Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin
Follow Ig Vhiaazaira