KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
FITTING BAJU


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Syifra langsung dibawa ke ruang rawat, dokter belum ada yang datang sehingga harus menunggu.


"Syifra, apa yang kamu rasakan?" Naya mengusap kepalanya.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Senyuman Syifra terlihat menatap Delon yang ada di sampingnya.


Tangan Delon mengusap perut Syifra yang membesar, napasnya ngos-ngosan karena merasakan panik.


"Apa Mami menyakiti kamu?"


Kepala Syifra menggeleng, meminta Delon pulang. Kasihan Maminya yang merasakan cemas juga gelisah.


"Setelah apa yang mami lakukan, manis dipikirkan?" mata Delon berkaca-kaca.


"Delon, tidak ada baiknya untuk kita berdua, lebih baik kamu pulang dan lupakan masalah kita." Mata Syifra terpejam melihat infus yang terpasang.


Arvin masuk ke dalam ruangan meminta perawat menghubungi dokter agar segera memeriksa pasien.


"Dra, kenapa kamu memaksa aku datang. Memangnya aku Dokter kandungan?"


"Mana aku tahu kamu dokter apa, paling penting ada dokter." Andra melihat celana yang masih menggunakan celana pendek.


Tawa Arvin dan Agra tertahan, Andra terbiasa suka terburu-buru sampai pergi tanpa celana panjang.


"Di mana ruangan kamu, pinjam." Andra menarik Arvin untuk segera pergi.


Agra menghubungi papanya untuk memberitahu jika Syifra dirawat karena bertemu Mami Delon.


Dokter datang langsung memeriksa kondisi Syifra, dia dipindahkan ke ruangan rawat. Kondisi janin baik, tapi darah Syifra rendah.


"Di mana suami kamu?" tanya dokter yang baru pertama kali melihat Syifra karena dokter yang menanganinya sedang cuti.


"Saya suaminya Dok," ucap Delon mengejutkan.


Naya pilih diam, Syifra menggeleng namun dokter sudah menjelaskan kepada Delon. Ada banyak ketakutan soal kondisi Syifra, bayi sehat namun kondisi Syifra yang lemah.


"Kemungkinan besar bayi harus dilahirkan lebih cepat," ucap Dokter.


"Kita ikuti apapun saran dokter, tolong berikan yang terbaik untuk keduanya Dokter," pinta Delon.


Dokter meminta Syifra istirahat, meninggalkan ruangan untuk melihat hasil darah Syifra.


"Semua orang tua akan melakukan hal yang sama, jangan terlalu membenci Mami kamu," tegur Naya meminta Delon menjaga Syifra.


Di ruang tunggu Mami Delon berdiam diri, Naya duduk disampingnya mengenggam tangan menguatkan.


"Tante kecewa itu wajar, semua ibu memiliki harapan besar untuk anak-anaknya."


"Bagaimana kondisinya? Tante terbawa emosi."


Senyuman Naya terlihat, janin baik-baik saja namun berbahaya untuk ibunya. Tensi dan darah Syifra rendah, tubuhnya juga kurus tidak memiliki gizi.


Jika tidak ada kemajuan tepaksa bayi harus dilahirkan lebih cepat demi keselamatan. Syifra akan melakukan operasi.


"Ya tuhan, kenapa putraku harus ada di posisi ini?"


"Delon hebat Tante, dia masih muda namun berani mengaku salah." Naya kagum kepada Delon meksipun ada kesalahannya.


Manusia tempatnya salah, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Naya melihat banyak rupa manusia, dan dia percaya ada rezeki bagi siapapun yang mau berusaha.


"Tante tidak bisa menerima Syifra dia pasti mengerti, tapi apa Tante akan baik-baik saja melihat Delon terus merasa bersalah?" Naya menatap wanita paruh baya yang menangis memikirkan putranya.


Senyuman Andra dari kejauhan terlihat, memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi Kanaya sempurna dimata Andra.


"Aku melihat cahaya indah," gumam Andra pelan.


Mami dan Naya masuk ke dalam ruangan rawat Syifra, melihat Delon yang mengenggam tangan meminta maaf atas nama Maminya.


Berkali-kali Delon mengusap perut, ada kasih sayang yang tulus pada bayinya meksipun tidak diharapkan hadirnya.


"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Mami kepada Syifra.


"Mau apa Mami, tolong jangan membuat ribut. Biarkan Syifra istirahat." Tangan Mami ditarik paksa oleh Delon.


"Delon jangan lakukan itu, Mami kamu tidak salah. Dia melakukan apa hal pantas, aku yang minta maaf sebagai wanita dewasa tidak bisa menjaga sikap." Syifra berusaha untuk berdiri, tapi tubuhnya tidak mampu.


"Tetap tidur, ingat apa yang dokter katakan," tegur Delon membantu Syifra tidur kembali.


Dokter mengetuk pintu meminta ruangan tidak ramai karena Syifra harus istirahat. Tidak boleh banyak pikiran.


"Aku yang akan berjaga di sini Naya, maaf karena harus bolos kerja." Delon tidak ingin meninggalkan Syifra.


"Emh, kabarin aku Delon." Naya pamit keluar karena harus pulang.


Hanya ada Mami dan Delon yang menjaga Syifra, Naya berharap ada keajaiban hati mami Delon terketuk.

__ADS_1


"Kita ke mana sekarang Nay?" tanya Agra yang menutup wajahnya menggunakan masker dan topi.


"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, biarkan Delon berjuang sendiri. Lebih baik kita pergi untuk fitting baju sebelum Mama mengamuk." Kanaya berjalan lebih dulu diikuti oleh tiga lelaki.


Kepala Naya menoleh ke arah ketiganya, padahal ada banyak mobil, tapi pilih masuk satu mobil.


"Di mana mobil kamu Vin?"


"Ada, tapi lagi malas nyetir." Arvin memejamkan matanya meminta waktu tidur.


Hembusan napas Naya terdengar, Andra langsung menoleh begitupun dengan Arvin dan Agra tidak biasanya mendengar hembusan napas Naya yang sangat panjang.


"Ada apa, kenapa kamu nampak begitu lelah?" Agra melihat wajah Naya yang penuh beban.


"Bukan begitu Gra, kenapa ada saja masalah yang hadir dalam hidupku jika bersama kalian?" Naya masih mengingat dengan jelas saat Arvin menjadikannya pacar dadakan.


Bukan hanya satu dua orang yang menjatuhkan, tapi ada banyak. Baik masalah keluarga maupun percintaan.


Setelah dewasa terulang kembali, Naya harus melihat Syifra yang memprihatinkan. Lebih buruknya lagi Naya terlibat kembali.


"Jika kamu tidak ingin pusing, tinggalkan Syifra dan juga Andra," ucap Arvin santai.


"Kurang ajar, kamu kawan atau lawan." Andra memicingkan matanya.


"Gra, apa yang kamu pikirkan setelah menikah?"


"Buat anak Nay, apalagi." Andra menimpali karena tujuan menikah untuk mendapatkan keturunan.


Kepala Naya mengangguk, pasti akan menyenangkan jika memiliki anak. Hal yang dulunya tidak pernah terbayangkan.


"Minggu depan aku mengikat janji pernikahan, tujuanku tidak semata-mata soal anak, tapi ingin hidup bersama, menghabiskan sisa hidup dan berkeringat berdua." Agra melihat Arvin yang meliriknya terheran-heran.


"Mau jadi kuli kalian sampai berkeringat bersama," sindir Andra geli.


Tawa Naya terdengar, Andra manusia paling syirik jika melihat orang lebih dulu bahagia. Tidak terima sekali dengan kebahagiaan orang.


"Kalian berdua cepatlah menikah, jangan pacaran terlalu lama karena aku bisa karatan menunggu." Arvin memukul pundak Andra kuat.


Andra dan Naya kaget, ternyata Arvin tahu jika Andra Naya berpacaran. Selama ini Naya tidak pernah membahasnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Andra.


Tawa Arvin dan Agra terdengar, mustahil mereka tidak tahu. Naya dan Andra pergi selama dua bulan full tidak mungkin hanya soal bisnis.


Arvin mendapatkan kabar jika Naya dan Andra berada di satu kamar selama perjalanan bisnis dan beberapa kali jalan-jalan layaknya pasangan.


"Kita tau, kamu tidak perlu menjelaskannya. Kita bukan anak kecil lagi, kita tau kalian berdua saling mencintai sejak lama." Agra mengacak rambut Naya yang sedang menyetir.


Tidak ada yang ingin menyakiti Syifra, tapi Naya dan Andra berhak untuk memperjuangkan juga kebahagian mereka.


"Jika mereka berdua tidak menikah, apa kalian akan terus begini, lalu bagaimana dengan aku?" Avin mengkhawatirkan hubungnya dengan Alis.


Tidak ada yang menentang hubungan mereka, tapi Papi tidak ingin Alis menikah mendahulu Andra.


"Setelah anaknya Syifra lahir, dan dia bisa mengatasi masalahnya. Aku akan memutuskan," ucap Andra sudah menyiapkan hal yang harus dilakukanya.


Naya menoleh sekilas, fokus kembali untuk menyetir. Naya minta maaf kepada Agra dan Arvin jika dirinya egois.


"Naya, apa kamu mencintai Andra?" tanya Avin.


"Dia tidak akan menjawabnya, mau aku kasih bukti saja." Senyuman Andra terlihat karena dia punya bukti soal perasaan cinta Naya.


"Emh, aku mencintainya, dan aku juga binggung kenapa harus Andra, padahal ada banyak pria yang jauh lebih baik darinya," ungkap Naya di depan tiga pria.


"Itu pengakuan, pujian atau sindiran?" mata Andra melotot kesal.


Tawa Agra dan Arvin terdengar, perjalanan cinta keduanya memang tidak mudah, ada saja masalahnya, bahkan untuk mengakui saja banyak drama.


Mobil berhenti, mobil Alis juga berhenti tepat di samping mobil yang Naya kemudikan.


"Sayang, kenapa tidak mengabari aku?" Arvin keluar mobil, melihat Alis yang terburu-buru.


"Hanphone lembut, Alis tidak menyadarinya. Maaf." Pelukan Alis erat melangkah masuk bersama Arvin.


"Kenapa dua orang ini selalu menunjukkan kemesraan di depan umum?" Agra geleng-geleng masuk bersama Andra dan Naya,


Di dalam butik desainer terkenal sudah sibuk, Syifra bersama Mama sudah datang lebih dulu.


Senyuman Agra terlihat wanitanya sangat cantik menggunakan gaun mewah berwarna putih.


"Cantiknya calon pengganti," goda Agra yang tidak bosan mengagumi kecantikan Prilly.


"Kenapa terlambat datangnya, apa kamu punya pekerjaan?" tanya Mama meminta Agra segera mencoba bajunya.


Kepala Prilly menunduk malu wajahnya memerah saat Agra mendekati. Agra mengecup bibirnya gemes karena tidak sabar lagi ingin bertemu hari H.

__ADS_1


"Agra, jangan digoda, kasihan dia malu." Mama menepuk punggung Agra.


"Bagaimana tuan Agra, apa Nona Pril nampak cantik?" tanya Desainer yang menangani baju Prilly.


"Apapun yang dia pakai selalu cantik, hal itu tidak akan pernah berubah." Senyuman Agra terlihat mengambil bajunya untuk ganti pakaian.


Di ruangan lain Naya dan Alis sedang mencoba bajunya begitupun dengan Andra dan Arvin.


"Aku tidak tahu kenapa kita juga harus fitting baju?" Andra merasa dia terlalu tampan menggunakan baju apapun.


"Berlagak sekali kamu Dra," sindir Arvin yang mengembalikan bajunya karena sudah pas.


"Bagaimana persiapan kamu, apa sudah siap melewati ini?" tanya Andra melihat sahabatnya yang ingin menjadi iparnya.


"Tergantung kamu, kapan kalian akan menikah?" senyuman Arvin terlihat tidak bisa membayangkan Agra menjadi kakak tirinya, tapi menjadi iparnya Andra jauh dari bayangkan Arvin.


Kepala Andra mengangguk, dia tidak tahu cara menyatakan cinta yang romantis, bagi Andra jika saling mencintai seharusnya bisa bersatu.


"Andra, semua wanita butuh kepastian dan pengikat. Bagaimana dengan Mami kamu, apa dia menyetujui hubungan dengan Naya?"


Helaan napas Andra terdengar, Maminya tidak pernah menentang keputusan Andra dia bahkan pernah memergoki Naya dan Andra yang sedang berdua.


"Mami melaporkan kepada Papi jika kita akan segera punya bayi." Senyuman Andra terlihat tipis.


Tawa Arvin terdengar, Mami memang sosok yang unik, dia tidak pernah melarang anak-anaknya, tapi semakin didukung untuk bersatu.


Selesai fitting, Andra dan Arvin melihat calon pengantin yang sedang berfoto mencoba baju pengantin. Naya dan Alis sudah berisik melihat betapa cantik dan tanpanya Prilly Agra menggunakan baju mewahnya.


"Rasanya mau nikah juga," ujar Alis yang mengangumi sepasang pengantin yang sedang bahagia.


"Kenapa kalian berdiri di situ, ayo foto." Agra meminta semuanya maju.


Mama tersenyum lebar melihat putranya nampak bahagia karena sebentar lagi akan melepaskan masa lajangnya


"Setelah kamu menikah, apa kita masih bisa pergi main?" tanya Andra?"


Tawa Arvin dan Agra pecah, bisa-bisanya Andra memikirkan waktu untuk bermain. Tentu Agra akan selalu punya waktu untuk bermain.


"Menyusulah Andra, kalian tidak ingin menikah di waktu yang berdekatan?" tanya Mama.


"Mau Ma tapi Kanaya susah diajak kompromi." Andra menoleh ke arah Nay yang sedang menatap gaun mewah berwarna putih gold.


Langkah Andra mendekat, melihat gaun mewah yang menjadi pusat perhatian Naya, senyuman lembut terlihat di wajahnya.


"Kamu mau mencobanya?"


"Tidak, apa yang kamu bicarakan," Tolak Naya malu.


"Aku ingin melihatnya, sekali saja," pinta Andra memelas.


"Coba saja Naya, bajunya cocok untuk kamu." Prilly meminta bantuan desainer dan asistennya agar Naya mencoba gaun mewah.


Kanaya tidak bisa menolak, dia mengikuti keinginan Andra mencoba baju pengantin yang sungguh luar biasa indahnya.


Gorden terbuka semua mata melihat ke arah Naya yang menggunakan gaun pilihan, senyuman Andra terlihat karena Naya terlihat seperti pengantin yang sesungguhnya.


Andra memotret Kanaya, melangkah mendekatinya membuat Naya bertambah malu.


"Kamu cantik Naya menggunakan gaun ini, aku pastikan kamu akan memakainya di depan banyak orang, hari itu tidak akan lama."


"Sudah ah, aku malu." Nay menutup wajahnya yang memerah.


Kedua tangan Andra memegang erat tangan Naya, mata keduanya bertemu. Jantung Naya berdegup kencang saat Andra mengeluarkan kembali gelang yang sempat terbuang.


"Gelang ini couple, tapi dia hanya mampu mengikat perasaan kita, tidak mampu menyatukan. Boleh aku menggantinya dengan yang lain?" tanya Andra memastikan.


Kepala Nay mengangguk karena merasa sedih melihat Andra masih menyimpan gelang yang mengikat keduanya selama delapan tahun.


Andra mengeluarkan cincin yang sebenarnya sudah delapan tahun bersamanya. Cincin yang ingin Andra berikan tertunda begitu lama.


"Cincin itu masih muat di jari manis kamu," ucap Andra menatap cincin yang melingkar indah di jari manis Naya.


"Cincin cantik," puji Naya.


"Emh, dia sudah menemukan tuanya, menikahlah denganku Naya aku tidak ingin berpisah lagi." Andra menggenggam tangan Naya.


Senyuman Nya terlihat memeluk Andra erat tidak tahu apa yang dipikirkannya Naya juga ingin menikah seperti impiannya bisa hidup bersama Andra.


"Apa yang kita saksikan, apa ini acara lamaran?" tanya Arvin yang tidak bisa mencerna.


"Pasangan yang paling dulu jatuh cinta, tapi paling sulit bersama." Agra mengabadikan moment Andra Naya berharap pernikahan impian keduanya bisa berlabuh.


Kebahagiaan keduanya terpancar, Naya mengangguk saat Andra mengajaknya untuk menikah.


Tidak ada alasan Naya untuk menolak, daripada harus kehilangan kembali, lebih baik mengenggam erat dengan ikatan pernikahan.

__ADS_1


***


__ADS_2