
Malam hari Andra baru keluar rumah menuju club tempat Arvin bekerja, terdengar suara musik berdentum diiringi ratusan orang yang sedang berpesta.
Tangan Arvin terangkat dari meja bartender, Andra melangkah mendekat duduk di meja yang nampak kosong.
"Minum tidak?"
"Tidak, aku hanya ingin kita membahas soal apartemen, jangan mau ganti rugi, tidak mungkin apartemen bisa meledak, dan tidak merusak sisi yang lainnya." Bangunan yang berdempetan, dan anehnya hanya rumah Naya yang hancur, tidak melihat rumah lain.
"Apartemen di sekitar yang awalnya ada penghuni anaknya sudah kosong, mereka sudah antisipasi sekali agar tidak ada yang menjadi korban," jelas Arvin yang tidak habis pikir.
Senyuman Andra terlihat, meminta Arvin tenang saja. Mereka bisa menemukan jalan keluarnya untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa orang yang Andra butuhkan muncul, Arvin menunjukkan denah juga foto beberapa orang yang harus ditemukan.
Lima orang yang terekam cctv harus bertanggung jawab atas kerugian yang Naya alami.
"Apa mereka bisa dipercaya, Dra?"
"Jangaan ragukan aku, kita bisa melawan Kakek kamu," balas Andra yang sangat percaya diri.
Niat Andra tidak minum, tapi seteguk dua hingga satu botol habis. Arvin langsung menyita tidak mengizinkan minum lagi.
"Dra, bagaimana jika aku melakukan rencana yang sempat tertunda?"
"Soal saham itu, kakek kamu bisa jatuh miskin. Seseorang yang paling mudah jatuh dia yang memiliki usaha." Andra sudah melihat banyak pengusaha bangkrut, tapi ada kala yang suksess juga.
"Merintis yang mudah hancur Dra, jika sudah sebesar Kakek apa bisa begitu?"
"Lihat saja Agra, di mana kesuksesan Mamanya dulu, bagaimana kejayaan Papanya. Mereka memiliki banyak gedung, mobil, saham, bahkan bisnis lain, tapi hanya karena perselingkuhan satu-persatu hilang. " Andra tersenyum sinis, Sebesar apapun kesuksesan jika mengambil jalan cepat dan tidak bersyukur pasti roboh.
Salah satu orang yang bisa bertahan dari gonjang-ganjing perselingkuhan mommynya Arvin. Dia yang dulunya wanita biasa, tapi saat tersakiti membuat benteng dan usaha sendiri, tidak bergantung dengan suaminya lagi.
Usaha kecil-kecilan bisa bertahan karena konsisten sampai Arvin mengambil alih. Mommy memberikan lompatan untuk Arvin agar bisa melawan.
"Kamu tahu banyak hal soal bisnis, tapi tiap hari juga dimarah karena bisnis," tegur Arvin yang tahu jika Papi Andra selalu mendesak.
"Masalahnya bukan bisnisnya, tapi Papi meminta sesuatu yang belum bisa aku tinggalkan." Andra tersenyum karena suatu hari dirinya pasti akan memikul beban yang sama dengan beban dipundak Papinya.
Kepala Arvin mengangguk, bangga kepada Andra yang pikirnya terkadang dewasa. Dia bisa menjadi teman berbagi masalah.
__ADS_1
"Thank Dra, aku bangga melihat kamu yang tumbuh dewasa."
"Dewasa itu dimiliki semua orang, tapi terlihat pada kondisi tertentu. Bagaimana kondisi dua wanita yang pasti panik?"
Kerutan di kening Andra terlihat, Andra salah besar bukan dua wanita yang panik, tapi dirinya.
Nay dan Prilly ahli bela diri, lebih kuat dari Arvin, tidak mudah membuat keduanya jatuh. Arvin hanya kasihan karena mereka keluar hanya bawa badan.
"Rasanya sebagai lelaki aku tidak berguna sekali," Ujar Avin yang tidak bisa memaafkan kakeknya.
"Kecewa boleh, tetapi jangan coba-coba menantangnya, dia cukup tangguh setelah menjadi lelaki egois selama puluhan tahun."
Lirikan mata keduanya tajam, Arvin berniat berkunjung ke rumah kakeknya, tapi tidak mungkin membawa Andra yang mulai mabuk.
Tubuh Andra beranjak melihat musik yang mulai terdengar jelas ditelinga, tidak terpikirkan masalah yang ada.
"Dra, Alis ternyata baik juga. Aku mendapatkan kabar Diana mengirimkan bajunya, harganya pasti mahal semua."
"Siapa yang mengatakan, Alis jarang beli barang mewah jika untuk pakaian hari-hari, tiga bulan sekali atau enam hingga satu tahun sekali pasti bongkar baju untuk dibagikan.
Kedua tangan Arvin bertepuk salut dengan putri kaya raya yang hidupnya bisa beradaptasi dengan banyak orang.
Kepala Andra menggeleng, dia bisa pulang sendiri diantara oleh supir pengganti. Tangan Andra melambai meminta Arvin berhati-hati dengan kakeknya.
Senyuman Arvin terlihat, merasa lucu kepada Andra yang sempoyongan karena banyak minum.
Mobil Andra melaju pergi, matanya terpejam setelah menyebutkan alamat, tapi sayang mobilnya berhenti di tempat yang sepi.
"Eits, tidak kena." Andra menahan pisau yang mencoba menyerangnya, memutar tangan melayangkan pukulan.
Kepala terbentur, Andra melihat ada banyak mobil yang sudah menyengat di jalan. Tubuh supir pengganti terpental keluar.
Andra mengambil alih mobilnya, melaju ke depan dengan kecepatan tinggi. Suara tembakan terdengar, beberapa orang bersenjata sudah mengepung.
"Kepolisian, bagaimana bisa?" para penjahat terkejut karena rencana mereka berbalik arah.
Berpikir Arvin akan tunduk jika temannya dalam bahaya, tapi ternyata pertemuan Arvin dan Andra hanyalah pancingan. Keduanya sudah merencanakan bersama daddynya Arvin untuk menangkap para pesuruh kakeknya.
"Masuk penjara lagi, ditangkap lagi," ejek Andra sambil tertawa melihat puluhan penjahat di borgol.
__ADS_1
Arvin berlari keluar dari mobil daddynya, mengecek Andra yang mungkin saja terluka. Bibir Andra mengeluarkan darah, bajunya juga ada bercak.
"Dra, Lo terluka?" Avin nampak cemas.
"Gue baik-baik saja, lebai. Kakek Lo gila, dia mengirim orang sebanyak ini hanya untuk membuat putra dan cucunya tunduk." Andra menggeleng.
Hanya karena Andra anak orang berpegaruh dan sengaja membuat peperangan sampai mengerahkan banyak orang.
"Jika Papi kamu tahu putranya terluka, pasti akan menghancurkan, Om."
"Santai saja Om, Andra sudah biasa pulang babak belur, tapi sepertinya aku mabuk." Andra duduk di jalan, memeluk kaki Arvin.
Daddy akan mengurus sisanya, orang yang meledakkan apartemen akan segera tertangkap, Kakek juga akan terseret.
"Bagaimana dengan Alisha, Naya, apa Agra berhasil menahan mereka agar tidak keluar rumah?" tanya Andra yang masih memikirkan adiknya.
Kepala Arvin mengangguk, Alis tidur pulas di rumah Agra, Naya juga ada. Bahkan Prilly dan Mama Agra tidak pergi bekerja sampai keadaan benar-benar tenang.
"Kamu tidak perlu cemas Dra, rencana kita berhasil."
"Jangan senang dulu, Kakek kamu tidak mungkin ditahan. Bisa saja dia berbuat yang lebih buruk lagi, lebih baik Daddy bicara baik-baik, tapi jika tetap tidak bisa terpaksa dengan cara lain," ucap Andra yang sudah sempoyongan karena kepalanya sakit.
"Sudah aku peringatkan tidak usah minum?"
"Kamu yang menawarkan Vin, mau minum tidak Dra?" tatapan mata Andra tajam, berdiri dari duduknya, melambaikan tangan melihat para penjahat dibawa ke kantor.
Senyuman Andra terlihat, meminta Arvin segera pergi bersama daddynya, Andra juga ingin segera pulang.
"Kamu yakin bisa membawa mobil?"
"Tentu, aku pembalap handal." Andra masuk ke dalam mobilnya, pamit pulang.
Daddy mengucapkan terima kasih karena Andra banyak membantu, dia bahkan mengorbankan dirinya sendiri.
"Andra cukup cerdik jika soal beginian, tidak heran dia suka bertengkar, pulangnya babak belur membuat kedua orangtuanya pusing." Daddy tersenyum mengusap punggung Arvin untuk segera pergi menemui Kakeknya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1