
Kabar mengejutkan bagi Naya saat Syifra menghubunginya, Delon tidak main-main dengan ucapannya untuk menikahi Syifra sebelum kelahiran anaknya.
Naya tidak tahu harus menyambut bahagia atau sebaliknya, Delon belum mendapatkan restu namun nekad.
"Ada apa, kenapa wajah kamu memerah?"
"Hari ini Delon dan Syifra akan menikah, apa ini tidak terllau cepat?" Naya menatap Andra yang sama kagetnya.
"Besok pernikahan Agra, bagaimana bisa Delon mendahului," gumam Andra kebingungan.
Naya berdiri dari tempat duduknya, melangkah keluar untuk menemui Syifra dan Delon diikuti oleh Andra yang juga penasaran.
Di jalan Nay menghubungi Agra yang pasti sedang ditahan karena tidak bisa keluar lagi. Pengawasan juga ketat karena media ad di mana-mana.
"Gra, sudah dengar kabarnya?" tanya Andra garuk-garuk kepala.
"Emh, tapi aku tidak bisa kesana hanya Papa." Agra meminta Andra mewakilinya.
Jantung Naya berdegup kencang, saat hati sudah nekad logika memang tidak berguna lagi. Nay tidak habis pikir jika Delon akan melakukan jauh dari perkiraan.
"Aku tahu Delon berani melakukan ini, bukannya dia cukup berani?" tanya Andra.
"Dia bukan hanya berani, tapi idaman wanita. Dia calon ayah yang akan mencintai anaknya. Kita tidak mampu membujuknya, tapi mendengar Syifra dan anaknya dihina emosinya terpancing.
Tidak memiliki kuasa membela, maka pernikahan menjadi jalan satu-satunya agar anak yang lahir dipertanggungjawabkan.
"Apa ini tempatnya?" tanya Naya melihat tempat ibadah.
Kepala Andra mengangguk bergegas masuk bersama, ternyata Delon sudah mengurus surat-menyurat sebelum dia menemui maminya.
Langkah Andra terhenti melihat Delon dan Syifra berdiri di depan altar, hanya dihadiri oleh kedua orang tua Delon.
"Apa bisa seperti ini?" Andra melangkah mendekat begitupun dengan Naya.
Tangan Delon menyentuh kepala Syifra, tangisan Mami Delon terdengar karena tidak bisa lagi melarang.
Papa Agam juga meneteskan air matanya tidak menyangka Delon nekad dan mengurus segalanya sendiri.
"Tanpa teman, saudara, dan keluarga, Delon pergi membawa Syifra hanya dengan keyakinannya." Naya memegang dadanya yang merasa heran, namun dia bangga.
"Maafkan aku sudah menghacurkan masa muda kamu," ucap Syifra yang tidak bisa menahan air matanya.
"Kenapa meminta maaf, aku yang salah karean terlambat. Maafkan aku yang membuat kamu menderita sendiri ." Delon memeluk erat setelah mengucap janji pernikahan.
"Aku tidak ingin membuat kamu kehilangan mimpi," ucap Syifra memeluk erat.
"Mimpiku bisa menghidupi kalian. Aku tidak bisa memberikan pesta mewah, tidak ada gaun indah, kita di sini hanya memohon doa dari yang maha kuasa." Delon mengusap kepala Syifra lembut karena dia berjanji akan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak mereka.
Air mata Nay juga menetes, menujukkan panggilan video untuk Agra yang sedang berada di rumahnya.
"Andra," panggil Syifra yang meminta maaf atas semua salahnya.
"Kenapa terburu-buru sekali, aku bisa menyiapkan pernikahan yang indah untuk kalian. Bagaimanapun juga aku menganggap Syifra seperti keluarga." Andra mengusap matanya.
Syifra berlutut di depan orang tua Delon, melipat kedua tangannya meminta maaf. Dia tidak bermaksud melukai hati apalagi menghancurkan.
"Apa yang kamu lakukan Syifra berdirilah, ingat kata dokter." Papa meminta Delon membantu Syifra berdiri.
Mami hanya diam saja, Delon yang giliran berlutut menggenggam tangan Maminya untuk meminta maaf.
"Maaf ya Mi, Delon tidak bisa membanggakan Mami. Maafkan Delon yang keras kepala."
"Kamu anak mami satu-satunya, apa yang harus mami lakukan untuk memperbaiki keadaan?" tangisan Mami pecah tidak sanggup melihat Delon harus berumah tangga diusia muda.
Delon memeluk Maminya, suatu hari dia akan memberikan yang terbaik. Delon akan menjadi anak yang bisa dibanggakan juga suami dan ayah yang bertanggung jawab.
"Tidak apa Mami membenci Delon, marahi saja Delon Mi, tapi nanti aku akan berlutut kembali meminta Mami memaafkan aku." Tangisan Delon juga pecah.
Dia tidak bisa membanggakan seperti Agra yang memiliki karir bagus, tidak bisa memberikan apapun kepada Maminya.
"Jangan bicara seperti itu, Agra dan kamu tidak pantas dibandingkan. Kalian memiliki jalan, perjuangan, dan nasib yang berbeda. Kalian anak-anak spesial, hanya saja Agra bahagia lebih dulu." Papa memeluk Delon mendoakan anak tirinya bahagia.
"Kata siapa aku bahagia lebih dulu, Kakak yakin hanya hitungan bulan Delon akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Kalian hanya tidak memahami keadaan, jangan anggap ini maslaah tapi awal bahagia." Senyuman Agra terlihat melalui panggilan karena Delon menikah lebih dulu darinya.
Senyuman Delon terlihat membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih. Agra selalu memberikan dukungan dan semangat yang membuat Delon yakin.
"Pulang dari sana langsung ke rumah, kita adakan doa di sini dan menyambut pengantin baru," ucap Mama menunggu Delon dan Syifra datang ke rumahnya.
"Terima kasih Tante, kita akan ke sana karena besok Kak Agra akan menikah."
"Di mana kamu sekarang, Om akan minta supir menjemput." Daddy juga muncul menyemangati Delon agar tersenyum.
Air mata Delon bertemu dengan senyumannya, terlihat sekali dia nampak begitu bahagia mendapatkan dukungan dari banyak orang.
Naya memeluk Syifra lembut, mengusap air matanya, Agra benar sebentar lagi Syifra akan mnejadi orang paling bahagia karena kehadiran buah hatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Naya, aku menganggu waktu kamu."
"Jangan katakan itu, aku tidak berpikir jika ini gangguan, aku bahagia bisa menjadi saksi janji suci kalian." Naya mengusap perut Syifra meminta sehat selalu.
Andra memeluk Naya dan Syifra, mengusap punggung keduanya yang juga lahir tanpa orang tua.
Naya dan Syifra memiliki nasib yang sama, mereka tumbuh tanpa dukungan siapapun, hanya bisa menguatkan diri sendiri tanpa keluarga.
"Aku bahagia melihat kamu kembali seperti dulu lagi Syif," ujar Andra yang bangga karena hati Syifra begitu baik sehingga tidak menolak anaknya.
"Cukup aku yang tumbuh tanpa orang tua, anakku jangan. Cukup aku yang tahu kerasnya hidup tanpa pelindung, namun jangan ada lagi yang bernasib sepertiku." Bibir Syifra bergetar jika teringat dengan dirinya.
"Sudah jangan menangis lagi, sayang air mata kamu terkuras habis. Ingat apa kata Dokter jangan banyak pikir, lebih baik banyak makan." Naya tersenyum lebat meminta Syifra duduk menunggu mobil jemputan.
Mami menatap Syifra yang begitu menyedihkan, tiap wanita pasti memiliki pernikahan impian.
"Sudah makan belum, apa yang skerang kamu rasakan?" tanya Mami.
"Aku baik-baik saja, dan tidak lapar." Senyuman Syifra terlihat menyentuh tangan Mami meminta maaf.
"Tiap wanita memiliki impian pernikahan, bagaimana dengan kamu?"
"Aku tidak memilikinya, aku juga tidak percaya bisa ada di masa ini dan sejauh ini. Menikah dan menjadi ibu sesuatu yang tidak nyata namun terjadi." Senyuman Syifra terlihat sangat lembut karena semuanya mampu dia lewati dengan ikhlas.
Mobil yang ditunggu tiba, Andra tersenyum menyambut meminta Syifra dan Delon masuk. Mereka akan sulit memasuki kawasan rumah Agra karena banyak media.
"Ini mobil pengantin, kenapa kita yang memakainya?"
"Jarang sekali, lebih parahnya aku jadi sopir." Arvin membungkuk mempersilahkan bagaimanapun Delon juga adiknya.
Tubuh Delon membungkuk, menyambut tangan Syifra untuk masuk ke dalam mobil. Naya dan Andra bersama kedua orang tua Delon masuk ke mobil Andra.
Dua mobil melaju pergi, Andra melihat Mami yang masih mengusap air matanya. Kasian melihat Delon dan Syifra.
"Jangan kasihani mereka Tante, masalah keuangan tidak mungkin sulit. Syifra bukan pengangguran, dia memiliki bisnis yang jelas. Delon bisa bekerja sambil kuliah S2 sama seperti Kanaya dahulu." Andra mengucapkan terima kasih karena masih datang di pernikahan meksipun tidak ada acara penting.
Mami Delon terdiam, menatap Andra dan Naya yang selalu ada untuk anaknya, hanya bisa mengucapkan terimakasih karena banyak membantu.
Jalanan penuh, kemaren memotret mobil pengantin yang ada di depan. Para wartawan salah paham berpikir Agra sudah melakukan janji pernikahan.
"Oh tuhan, mereka salah sangka." Tawa Andra terdengar, gerbang terbuka, pengawal langsung menutup lagi setelah dua mobil masuk.
Rumah mewah Daddy terlihat besar, Delon tercengang melihatnya karena ada rumah seperti istana.
"Ini mansion keluarga kamu Vin?" tanya Syifra.
"Emh, begitulah. Ini tempat kita pulang." Arvin keluar membukakan pintu untuk Syifra dan Delon.
Senyuman Mama dan Daddy terlihat menyambut, Agra juga muncul mempersilahkan masuk.
"Selamat datang, selamat juga atas pernikahan kalian." Mama memeluk Syifra meksipun tidak mengenalnya.
"Wow, ada dedek bayi." Raya menyentuh perut Syifra.
Senyuman Kanaya terlihat, Raya menjulurkan lidahnya kepada Naya. Wanita yang selalu dicarinya, tapi selalu dimusuhi.
"Silahkan masuk," pinta Daddy merangkul Papa Agra untuk masuk ke rumahnya.
Di dalam rumah sudah penuh makanan untuk menyambut kedatangan Syifra dan Delon, Mama Agra tersenyum bahagia karena suaminya begitu baik.
Dia bisa menerima keluarga dari mantan suaminya, tanpa ada dendam dan rasa cemburu.
"Banyak sekali makanannya," tegur Mami yang tidak enak.
"Jangan bicara begitu, Delon juga anakku." Mama meminta Syifra duduk menyiapkan makanan.
"Siapa nama Kakak?"
"Delon, kamu siapa?"
"Araya, apa benar kamu kakaknya Raya?" Pipi Raya ditekan oleh Agra memangku untuk duduk di samping Delon.
"Ya, dia Kakak Delon."
Kepala Raya bersandar, dia binggung karena memiliki banyak Kakak lelaki, ada Agra, Arvin dan sekarang Delon.
Raya membutuhkan kakak perempuan, soalnya dia tidak suka kepada Naya dan Alis, meksipun Raya sedikit menyukai Prilly.
"Kamu tidak suka Naya, kenapa?"
"Dia emosian, masa iya Kakak Agra, Arvin dan Andra sering dipukul. Jahat sekali," jelas Raya menjelekkan Naya.
Tawa Delon terdengar, nanti ada teman untuk Raya jika Putrinya lahir. Dia tidak perlu bertengkar dengan Naya lagi.
"Apa dia seorang Putri?" tanya Arvin terkejut.
__ADS_1
"Emh, dia wanita."
Naya bertepuk tangan akhirnya akan ada yang menyaingi Raya. Si kecil yang mengemaskan tinggal bersamanya.
Tangisan Raya terdengar, berlari ke arah Naya, memukulinya sangat kuat tidak suka jika adik bayi tinggal bersama Naya.
"Nanti tinggal di sini ya Daddy, Kakak Naya jahat."
"Anak orang mau kamu ambil, nanti kita main ke rumah Kakak Delon." Daddy meminta Raya duduk dipangkuan.
Teriakkan menggema terdengar, Raya langsung berlari pergi masuk ke kamarnya karena ingin adik bayi.
Daddy meminta maaf karena putrinya memang suka menguasai, dia tidak memiliki teman makanya suka mengambil anak orang.
"Apa tidak ada anak seumuran dia di sini?" tanya Mami.
"Ada, tapi Raya mainnya kasar. Anak orang dibawa tidur ke kamarnya, tidak boleh pulang jadinya trauma sudah seperti penculikan." Kepala Mama geleng-geleng karena putrinya berlebihan.
"Tante tidak tahu saja, disekolah dia suka bertengkar. Tingkahnya tidak mirip Agra sama sekali, berarti ikut?" Naya melihat ke arah Arvin.
"Andra, aku tidak pernah membuat ribut." Arvin menatap Andra yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa aku, saat membuat Raya aku tidak ikut mengintip." Andra menatap ke arah Daddy yang menaikan kedua alisnya.
Tawa Arvin dan Agra terdengar, Andra terkejut dengan ucapannya sendiri karena Daddy bukan teman yang bisa diajak bercanda.
Selesai makan Mama memberikan sesuatu untuk Syifra sebagai hadiah, sejujurnya Syifra tidak enak menerimanya namun Agra menenpuk pundak Delon agar Syifra menerima.
"Hadiah ini terlalu besar," ucap Syifra.
"Pernikahan itu usahakan seumur hidup, anggap saja Tante seperti orang tua kamu panggil Mama. Berbahagialah," ujar Mama tersenyum lebar karena dia senang jika banyak orang yang datang ke rumah.
"Aku hamil diluar nikah, tidak pantas di sambut baik."
Mama terdiam, suasana mendadak hening. Syifra mengakui jika perbuatan aib yang memalukan, tapi dia tidak mengugurkan anaknya.
Jika dihina, caci dan maki bisa Syifra terima, tapi diperlakukan dengan baik tidak layak didapatkan bagi wanita rendah sepertinya.
"Jika orang tua kecewa itu normal, jika aku diposisi Mami Delon akan melakukan hal yang sama. Tanya saja kepada Kanaya bagaimana aku kasarnya Mama kasar kepada Prilly, sampai pernah menampar Andra karena aku ingin Agra di atas temannya." Mama menatap Syifra yang nampak kaget.
Tidak ada orang tua yang tidak kecewa karena dia memiliki harapan besar untuk anak, kesuksesan anak juga suksesnya orang tua.
"Jika diingat Mama menyesalinya, kita tidak mampu melawan takdir. Jika kamu hamil apa itu layak dihina?" kepala Mama menggeleng, mental Syifra jauh lebih hancur dari apapun, apalagi mencoba mempertahankan.
Air mata Syifra mengalir, dia siap mendapatkan hukuman, tapi jangan anaknya. Dia tidak salah dan tidak terlibat dosa apapun.
"Sudah jangan menangis, nanti baby juga sedih kalau mamanya sedih. Tidak apa melakukan salah, besarkan dia penuh cinta." Mama mengusap punggung Syifra memintanya untuk bahagia.
Delon mengusap air mata Syifra, memintanya berhenti menangis. Daddy tersenyum lebar melihat cara Delon yang lembut.
Usianya masih muda, namun caranya bersikap cukup dewasa. Istrinya juga begitu hebat karena hati baik sekali.
"Daddy, kenapa Tante itu menangis?" tanya Raya yang keluar lagi.
"Kamu yang menyebabkan menangis, soalnya dedeknya mau diambil." Daddy meminta Raya menghibur Syifra agar tidak sedih lagi.
Senyuman Syifra terlihat, menatap Raya yang duduk dipangkuan Agra kembali, mengusap kepala agar tidak sedih lagi.
"Raya tidak jadi mengambil dedeknya, nanti aku main ke sana saja." Senyuman Raya terlihat.
"Kamu mau memberinya nama siapa?" tanya Syifra.
Raya menatap Kanaya yang asik makan, nama mereka hampir sama dan Raya tidak menyukainya dia ingin nama yang luar biasa.
"Olivia, Kayra, atau ... siapa Kak?"
"Harus ada D biar sama seperti papanya, bagaimana jika Dekta?" Andra tersenyum ke arah Raya.
"Kenapa harus ikut Papa, kenapa tidak Mama saja. Nama dedek bayi Sek ... Se setan."
"Sek, otak kotor. Makanya pakai D saja." Arvin menutup mulut Adiknya.
"Iyalah, D D D apa Kak?"
Semuanya hening menunggu Raya, tubuh Raya lemas dia tidak tahu nama yang bagus karena kepalanya malas berpikir.
"Namanya Daisy Syira." Delon mengusap perut Syifra memberikan nama untuk baby.
"Bagus sekali, panggilannya Syira." Raya mengangguk setuju.
***
Follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1