
Pagi-pagi Naya sudah sibuk persiapan ke luar kota, ada dua koper yang dibawanya untuk pergi karena menghabiskan waktu satu minggu.
"Repotnya, seharusnya aku packing semalem, tapi sibuk begadang." Naya menendang pintu apartemen menarik dua koper.
Lift terbuka, Naya langsung masuk ke dalamnya sambil mengenakan lipstik. Wajah Naya terlihat sekali pucat dan tidak berdaya.
"Jeleknya ini wajah, kalah jauh sama si cantik semalam." Naya tersenyum ke arah Arvin yang geleng-geleng kepala.
"Lama sekali Nay, apa pekerjaan aku menunggu kamu?"
"Maaf, semalam begadang, pagi ini buru-buru packing." Naya menyerahkan kedua kopernya.
"Buat apa bawa koper sebanyak ini?" Arvin memasukkan koper ke dalam mobilnya karena Naya memohon ditemani pergi.
Teriakkan Naya terdengar, meminta Arvin segera masuk. Perjalanan cukup jauh, bisa saja datangnya sore.
Mata Naya masih mengantuk, tapi tidak bisa tidur jika berada dalam mobil. Sejak sibuk bekerja waktu tidur sangat terbatas.
"Kapan kamu kembali Vin?"
"Emh, belum tahu. Saat ini lagi asik bersantai, tapi bukan berarti santai." Arvin melirik Naya yang nampak sangat lelah.
Arvin meminta Naya banyak istirahat, tidak menyiksa dirinya sendiri. Dia sudah cukup lelah untuk menunggu dan berjuang.
"Aku harus bekerja Vin, demi masa depan."
"Berhentilah menunggu Andra, dia memiliki seorang wanita. Aku mengatakan ini karena menyayangi kalian berdua, setidaknya akhiri perasaan secara baik-baik." Permintaan Arvin tidak besar, tapi sulit dilakukan.
Hanya ada satu jalan agar Naya bisa melepaskan segalanya dengan mengungkap perasaannya, dan langsung memutuskan untuk melupakan.
"Aku harus apa?"
"Katakan pada Andra jika selama ini mencintainya, dan langsung putuskan juga untuk berhenti mencintai."
"Aku mengatakan itu, kamu gila?" Kanaya melotot tidak habis pikir dengan isi otak Arvin.
Kepala Arvin mengangguk, Arvin sudah pernah mengalaminya dan menganggap solusinya sangat bagus dan bisa Kanaya lakukan juga demi keberlangsungan hidupnya.
Pukulan Naya kuat di kening Arvin yang punya pikiran gila, apa yang Arvin sarankan tidak akan pernah dilakukan.
"Bohong Vin jika kamu bisa melupakannya," bentak Naya.
"Lalu bagiamana caranya dulu aku melupakan kamu?"
__ADS_1
"Ada seseorang yang membuat kamu nyaman, perasaan kamu hanya mengagumi, bukan memiliki." Tidak akan ada yang paham soal perasaan, baik muda maupun tua tetap saja bisa lemah dalam mencintai.
Kerutan di kening Arvin terlihat, terlalu sulit bicara dengan Naya yang semakin tua bertambah keras kepala.
Sudah dijelaskan jika Andra memiliki kekasih, masih saja keras dengan pendiriannya. Menolak mengutarakan perasaan yang akan menyiksa selama hidupnya.
"Andra akan segera menikah," tegas Arvin meminta Naya tidak patah hati.
"Biarkan saja dia menikah, bukan urusanku."
"Kamu sudah tahu ...."
Kepala Naya langsung mengangguk tanpa menunggu Arvin meyelesaikan ucapannya, tidak ada alasan Naya patah hati karena sudah menjadi resikonya.
Andra punya hak memiliki kekasih, dia juga pria dewasa yang sudah waktunya menikah, siapapun wanita yang menjadi pilihannya itulah yang terbaik untuknya.
"Dukung saja, siapapun yang menjadi pilihannya, jangan pernah mengungkit soal aku," ancam Naya yang tidak akan hancur hanya karena menunggu seseorang yang tidak pasti.
Senyuman Arvin terlihat, Kanaya memang wanita kuat dan Arvin bangga dengan pola pikir Naya.
"Tunangan Andra tidak cantik Nay," ucap Arvin mengakui jika Kanaya lebih cantik.
"Bohong, kalian pikir aku tuli. Kamu mengatakan gila cantiknya, Agra juga mengatakan belum menemukan artis secantik tunangan Andra, munafik."
"Semangat Naya, aku lapar." Arvin tidak peduli Kanaya marah, dia sedang lapar maka harus makan.
Sampai di restoran mewah, Arvin memarkirkan mobilnya. Naya tersenyum lebar bergegas turun.
Tanpa menunggu Arvin lagi, Naya langsung masuk menuju kasir menanyakan keberadaan seseorang.
"Minta dia keluar menemui aku di meja biasanya," pinta Naya dengan nada pelan.
"Baik Kak Naya, ditunggu."
Tangan Naya melambai meminta Arvin segera mengikutinya, duduk di meja yang cukup nyaman karena udaranya sejuk.
"Restorannya nyaman," puji Arvin melihat banyak orang yang datang dan pergi, tapi tidak menyebabkan antri yang panjang.
"Ada tiga tingkat, wajar saja ramai, tapi tidak sesak. Parkiran juga luas dan aman karena ada penjaga." Tangan Naya melambai melihat seorang wanita yang berjalan ke arahnya.
Suara high heels terdengar, senyuman lebar nampak di raut wajah Alis yang sudah tumbuh menjadi wanita sukses dengan dunianya sendiri.
Memiliki sikap santai, dan tidak memiliki ketamakan akan bisnisnya menbuat Alis sukses di bisnis restoran yang sejak muda dirintisnya.
__ADS_1
"Alisha, apa ini restorannya?" batin Arvin melihat gaya berpakaian Alis yang sangat minim.
"Kak Naya, kenapa datang ke sini tidak menghubungi Alis?" pelaku lembut Alis dan Naya sulit terlepaskan.
"Kemunculan kita tanpa sengaja, Arvin yang tiba-tiba lapar. Berikan dia makanan terbaik di restoran ini," pinta Naya langsung duduk.
"Kak Arvin, pengen peluk." Kedua tangan Alis terentang.
"Baju kamu kurang bahan, belahan dada sampai nampak, kamu ingin menunjukkan dua buah dada ke banyak orang, rok pendek seperti bikini, sekalian pakai Pampers saja." Kepala Arvin geleng-geleng merasa risih dengan pakaian Alisha.
"Memangnya aku tuyul? Lagian kenapa juga menatap dada?"
"Bagaimana tidak terlihat, dari jauh sudah nampak. Mungkin orang berpikir semangka berjalan, tidak punya malu," tegur Arvin meminta Alis pergi.
Kanaya tertawa terbahak-bahak melihat Arvin marah, pria yang dulunya dingin sekarang nampak berubah semenjak memiliki adik perempuan.
Hentakan kaki Alis terdengar, begegas kembali ke ruangannya untuk mengganti pakaiannya. Bagi Alis bajunya sangat bagus, hanya Arvin saja yang buta.
"Vin, jangan terlalu keras kepada Alis," pinta Naya.
"Apa yang aku katakan demi kebaikan dia, memiliki banyak karyawan juga pelanggan, jangan sampai orang mengenal Alis dengan pakaiannya yang minim, bukan baiknya bisnisnya." Arvin memesan makanan dan melihat staf Alis berpakaian sopan semua.
Tidak berselang lama Alis datang kembali dengan celana panjang, baju kaos, rambutnya tergerai.
"Sudah cantik belum?" Alis menatap Arvin yang mengangguk sambil minum.
Tubuh Alis berputar, Arvin menyemburkan air minumnya. Kanaya terjatuh dari kursinya karena tertawa, baju Alis dari depannya sopan, tapi di belakangnya sudah bolong.
"Kamu mirip sendal bolong, tapi ini versi punggung bolong." Arvin mengelus dada melihat Alis yang aneh berpakaian.
Tawa Naya sulit berhenti, merasa Alis memang aneh. Dia sulit diatur, memakai apapun yang menurutnya lucu.
"Bajunya bagus, buatan desainer luar. Lihat mereknya." Alis menujukkan merek baju.
"Terserah, dia mata aku baju kamu jelek. Menggunakan baju ini apa mengenakan bra?" Arvin tidak memelankan suaranya membuat banyak orang menoleh.
Sebagai seorang dokter Arvin tidak mengelak mengetahui orang tubuh, terbiasa bicara hal sensitif tanpa ada maksud kurang ajar.
Kedua tangan Alis menutup dadanya, mengambil jaket Arvin menutupi punggungnya.
"Dasar Dokter cerewet," batin Alis.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira