KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
SEMUA PEDULI


__ADS_3

Beberapa kali Arvin putar arah demi menghindari dokter kandungan, tidak ingin diajak makan berdua rela Arvin puta arah dua kali lipat.


"Dokter Arvin, dari mana?" tanyanya.


Langkah Arvin terhenti, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Terpaksa Arvin melangakh ke ruangannya.


"Bagaimana informasi yang aku berikan?"


"Tidak akurat, bagaimana bisa dia bersama pria itu, mustahil. Kamu sengaja ingin membodohi aku," ujar Arvin yang tidak percaya.


"Apanya yang tidak akurat, pria itu bahkan rela tes DNA."


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Alis berlari ke arah Arvin memeluknya erat di depan dokter kandungan.


"Tumben ke ruamh sakit, apa ada yang sakit?" Arvin terlihat cemas.


Kepala Alis mengangguk, menyentuh dadanya merasakan sesak dan sakit yang tidak tertahankan.


"Kenapa kenapa?"


"Aku rindu," ucap Alis memeluk erat.


"Ini rumah sakit tidak pantas melakukannya, tidak tahu sopan santun." Dokter menatap Arvin dan Alis tajam.


Tubuh Alis membungkuk sebagai perasaan menyesalnya, Alis tidak tahu aturan dokter karena mereka berdua sama-sama sibuk sehingga waktu bermesraan sangat sedikit.


"Sayang, apa dia dokter yang ingin makan bersama kamu, ayo kita pergi sekarang, kali ini Alis yang bayar." Senyuman Alis terlihat meminta segera bersiap-siap.


"Tidak perlu kalian pergi saja." Dokter melangakh pergi membuat Arvin tersenyum lebar.


Pintu ruangan Arin terbuka, kakinya sakit semua karena lari-larian mencoba menghindar.


"Tadi kamu panggil aku apa?" Arvin menarik pergelangan tangan Alis ditarik duduk di pangkuannya.


"Aku tidak rela kamu makan berdua dengan wanita itu, membayangkan saja tidak sanggup." Alis memanyunkan bibirnya.


Kecupan cepat mendarat, Alis menutup bibirnya tidak mengizinkan Arvin melakukannya karena sedang di rumah sakit.


Arvin tidak peduli, dia sangat merindukan Alis setelah satu minggu tidak bertemu karena kekasihnya sibuk di luar kota mengurus restoran yang ada kendala.


Bibir keduanya bertemu, Pelukan Arin sangat erat, tidak memberikan Alis ruang untuk bernapas sedikitpun.


"Kak Avin, bibir Alis perih." Alis merasakan bibirnya perih karena berubah merah setelah digigit dan dihisap.


"Mau dinner tidak malam ini?"


"Tidak, Alis ada acara keluarga, Kak Avin ikut ya. Alis kenalkan dengan keluarga," pinta Alis.


"Oke nanti malam aku ke rumah, sekarang mau ke mana?"


"Restoran, Alis pergi dulu." Bibir Arvin dikecup sangat lama, kening, pipi, mata, hidung dan dagu tidak ketinggalan.


"Peluk dulu masih kangen, maunya ditemani kerja." Kedua tangan Arvin melingkari pinggang Alis yang ramping.


Pelukan Alis tidak kalah erat dia juga tidak ingin berpisah, tapi harus karena Arvin saat ini milik pasiennya. Alis tidak ingin menganggu pekerjaan.


"Aku antar sampai mobil, terima kasih sudah datang wanita cantik," ucap Arvin yang tergila-gila kepada Alis.

__ADS_1


Kepala Alis mengangguk, melangakh bersama untuk ke parkiran. Alis dan Arvin melihat pria yang sangat mereka kenal.


"Apa hari ini Syifra memeriksa kandungnya kembali? Dokter Obgyn terlihat terburu-buru," ujar Alis merasa penasaran.


Avin melangkah mendekati pria yang dulunya sangat Arvin kagumi dan berharap memiliki daddy seperti papa Agra.


"Om Agam mengapa di sini?" tanya Arvin.


"Oh tidak, salah satu keluarga Om sedang diperiksa." Senyuman terlihat dan cukup kaget melihat baju yang Arvin kenakan.


"Apa istri Om ingin melahirkan?" tanya Arvin kembali.


"Apa kamu dokter di sini?" Agam terkejut melihat Arvin mengangguk.


Perasaan ya khawatir melihat Syifra yang terjatuh ulah bertengkar dengan istrinya, ditambah lagi bertemu Arvin.


"Alis pulang dulu Om," pamit Alis melangkah pergi membiarkan Arvin bicara berdua.


Suasana hening, Arvin sengaja diam sesaat ingin memberikan papa Agra waktu karena terlihat sekali tegang.


"Sejak kapan kamu menjadi dokter Vin?"


"Sudah lama Om," balas Arvin.


Senyuman terlihat, dia juga bangga kepada Agra yang sudah menjadi musisi terkenal. Uangnya banyak dan menjadi salah satu aktris yang memiliki bayaran tertinggi.


"Om, kenapa tidak sekalipun menayangkan kabar Agra, meksipun dia sekarang sudah bahagia tetap saja orang yang ingin dibanggakannya tetap papanya." Arvin tahu jika Agra kecewa, tapi dia berjuang untuk menunjukkan kepada papanya jika dia bisa.


Agra selalu muncul di manapun, dan papa bisa melihatnya dikelilingi banyak orang. Sesuatu yang sangat membanggakan.


"Mama juga bahagia Om, aku selalu melihat tawanya. Keluarga kami kehadiran satu malaikat kecil, dia sangat lucu dan menjadi alasan tiga lelaki harus pulang." Senyuman Arvin terlihat meminta papa Agam sedikit saja memberikan dukungan kepada Agra.


"Lalu, apa hubungan Om dan Syifra. Dia mantan kekasih Andra, dan sedang hamil tidak tahu anak siapa, kenapa Om yang bertanggungjawab?" tidak ada lagi rahasia, Arvin menanyakan langsung tanpa ragu.


Jika benar anak yang dikandung Syifra milik Om Agam sungguh memalukan, Agra pasti sangat kecewa. Bukan hanya mamanya yang ditinggalkan, tapi Papanya berhubungan dengan wanita seumuran Agra.


"Arvin sangat berharap Om tidak terlibat apapun dengan anaknya Syifra, aku tahu nasibnya begitu menyedihkan, tapi apa boleh buat dia yang menanam maka dia juga yang menuai hasil," ucap Arvin pamitan pergi karena Om Agam hanya diam mendengar.


Tangan Arvin ditahan, sejujurnya ada rasa iri melihat mantan istrinya tertawa bahagia, sedangkan Om Agam tidak merasakan.


Musiknya tidak diterima, dia tepaksa harus berkerja sebagai bawahan anak tirinya. Dan istrinya selalu melakukan penghinaan.


"Syifra alat untuk menghancurkan mereka semua," ucap Papa penuh kekecewaan.


"Maaf Om, tapi Syifra bukan alat untuk dijadikan senjata. Dia itu manusia, saat ini butuh support." Nada bicara Arvin terdengar serius, seburuk apapun Syifra tetap saja Arvin prihatin.


Tidak mudah baginya bertahan dengan keadaan sekarang, apalagi Andra tidak mendampingi. Sikap Andra mengabaikan tidak salah jika dia baik maka keadaan akan semakin sulit.


"Syifra tidak punya keluarga Om, dia sama seperti Naya. Wanita seperti mereka bahagia di luar luka di dalam. Aku yang kehilangan satu sayap saja rapuh, apalagi mereka." Tangan Arvin mengusap punggung Om Agam agar hati kecilnya terketuk untuk menolong, bukan menyakiti.


Dari dulu ketiga anak lelaki sangat mengangumi Om Agam, Andra dan Arvin selalu main ke rumah Agra karena bisa mendengar musik bercanda hingga tertawa.


"Kembalilah seperti Om yang dulu kami kenal, ada beberapa hal yang tidak bisa lagi kembali, tapi hubungan kita bisa tetap baik," ucap Avin sambil tersenyum.


"Sekarang kamu dewasa sekali Vin, beda seperti dulu yang penuh amarah."


Tawa Arvin terdengar, dirinya juga tidak percaya bisa menjadi sosok yang dewasa. Avin tidak memiliki bayangan bagaimana masa depannya, tapi ternyata perjuangan dewasa memang sulit.

__ADS_1


"Bahaya Om kalau sekarang masih emosi, ada banyak nyawa yang bergantung. Tidak mungkin orang sakit, aku tinggal pergi mabuk-mabukan karena marah." Senyuman Arvin terlihat karena dirinya sudah besar.


Kepala Om Agam mengangguk, memeluk Arvin yang mengatakan penuh rasa. Dia memang seorang dokter yang hebat mampu memahami kondisi orang lain.


"Apa yang Om lakukan tidak akan baik untuk Agra, dia itu publik figur segala yang dilakukan menjadi sorotan publik." Arvin meminta Om Agam tidak melanjutkan rencananya.


Jika memang membutuhkan bantuan, ada Arvin, Andra, dan Agra. Mereka bertiga tidak mungkin diam saja.


"Agra lebih bahagia bersama Daddy kamu, Om tidak dibutuhkan lagi," ucap Om Agam sedih.


"Tidak mungkin, diantara kita bertiga Agra satu-satunya berhati malaikat. Dia tidak pernah kasar, ucapannya sopan, dan caranya sejak dulu baik. Kalau mau melihat bajingan itu Andra, tapi soal wanita dia bodoh." Tawa Arvin terdengar geleng-geleng jika teringat dua sahabatnya.


"Bagiamana dengan kamu?"


"Arvin netral, aku tidak baik juga tidak jahat. Kapan-kapan ayo kita cafe minum bareng, ada satu wanita yang bisa membuat kita bertiga kumpul," ajak Arvin seperti kepada temannya.


"Wanita yang bernama Kanaya itu, jika kalian tidak datang maka bisa dia pukuli." Tawa Om Agam terdengar dia kehilangan banyak waktu melihat putranya besar.


Kepala Arvin mengangguk, membenarkan jika Naya masih sama seperti dulu. Dia mudah marah apalagi bertemu Andra seperti musuh bebuyutan.


Arvin melihat jam tangannya, langsung berdiri pamit untuk memeriksa pasiennya. Arvin sudah terlambat lima belas menit.


"Pergi dulu Om, jangan lupa hubungi Arvin kita nyantai bareng." Arvin berlari ke arah salah satu ruangan.


Senyuman Om Agam terlihat, menoleh ke belakang saat Syifra memanggilnya. Dia menolak dirawat meskipun Dokter meminta.


"Bagaimana kondisi kamu?"


"Aku baik-baik saja Om, kita pulang sekarang." Syifra berjalan perlahan memikirkan ucapan Arvin.


Syifra mendengar semua obrolan, hatinya terketuk dengan cara bicara Arvin yang hangat dan menyenangkan.


Berbeda jauh dengan Andra yang dingin dan cuek, lebih banyak mengabaikan. Andra hanya bicara soal bisnis.


"Jika tidak sehat dirawat saja," ucap Om Agam.


"Siapa Dokter tadi?"


"Namanya Arvin, dia Putra tunggal kaya raya, tapi ayahnya menikah lagi dan memiliki saudara tiri dan itu putraku," jelas Om Agam.


Amarah dan benci hanya akan menjadi petaka, Om Agam tidak ingin melanjutkan rencananya untuk menghancurkan istri dan anak tirinya.


"Delon tidak akan menerimaku sampai kapanpun, dia terus membenci sehingga pernikahan tidak bisa dipertahankan." Pilihan yang akan Papa Agam ambil menceraikan istrinya yang selalu membanggakan putranya.


"Om yakin akan bercerai, itu harapan Delon. Kita sudah setengah jalan untuk membalas dendam," ucap Syifra yang binggung bagaimana nasibnya.


Kepala Papa menggeleng, Syifra tidak perlu khawatir karena dia akan memberikan sesuai janji. Dia harus tetap melahirkan bayi itu dengan sehat.


"Kita sama-sama tidak bekerja Om, bagaimana bisa hidup?"


"Arvin mengatakan akan membantu, dia pasti menempati itu. Tidak salah seorang bapak meminta tolong anak, sedikit membungkukkan badan juga bukan doda." Senyuman Om Agam terlihat meminta Syifra tenang dan beristirahat karena kondisi kandungnya tidak baik.


Tidak ada yang bisa Syifra katakan, dia hanya terdiam mengikuti saran Om Agam. Tidak ada juga yang akan menampung hidupnya setelah berpisah dengan Andra.


"Aku masih berharap bisa bersama Andra, tapi hatinya sudah mati rasa hanya untuk Naya. Lalu apa yang aku perjuangkan," batin Syifra di dalam hati.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2