KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
MERINDUKAN


__ADS_3

Pagi-pagi Naya sudah datang membawakan makanan untuk Erin yang dimasak oleh Tante Mar.


Senyuman Erin terlihat karena Naya rutin tiap hari mengunjunginya, terkadang Arvin dan Agra, ada kalanya Alis juga datang.


"Sudah bangun?" tanya Nay membantu Erin untuk menggerakkan tubuhnya.


"Aku tidak bisa tidur," balas Erin melihat seorang wanita cantik, tinggi, badannya bagaikan pramugari.


Tubuh Erin membungkuk melihat Prilly, pengawal pribadi Arvin yang selalu mendapatkan penghinaan darinya dahulu.


"Maafkan Erin," ucapnya.


"Aku tidak mengingatnya, bagaimana kondisi kamu?" tanya Prilly.


Kepala Erin geleng-geleng karena tidak ada yang berubah dari dirinya masih terbaring tidak berdaya.


"Sarapan dulu sebelum dokter datang memeriksa," ucap Nay mengeluarkan makanan.


"Dokter tidak akan datang lagi, dia mengatakan agar Erin pulang karena kondisinya hanya butuh pemulihan, kata itu berulang kali, tapi aku tidak pernah pulih." Kepala Erin tertunduk karena tidak pernah bisa pulang ke rumah.


Tidak ada yang akan menerimanya, tidak ada juga yang merawatnya, tidak ada hal baik yang terjadi.


Pril dan Naya saling pandang, Arvin memang sudah bercerita sebelumnya, tapi tidak ada yang bisa dilakukan karena Naya juga baru ingin kerja dan kuliah lagi, dia juga masih hidup menumpang, bagiamana mungkin membantu Erin.


Ketukan pintu terdengar, Arvin melangkah masuk melihat Naya sudah datang dari pagi membuat khawatir.


"Aku dengar dari Agra kamu mau kerja lagi, baru juga sembuh."


"Au bosan Vin, lagian aku juga harus menghasilkan uang." Nay memastikan dirinya sudah membaik tidak perlu bermalas-malasan.


Arvin memang bisa membiayai hidupnya, tapi Nay tidak ingin menyusahkan sahabatnya. Selama kaki bisa berjalan, tangan bisa bergerak tidak ada alasan baginya untuk berdiam diri.


"Rin, hari ini aku meminta bantuan Daddy untuk mengeluarkan kamu, dan sementara bisa tinggal di rumah, dan perawat yang mengurus di sini juga bisa ikut. Bukan aku yang menawarkan ini, tapi Kakek, aku tidak tahu mengapa dia begitu menyukai kamu," jelas Arvin dengan nada kesal


Tangisan Erin terdengar merasa sangat bahagia bisa pulang, kepalanya mengangguk sangat ingin keluar dari rumah sakit yang menyebabkan.


Senyuman Naya dan Prilly terlihat ikut senang karena Erin menangis terharu dengan senyuman lebar di wajahnya.


"Berarti pertunangan kalian akan dilanjutkan?" tanya Prilly polos.

__ADS_1


Teriakkan Arvin terdengar, menyilang tangannya karena yang menyukai Erin itu Kakeknya, bukan Arvin.


"Tidak ada kata jodoh, aku tidak akan menerima perjodohan. Saat ini tidak ingin memikirkan cinta, ada target yang harus dikejar untuk menemui seseorang yang sedang berjuang di luar sana." Arvin melangkah keluar merindukan sosok Andra.


Sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak ada kabar, jangankan Arvin adiknya Andra juga tidak tahu kondisi kakaknya.


Mami Andra sudah mencari keberadaan Andra bersama Papinya, tapi Andra tidak menuju negara kelahirannya, tapi menghilang entah di mana.


"Lis, apa Andra sudah berkabar?"


"Belum Kak, Mami menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berusaha menghentikan. Selama ini berpikir Kak Andra baik-baik saja, tapi saat dia pergi kita baru sadar jika hatinya terluka." Senyuman kecil Alis terlihat karena dia sangat sedih, tapi percaya jika Kakaknya akan kembali pada waktu yang tepat.


Andra hanya pergi ingin membuktikan kepada Papinya dan keluarga besar Maminya jika dirinya bukan benalu.


"Apa Erin hari ini pulang?"


"Kenapa menangis, Alis yang Kak Arvin kenal wanita yang sangat ceria." Arvin mengusap air mata Alis yang menetes di pipinya.


"Alis akan segera baik-baik saja, Alis akan segera bangkit dari kesedihan." Senyuman terlihat pergelangan tangan Alis ditarik.


Arvin memeluk erat Alis, mengusap punggungnya menguatkan jika Alis tidak sendiri dia memiliki banyak teman yang akan bersamanya.


Kepala Alis mengangguk, dirinya tahu Arvin dan Agra akan menemukan kakaknya, mereka hanya membutuhkan waktu.


Daddy tersenyum melihat Alis yang menyapa dengan senyuman manisnya, melangkah masuk ke ruangan Erin.


"Apa kamu menyukai Alis, kenapa pilihan kamu begitu sulit Vin?" Daddy geleng-geleng masuk ke dalam ruangan.


"Kapan aku mengatakannya menyukainya, asal bicara saja Dad," gumam Arvin pelan.


Daddy tersenyum melihat Erin, dia sudah bicara dengan kedua orangtua Erin, tapi tidak ada respon dan tanggapan baik.


Sementara waku Erin tinggal di rumahnya, demi kesehatannya harus menuruti saran dokter dan mencari pengobatan di luar juga.


"Terima kasih Daddy," ucap Erin sambil meneteskan air matanya.


"Iya, kamu harus sembuh, jangan menangis lagi."


"Dad, jelaskan ini keinginan Kakek, jangan harap ada perjodohan." Suara Arvin terdengar dari luar pintu.

__ADS_1


Senyuman Daddy terlihat, menatap wajah Erin yang tersenyum. Menganggukkan kepalanya untuk berjuang mendapatkan cinta Arvin dengan cara sehat.


Nay dan Prilly saling pandang, Erin masih belum juga menyerah untuk menaklukan cinta Arvin.


"Kenapa kamu menolak perjodohan dengan Kak Agra, kenapa harus Kak Avin? padahal Kak Agra lebih baik?" tanya Alis merasa penasaran.


Kedua bahu Erin terangkat, Agra memang baik dan memiliki banyak penggemar, tapi Erin tidak bisa merusaknya karena ia terlalu baik.


Berbeda dengan Arvin yang keras, menaklukan cinta pria dingin lebih menyenangkan daripada pria baik.


"Jika begitu kenapa bukan Andra?" tanya Prilly ikut penasaran.


"Siapa yang berani mendekati Andra, baru memegang tangganya saja langsung dibanting, Andra tidak pandang wanita jika menyentuhnya tamat hidup." Erin melihat penggemar Andra hanya bisa memendam perasaannya tanpa bia mengutarakan.


Dokter masuk mengucapkan selamat kepada Erin yang akhirnya pulang, menyarankannya untuk berobat patah tulang, berjalan perlahan dan mengecek tubuhnya ke rumah sakit dua minggu sekali.


Kursi roda disiapkan, Prilly membantu Erin untuk duduk di kursi roda, berjalan bersama untuk keluar dari rumah sakit.


Langkah Nay pelan saat melewati ruangannya terdahulu, secara tiba-tiba teringat dengan Andra.


Nomornya tidak aktif, tidak ada yang tahu keberadaanya, apa dia sehat atau sakit. Nay menyesal saat hari itu tidak bertanya ke mana Andra pergi.


"Kamu di mana Dra, kenapa lama sekali memberikan kabar, apa hidup di sini begitu sulit?" Nay menatap ponselnya ada foto Andra yang terlihat menggemaskan.


Saat nyawa Naya diujung tanduk, Andra mencari bantuan untuk donor darah tanpa berpikir panjang, dia tidak peduli jika nyawanya yang melayang.


"Andra, apa gelang ini dari kamu, kenapa jelek sekali? Pertanyaan bagaimana ini melepaskannya?" hentakan kaki Naya terdengar saat tidak bertemu saja sosok Andra masih sangat menyebalkan.


Memberikan gelang tanpa bisa dilepaskan lagi, ikatannya hanya bisa lepas jika diputuskan tanpa bisa disambung.


"Nay, ayo cepat." Arvin memintanya masuk ke dalam mobil.


"Aku juga ikut?" Naya langsung masuk.


Tangan Naya melambai saat ada anak kecil yang melambaikan ke arahnya, Nay serasa melihat Andra yang melambai dengan ekpresi menyebalkan.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2