KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
PUTUS


__ADS_3

Rencana Alis ingin pergi ke restoran gagal total, dia asik di Club menemani Arvin yang sedang meeting bersama stafnya.


"Sudah tiga jam meeting, belum juga selesai. Kak Arvin keren juga kalau sedang serius, aku pikir dia baru yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik." Tawa kecil Alis terdengar, melihat ada beberapa bartender yang mulai berdatangan untuk bekerja.


Meeting juga selesai, Arvin nampak kaget melihat Alis, dia berpikir sudah pulang lebih dulu, tapi ternyata belum pulang.


"Kenapa masih di sini? katanya ingin ke restoran, kunci mobil sudah dikasih," tegur Arvin meminta Alis pergi.


"Niatnya mau, tapi Alis suka di sini. Ada banyak minuman, dan banyak wanita cantik." Senyuman Alis terlihat lebar.


"Ditolak Agra, apa kamu menjadi menyukai sesama?"


Alisha langsung berdiri tercengang, hampir tersentak air liurnya sendiri, tidak pernah menyangka jika Arvin akan mengatakan hal yang tidak pernah Alis bayangan.


"Maksudnya apa Kak?"


"Kamu mengatakan jika betah di sini karena banyak wanita cantik," bentak Arvin.


Tubuh Alis terduduk kembali, tidak menyangka memiliki otak yang pintar tidak menjamin akal sehat.


Kepintaran Arvin diakui meksipun hampir tidak pernah melihatnya belajar, tapi ucapannya membuat Alis kehabisan kata-kata.


"Alis normal Kak, cinta sama lelaki." Tangan Alis diseret secara paksa agar segera pulang karena akan segera ramai para lelaki mata keranjang.


"Pulang sekarang, aku tidak punya waktu menjaga kamu." Arvin langsung masuk kembali ke ruangannya untuk melihat keamanan.


Helaan napas Alis panjang, berjalan masuk secara diam-diam. Menghubungi Prilly pulang kerja langsung menemuinya, tapi tidak ada respon.


"Sedihnya tidak punya teman, pesta juga sendirian." Alis menarik napas panjang.


Beberapa pria mulai mendekat, duduk di dekat Alis menawarkan minuman yang sama kepadanya.


"Bersama siapa?" gelas bertemu sampai terdengar suara.


"Cheers," ucap Alis berlaga tahu.


Belum sempat minum masuk mulut, Andra langsung menumpahkan di atas meja. Tatapan matanya tajam meminta pergi.


"Sorry Bro, aku pikir dia sendirian," ucap pria yang mendekati Alis.


"Kamu baru delapan belas tahun, jangan coba-coba minum," tegur Arvin tegas.


"Kak Arvin juga sering minum, kata Kak Naya sampai mabuk berat. Alis sudah masuk sembilan belas, sudah boleh."

__ADS_1


"Pulang sekarang, jangan macam-macam." Tangan Alis ditarik paksa untuk pulang.


Tawa kecil terdengar mengikuti Arvin yang menarik tangannya, terpaksa Arvin mengantar Alis ke restoran.


Sepanjang jalan Alis mengoceh, tidak sedikitpun Arvin merespon berharap segera sampai agar wanita cerewet disampingnya bisa diam.


"Belum mabuk saja cerewet, apalagi mabuk. Tidak capek apa mulutnya mengoceh terus," batin Arvin menahan diri agar tidak emosi.


Sampai di restoran ternyata masih ramai, Arvin tidak menyangka di tangan Prilly dan Mamanya Agra bisa membuat Alis kaya.


"Restoran depan sudah kalah, haruskah aku merekrut Prilly?"


"Enak saja, karyawan Alis tidak boleh di comot." Pukulan Alis mendarat keluar dari mobil.


Senyuman Alis terlihat, menatap Kanaya yang juga baru datang membawa bahan untuk menambah stok.


"Sini aku bantu, Nay." Arvin membawakan belanjaan Naya ke dapur.


"Akhirnya datang juga Nay, maaf Mama membuat repot padahal baru pulang kuliah."


"Tidak apa Ma, santai saja. Ada yang bisa Naya bantu?" Kanaya bergerak cepat membantu Prilly.


Senyuman Andra terlihat, menatap Mama Agra yang terluka karena terburu-buru, tapi tidak menyadari lukanya.


"Terima kasih Arvin, hati-hati pisaunya tajam."


Senyuman Arvin terlihat, sibuk membantu di dapur membuat Naya kagum. Anak orang kaya yang dididik keras terbiasa melakukan pekerjaan dapur.


"Ada yang bisa dibantu Vin?"


"Tidak ada," balasnya singkat.


"Bagaimana kondisi Daddy dan Kakek kamu?"


Kepala Arvin menggeleng, kondisi keluarganya belum membaik. Kakek marah besar karena saham jatuh, beberapa aset diselidiki.


Bawahan kakek yang dipercaya menjalankan bisnis ditahan, hampir seluruh bisnis tidak beroperasi karena kasus kebakaran apartemen.


Kakek juga berencana mencelakai seseorang, kepolisian terus mengawasinya, Daddy setia mendampingi agar Ayahnya tidak merasa sendiri.


"Daddy hebat ya Vin, anak yang merangkul orang tua, tidak seperti kamu." Tawa Naya terdengar karena Arvin meninggalkan Daddy bahkan mengakui lebih memilih kekasihnya daripada menikahi tunangan.


"Nay, aku ingin mengatakan sesuatu, aku harap kamu tidak marah?"

__ADS_1


"Apa, pasti hal yang merugikan. Aku baru saja bangga melihat Arvin yang sekarang."


"Ayo kita putus, tidak ada ikatan pacaran lagi, sekarang kamu bisa mencintai orang lain," ucap Arvin membuat Prilly dan Mama Agra kaget.


Tawa Naya terdengar, sejak awal dirinya tidak pernah menganggap Arvin sebagai pacar, tapi demi menjaga harga diri Arvin, Naya menerima keinginannya untuk berpisah.


Keduanya bisa menjalin persahabatan tanpa cinta, Arvin meminta maaf atas perbuatannya yang merugikan Naya.


"Erin tidak mungkin membenci kamu jika bukan karena aku, Daddy tidak mungkin berprilaku kasar jika tidak ada aku, dan kakek sudah banyak merendahkan, bahkan membuat kehilangan rumah." Kepala Arvin tertunduk sungguh dirinya malu bicara dengan Naya yang tersakiti ulah dirinya.


"Jangan bicara seperti itu Vin, aku datang ke kota ini tanpa mengenal siapapun, jika bukan karena kamu tedja mungkin aku memiliki sahabat yang baik, setia, dan tidak kesepian." Naya tidak pernah merasa dirugikan, dia bahkan sangat senang dengan pertemuan mereka.


Meskipun harus melewati banyak masalah, Naya berharap sampai tua masih bisa bersahabat.


"Sesekali bertengkar bukan masalah, dalam persahabatan harus begitu. Jangan sungkan menyusahkan," ucap Naya menyemangati.


"Thank Nay, aku memiliki harapan yang sama." Avin terseyum melanjutkan pekerjaannya.


Tawa Naya terdengar karena gemes dengan Arvin yang memutuskan dirinya. Nay akan mengaku Arvin sebagai pacar pertama, meksipun bukan cinta pertama.


Pelanggan mulai meninggalkan restoran karena bahan masakan sudah habis, Prilly menutupi gerbang agar tidak ada yang mampir lagi.


Di meja kasir Alis sibuk menghitung uang, memisahkan beberapa lembar. Memanggil beberapa staf yang melayani, memberikan uang jajan sebelum pulang.


"Ambil satu-satu, lalu pulang istirahat. jika ada bahan yang sudah tiga dua hari bawa pulang saja, aku tidak ingin bahan yang sudah jelek." Alis memberikan amplop kepada Prilly dan Mama Mar.


"Lis, kamu tidak merasa rugi?" Mama merasa tidak enak.


"Rugi apa, Ma. Ambil saja, kita untung banyak. Kalian yang berkerja sampai lupa bernapas, Alis hanya duduk santai di sini." Tawa Alis terdengar memberikan uang kepada Naya.


"Aku juga bekerja hari ini?" Avin menunggu uang bayarannya.


Mata Alis tidak berkedip, menyerahkan lima lembar uang kepada Arvin memintanya jangan datang lagi. Alis tidak ingin banyak staf nya malas bekerja karena sibuk memotret pria tampan dan populer.


"Ini gaji pertama dan terakhir." Alis tersenyum sinis.


"Agra hari ini tampil, tidak ada yang ingin memberikan selamat?" tanya Arvin.


"Ya tuhan, Alis lupa." Kedua tangan Alis meremas kepalanya karena berencana ingin ke Cafe tempat Agra manggung.


Senyuman Mama terlihat, sudah menyiapkan kue untuk Agra karena dia berhasil tanda tangan kontrak dengan perusahaan.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2