KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
ORANG BAYARAN


__ADS_3

Senyuman Daddy terlihat karena dia tidak pernah berkendara berdua bersama Arvin, tidak sekalipun punya waktu untuk putranya.


"Daddy kenapa terlihat sedih?"


"Daddy minta maaf ya Vin, sampai kamu sebesar ini belum pernah kita makan berdua." Daddy merasa sangat bersalah tidak pernah peduli kepada Arvin.


"Emh, daddy mau makan apa, mumpung lagi di luar," tawar Arvin menghentikan mobilnya ke restoran yang dulunya sering dikunjungi mommy.


Arvin meminta maaf karena tidak pernah bisa melupakan Mommy, sekalipun sudah lama ditinggalkan, tapi perasaan cintanya tidak akan pernah berubah.


"Mommy sering membawa kamu ke sini?"


"Iya, aku saham Kak Prilly selalu makan dengan lahap di sini. Mama sosok ibu yang baik Dad, tapi bagi Arvin mommy cinta pertama Arvin."


"Daddy tahu, kamu sangat menyayangi mommy."


Senyuman Arvin terlihat melambaikan tangannya melihat Mama dan Raya sudah menunggu. Raya berlari ke arah Arvin memeluk kakak tampannya.


"Kakak lihat tangan Raya, ada bintik merah digigit semut," keluhnya merasakan tangannya gatal.


"Nanti kakak kasih obat, jangan digaruk." Arvin mengusap kepala adiknya memeluk Mama yang menyambut kedatangan Arvin.


Mama mengusap kepala Arvin, memintanya makan sebelum bekerja. Tidak mengizinkan melakukan operasi tanpa makan.


"Mama sengaja meminta Arvin ke sini karena tempat makanan favorit," ucap Arvin yang melihat makanan kesukaannya.


"Ini juga tempat favorit Raya, makanannya enak semua." Senyuman Raya terlihat duduk dengan manis.


"Duduk sini, makan siang dulu, jangan kerja terus. Daddy juga cepat kemari." Makanan yang sudah dihidangkan ada di depan mata.


Kepala Arvin celingak-celinguk mencari keberadaan Agra, seharusnya ada kakak sekaligus sahabatnya untuk makan bersama.


"Halo semuanya, apa aku terlambat?" Agra tersenyum membuka topinya.


"Lamanya, kamu pacaran dulu," tegur Arvin kesal karena sudah lapar.


"Pacaran, aku sibuk. Tadi ada meeting di kantor baru bersama Daddy, sekarang ketemu lagi." Agra merangkul pundak Arvin yang tidak sabar lagi ingin makan.


"Bagaimana dengan stafnya, kali aja aku bisa menambah tenaga di sana." Tawa Arvin terdengar menawarkan diri di tengah kesibukannya.


Kepala Agra menggeleng, dia tidak butuh pemuda kaya raya, lebih banyak orang berpengalaman butuh pekerjaan.


"Bagaimana jika kamu menanamkan saham saja?" Agra mengunyah makanannya menunggu jawaban Arvin.


"Sial, pinta Andra mungkin perusahaan kamu langsung berada di peringkat sepuluh agensi tersukses." Arvin menunjukkan angka dua.


Teriakkan Agra terdengar memeluk sahabatnya yang akan membantu perusahaan, Agra tidak rugi memiliki sahabat sebaik Arvin yang selalu bisa diandalkan.


Daddy meneteskan air mata karena dirinya memiliki keluarga bahagia. Arvin bisa tertawa lepas saat kumpul, tidak seperti dulu selalu menangis karena kekejaman keluarga.


Mama selalu mengabadikan moment ketiga anaknya bertengkar hanya karena rebutan makanan.


"Nanti malam pulang tidak?" tanya Agra.


"Tidak, aku ada operasi besar, butuh waktu lama makanya sekarang harus makan." Arvin mengambil makanan di piring Agra.


"Sampai jam berapa, padahal aku ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kita." Agra nampak kecewa karena Arvin tidak bisa datang.


"Jam berapa kumpulnya, kamu tahu jika Andra dan Naya sedang perjalanan ke luar negeri, Alis sedang di luar kota, hanya kamu dan Prilly yang pengangguran." Arvin menghubungi Andra yang sedang sibuk karena launching produk baru.


"Apa masalah dengan Syifra sudah selesai, Naya berani sekali dekat dengan Andra."


"Jika bisa aku akan menjauhkan Andra dari wanita itu karena Andra berhak mendapatkan wanita lebih baik." Helaan napas Arvin terdengar jika teringat saat Syifra melakukan pemeriksaan kehamilan.

__ADS_1


Mata Agra tidak berkedip, dia merasa memahami ekpresi Arvin yang selalu menjaga rahasia banyak orang karena sebagai dokter dia tidak bisa membocorkan rahsia pasien.


"Apa ada masalah?"


"Masalahnya Cipa itu hamil, Raya dengar Kak Naya bergumam soal pacar Kak Andra hamil. Pacarnya Cipa," ucap Raya yang bicara asal.


Gelas yang dipegang Agra terlepas karena tangannya lemas, Arvin juga kaget karena Naya tahu soal Syifra.


"Raya, tidak boleh menguping pembicaraan orang dewasa, Daddy tidak suka kamu bersikap begitu," tegur Daddy kepada putrinya yang mengangguk pelan.


"Seriusan Vin, apa itu yang membuat ekspresi kamu berubah?" tanya Agra penasaran.


"Agra, tidak sepatutnya kalian ikut campur, biarkan Andra menyelesaikan masalahnya." Mama meminta kedua putranya diam.


"Andra tidak mungkin melakukan, dia terlalu sibuk bekerja tidak mungkin ada waktu hanya sekedar bermesraan." Tatapan Daddy dingin karena tahu jika pebisnis seperti Andra menggunakan Syifra hanya untuk menjaga image saja.


Kepala Arvin mengangguk, membenarkan dugaan Daddy, tapi alangkah lebih baiknya jika Andra menyudahi.


"Kalian bergosip tentangku?" Andra memancing matanya saat mendengar pembicaraan.


Arvin tidak sadar jika panggilan sudah terjawab, Andra tidak terlalu mengambil hati karena bukan rahasia umum.


"Maaf Dra, jangan di dengar kita hanya bercanda." Perasaan Arvin tidak enak.


Tawa Andra terdengar, dia tidak tersinggung sama seklai karena sudah tahu kebenarannya dan Arvin tidak harus menutupinya lagi karean Andra sudah tahu.


"Lo di mana?" tanya Agra mengalihkan pembicaraan.


"Tu, mendegarkan Naya marah." Andra menunjukkan panggilan video ke arah Nyaa yang sedang pukul meja memarahi staf yang bertugas.


"Apa Naya sudah gila, dia bisa marah-marah di luar negeri, tidak tahu nyasar dan tidak bisa pulang," goda Arvin yang langsung mematikan panggilan saat Naya melihat ke arah layar.


Senyuman Andra terlihat, meminta Kanaya melanjutkan pembahasan yang cukup penting, Andra hanya menjadi pendengar setia.


"Naya, jangan samakan target pasar tiap negara, itu hal yang berbeda. Bisnis yang sama belum tentu sukses keduanya apalagi berbeda negara karena pasarnya beda, maklum saja." Andra menegur Naya yang tidak harus ambil pusing.


Selain terbatasnya bahan, juga terhalang komunikasi. Hal terpenting dalam bisnis bukan hanya kualitas, namun komunikasi.


"Di negara kita suka makan nasi, tapi di sini roti, bukannya dari sini saja bahan pokok kita berbeda?"


"Aku tahu, tapi kita bukan makanan Andra, ini fashion." Nada bicara Naya meninggi.


"Sama saja, selera berpakaian orang berbeda, produk yang gagal jual lenyapkan jangan pernah di jual dnegan harga murah," ucap Andra mengejutkan staf.


Naya tidak kalah terkejut, ada berapa banyak yang ingin dihancurkan padahal dibuat dengan bahan terbaik. Nay tidak habis pikir dengan cara kerja Andra.


"Demi mepertahankan brand aku tidak ingin ada diskon, lebih baik kita melenyapkan dari pasaran daripada kita jatuhkan harga. Brand yang kita buat khusus untuk harga tinggi bukan diskon," jelas Andra meminta Naya dan tim memahami pola pikirnya yang lebih baik rugi namun bisa menjaga brand daripada barang terjual dan brand jatuh.


Kanaya mengangguk, ucapan Andra tidak salah, cara kerjanya berbeda dengan kelas lain, Andra memiliki kepercayaan dan keyakinan sendiri.


"Kita lanjutkan besok pagi, kalian pulanglah untuk istirahat. Ini juga sudah di luar jam kerja." Senyuman Andra terlihat sikapnya jauh lebih baik daripada Naya.


Senyuman beberapa wanita terlihat, mengucapkan terima kasih karena Andra begitu perhatian tidak mengizinkan pulang terlalu malam.


"Ayo kita makan malam dulu," ajak Andra.


"Duluan saja, aku masih ada pekerjaan," balas Naya malas-malasan.


"Kenapa cemberut?" senyuman Andra terlihat karena Naya nampak cantik saat wajahnya jutek.


Kepala Naya menggeleng, mata melotot saat suara perutnya terdengar, Andra yang mendengarnya berpura-pura tidak mendengar menahan tawa karena tahu Naya pasti malu.


"Ayolah, kita makan sekarang, lapar," keluh Andra memelas.

__ADS_1


Wajah Naya memerah, mengangguk-anggukkan kepalanya. Agra mengirimkan pesan makanan membuat Naya kelaparan.


"Beda berapa jam dengan mereka?"


"Bedalah, rombongan Agra siang kita malam." Andra keluar ruangan lebih dulu Naya mengikuti dari belakang.


Suara orang menarik kursi terdengar, Andra melangkah mundur memeluk lengan Naya karena takut.


"Kamu tahu kenapa aku tidak suka bekerja di gedung saat malam? Apalagi luar negeri."


"Hantu." Naya lari kencang ke arah lift, teriakkan Andra kencang sambil berlari.


Kepalanya terbentur lift membuat Naya tertawa terbahak-bahak, hantu juga takut melihat Andra yang kekanakan, sudah tua masih takut hal mistis.


"Kamu tahu aku tidak suka hal begini? Dasar jahil."


"Sakit tidak, sudah tua masih saja takut." Naya mengusap kepala Andra lembut.


Keluar dari lift, Andra tidak ingin melepaskan genggaman tangan, berjalan berdua menuju parkiran.


"Di parkir lebih serem Dra," ejek Naya.


"Kamu aku tumbal kan."


"Jahatnya, memang laki-laki tidak punya hati."


Suara beberapa orang menghentikan langkah Andra dan Naya, senyuman Andra terlihat merasa konyol karena ada beberapa pria berbadan besar yang memiliki niat buruk.


Naya melihat ke belakang ternyata juga ada, tidak mungkin tanpa disengaja karena penyerang direncanakan.


"Siapa yang mengirim mereka?" tanya Naya.


"Apa kita ada musuh?" bisik Andra pelan.


Kepala Naya menggeleng, tidak ada pilihan. Berlari juga hanya akan menyulitkan maka bertarung solusinya.


"Ikut dengan kami sekarang," pinta pria berbadan besar mendekati Naya.


Senyuman Naya terlihat, meksipun cara bicaranya tidak lancar namun memahami ucapan dengan baik.


Beberapa pria diminta memegang Andra dan membawa Naya pergi, tangan Andra terangkat menjauh.


Belum jauh Andra melangkah, beberapa pria sudah terpental, Naya tidak terlihat, tapi pukulannya semakin kuat melebihi saat remaja.


Andra yang melihat hanya menelan ludah pahit, melakukan panggilan video agar Arvin dan Agra melihat kelakuan Naya mematahkan hidung para preman.


"Sebelum kalian bertarung, cari tahu dulu siapa lawannya. Jangan berharap aku bisa dijatuhkan." Senyuman Naya terlihat menatap beberapa pria ragu untuk maju.


"Dia ahli beladiri," ucap seorang pria memilih lari.


"Tunggu kedatangan kami kembali," ancam seorang pria besar tinggi.


"Mau ke mana, kita belum ke babak lebih serius," panggil Naya meminta kembali.


"Bro, teman-teman kalian jangan lupa dibawa, aku tidak ingin menanggung biaya rumah sakit." Andra mengantungkan tas ke arah kepala Naya.


Senyuman Andra terlihat, merangkul Naya menujukkan layar ponsel ke depan. Tawa Arvin dan Agra terdengar, memberikan jempol ke arah Naya yang sangat hebat.


Andra screenshot ponsel agar foto mereka berempat tersimpan, bersama Naya membuatnya bahagia. Pekerjaan tidak terasa karena bisa melihat wanita yang selalu dirindukan.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2