KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
DISERANG


__ADS_3

Langkah Naya meninggalkan gedung mewah AA Grup, teriakan melengking setelah berhasil diterima di perusahaan besar.


Nay joget-joget di jalanan karena terlalu bahagia, dia tidak menyangka jika wawancaranya sangat mudah dan langsung diterima.


Dari bangunan atas gedung Andra memperhatikan Naya yang keluar dengan mudah karena Andra meminta sekretarisnya meloloskan Naya sebagai permintaan maafnya sudah membuat rambut Nay dipotong demi menutupi keningnya yang membiru.


Sekarang mereka impas, Andra tidak punya rasa bersalah lagi, dia tidak ingin jika kesialan hidup Naya akan melibatkannya.


"Tuan muda, wanita tadi seperti ada masalah dengan keluarga terpandang dan berdarah biru?"


"Siapa?" Andra sudah bisa menduga jika itu keluarga Arvin yang memiliki darah biru, dan salah satu keluarga yang paling berbahaya jika sampai berurusan dengan mereka.


Sekretaris menjelaskan jika posisi Arvin akan digantikan oleh orang lain. Dia secara resmi meninggalkan keluarganya, demi bisa hidup bersama wanita pilihannya.


Tangan Andra terangkat, meminta sekretaris papinya tidak mendengarkan gosip yang hanya akan memperkeruh keadaan.


Andra tidak ingin mendengarkan jika ada yang membicarakan sahabatnya.


"Pekerjaan aku sudah selesai, aku harus kembali ke rumah karena papi akan segera kembali." Langkah Andra meninggalkan perusahaannya.


Naya yang ada perjalanan menggunakan kendaraan roda dua diberhentikan oleh dua mobil besar.


Nay terjatuh dari kendaraan, dan melihat puluhan pria berbadan besar menghancurkan kendaraannya.


"Siapa kalian?" Nay menatap kendaraan satu-satunya untuk pergi kuliah dan bekerja hancur.


"Kamu harus disingkirkan!" suara tawa terdengar apa lagi lokasi sangat sepi, jauh dari keramaian dan orang yang lalu lalang.


Meskipun ada yang lewat, tidak mungkin ada yang peduli. Tidak banyak orang kota yaang bersedia berurusan dengan para penjahat.


Nay menghela napasnya langsung tahu siapa yang mengirim para preman untuk melenyapkannya.


Senyuman Naya terlihat, berjalan ke jalan yang lebih luas agar dia bisa leluasa menghabisi puluhan pria berbadan besar.


Kedua tangan Nay diletakkan di belakangnya, matanya tajam melihat banyak pria yang mengelilinginya.


"Kamu tidak mungkin bisa selamat dan melarikan diri." Suara preman yang memimpin terdengar sangat kuat meminta Naya tidak membuang-buang waktu mereka.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, aku bukan wanita lemah, kalian harus tahu siapa lawan terlebih dahulu jika ingin menang." Naya menggerakkan satu kakinya ke belakang.


Serangan langsung mendekat, Naya menyunggingkan bibir atasnya langsung maju melawan.


Meskipun Nay seorang wanita jika dia konsentrasi tidak sulit baginya melumpuhkan.


Tiga orang terpental jauh, Nay menguncir rambutnya tinggi, meniup poninya yang berterbangan karena tiupan angin.


Kedua tangan Nay mengepal, melihat beberapa orang yang mulai ragu untuk maju, Nay juga sudah mengeluarkan darah dari hidungnya.


Pukulan kuat menghantam Naya dari belakang, lalu tendangan kuat dari depan juga menyerang perutnya.


Nay tersungkur, berhasil menghindar injakan kaki. Menendang balik lawannya yang juga jatuh.


Mobil Andra melewati lokasi Naya, melihat ada dua mobil kendaraan roda dua yang hancur.


Andra mengabaikannya melihat beberapa orang berbadan besar bertarung, Andra berpikir kemungkinan hanya sekelompok geng yang sedang memperebutkan sesuatu.


Saat Andra melihat kaca spion, menatap seorang wanita terpental, namun langsung cepat berdiri.


"Kanaya, manusia gila itu yang bertarung?" mobil Andra langsung berhenti, keluar dari mobilnya berlari ke arah tempat bertarung.


"Ini semua gara-gara Arvin, Nay yang dihakimi dan disalahkan." Andra mengirimkan lokasinya kepada Arvin dan Agra untuk segera datang.


Teriakan Andra terdengar melepaskan kemejanya hanya menggunakan baju kaos saja, meminta mereka melepaskan wanita yang tenaganya tidak seimbang.


Senyuman Nay terlihat, menatap Andra yang datang dan berdiri di belakang. Nay tahu jika Andra memiliki kemapuan bela diri yang cukup tinggi.


"Butuh bantuan tidak?"


"Jika hanya setengah dari mereka aku mampu membuat semua tidak berkutik.Tetapi karena kamu ada dia sini, sayang jika tenaga kamu tidak dimanfaatkan." Senyuman Naya terlihat, mengusap darah dari hidungnya.


"Beristirahatlah sejenak, aku akan maju lebih dulu." Andra melemparkan botol minum, langsung maju menyerang membiarkan Naya duduk sebentar.


"Ternyata manusia kasar ini ada sisi baiknya juga." Senyuman Naya terlihat langsung meneguk minumnya.


Pertarungan imbang terlihat, Nay menatap gerakan Andra yang jauh lebih cepat dari awal mereka bertemu.

__ADS_1


Nay yakin, Andra pasti berlatih bela diri berkali-kali lipat demi bisa mengalahkan Kanaya. Dia malu dipermalukan sebelumnya oleh Nay.


"Aku yakin waktu itu kamu hanya mengeluarkan sedikit dari kemampuan kamu." Naya langsung berdiri membantu Andra untuk melumpuhkan lawan mereka.


Memiliki kawan berjuang, membuat tenaga Naya kembali full, melakukan serangan bertubi-tubu sampai lawan kewalahan hingga melangkah mundur.


"Siapa yang mengirim kalian? jika kakek atau Daddy Arvin maka katakan kepada mereka untuk tidak menyalahkan orang lain atas perbuatan Arvin. Lagian dia sudah besar, berhak memiliki kebebasan." Andra memberikan jari tengahnya.


"Mungkin juga yang mengirimnya orang lain, seseorang yang merasa cinta berkahir sepihak, katakan padanya aku tidak mencari musuh. Berhenti mengusik aku, jika ada masalah percintaan, jangan libatkan aku di dalamnya." Nay juga menatap tajam melihat pria berbadan besar pergi dari hadapan mereka.


Andra langsung mengambil kemejanya, menyerahkan kepada Naya yang bajunya sobek.


"Kenapa? memakai baju saja harus dibantu?" Naya menaikan nada bicaranya.


"Kamu pikir aku sudi disentuh, baju kamu sudah seperti sendal bolong." Baju kemeja dilempar ke hadapan Naya agar segera memperbaiki bajunya yang robek.


Teriakan Naya terdengar, mengambil kemeja Andra langsung memakainya. Tatapan mata keduanya sama tajamnya.


"Kamu ingin dibawa ke rumah sakit tidak?"


"Tidak, aku baik dan hanya luka kecil, tapi ...." Kepala Naya melihat ke arah motornya yang ditabrak mobil hingga hancur.


Panggilan masuk, Andra menjawab meminta tidak ada yang perlu datang. Dia akan segera kembali.


Helaan napas Naya terdengar, menyentuh kendaraanya yang jadi hancur, ingin menangis juga sudah tidak ada gunanya karena kendaraannya tidak mungkin diperbaiki.


"Baru saja tertawa diterima kerja, sekarang menangis karena kendaraan hancur. Tuhan sekuat apa aku sehingga bahagia langsung diganti kabar duka." Nay menatap langit menundukkan kepalanya kembali.


"Sudahlah, jangan ditangisi. Kendaraan juga sudah jelek, lebih baik kita pergi sekarang." Suara Andra terdengar.


"Ini bagaimana membawanya, ini kendaraan satu-satunya Andra." Nay berteriak kuat.


Tangan Nay ditarik, Andra akan meminta bantuan karyawannya untuk mengambil kendaraan. Jika bisa diperbaiki maka Naya patut bersyukur, tapi jika tidak bisa setidaknya dia tidak boleh menangisinya.


Nay masuk ke dalam mobil. Andra memberikan obat agar Naya mengobati luka diwajahnya. Andra selalu menyediakan obat karena jika pulang dalam keadaan babak belur maminya akan mengamuk.


Senyuman Naya terlihat, Andra yang pemarah ternyata takut juga dengan maminya yang super cute, padahal Naya sangat nyaman bersama maminya Andra.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2