
Senyuman Agra terlihat saat papanya sudah menunggu ketika dia menghubungi, Agra duduk bersama Prilly melihat sekitar yang aman.
"Kamu sedang melakukan promosi lagu baru?" Papa tersenyum melihat Prilly.
"Belum Pa, Agra hanya ada pemotretan," jawabnya.
"Apa kabar Om, lama tidak bertemu," sapa Prilly sopan.
"Baik, kamu semakin cantik dan ceria, tidak seperti dulu banyak diam. Pasti tidak mudah bagi kamu mengikuti Agra di setiap pekerjaannya." Papa meminta Pril juga duduk.
"Dia kekasih Agra Pa, bukan penjaga. Pemberitaan yang ada itu benar," ucap Agra tidak ingin Prilly merasa tidak nyaman.
Papa mengangguk, memang sudah waktunya Agra memiliki pasangan dan menikah. Karirnya juga sudah mapan, ada bagusnya Prilly selalu mendampingi jadi tahu apa yang dilakukan pasangannya.
Makanan datang, Agra mempersilahkan papanya untuk makan, meletakkan makanan untuk Prilly yang merasa malu di depan papa.
Senyuman papa terlihat, melirik ke sampingnya yang kosong. Seandainya tidak menyakiti, mungkin saat ini ada Mama Agra di sampingnya.
"Bagaimana kondisi Mama Gra?"
"Mama bahagia, dia memiliki suami yang mencintainya dan juga malaikat kecil yang selalu membuat mama tertawa." Senyuman Agra terlihat, memahami perasaan papanya namun semuanya sudah berlalu.
Agra ingin papanya juga menemukan kebahagiaan baru, Agra mensupport segala hal yang dilakukan papanya karena harapan bisa melihat kedua orangtuanya bahagia.
"Kita tidak bisa seperti dulu lagi Pa, saat ini Agra sudah besar dan sudah ikhlas dengan perpisahan ini. Agra akan menerima keluarga baru Papa," ucap Agra yang sangat tulus.
Papa tersenyum tanpa bisa menahan air matanya, sadar jika anaknya sudah besar dan bisa menerima keadaan.
"Terimakasih Agra, Mama dan Papa bangga punya kamu."
"Agra juga bangga punya Mama dan Papa, kembali seperti yang dulu Agra banggakan. Apa yang Agra hasilkan saat ini tidak luput dari dukungan Papa." Tangan Agra terulur menjabat tangan papanya ingin dibimbing kembali oleh musisi kebanggaannya.
Papa menarik tangan Agra, memeluk erat tidak ingin melepaskan pelukannya hanya bisa menangis.
Tepukan Agra pelan , dia sangat menyayangi papanya dan merasa kehilangan. Tidak ada yang Agra inginkan selain melihat orang yang dicintainya juga bahagia.
"Papa jangan menangis, nanti Agra jadinya sedih. Boleh Agra meminta bantuan Pa?"
"Tentu Nak, apa yang kamu inginkan?"
"Bantu Agra untuk menyempurnakan lagu yang sempat gagal aku tayangan karena merasa tidak bisa menjiwainya." Senyuman Agra terlihat dia percaya Papanya lebih ahli.
Kepala Papa mengangguk, papa merasa bangga bisa memberikan masukkan untuk musisi hebat.
Pril juga tersenyum, menyerahkan kepada Papa kontrak kerja. Bagaimanapun juga perusahaan butuh orang-orang hebat.
"Om tahu jika kita perusahaan baru, tapi ada banyak aktris, aktor, musisi yang ikut gabung, para trainee juga anak muda yang berbakat. Prilly meminta agar Om bergabung dengan kami untuk memajukan perusahaan." Tubuh Prilly membungkuk mempersilahkan untuk kompline jika kontrak tidak sesuai.
"Apa ini tidak masalah, nanti Daddy Arvin marah dan menyalakan Agra memanfaatkannya." Papa memilih kerja sukarela agar nama Agra tetap baik.
Senyuman Prilly terlihat, Daddy tidak mengusik dan ikut campur. Dia bahkan mensupport jika Agra berkolaborasi dengan papanya. Jika Agra saja memiliki bakat hebat maka Papanya juga pasti luar biasa.
"Kita sangat berharap Om bersedia gabung dengan Agensi AV group."
"Kenapa kalian membuat nama AV grup, apa ada hubungannya dengan Arvin?"
"Tentu ada Pa, A artinya Agra, Arvin dan Araya, V itu sesuatu yang lucu karena Araya selalu mengatakan Viss. Kita mau pakai AA namun sudah ada perusahaan besar milik keluarga Andra yang berdiri lebih dari puluhan tahun," jelas Agra yang memikirkan sendiri namanya tidak ada sangkut paut tentang seseorang.
"Araya, apa dia adik kamu dan Arvin?"
"Iya Pa, nanti kita atur waktu bertemu dia, mulutnya sangat cerewet seperti Mama." Tawa Andra terdengar meminta lanjut makan.
Papa melihat kontrak kerja yang memiliki bayaran tinggi, meminta Prilly mengubahnya karena dia tidak memiliki banyak pengalaman bekerja dengan perusahaan besar.
__ADS_1
"Pril, ini tidak benar."
"Bukan Prilly yang membuatnya, ini sudah menjadi peraturan perusahaan."
"Ya tuhan, Papa tidak bisa pernah melakukan kontrak dengan bayaran sebesar ini."
"Tidak apa Pa, ada keluarga yang harus Papa nafkahi. Jika bisa perbaiki rumah tangga yang mulai renggang." Agra menepuk tangan Papanya menunggu di perusahaan.
Senyuman Prilly terlihat, mengulurkan tangannya berharap bisa bekerja sama dengan baik untuk kemajuan karir Agra juga perusahaan.
Papa menyambut tangan Prilly mengucapkan terimakasih karena sudah memberikan kesempatan.
"Pa, Agra akan segera menikah," ucapnya mengejutkan.
Prilly yang tidak tahu apapun batuk, menoleh ke arah Agra yang bertanda dengan ucapannya. Bagaimana bisa mereka menikah dengan jadwal yang padat?"
"Kapan?"
"Setelah rilis lagu, Agra kasih tahu Papa dulu baru Mama Daddy."
"Tidak bisa Agra, jadwal akan padat setelah rilis, pemberitaan bisa heboh jika perilisan album baru bersama kabar pernikahan." Kepala Prilly menggeleng karena lagu Agra bisa jatuh dengan berita nikah.
Papa garuk-garuk kepala melihat Prilly marah kepada Agra, menjelaskan jadwal padat. Dia bahkan hafal jam dan tanggal hingga lima bulan ke depan.
"Ya sudah nikah dulu, baru kita rilis."
"Aku tidak mau menikah secara terburu-buru, nikah saja sendiri." Prilly meninggalkan ruangan setelah pamit kepada papa.
Agra memijit pelipisnya, bagaimana mungkin dia menikah sendiri, setiap pernikahan pasti ada pasangannya.
"Prilly mau menikah, tapi kamu lamar dulu jangan langsung. Wanita terkadang butuh hal romantis, jangan hanya menciptakan lagu mellow." Papa akan membantu Agra membuat lagi romantis untuk acara lamarannya.
Senyuman Agra terlihat membenarkan ucapan Papanya. Memeluk Papa yang memang terbaik soal hal romantis meksipun kisah cintanya tidak berjalan baik.
Papa menghubungi istrinya, tapi panggilan di matikan. Memutuskan pulang membawa kontrak yang Prilly berikan karena sekarang Papa ada pekerjaan baru yang memiliki kontrak cukup lama.
"Terima kasih tuhan sudah mendewasakan Agra, sejujurnya aku malu kepada anakku yang sempat menangis karena ku." Papa mengusap air matanya segera pulang.
Jarak rumah tidak terlalu jauh, Papa masuk dengan cepat melihat istrinya yang menangis karena harus tanda tangan jual rumah.
"Ada apa ini Mi?"
"Diamlah," ucap wanita paruh baya yang gemetaran menandatangani surat penjualan rumah.
"Tunggu dulu, kenapa di jual. Kamu tidak mengatakan apapun padaku?"
"Ini rumahku, apa hak harus izin kepada kamu?"
Kepala Papa menggeleng, tidak mengizinkan jual rumah mempersilahkan pembeli pergi karena tidak jadi jual.
Rumah tidak jadi dijual, Papa meminta maaf kepada pembeli yang kebingungan. Mama sama bingungnya melihat tingkah suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" teriakkan Mama terdengar.
Caci maki terdengar, meminta cerai karena tidak ada gunanya menikah bersama pria yang kerjaannya hanya pengangguran.
Bertahun-tahun tinggal di luar negeri hanya di rumah sampai semua aset terjual, tidak ada lagi sisa harta yang bisa digunakan untuk pendidikan Delon.
"Maafkan aku, tolong jangan pisah."
"Maaf tidak akan mengubah apapun, delapan tahun aku menemani memberikan kesempatan, tapi apa hasilnya?" tangisan terdengar melihat surat rumah yang seharusnya jadi warisan untuk Delon harus terjual.
"Mi, Papa udah dapat kerja, bulan depan kita bisa membayar hutang dan cicilan. Sementara waktu jual mobil untuk kita bertahan sampai Papa gaji." Tangisan Papa juga terdengar memeluk istrinya meminta maaf.
__ADS_1
Kontrak kerja ditunjukkan, Mami membaca nominal yang sangat besar tidak percaya suaminya bisa kerja lagi.
"Mi, siapa mereka?" Delon pulang dari kampus dalam keadaan marah.
"Bukan siapa-siapa," jawab Mami.
"Apa sekarang rumah juga mau jual, seandainya dulu Mami mendegarkan Delon mungkin hidup kita tidak melarat. Ini semua gara-gara dia," bentak Delon mendorong Papanya.
Senyuman Papa terlihat meminta Delon mengendalikan amarahnya, dia harus fokus untuk skripsi.
"Mampu kamu bayar biaya kuliahku?"
"Papa akan membayarnya, perlahan kita bayar cicilan. Delon jangan cemas," ucap Papa bicara santai.
"Oh ya, bagaimana dengan cicilan?"
"Delon masuk kamar sekarang, Mami capek melihat rumah ini ribut terus."
Helaan napas Papa terdengar, bisa memahami kemarahan Delon. Dia hanya kehilangan sandaran setelah perpisahan orangtuanya.
Delon tepaksa ikut Papinya, setelah delapan tahun Papinya meninggal hingga Delon harus kembali kepada Maminya.
Di kamar Delon menangis memeluk foto Papinya, hanya bisa mengadu di dalam hati jika dirinya sangat rapuh.
"Pi, Delon melakukan kesalahan besar, apa yang harus Delon lakukan?" tangisan terdengar sesegukan berharap mendapatkan jalan terbaik.
Ketukan pintu terdengar, Delon mengusap wajahnya melihat papi tirinya masuk. Tatapan mata Delon tajam penuh kebencian.
"Papi minta maaf," ucapnya.
"Ceraikan Mami, maka masalah kita selesai."
"Kecilkan suara kamu, Papi ingin bicara baik-baik."
Pintu ditutup kuat, Delon meletakkan foto Papinya meminta segera bicara. Tidak ada yang perlu didiskusikan.
"Papa tahu jika kamu terlibat masalah dengan Nona Syifra. Kemarin Mami melihat Papa bersama dia, dan terjadi keributan. Jika Papa ingin buruk, hidup kamu hancur jika wanita itu meminta pertanggungjawaban."
Tangan Delon tergempal, tidak menyangka jika papa tirinya ternyata tahu soal kehamilan Syifra.
"Kamu tidak bisa membuktikan jika aku ayah biologisnya."
"Papa tidak akan melakukannya, keputusan ada di kamu. Papa rasa kamu bukan anak kecil, jangan kasihani ibunya, tapi bayi itu akan lahir tanpa ayah." Papa akan merahasiakan sampai Delon mengambil keputusan.
"Apa dia terluka?"
"Sempat keluar darah makanya Papa bawa ke rumah sakit, namun menolak di rawat."
Papa keluar meninggalkan Delon yang terbaring di atas tempat tidurnya mengambil ponselnya mencoba menghubungi Naya.
Panggilan tidak terjawab, Kanaya sulit dihubungi jika sedang sibuk. Delon hanya ingin tahu kondisi Syifra dan kandungnya.
"Kenapa aku peduli, terserah bukan urusanku." Delon meletakkan ponselnya memejamkan mata.
Suara pesan terdengar, Naya mengirimkan alamat tanpa Delon tahu ada apa dan tidak paham maksud Naya.
"Alamat siapa ini, bicara tidak jelas." Delon memijit kepalanya yang terasa ingin pecah karena terlalu banyak berpikir.
Masalah semakin menumpuk, Delon binggung cara menyelesaikannya.
***
Follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1