KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
TIDAK TAHU DIRI


__ADS_3

Suara kemarahan Daddy Arvin semakin menjadi, bukan hanya cara bicaranya yang kurang ajar, tapi sikapnya juga sangat kasar.


Arvin masih terdiam tidak percaya jika Daddy ingin menyakitinya, padahal ada Naya di sisinya. Tidak ada sedikitpun rasa malu atas sikapnya yang egois.


Naya langsung berteriak kuat, membentak Daddy Arvin dengan cacian dan maki, kata-kata kasar keluar dari mulutnya.


Adu mulut terjadi antara Naya dan Daddy Arvin, Prilly dan Arvin sangat ketakutan melihat kemarahan Naya yang tidak ada tempat takutnya.


"Dasar perempuan miskin, tidak punya etika!"


"Jangan bicarakan etika, anda juga sama kurang ajarnya. Bagaimana anak muda bisa memiliki akhlak yang baik, jika punya ayah mirip binatang seperti anda. Kamu ingin membunuh anak, lalu kenapa membuat anak? dasar bodoh." Naya mengumpat Daddy Arvin membuatnya sampai kehabisan kata-kata.


Arvin menutup mulut Naya, tapi disingkirkan bahkan Arvin juga terkena semburan dari cacian Nay.


"Saya bisa membuat kamu kehilangan segalanya!" Kemarahan Daddy Arvin tidak terbendung lagi, pertama kalinya dia bertemu wanita kurang ajar seperti Nay.


"Apa ... apa yang ingin kamu lakukan? sudah tahu aku miskin, tidak ada harta yang bisa kamu rampas. Lelaki kaya seperti anda suatu hari terkena karma, mati secara tidak wajar." Nay berteriak kuat, mendorong Arvin yang menghentikannya.


"Kamu menyumpahi saya mati!"


"Tidak, aku hanya mengingatkan jika jahat matinya tidak wajar. Ingat doa anak yang terzolimi bisa menjadi kenyataan." Nay melotot besar menatap pengawal yang berkeliling melihatnya mengamuk.


"Nay cukup, sebaiknya kita pergi." Arvin menarik tangan Naya.


Tangan Naya ditarik keluar secara paksa, mulutnya tidak berhenti berteriak memarahi Daddy Arvin agar segera berhenti bersikap kasar sebelum karma datang.


Prilly yang melihat hanya bisa menghela nafasnya, Naya memang perempuan aneh tidak ada tempat takutnya sama sekali.


Arvin dan Naya melangkah pergi dari rumah mewah keluarga Arvin, bekali-kali Nay batuk karena suaranya serak setelah teriak-teriak.


Keduanya berjalan di pinggir jalan tanpa tahu tujuan, langit juga mulai gelap pertanda akan malam.


"Maaf, ucapan aku keterlaluan." Nay menundukkan kepalanya, merasa bersalah melihat ekspresi wajah Arvin yang berpura-pura baik-baik saja.


"Tidak apa, kamu satu-satunya yang berani melawan Daddy." Senyuman Avin terlihat, matanya terlihat mengagumi sosok Nay.


"Vin, jika kamu benar kenapa tidak melawan?"


Arvin tertawa, Nay tidak tahu bagaimana kerasnya Daddy-nya. Pengawal saja diperintahkan untuk memukuli dirinya, apalagi melawan Daddy-nya hancur badan Arvin.


Di depan Naya saja, dia tidak ragu melempar putranya menggunakan vas bunga. Tidak ada rasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


Suasana hening, Arvin hanya diam melangkah sambil menggenggam tangan Nay. Sepanjang perjalanan sejak keluar rumah Avin tidak melepaskan sedikitpun genggamnya.


Nay merasa tangannya sakit dan berkeringat, perlahan-lahan berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi kesulitan.


Bibir Naya monyong, melihat tangannya yang mirip anak kecil bergandengan. Batin Nay mengomel jika kakinya juga lelah berjalan, daripada menggenggam tangan Nay lebih membutuhkan digendong.


Tenggorokan sakit, kaki lelah berjalan, hari sudah gelap, tidak ada tujuan. Tidak tahu sampai kapan Arvin akan mengandeng Nay.


"Kamu lelah Nay?"


"Tidak, aku masih kuat ... mungkin." Kepala Naya gatal, dirinya lelah, seharusnya peka tidak harus bertanya.


"Nay,"


"Iya kenapa? kamu tidak berniat bunuh diri. Tolong Arvin jangan membuat susah." Kaki Nay lompat-lompat karena dirinya semakin terlibat banyak masalah.


Arvin menghela nafasnya, melihat ekspresi Naya yang mirip orang gila karena penampilannya berantakan.


"Nay, apa kamu takut jika kita balik lagi? Daddy pasti sekarang sedang marah besar." Avin memijit pelipisnya.


"Takut, tentu aku tidak takut." Nay ingin sekali menendang Arvin ke planet, dia berencana balik lagi setelah perjalanan jauh, cari mati.


Naya bekali-kali menarik nafas, lalu menghembuskan. Menahan diri agar lebih sabar lagi.


"Ayo Nay kita ke rumah kamu. Aku lapar." Avin menarik tangannya Naya.


Senyuman Nay terlihat, Arvin sudah menjadi beban hidupnya, sejak awal bertemu berkali-kali Avin menyusahkan, dan belum pernah mengucapkan terima kasih.


Sesampainya di apartemen Naya, Arvin langsung lompat ke atas tempat tidur. Meminta Naya menyiapkan makan untuk mereka.


"Kenapa tidak memesan makanan?"


"Aku bosan makanan cepat saji." Tubuh Arvin tengkurap, merasakan sangat lelah.


"Bosan atau tidak punya uang?" Nay bicara pelan, naik ke atas tempat tidur, menginjak tubuh Arvin yang berteriak kesakitan.


Naya langsung berjalan ke dapur, menghentakkan kakinya bekali-kali karena kesal melihat Arvin yang mengacaukan hidupnya.


"Sabar Naya, manusia sabar semakin banyak ujian, sabar harus sabar. Ayo kita masak." Senyuman Nay terlihat, menghilangkan kemarahannya, karena perutnya harus diisi makanan, bukan hanya mengumpulkan masalah dan beban hidup.


Di dapur Naya sibuk sendiri, meksipun masakannya tidak seenak koki terkenal lumayan untuk perutnya sendiri sebagai anak yang jauh dari keluarga.

__ADS_1


Avin duduk di atas meja memperhatikan Nay yang sedang memasak, senyuman Avin terlihat melihat Nay yang bisa segala hal.


Dia bukan hanya ahli bela diri, juga pintar memaksa. Sikapnya yang tenang, juga sangat mandiri.


"Kamu masak apa?"


"Apapun yang ada, kamu jangan berharap makan daging. Aku bukan orang kaya." Nay melirik Avin yang mengangguk kepalanya.


Setiap melihat wajah Arvin, Nay terasa emosi. Meskipun dia sangat tampan, tapi selalu membuat Nay terkena masalah.


Naya memiliki banyak pertanyaan soal keluarga Arvin, tapi tidak ingin menyinggung perasaan manusia dingin. Nay akan menunggu sampai Avin yang buka suara.


Makanan siap, Naya memukul Avin agar turun dari atas meja.


Bau makanan yang wangi membuat perutnya semakin lapar, langsung duduk mengambil makan tanpa dipersilahkan.


"Silahkan makan Naya."


Kedua tangan Nay terangkat ingin meremas kepala Avin yang tidak tahu diri, Nay yang punya rumah, juga yang memasak, tapi dia yang lebih dulu makan.


"Kamu melupakan sesuatu Vin?"


Kepala Avin menoleh, mencoba berpikir apa yang Naya pertanyakan. Kepala Avin mengangguk, dia memang melupakan banyak hal.


"Apa yang kamu lupakan?" senyuman Nay terlihat berharap Avin mengucapkan terima kasih.


"Aku lupa membawa baju, juga tugas kuliah." Avin tidak ambil pusing, dia bisa meminta bantuan Agra soal baju dan kuliahnya.


Naya menyemburkan minumannya, mengusap dadanya yang kehabisan kata-kata melihat tingkah laku pria dingin juga tidak tahu diri.


"Maksudnya baju? kamu ingin menetap di sini?" suara Nay berteriak sangat besar, rasanya sungguh tidak percaya ada manusia model Arvin.


Kepala Avin hanya mengangguk, meminta Naya meneruskan makan. Hari ini menjadi hari yang melelahkan, mereka membutuhkan banyak energi.


"Aku kehabisan kata-kata." Nay kehilangan selera makan.


"Makanya diam saja. Kamu diam terasa seperti manusia normal."


"Arvin!" Nay berteriak sepuasnya ditelinga Arvin.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2