KANAYA DAN PENGACAU

KANAYA DAN PENGACAU
HEBOH


__ADS_3

Suara heboh Alis terdengar saat pemilihan baju untuk acara menonton konser piano Agra, Nay dan Alis sibuk mempercantik penampilan mereka.


Kepala Nay pusing melihat Alis yang menghamburkan baju, karena binggung ingin memilih yang paling cocok.


"Lis, kapan selesainya?" Naya menggaruk kepala.


"Tidak ada yang cocok, apa kita pergi membeli baju baru?" Alis membongkar bajunya yang sudah menumpuk mengalahkan gunung.


Nay tidak ingin pergi belanja, mereka bisa terlambat hadir ke konser. Semua baju Alis bagus, dasar dia saja yang ingin baju baru.


Senyuman Nay terlihat menatap dirinya di kaca yang terlihat anggun, menggunakan baju dress putih yang sangat cantik.


"Bagaimana dengan baju ini?" tubuh Alis berputar-putar menunjukkan keindahan tubuhnya.


"Terlalu heboh, kita ingin menonton bukan pesta pernikahan." Nay memilihkan baju yang paling cocok, menyerahkan kepada Alis untuk segera ganti baju.


Suara tawa Alis terdengar melihat penampilannya sesuai pilihan Kanaya, baju berwarna putih yang sangat cocok untuk dirinya.


Selesai pemilihan baju keduanya langsung berangkat ke tempat acara yang diadakan di sebuah Aula.


Wajah Nay sangat terkejut melihat harga tiket yang sangat mahal, dirinya bisa tidak makan satu tahun hanya untuk membeli tiket.


"Lis, mahal sekali harga tiketnya?" keterkejutan Nay terlihat, menunjuk harga tiket yang terlihat jelas.


"Normal itu kak Nay." Alis menjelaskan jika yang mengadakan konser bukan orang sembarang.


Saat mendengar permainan piano Agra saat acara ulang tahun kakek Arvin, seorang pianis terkenal kagum mendengarkan alunan musik yang terdengar sangat khas.


Seorang pianis yang biasanya dipanggil Tuan GG, mengadakan konser untuk menghargai bakat Agra yang ternyata mendapatkan respon baik dari kampus, juga orang tua Agra.


Naya tersenyum bangga dengan Agra yang bisa membanggakan orangtuanya juga sekolah, diusianya yang sangat muda, Agra sudah memiliki nama yang besar.


"Saat besar nanti Agra akan menjadi seseorang yang sangat luar biasa." Nay semakin terkejut saat tiba di dalam aula yang sangat besar sudah banyak sekali penonton.


Harga tiket yang mahal tidak mengurangi sedikitpun semangat para pengemar Agra, juga para pencinta seni.


"Kak Nay itu rombongan kak Andra, kita duduk bersama mereka." Alis menarik tangan Nay, duduk di tempat paling depan.


Kening Andra berkerut menatap Nay, sedangkan mata Naya melotot. Keduanya baru bertemu saja sudah saling menatap dengan tatapan mematikan.


Nay juga melihat Arvin yang duduk diam, tidak ada suara sedikitpun yang keluar. Arvin duduk bersebelahan dengan Andra dan ada Prilly juga menemaninya.

__ADS_1


"Kak, itu Tuan GG dan kedua orang tua kak Agra." Alis melihat di depan mereka, sederetan orang penting yang turut hadir.


Bahkan ada beberapa musisi terkenal yang ingin melihat secara langsung permainan Agra, di belakang mereka juga penuh orang yang menjadi pengemar Agra.


Tatapan ibu Agra melihat ke arah Andra, langsung tersenyum. Sikap ramah Andra terlihat langsung menghampiri, menyalami Mami Agra.


Arvin juga langsung berdiri menyapa, tapi wajah Prilly terlihat sedih saat menatap Maminya Agra.


Senyuman Alis juga terlihat menyapa Mami Papi Agra, Nay juga tersenyum tipis. Tatapan tidak suka terlihat saat melihat wajah Prilly.


"Di mana Mami kamu Alisha?"


"Biasalah Tante, seperti tidak kenal Mami saja."


"Kamu semakin cantik Alis, terima kasih sudah datang." Suara tawa Mami Agra terlihat, menyukai Alis yang bisa bercanda.


"Kita pasti datang Tante, berada di urutan paling depan untuk mendukung karier kak Agra."


Naya tersenyum melihat sikap ramah Alis yang sangat mudah menarik perhatian orang, karena dia sosok anak yang selalu terlihat happy.


Perhatian Nay selalu melihat ke arah Prilly yang diam saja duduk di samping Arvin, wajahnya terlihat tertunduk.


Semua perhatian langsung fokus ke atas panggung saat melihat Agra keluar dengan penampilan yang tidak biasanya, dia terlihat sangat tampan langsung duduk di depan pianonya.


Suara tepuk tangan terdengar, sorakan dari penonton menyemangati Agra. Sungguh permainan piano yang luar biasa mengagumkan.


Tidak terasa acara hampir selesai, ditutup dengan permainan piano disertai suara Agra bernyanyi.


"Luar biasa." Nay bertepuk tangan saat Agra selesai bernyanyi, mengucapkan terima kasih untuk kesempatan yang diberikan juga untuk seluruh dukungan keluarga, teman-temannya.


Alis menyerahkan sebuah bunga untuk Naya agar segera menyerahkan kepada Agra, memberikan selamat.


Nay melangkah mendekati Agra, melihat Papi Agra melangkah pergi bersama beberapa rekannya, sedangkan Maminya masih mengobrol bersama Andra.


"Selamat ya, permainan piano kamu luar biasa." Nay memberikan bunga.


"Terima kasih Nay, dukungan kalian yang menyemangati aku." Senyuman Agra terlihat.


"Selamat kak Andra, Alis terpesona sampai hampir tidur." Alis memeluk Agra, tangan lembut Agra mengusap kepalanya.


Arvin juga mendekat memberikan selamat, merangkul sahabatnya yang selalu membanggakan.

__ADS_1


Dari kejauhan Andra masih berbicara dengan Maminya Agra yang terlihat kesal.


"Dra, Mami tidak ingin wanita itu ada di sini, apa lagi dekat dengan kalian?"


"Prilly, pengawal pribadi Arvin Mi. Dia hanya mengawal saja." Andra meredakan sikap tidak suka Maminya Andra terhadap Prilly.


Perlahan Prilly melangkah mendekati Agra ingin mengucapkan selamat, tersenyum tipis.


"Mau apa kamu mendekati anak saya." Suara teriak terdengar langsung melangkah mendekat Prilly yang sudah menghentikan langkahnya.


"Mami." Agra menghela nafasnya.


Suara cacian mulai terdengar, wajah Prilly ditunjuk, bahkan dipermalukan di depan banyak orang.


Prilly hanya diam, menerima cacian tanpa melakukan pembelaan. Agra sudah meminta Maminya berhenti tidak enak didengar orang.


"Tante, ayo kita keluar." Andra menarik, tapi langsung ditepis.


"Jangan pernah tunjukkan wajah kamu dihadapan kami." Tangan Mami terangkat ingin menampar.


Prilly hanya memejamkan matanya, tidak menghindari sama sekali. Naya langsung menahan tangan Mami Agra, berdiri di depan Prilly yang hanya menundukkan kepalanya.


"Siapa kamu berani ikut campur." Suara tinggi terdengar membentak Naya.


Andra langsung menarik tangan Mami Agra untuk segera pergi, meninggalkan aula yang terlihat heboh karena memarahi Prilly.


Semuanya terdiam, Naya juga binggung melihat Alis dan Arvin yang sama terkejutnya. Prilly lebih terlihat sedih setelah mendengar cacian dan maki yang menyayat hatinya.


Alis menatap Nay yang penasaran ada masalah apa Alis dan ibunya Agra, tidak mungkin hanya karena Prilly menyukai Agra.


Banyak orang memperhatikan Prilly menatap penuh ejekan, Naya merasakan kasihan.


Di depan aula masih terdengar kemarahan, Andra langsung membuka pintu mobil meminta Mami Agra segera masuk.


"Tante, jangan mempermalukan Agra. Dia hari ini bintang dipanggung, melihat sikap Tante pasti Agra kecewa." Andra tersenyum melihat Papi.


"Mami tidak menyukai dia."


"Andra tahu, tapi waktunya tidak tepat. Sebaiknya Tante Om pulang." Andra langsung melangkah masuk kembali ke dalam aula.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2